
5 hari kemudian.
Acara sudah di persiapkan di salah satu hotel mewah. Hazel mengadakan pesta pernikahan di beberapa tempat dan untuk resepsi hari pertamanya ia memilih melangsungkan di hotel lebih dulu.
Alyss berdiri di ruang ganti dengan mengenakan gaun pengantinnya yang penuh dengan corak mawar, ia masih terdiam melihat dirinya nya yang mengenakan gaun pengantin di balik cermin.
"Kenapa kau hanya berdiri seperti itu?" tanya Hazel saat melihat calon pengantin wanita nya melamun melihat dirinya sendiri dari cermin.
Alyss pun tersentak dan langsung melihat ke sumber suara.
"Cantik..." bisik Hazel saat ia sudah mendekati Alyss dan memeluk serta mengelus bahu Alyss dari belakang.
"Aku...
Gugup..." jawab Alyss lirih.
"Gugup? Tidak apa-apa jika gugup...
Atur nafas mu dengan baik pejamkan mata mu perlahan...
Lalu buka kembali..." ucap Hazel dengan lembut agar menenangkan Alyss.
Alyss pun mengikuti langkah yang di berikan Hazel. Ia pun membuka kembali matanya dan melihat Hazel yang masih memeluk nya dari belakang.
"Sekarang sudah lebih tenang? Hm?" tanya Hazel lagi.
Alyss pun menggelengkan kepalanya perlahan, ia masih merasa sangat gugup, walaupun ia sendiri tak tau arti pernikahan ini baginya.
Ia masih bingung dengan perasaan nya sendiri. ia mulai bergantung namun ia sendiri bingung kenapa ia tak bisa benar-benar menyukai pria yang akan ia nikahi. Ia juga merasa sangat benci dengan pria yang sedang memeluknya walaupun ia sendiri bingung kebencian seperti apa yang ia miliki, namun ia juga tak ingin melepaskannya.
Diri dan hatinya perlahan semakin terikat pada pria yang sedang bersamanya saat ini. Pria yang terus merantai kuat hidupnya dan bahkan bisa mengambil kehidupan nya. Dan ia akan menikahi pria seperti itu.
Cklek...
Alyss dan Hazel pun bersamaan melihat ke arah suara pintu yang terbuka. Larescha dan para dokter lain yang akan menjadi bridesmaid Alyss pun sudah datang.
"Ga sabaran banget sih, pengantin pria nya..." ucap Larescha bercanda.
Hazel pun hanya tersenyum simpul dan membiarkan Alyss berbicara dengan para teman wanita nya.
"Lily...
Kayaknya sekarang kau sudah akan jadi atasan deh...
Haha...
Jangan pelit-pelit ngasih gaji yah nanti." bisik Larescha saat merangkul sahabat nya itu.
Alyss hanya tersenyum melihat sahabatnya yang tersenyum ceria padanya. Larescha tiba-tiba mendapatkan pekerjaan untuk bergabung dalam tim design pembangunan properti JBS pagi ini. Hazel sengaja merekrut Larescha dalam JBS group karna ia sudah berjanji pada Alyss 5 hari yang lalu akan membuat Larescha mendapat pekerjaan yang seharusnya.
Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya acara pernikahan pun di langsungkan.
Alyss sangat gugup berjalan di altar pengantin.
"Jangan gugup...
Nanti malah malu-maluin..." bisik Larescha pada Alyss dengan nada bercanda.
"La...." panggil Alyss lirih pada teman nya yang masih sempat-sempat nya bercanda padanya.
Orang tua Alyss melihat putri nya yang memakai gaun yang sangat indah sedang melangsungkan pernikahan nya.
"Jangan nangis, malu sama putri mu." ucap Ibu Alyss pada suaminya yang matanya sudah berkaca-kaca melihat putri semata wayang nya.
"Iyah, ayah ga nangis kok..." jawab ayah Alyss.
"Iyah..
hiks... hiks..." jawab Ibu Alyss yang mulai meneteskan airmatanya dan mengusap nya dengan tissu yang ia pegang.
Entah air mata karna haru atau karna kebahagian atau juga karna merasa sangat cepat melepaskan putri yang mereka rawat, dan mereka sendiri juga tak sadar melihat putri kecil nya yang mereka anggap selalu menjadi anak-anak dimata mereka kini sudah dewasa dan akan memiliki kehidupan nya sendiri.
Setelah mengucapkan ikrar pernikahan dan mengubah status catatan sipil akhirnya mereka resmi menjadi pasangan yang sah.
"Fyuhh..." Alyss yang menghembuskan nafas saat Hazel memasukkan cincin ke jari manis nya.
Setelah selesai Alyss pun bersiap melemparkan buket bunga nya kebelakang.
Dan....
Greb...
Dr. Lea langsung meraih buket tersebut yang terlempar di dekatnya.
"Kan aku yang dapat dulu!" ucap dr Rico yang ternyata juga meraih buket tersebut.
"Mana ada kan aku duluan yang dapat!" balas dr. Lea
Para tamu yang berada di sana pun hanya tersenyum melihat pertengkaran dari teman mempelai wanita di pernikahan tersebut.
"Sepertinya kalian memang jodoh deh...
Ga di RS ga disini...
Bertengkar terus...." ledek dr. Wendi pada teman sedivisinya di RS.
Alyss tak bisa menahan tawa nya saat mendengar ledekan dr. Wendi.
Setelah melakukan beberapa poto bersama dengan keluarga, sanak saudara, dan teman.
"Sekarang kami juga orang tua mu...
Jadi jangan sungkan pada kami..." ucap Ibu Alyss tersenyum ramah pada Hazel.
"Aku tak terbiasa memiliki seorang putra." ucap ayah Alyss yang masih gengsi mengakui Hazel sebagai menantunya karna ia merasa Hazel mengambil putrinya terlalu cepat.
"Isshhh...
Saat Hazel bertemu dengan orang tua Alyss di hari sebelum pernikahan nya, ia mengatakan jika kedua orang tuanya sudah meninggal dan membuat orang tua Alyss menjadi Iba dan berusaha memperlakukan nya seperti putra mereka sendiri.
......................
Setelah melewati hari yang begitu panjang. Akhirnya pernikahan nya berjalan dengan sangat lancar, Alyss langsung merebahkan dirinya diatas ranjang setelah membersihkan dirinya dan mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih nyaman. Ia pun menatap jemari nya yang terpasang cincin berlian berbentuk bintang dalam bunga.
Hazel pun baru saja selesai mandi melihat Alyss yang tidur terlentang sembari menatap jemari tangan nya yang di sudah di beri cincin pernikahan diatas ranjang kamar suite di hotel yang sama dengan tempat mereka melakukan pernikahan nya.
Hazel pun masih mengenakan mantel mandinya dan rambut nya yang masih basah karna habis keramas langsung ikut merebahkan dirinya di samping tubuh Alyss dan ikut melihat mengangkat tangan nya di samping tangan kecil Alyss dan sama-sama melihat cincin pernikahan mereka yang terpasang di jemari manis mereka.
"Bagus kan?" tanya Hazel sembari menoleh ke arah Alyss.
"Kau yang mendesign nya sendiri?" tanya Alyss lirih dan tetap terpaku pada cincinnya dan sesekali melihat ke arah jemari Hazel yang berada di samping tangan kecilnya.
"Iya." jawab Hazel singkat dengan senyuman di wajahnya. Ia sangat senang karna hari ini adalah hari yang ia tunggu.
"Kenapa kau mendesign dengan seperti ini pada cincin kita?" tanya Alyss sembari melihat bentuk cincin Hazel yang mirip lingkaran dengan orbit di melingkarinya tersebut.
"Kau tau bintang itu apa? Aku dengar jika matahari merupakan bintang induk. Makanya aku mendesign cincin mu seperti bintang dan aku adalah matahari mu." ucap Hazel dan langsung memeluk tubuh Alyss.
"Matahari? Lalu kenapa kau membuat bintang ku di dalam bunga." tanya Alyss lagi.
"Karna mau bintang ataupun bunga itu merupakan hal yang sama-sama indah. Sama seperti mu." jawab Hazel dan mulai mengecup telinga Alyss sembari mencium aroma rambut Alyss yang harum karna ia baru mencuci rambut nya.
"Kau bilang aku seperti bintang? Dan juga bunga? Memang nya aku ada dua? Sampai kau membuat dua perumpamaan." tanya Alyss lagi ketika merasa Hazel seperti memberi ucapan tersirat padanya.
"Kau hanya satu." jawab Hazel lirih dan semakin mencium ke arah lengkung leher Alyss.
"Tapi kau punya dua sisi." batin Hazel saat mencium telinga Alyss.
Ia tau membuat Alyss yang ia kenal sebagai bintang dan sisi lain Alyss sebagai bunga. Perbedaan jarak yang jauh namun memiliki keindahan tersendiri. Bintang yang sulit di gapai dan bunga yang bisa membuat seseorang mati.
Karna tak semua bunga yang indah tak memiliki racun dan selalu lembut tanpa bisa menyakiti orang lain. Justru terkadang bunga terindahlah yang memiliki racun yang paling mematikan.
"Hazel...
Jangan...
Masih lelah, tadi berdiri terus mau istirahat dulu..." ucap Alyss saat merasa Hazel yang semakin aktif mencium tubuhnya.
"Sekali saja...
Aku janji, setelah itu kita istirahat...." ucap Hazel lirih yang sudah menindih tubuh Alyss dan menarik pakaian yang dikenakan istrinya hingga membuat tubuh mereka sama-sama polos.
"Jangan....
Semalam kan sudah..." pinta Alyss yang berusaha agar Hazel membiarkan nya istirahat dulu malam ini karna ia benar-benar merasa lelah setelah pesta pernikahan mereka.
Dan Hazel juga membuat tidur nya kemarin tak nyenyak karna melakukan hal itu di malam sebelum pernikahan mereka.
"Semalam masih belum cukup...
Aku tak bisa banyak membuat tanda..." ucap Hazel dan semakin menurunkan ciuman nya. Ia menahan dirinya agar tak membuat banyak tanda di tubuh Alyss agar Alyss tetap bisa memakai gaun yang ia inginkan.
"Ha-Hazel sudah...
Mhmmm...." ucap Alyss tertahan saat Hazel tengah mencium bagian intinya.
"Inikan malam pertama kita." jawab Hazel saat ia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Alyss.
"Kau membuat setiap malam seperti malam pertama, kita tidur sa- ungghhh..." balas Alyss yang langsung terpotong saat Hazel mulai memainkan jari kekarnya di tubuh kecil milikinya
Hazel tak menjawab lagi dan terus melanjutkan ciuman serta permainan tangan nya yang semakin membuat tubuh Alyss bergerak kesana-kemari dan membuat aliran darah nya menderu kuat.
Setelah merasa tubuh Alyss bisa menerima tubuhnya nya ia pun langsung melakukan penyatuan nya.
"Hummpphhh" Hazel yang langsung memangut bibir Alyss dan melakukan nya dengan lembut dan perlahan agar Alyss tak merasa semakin lelah.
Pukul 02.45 Am.
Hazel mengelus rambut Alyss perlahan yang sedang tertidur lelap. Alyss langsung tertidur setelah Hazel menumpahkan semua isinya ke dalam tubuhnya.
Melihat Alyss yang sudah terlalu lelah membuat Hazel berhenti dan tak mengulangi kegiatan yang sangat ia sukai itu.
"Nice dream my lovely girl." ucap Hazel lirih dan memangut bibir Alyss sekilas sebelum ia memeluk dan mendekap tubuh kecil tersebut dan ikut tertidur.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
Larescha Stinaff
Leonard Kim ( Ini waktu dia lihat Alyss nya yah waktu nikah..
Sakit tapi ga berdarah)
...****************...
Hayo tadi dah dateng kondangan belum?😅😅
Oh iya setelah ini konflik (bab penyesalan) nya bakal muncul yah, muncul perlahan satu persatu😅
Othor kasih asupan yang manis" dulu sebelum yang pait 😅
Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, dan dukung othor🥰🥰🥰
Happy Reading❤️❤️