(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Falling in love



2 Hari kemudian.


Hotel.


Louis menindih gadis manis itu dan menghimpit nya keranjang, ia mencium dengan agresif dan mel*mat nya dengan begitu agresif.


Clara berusaha mendorong tubuh pria itu walaupun gerak nya terbatas karna kaki nya yang sakit.


Drrtt...drrtt...drrtt


Suara getaran ponsel yang sedari tadi terus memanggil nya hingga membuat Louis terganggu dan melepaskan ciuman dari bibir yang sudah membuat nya kecanduan.


"Louise?" gumam nya lirih saat melihat panggilan sang adik.


Antara kesal dan khawatir bersamaan saat sang adik menelpon nya. Kesal karna ia di telpon saat sedang berada di puncak gairah nya dan khawatir jika terjadi sesuatu pada adik nya karna menelpon berulang kali saat larut malam.


Ia bangun dari tubuh gadis manis itu dan langsung mengangkat telpon adik nya.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Louis dengan khawatir.


"Baik...


Cuma bosan saja..." jawab Louise enteng yang sedang tak bisa tidur dan menelpon iseng ke sang kakak.


Ia ingin menelpon Zayn ataupun teman baru nya yaitu Clara namun ia takut menggangu waktu istirahat kedua orang itu berbeda dengan sang kakak yang memang harus super sabar dengan sikap menyebalkan nya.


"Astaga Louise...


Ganggu aja!" ucap Louis kesal pada adik nya yang mengganggu saat ia ingin melakukan hal yang paling ia sukai dengan gadis nya.


"Ganggu apa? Suara mu juga bukan seperti orang baru bangun dari tidur! Kau sedang apa?" tanya Louise dengan nada curiga.


"Baru mau tidur tadi!" jawab Louis yang berbohong.


"Tidur sama Clara?" tanya Louise langsung secara acak.


"Iyala-


Eh? Maksud nya dia juga tidur." jawab Louis yang hampir salah bicara.


"Dasar Brengsek! Mana dia! Kalian sekamar?!" tanya Louise dengan nada keras dan hampir membuat gendang telinga pria pecah.


"Jangan teriak Louise! Dia terjatuh, kaki nya luka makanya aku membawa nya sekamar!" ucap Louis beralasan.


"Kenapa jatuh? Kau yang buat?" tuduh gadis itu dengan sinis dari telpon.


"Nih! Tanya sendiri!" ucap Louis sembari memberikan ponsel nya ke Clara yang duduk menyandarkan diri di kepala ranjang.


Clara melihat sekilas ke arah Louis yang memberi nya mata ancaman, ia sudah mengerti maksud tatapan tajam itu.


"Tadi aku terjatuh karna heels ku tinggi, maaf yah membuat mu khawatir...


Dia tidak melakukan apapun pada ku..." ucap Clara pada Louise dengan suara lirih.


"Bisa berikan lagi telpon nya pada Louis?" tanya Louise pada gadis itu begitu mendengar penuturan nya. Clara pun memberikan ponsel itu lagi pada pemilik nya.


"Besok pulang! Kalau tidak pulang juga aku akan menginap di rumah pacar ku!" ancam gadis itu dan langsung menutup telpon nya.


"A-apa?! Pacar?! Halo!" ucap Louis yang mengetahui adik nya menutup telpon dengan segera.


"Kau cemburu dengan adik mu juga?" tanya Clara saat merasa pria itu sangat sensitif dengan kata pacar.


"Bukan! Aku takut kalau dia bertemu dengan pria brengsek!" jawab Louis yang memang murni khawatir tak ingin adik nya mengalami hidup bebas yang menjerumuskan.


"Benar...


Seperti aku yang bertemu dengan mu..." ucap Clara lirih.


Louis melihat ke arah gadis itu sekilas, ia tau betapa bencinya gadis cantik itu padanya namun ia tetap sangat menyukai nya sehingga sulit menahan gejolak dalam dirinya.


"Clara...


Lanjut yang tadi yuk!" ajak nya tanpa beban sedikit pun.


"Jangan...


Ku mohon, kaki ku sakit..." ucap gadis itu dengan hampir menangis.


Louis pun mendesah kasar dan entah kenapa ia sedikit merasa iba pada gadis itu.


"Iya, kita tidur..." ucap Louis pada gadis itu dan menangkup nya membawa ke alam mimpi.


......................


8 Hari kemudian.


Mansion Dachinko.


Louise duduk di meja makan dan melihat pria itu yang sedang menyiapkan makanan untuk nya, ia tak tau alasan pria itu begitu memaksa agar ia makan siang di mansion megah itu.


"Ini makan." ucap James pada Louise sembari memberikan masakan yang terlihat lezat pada gadis itu.


Walaupun terlihat lezat namun Louise seperti ingin muntah melihat nya, entah sebuah firasat ataupun simbol pertahanan diri yang timbul.


"Mau makan yang ini saja..." ucap Louise yang ingin mengambil makanan lain.


James pun langsung menghalangi tangan gadis itu yang ingin memakan makanan lain yang ia buat.


"Makan yang ini dulu, setelah itu kau baru boleh makan yang manapun." jawab pria itu dengan seringai di wajah nya.


"Kau memberi ku racun?" tanya Louise dengan penuh curiga saat pria itu hanya ingin ia memakan daging yang di sodorkan.


"Tidak! Aku membuat ini khusus untuk mu." jawab James dan mengambil daging yang dimasak dengan penuh tampilan menggoda selera itu.


Louise melihat pria itu dengan santai mengunyah dan menelan nya masuk kedalam tenggorokannya.


Ia tak tau kenapa ia ragu namun ia perlahan mengambil makanan tersebut dan memakan daging yang terlihat lezat itu.


"Bagaimana rasanya? Kau suka?" tanya James dengan senyum seringai yang semakin merekah pada gadis itu.


"Rasanya sedikit aneh...


Ini daging apa?" tanya Louise pada James.


Walaupun tertutupi dengan bumbu yang lezat namun entah kenapa ia begitu enggan memakan nya.


Daging anak yang ingin kau selamatkan, Bagaimana rasanya? Sudah ku katakan semua yang kau sentuh akan mati, kan? Kau harus tetap mendapatkan hukuman mu walau tak ingat sama sekali.


James menunjukkan senyum yang sangat sulit diartikan pada gadis itu, hingga membuat Louise bergidik ngeri membuat aliran rasa takut dalam dirinya.


"Kenapa kau begitu? Apa ini?!" tanya Louise yang seperti teringat sesuatu.


James mengerutkan kening nya, ia tau gadis itu tak akan mengingat hal terjadi di hutan karna sudah di hapus saat ia tak sadar.


"Daging anak..." ucap Louise yang berhenti sejenak.


"Anak?" tanya James yang semakin curiga. Ingatan gadis itu kembali begitu cepat.


"Anak ku! Kau tidak memasak White kan?! White mana?!" jawab Louise spontan pada pria itu yang berfikir jika anjing serigala nya di masak.


Ia sama sekali tak ingat apapun tentang kejadian di hutan karna sudah di hapus total dan tak semudah itu mengembalikan nya.


James memutar bola mata nya dan mendesah kasar, tak ada guna nya merasa gugup seperti sebelum nya.


"Di taman...


Kau mau makan yang ini kan tadi? Kau bisa memakan nya sekarang..." ucap James yang menyodorkan daging sapi sungguhan pada gadis itu dan bukan lagi daging bocah berumur 10 tahun.


Louise pun menatap curiga pada pria itu dan tetap menyantap makanan yang di berikan James padanya.


"Yang ini enak! Kau pintar memasak juga!" ucap Louise spontan saat memakan makanan daging sapi tersebut.


"Kau belajar memasak sejak kapan? Kau kan terlihat seperti orang yang sibuk?" tanya Louise dan mengambil makanan lain kecuali makanan yang pertama di sodorkan pada nya.


"Aku tinggal sendiri cukup lama jadi bisa masak dengan sendiri nya." jawab James dan melihat gadis itu mengabaikan daging bocah 10 tahun yang malang itu.


"Kenapa kau tak makan yang ini? Tak enak?" tanya James tersenyum simpul.


"Bukan tidak enak, hanya saja seperti merasa bersalah?" jawab gadis itu yang juga bingung seperti mendapat alarm dari hati nurani nya.


Kau benar-benar sesuatu...


Batin pria itu saat melihat gadis cantik itu.


"Kau habiskan makanan nya, setelah itu kita main dengan anak mu..." ucap James yang senang saat melihat kondisi gadis itu sudah membaik dan seperti semula.


..


Taman.


Louise terlihat beberapa kali menatap ke arah tulisan latin di tangan kanan nya.


"Kenapa terus melihat nya?" tanya James pada gadis itu yang bahkan sudah tak fokus bermain dengan White.


"Xavier Haider siapa sih?" tanya Louise penasaran dan menoleh ke arah James dengan mata yang penuh tanda tanya.


James tak menjawab dan hanya menatap gadis itu dengan ekspresi datar nya.


"Aku hapus saja yah? Lagi pula aku tidak kenal!" ucap Louise pada pria itu yang ingin menghapus dengan metode laser dan setelah itu operasi kecantikan kulit agar membuat seperti semula.


James pun langsung memandang tajam ke arah Louise dan menatap nya dengan panas.


"Tidak boleh! Sudah ku katakan ini tanda kepemilikan mu!" ucap James pada gadis itu dengan nada penuh penekanan.


"Kenapa sih? Aku kan cuma bilang kala-"


Uch!


"Apa? Kau mau bilang apa? Hm? Mau ku tulis nama itu di seluruh tubuh mu?" tanya James geram karna Louise yang ingin menghapus nama nya. Ia memegang perlahan leher jenjang itu namun masih tak mencekik nya.


Tapi tangan kekar itu siap kapan saja mencekik dengan kuat.


Louise terdiam membeku sejenak, pria di depan nya memang seperti akan melakukan apa yang sedang di katakan.


"Ja-james...


Tau tidak di wajah mu itu ada sesuatu..." ucap Louise gugup karna tak bisa menyingkirkan tangan kekar itu di leher nya walau tak mencekik nya.


"Apa? Ketampanan? Kau sudah pernah mengatakan nya." jawab James pada gadis itu.


"Bu-bukan...


Di wajah mu ada keimutan..." ucap Louise tersenyum canggung.


James tak bisa menahan tawa nya melihat wajah takut gadis itu yang terlihat menggelikan. Namun ia sebisa mungkin menahan agar tak tertawa lepas dan semakin ingin mengganggu gadis itu.


"Aku imut? Menurutmu itu kata yang cocok di berikan pada pria?" tanya James yang masih menunjukkan wajah intimidasi nya.


"Bukan begitu! Karna kau pria makanya aku yang sebagai wanita tersaingi...


Yah...


Ka-karna kau lebih imut begitu..." jawab Louise gugup setelah memutar isi kepala nya yang memberikan jawaban tak masuk akan.


"Pfftt...


Hahahaha..." James tak bisa menahan tawa nya lagi, gadis itu benar-benar bisa membuat nya marah dan tertawa dalam sekejap.


Louise pun merasa lega saat James melepaskan tangan kekar itu di leher nya.


"Xavier siapa sih? Apa jangan-jangan..." ucap Louise menggantung.


James pun berhenti tertawa dan melihat gadis itu, ia bingung apakah gadis itu sudah menyadari atau belum nama asli nya.


"Nama mu kan James...


Terus ini tanda kepemilikan yang kau buat, dan ini nama dari seorang pria..." ucap Louise yang seperti berbicara dengan gaya detektif.


"Lalu?" tanya James yang was-was.


"Kau menulis nama mantan pacar mu pada ku yah?!" tanya Louise frontal pada James.


Seperti di jatuhkan dari ketinggian saat mendengar ucapan tak masuk akal yang entah dapat logika dari mana itu.


"Itu kan nama pria, Louise! Kalau pun aku punya mantan yah bukan pria juga!" ucap James pada gadis itu.


"Bisa saja pria kan? Maka nya kau tinggal waktu mantan mu sudah normal, suka nya sama perempuan!" jawab Louise dengan logika nya yang entah dapat dari mana.


"Kau benar-benar berpikir aku biseksual yah?!" tanya James jengkel.


"Iya!" jawab Louise dengan jelas.


"IQ benar-benar 172?" tanya James lagi pada gadis itu.


"Tentu saja! Kau tak tau aku sudah punya gelar profesor sejak umur 22 tahun?!" jawab Louise membanggakan dirinya.


"EQ mu berapa sih? Mungkin saja kau di biarkan jadi profesor karna putri pemilik RS nya!" ucap James pada gadis itu.


"Aku pintar! Kau yang bodoh!" ucap Louise kesal pada pria di hadapan nya. Dan tak lama White pun datang mendekat ke arah nya.


Gadis itu langsung tersenyum dan mengelus hewan putih berbulu lembut itu.


"Kau sangat menyukai nya?" tanya James saat melihat senyum cerah gadis itu yang sedang mengelus bulu halus hewan peliharaan nya.


"Iya suka, anak ayam ku tidak ada yang mati kan?" jawab Louise pada pria tampan itu.


"Tidak ada, mereka diurus dengan baik. Kalau kau sangat menganggap nya sebagai anak, kenapa tak mau punya anak sendiri?" goda pria tampan itu pada Louise.


"Anak sendiri? Tidak mau ah! Masih mau senang-senang dulu!" jawab Louise tanpa menyadari godaan dari pria tampan itu.


"Kalau kau mau aku bisa memberi mu satu anak..." ucap James terkekeh pada gadis itu.


"Aku tak mau anak dari mu!" jawab Louise spontan karna ia memang tak ingin mengandung, bahkan berfikir untuk pernikahan dan memiliki anak saja belum ada sama sekali.


Deg...


Tawa pria itu jatuh, jawaban spontan gadis itu seperti mengingatkan akan mantan kekasih nya yang mengugurkan anak nya sebelum lahir dan mengatakan hal yang sama.


"Kenapa? Kenapa tak mau?!" tanya James dengan tatapan tajam dan langsung mencengkram tangan gadis itu.


"Auch! Memang nya butuh alasan yah? Aku saja tidak punya perasaan pada mu! Kenapa aku harus punya anak dengan mu?!" jawab Louise dengan wajah meringis menahan sakit karna pria itu yang semakin mencengkram kuat tangan nya.


"Lalu kalau anak itu ada kau akan mengugurkan nya?" tanya James lagi entah kenapa mulai perasaan paranoid dalam dirinya.


Bukan karna masih mencintai atau menyukai mantan kekasih nya, namun karna ia sudah semakin tak bisa mengendalikan perasaan nya pada gadis cantik di depan nya.


"Tidak tau, tapi bukan nya itu sama saja seperti membunuh? Maka nya aku tak mau kalau sampai hal seperti itu terjadi! Dan lagi pula kenapa kau tiba-tiba berubah sensitif?" jawab Louise yang semakin berusaha melepaskan tangan yang sudah hampir membiru.


James pun melepaskan cengkraman tangan nya. Ia menatap ke arah gadis itu sejenak yang sedang melihat pergelangan tangan nya yang membiru bekas cengkraman tangan besi pria itu.


"Aku tadi hanya sedang takut..." ucap pria itu tersebut sembari menarik gadis cantik itu dalam pelukan nya secara perlahan.


"Takut? Takut karna apa?" tanya Louise pada pria yang sedang memeluk nya dengan erat.


"Takut dengan tak bisa mengendalikan perasaan ku..." jawab James lirih dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Kau bilang apa? Bicara kenapa seperti orang kumur-kumur sih?" tanya Louise yang sama sekali tak mendengar dengan jelas dan masih merasa jengkel karna tangan nya di cengkram hingga membiru.


James semakin memeluk gadis itu, entah kenapa ia tak ingin melepaskan nya dan seperti memiliki rumah saat bersama gadis itu.


Ia takut untuk memulai cinta nya lagi, baginya hal tersebut adalah tabu dan hal yang mengerikan. Pengkhianatan yang membawa dampak besar pada nya hingga membuat nya tak ingin mempercayai siapapun lagi dalam urusan kata "Cinta".