(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
The sweetest lie



Apart winter garden.


Selama 3 bulan terakhir Rian memperhatikan pacar nya yang masih terlihat biasa-biasa saja seperti tak ada keluhan sama sekali.


"La?" panggil Rian pada kekasihnya yang sedang bersiap karna ingin makan malam dengan adiknya.


"Hm?" jawab Larescha sembari memakai riasan nya.


"Kau tidak ada mual atau apa gitu?" tanya Rian lirih.


"Tidak ada...


Aku sehat-sehat saja." jawab nya sembari memoles lipstick merah di bibir nya.


Rian pun menghela napas nya dengan berat.


"La.." panggil Rian lagi pada kekasihnya.


"Kau nanti jadi menginap kan?" tanya Rian dan mulai memeluk wanita yang sedang berias itu.


"Gak jadi, nanti Alan mau nginap di apart ku...


Kalau aku ga ada di apart nanti dia banyak tanya..." jawab Larescha yang semakin kesulitan berias karna kekasihnya yang terus menempel seperti lem padanya.


"Kalau gitu aku nginap di apart mu juga yah...


Sekalian mau ikut kalian makan malam..." ucap Rian sembari memeluk gemas kekasihnya.


"Beneran? Kalian kan uda kayak Tom & Jerry kalau ketemu...


Berantem mulu, sakit gendang telinga ku." ucap Larescha jujur.


"Yah gak papa...


Kalau misalnya lebih sering ketemu kan mana tau bisa baikan..." ucap Rian sembari terus menempel pada kekasihnya.


"Yaudah iya..." jawab Larescha sembari menyingkirkan tubuh Rian yang terus menempel gemas padanya.


45 menit kemudian.


......................


Restoran Soup


Alan memicingkan matanya melihat tajam ke arah pria yang duduk di depan nya.


"Kak! Dia ngapain sih ikut juga?! Lihat wajahnya saja sudah menyebalkan!" ucap Alan kesal.


"Dasar bocah tengik! Wajah seperti ini kau bilang menyebalkan?!" tanya Rian kesal dengan calon adik ipar nya.


"Dasar orang tua! Suka-sukalah mau bilang apa!" jawab Alan asal.


"Ihh...


Udahlah jangan berkelahi mulu...


Pusing denger nya!" ucap Larescha menengahi saat makanan yang mereka pesan datang.


"Orang tua." panggil Alan pada Rian.


"Hm?" Rian yang tanpa sadar menjawab panggilan yang tak ia sukai.


"Suka daun bawang gak?" tanya Alan random.


"Tidak, tumben tanya-tanya?" jawab Rian bingung. Ia pun mulai melihat calon adik ipar yang di depan nya memasukkan banyak daun bawang ke supnya.


"Aku juga ga suka daun bawang." ucap Alan sembari semakin banyak memasukkan daun bawang ke sup miliknya.


"Kalau ga suka ngapain terus di masukin?" tanya Rian bingung.


"Alan udah! Sini tukaran sama kakak!" ucap Larescha pada adiknya, ia tau adiknya pasti akan bertingkah jahil dan meminta tukar mangkuk dengan kekasihnya.


"Gak mau! Mau nya tukaran sama dia!" jawab Alan sembari menunjuk ke arah Rian yang baru saja mau memakan sup nya.


"Hm? Kenapa?" tanya Rian bingung dan tak jadi memakan sup nya.


"Gak mau! Makan sendiri tuh! Gak suka daun bawang!" tolak Rian pada Alan.


"Alan sini sama kakak aja tukaran nya...


Belum kakak makan juga..." bujuk Larescha pada sang adik.


"Gak mau!" jawab Alan cepat, ia sangat suka mengerjai calon kakak ipar nya.


"Kan aku mau nya tukaran sama kakak ipar..." ucap Alan tersenyum pada Rian.


"Kakak ipar? Yaudah sini..." ucap Rian dengan senang hati saat mendengar penghalang terbesarnya sudah mulai membukakan pintu agar ia bisa cepat menikahi kekasihnya.


"Bocah ini, kenapa bisa sangat berbeda dari kakaknya..." gumam Rian saat ia ingin memakan sup yang penuh dengan daun bawang.


"Rian gak papa?" tanya Larescha pada Rian saat melihat kekasihnya mengalah karna keusilan adik kandung nya.


"Gak papa..." jawab Rian antara kesal tapi harus tetap tersenyum.


Setelah makan mereka pun mulai pulang ke apart Larescha. Beberapa bulan ini Alan ingin tinggal dengan kakak nya lebih dulu karna perusahaan tempat ia Magang nya lebih dekat dengan apart Larescha.


"Kak...


Dia kok ngikutin kakak terus sih? Kayak lalat." tanya Alan kesal.


"Isshhh...


Mulut nya!" ucap Larescha sembari menjewer telinga adiknya.


"Belain terus!" ucap Alan kesal pada kakaknya.


"Iyalah namanya pacar nya!" jawab Rian dengan nada mengejek pada Alan.


"Nyebelin banget sih?! Dasar orang tua!" ucap Alan kesal.


"Dasar bocah!" jawab Rian tak mau kalah.


Larescha hanya memutar bola mata nya ke atas karna kesal dengan dua pria yang tak pernah mau damai dan bertengkar karna hal sepele.


......................


2 Bulan kemudian.


Kediaman Hazel.


Perut yang dulu nya ramping kini semakin membesar saat menginjak usia ke 32 minggu atau bulan ke delapan.


Semakin hari sejak dimana Hazel curiga pria itu semakin mencari tau satu persatu hingga semakin sulit untuk menutupi nya.


"Mau kemana? Sini ku bantu..." ucap Hazel melihat istrinya yang kesulitan berjalan karna kandungan nya.


"Mau ke taman..." jawab Alyss lirih.


"Jangan gendong!" ucap Alyss saat melihat suaminya yang ingin menggendong tubuh nya, ia tak mau karna tubuh nya semakin berat jika harus membawa 3 orang sekaligus.


"Kenapa?" tanya Hazel pada istrinya.


"Gak papa...


Mau jalan saja..." jawab Alyss pada suaminya.


Hazel pun mulai memapah ibu hamil itu ke taman di kediaman megah itu.


Alyss merasakan hembusan angin senja yang menerpa wajah nya dengan lembut. Ia duduk di bangku taman dengan suaminya.


"Hazel..." panggil Alyss lirih.


"Iya? Kenapa? Kaki mu sakit lagi?" tanya Hazel pada wanita nya yang memang sering kram ataupun tak nyaman karna kehamilan nya.


"Ini coba pegang..." ucap Alyss sembari meletakkan tangan kekar suaminya ke perutnya.


"Dia bergerak?" tanya Hazel yang seperti merasa kagum melihat wanita nya dapat menampung kehidupan lain di dalam dirinya.


"Iya...


Mereka sering bergerak akhir-akhir ini." jawab Alyss tersenyum dan menatap wajah Hazel.


Hazel pun melihat ke arah istrinya dan mengecup lembut kening wanita yang di hadapan nya.


"Mau main sama papa nya ini mungkin..." ucap Hazel sembari mengelus perut besar itu.


Alyss hanya tersenyum melihat ke arah pria nya.


"Hazel...


Kalau kau hanya punya satu pilihan, kau mau pilih aku atau anak mu?" tanya Alyss pada pria yang sedang tersenyum menatap dan mengelus perut nya.


"Kau..." jawab Hazel tanpa keraguan namun tetap mengelus perut buncit itu.


"Kenapa mudah sekali menjawab nya? Mungkin saja saat mereka sudah lahir kau akan berubah pikiran." ucap Alyss pada suaminya.


"Aku tetap akan memilih mu..." jawab Hazel lagi sembari menatap iris wanitanya dengan lekat.


Alyss menatap iris pria nya dengan lekat, ia tau tak ada sedikitpun keraguan di mata itu membuatnya semakin tak ingin memberitau suaminya tentang penyakitnya.


"Kalau aku akan pilih mereka..." balas Alyss pada suaminya.


"Kalau aku kehilangan anak ku lagi...


Aku..." sambung Alyss lirih dengan menggantung ucapan nya.


"Alyss?" panggil Hazel pada istrinya ketika melihat wanita itu yang begitu sendu.


Panggilan lirih yang membuatnya langsung mengandahkan wajahnya menatap ke arah pria yang sedang duduk di samping nya.


"Kau akan tetap dengan ku kan?" tanya Hazel tiba-tiba, ia tak tau kenapa mengatakan hal itu namun kata-kata tersebut terlolos dari bibir nya tanpa ia sadari.


Alyss terdiam beberapa saat sembari menatap ke arah suaminya, ia tersentak saat mendapatkan pertanyaan seperti itu namun ia langsung mengendalikan ekspresinya lagi.


"Tentu saja...


Memang nya aku mau dengan siapa lagi kalau bukan dengan mu?" jawab Alyss tersenyum pada suaminya.


"Entahlah...


Rasanya tiba-tiba takut saja..." ucap Hazel sembari mulai membuang pandangan nya ke arah taman yang luas dan indah di hadapan nya.


"Takut? Wah...


Ternyata kau bisa takut juga?" tanya Alyss tertawa kecil menggoda suaminya.


"Tentu...


Karna terlalu banyak merasa takut makanya bisa seperti tak memiliki rasa takut lagi..." jawab Hazel lirih. Dibesarkan dengan pria yang sangat keras membuat nya benar-benar dalam tekanan hingga merubah nya seperti tak memiliki emosi lagi.


"Kau takut aku tinggalkan?" tanya Alyss pada suaminya.


"Salah satu nya..." jawab Hazel pada istrinya.


"Salah satu nya? Berarti ada yang lain lagi?" tanya Alyss pada Hazel dengan tatapan penasaran.


"Bohong...


Aku juga takut dengan kebohongan..." jawab Hazel pada istrinya. Hanya dengan wanita itu ia bisa lebih menunjukkan banyak sisi dalam dirinya yang lain.


"Kebohongan?" tanya Alyss bingung, antara takut dan was-was saat pria nya berbicara mengenai kata itu.


"Aku pernah bilang ibu ku meninggal saat aku usia 11 tahun kan?" tanya Hazel yang semakin membuat istrinya bingung.


Hazel pun kemudian tersenyum getir menatap kosong ke arah pancuran air besar di tengah taman nya.


"Kau tau? Apa yang sering dia janjikan pada ku? Dia janji tak akan meninggalkan ku...


Tapi apa? Dia tetap pergi..." sambung Hazel dengan tertawa namun menunjukkan rasa sedih di mata nya.


Kebohongan manis yang selalu di ucapkan ibunya berbekas di hati nya sejak ia kecil.


Kebohongan yang mengatakan jika ia tak akan di tinggalkan...


Kebohongan yang mengatakan jika ia tak akan sendiri...


Benar-benar membuat terasa sangat bodoh dan menyedihkan." ucap Hazel dengan membuang tawa getir nya.


Alyss tak bisa menjawab apapun dan hanya menggenggam erat tangan kekar suaminya, karna kini ia juga sama dengan ibu suaminya.


Yaitu memberikan kebohongan manis hanya untuk menunda air mata.


"Aku mau buat puding. Kau mau mencoba nya nanti?" tanya Alyss yang mengalihkan pembicaraan agar suaminya tak mengingat masa kecil nya.


"Kau? Aku saja yang buat...


Nanti kaki mu sakit lagi..." jawab Hazel pada istrinya kecilnya.


"Aku mau buat puding...


Mau melihat mu makan yang manis-manis..." jawab Alyss dengan suara manja sembari menyandarkan kepala nya ke bahu kekar prianya dan menggambar pola abstrak dengan telunjuk nya di dada bidang suaminya.


"Kau ini mau nya yang aneh-aneh saja..." ucap Hazel menggelengkan kepalanya melihat ke arah istrinya.


"Mau gimana lagi? Papa yang nitip anak disini juga aneh..." jawab Alyss sembari mengelus perut besar nya.


Hazel pun tertawa kecil mendengar hal itu, wanita yang sedang bermanja-manja pada nya sekarang membuat nya bisa merasakan semua emosi lagi.


Kebahagian, Kesenangan, Kesedihan, Amarah, dan Rasa takut sekaligus.


Hazel pun menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan nya mulai mencium gemas.


Cup..cup...cup...


Ia memberi semua kecupan dari mulai kening, hidung, mata, pipi dan bibir berulang kali pada wajah istrinya.


"Ihh...


Udah..." ucap Alyss kesal karna di perlakukan seperti anak kecil.


Hazel hanya tersenyum gemas melihat wanita nya yang merasa sebal padanya.


"Yasudah, kau mau lihat aku makan puding buatan mu kan?" tanya Hazel pada wanitanya.


"Sebenarnya sih, aku mau lihat kau makan aku saja...


Tapi makan nya pelan-pelan..." jawab Alyss lirih ia tau suaminya paling suka memakan dirinya.


Hazel pun semakin tersenyum melihat ke arah istrinya, ia merasa wanita di hadapan nya sedang berusaha menghiburnya agar ia tak sedih lagi mengingat tentang ibunya. Wanita yang paling ia sayangi selain istrinya.


"Mereka tidak apa-apa?" tanya Hazel memastikan.


"Kalau kau sesuai seperti yang aku bilang...


Yah tidak apa-apa...


Tapi kalau kau sendiri maunya ngikutin hasrat mu yah pasti apa-apa lah..." jawab Alyss lirih sembari memanyunkan bibirnya.


"Gimana lagi...


Namanya dikasih makanan enak...


Kan jadi candu, apalagi..." ucap Hazel menggantung dan melihat ke arah dada wanita nya yang tampak ikut membesar.


"Porsi makanan nya di tambah, kan jadi semakin suka." sambung Hazel dengan senyum menggoda istrinya.


"Ishh...


Makin hari kok makin mesum!" ucap Alyss yang tau arah pembicaraan suaminya. Ia tau pria itu semakin suka karna beberapa anggota tubuh nya juga ikut membesar.


"Kan sama istri sendiri bukan istri orang." jawab Hazel tertawa kecil.


"Kalau sama istri orang, kurang ajar itu namanya!" jawab Alyss kesal.


"Kalau begitu kan memang harus dengan mu!" jawab Hazel dan langsung menggendong istrinya.


"Jangan di gendong..." ucap Alyss dengan nada kesal.


"Kenapa?" tanya Hazel dan tetap tak menurunkan gendongan nya.


"Malu...


Berat soalnya..." jawab Alyss lirih dan hanya di balas dengan suara tawa dari prianya.


......................


Apart Larescha.


Sepasang kekasih itu hanya menutup tubuh polos mereka dengan selimut tebal.


"Rian...


Pakai baju nya...


Nanti Alan pulang sebentar lagi..." ucap Larescha pada kekasih nya yang masih memeluk tubuh polosnya.


"Dia jam berapa pulang nya?" tanya Rian dan semakin mengeratkan pelukan nya membuatnya bisa merasakan suhu tubuh kekasihnya.


"Jam sembilan malam..." jawab Larescha.


"Ini kan masih jam setengah delapan La, masih panjang lagi." jawab Rian santai saat ia masih memiliki waktu satu setengah jam lagi.


"Kalau Alan lihat kan malu..." cicit Larescha sembari menyembunyikan wajah nya di dada bidang prianya.


"Makanya kita nikah..." jawab Rian tertawa kecil.


"Tapi Alan masih ga di bolehin..." ucap Larescha polos.


"Makanya kau cepat hamil..." balas Rian pada kekasihnya.


"Ishh..." decak Larescha kesal sembari mencubit kecil perut kekasihnya dan membuat pria itu meringis dan merasakan tawa sekaligus.


"La?" panggil Rian pada kekasihnya setelah tawa mereka reda.


"Hm?" sahut Larescha.


"Menurutmu dr. Alyss itu orang yang seperti apa?" tanya Rian pada kekasihnya. Karna Alyss juga membuatnya sangt pusing sama seperti suaminya dan sangat pandai mengatur pola pikiran nya hingga melakukan apa yang wanita itu inginkan.


"Tumben tanya Lily?" ucap Larescha bingung.


"Penasaran saja...


Kau kan teman nya..." jawab Rian pada kekasihnya.


"Lily itu baik...


Baik sekali malah...


Tapi dia juga keras kepala, terus tuh juga mudah menangis...


Tapi walaupun dia kelihatan nya kayak gitu, Lily itu orang nya juga keras, kalau dia udah sekali marah dia bakal gak mau maafin lagi terus tuh dia juga sedikit..." ucap Larescha menggantung saat menceritakan teman nya.


"Sedikit apa?" tanya Rian penasaran.


"Pendendam...


Atau bisa di bilang juga selalu inget sih..." jawab Larescha.


"Kenapa kau bisa bilang begitu?" tanya Rian yang bingung karna ia tau kekasihnya pasti masih tak mengetahui tentang perubahan kepribadian Alyss yang signifikan sejak ia bangun. Karna Alyss pasti tetap akan menunjukkan dirinya yang dulu pada sahabatnya.


"Lily tuh kalo udah sekalinya marah, bakalan inget terus...


Yah walaupun dia jarang marah sih..." jawab Larescha jujur.


Rian pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti lalu menatap ke arah wanitanya yang selimut nya tersibak hingga membuat sesuatu terlihat menyembul keluar.


"La...


Main lagi yuk..." ajak Rian saat melihat dada wanita nya dan mulai mer*mas lembut serta memainkan jemarinya diatas puncak daging itu.


"Engghhh...


Sebentar lagi Alan pulang..." desis Larescha saat ia merasa Rian yang semakin membuat tubuh nya mabuk.


"Dia kan masih lama pulang nya..." jawab Rian dan mulai menindih tubuh kecil itu lagi.


"Unghh...." lenguh Larescha saat ia merasakan lum*atan dan sapuan lidah hangat di dada nya.


Tangan Rian pun mulai turun hingga ke bagian privasi wanita nya dan mulai menyelinap masuk kedalam.


"Ungh..." desis Larescha saat merasakan tangan kekar itu mulai menjamah dirinya lagi.


Baru saja Rian ingin mengulangi permainan panas nya tapi...


"Kakak...." panggil Alan menggema di seluruh apart tersebut, memang sudah menjadi kebiasaan nya memanggil kakak atau ibu nya saat sampai dirumah untuk menandakan jika ia sudah pulang.


Deg...


Rian dan Larescha sama-sama terbelalak saat mendengar suara Alan, karna pria jahil itu pulang lebih cepat dan tak tau jika kakak nya sedang melakukan olahraga ranjang dengan kekasihnya.


Larescha yang terkejut pun langsung mendorong tubuh Rian dengan sekuat tenaga dan tanpa sengaja ikut menendang bagian yang sangat sensitif di tubuh pria itu.


Buak...


Rian yang tanpa aba-aba dan masih terkejut juga semakin terkejut saat kekasihnya tiba-tiba mendorong dan menendangnya karna refleks hingga membuat nya tersungkur dari tempat tidur.


"Ups...


Maaf..." ucap Larescha lirih yang sedang sangat panik.


"Auch! Serasa mau hilang masa depan..." gumam Rian lirih sembari meringkuk dan berusaha bangun memakai celananya.


Alan yang mendengar suara tersebut pun langsung was-was takut jika apart kakaknya kemalingan ia pun segera mengambil satu panci dan memegang gagang panci itu dengan erat.


"Kamar kak Lala?" gumam Alan lirih sembari mengendap-endap ke kamar kakaknya untuk menangkap 'maling' yang ia tak tau jika itu adalah calon kakak ipar nya.


Klik...


Larescha yang semula ingin turun memakai pakaian nya langsung kembali masuk ke selimut saat menyadari pintu kamar nya terbuka.


"Kak Lala?" ucap Alan lirih terkejut ketika melihat kakaknya yang terkejut sembari semakin menutup dan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.


Pikiran Alan langsung negatif dan mengira jika maling tersebut sudah melakukan hal tercela pada kakaknya.


Mata Alan pun langsung ke arah pria yang sedang membelakanginya mengarah ke kakak nya yang sedang memakai kembali celana panjang nya.


Ia melihat tubuh kekar pria yang hanya mengenakan pakaian dalam dan sedang kelagapan memakai kembali celana jeans nya.


"DASAR MALING SIALAN!!!" ucap Alan dengan sangat marah dan mengayunkan panci nya saat pria itu ingin berbalik ke arah nya.


"Alan jangan!" cegah Larescha namun...


PLANG!!!!


Suara dentingan panci yang terdengar nyaring karna menghantam kepala pria yang ia sangka adalah maling.


"Bocah tengik sialan..." gumam Rian lirih sebelum ia merasa ruangan di kamar itu berputar karna mendapatkan pukulan dengan panci dari calon adik ipar nya.


Bruk...


Seketika pria itu ambruk karna mendapatkan pukulan emosi dengan panci yang di layangkan oleh Alan.


"Dia pacarku..." jawab Lirih melihat pacar nya ambruk.


"Pacar?" tanya Alan bingung.


Larescha pun menepuk jidat nya, antara malu, kesal, khawatir dan takut menjadi satu melihat adiknya yang membuat pingsan calon suaminya.


...****************...


Aduh mbak Alyss jangan sakit lagi yah kasihan babang Haz🤧🤧


Terus buat Rian yang sabar yah😂😂😂 Makanya jangan mau ehem" terus kena tampol panci Alan kan?😂


Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, vote dan dukung othor🥰🥰


Happy reading❤️❤️❤️