(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Regretful tears



15 Hari kemudian.


Brak!


Auch!


"Su-sudah..." ucap Louise lirih saat tubuh nya di balik dan di banting oleh pria itu, bahkan mengunci kedua tangan nya.


"Kau terlalu lemah, bangun." ucap James pada gadis itu sembari menarik tangan nya dan memaksa berdiri lagi.


"Kau pikir umur ku berapa sekarang?! Anak-anak yang belajar bela diri saja sejak usia 4 tahun!" ucap gadis itu pada pria di depan nya.


James tak menjawab dan kembali menarik serta memutar tangan gadis itu ke belakang tubuh nya dan mengunci nya.


"Kau juga bukan nenek-nenek kan? Usia mu masih bisa belajar bela diri," ucap pria itu dan terus melatih gadis di depan nya.


Auch!


"Sakit! Lepas dulu..." ringis Louise pada pria itu.


"Maka nya aku bilang lawan aku, kan?" ucap James pada pada gadis itu dan melepaskan kuncian tangan kebelakang nya.


"Aku lebih lemah dari wanita lain! Belajar bela diri yang keras seperti ini tidak cocok untuk ku!" ucap Louise dengan nada tinggi pada pria itu.


James mulai mengajari nya beberapa gerakan bela diri sejak satu minggu yang lalu. Ia ingin membuat gadis itu lebih kuat agar tidak di sakiti oleh musuh nya.


Pria itu saat ini tengah melakukan sesuatu yang berbahaya dan memungkinkan jika musuh yang sedang ia hadapi akan segera menggunakan gadis nya sebagai tameng dan ancaman untuk nya.


James merasa jika musuh dan rival bisnis nya mulai memperhatikan gadis itu karna ia sudah tak lagi mengganti wanita nya.


Bahkan beberapa dari rival nya sudah menyuruh orang lain mengikuti dirinya saat pergi bersama Louise ataupun beberapa lagi sudah mengikuti gadis itu.


Beberapa yang ketahuan sudah ia tangkap dan ia jadikan sebagai penyiram bunga milik nya di ruang rahasia.


Penyiram bunga dalam artian menggantung orang tersebut dan memberikan sayatan di seluruh kulit lalu meletakkan pot bunga di bawah orang yang di gantung.


Jadi orang-orang itu akan di sayat sampai darah nya habis untuk menyiram bunga-bunga nya setelah itu di gunakan untuk mewarnai bunga tersebut dengan darah yang di ambil.


"Lalu kau karna kau merasa lemah kau hanya ingin merepotkan orang lain dengan menjaga mu?" tanya James sembari menatap gadis itu.


"Aku tak perlu kau menjaga ku! Kalau kau mau melindungi ku cukup akhiri saja hubungan kita kalau seperti itu!" jawab Louise yang mudah terpancing emosi nya.


Ia sendiri tau siapa yang paling menjadi radiasi berbahaya untuk nya.


Ukh!


Nafas nya tercekat saat rahang nya tiba-tiba di cengkram kuat oleh pria itu hingga membuat nya meringis menahan sakit.


"Coba ulangi lagi? Apa yang kau inginkan tadi?" tanya James dengan nada penekanan pada gadis itu.


"Ck!" Louise langsung berusaha menepis dengan kuat tangan pria itu.


Auch!


Ringis nya langsung saat rambut nya tertarik dan membuat wajah nya mengandah menatap pria tampan itu dan tangan yang mulai turun ke leher nya mencengkram kuat hingga membuat nya tercekik dan terjambak di saat yang bersamaan.


"A-aku tak bisa bernafas..." ucap nya lirih sembari berusaha melepaskan tangan kekar pria itu di leher nya.


James diam tanpa ekspresi yang bisa di baca, sorot mata yang tak menampilkan kehidupan apapun.


Terlalu banyak berbohong dan healing pada dirinya sendiri yang belum selesai namun harus tetap mempertahankan kekuatan nya membuat ia tak lagi kehidupan dan emosi yang normal.


Ia sudah mati.


Jiwa dan emosi nya sudah tak ada lagi kecuali hasrat membalas dendam nya yang begitu kuat dan menjadi landasan berpacu nya dalam hidup namun mulai kembali tumbuh saat ia bertemu gadis yang selalu mengusik nya.


Membuat nya emosi nya kembali menggerogoti hati nya saat ia mulai menginginkan seseorang dan ingin melindungi nya namun ia juga bisa menjadi penghancur dalam hidup gadis itu.


Luka dan emosi nya yang bahkan belum pulih dari ingatan tentang kematian keluarga nya atau rasa sakit saat wanita yang ia cintai mengkhianatinya hingga membuat nya tak lagi bisa mengekspresikan semua yang ia rasakan dan selalu menampilkan wajah poker face.


Dan gadis cantik itu membuat emosi nya kembali tumbuh dan membangkitkan perasaan yang sudah mati saat semua luka nya belum pulih.


James melihat wajah Louise yang memerah karna nafas yang semakin tercekat dan ia pun mulai melepaskan tangan nya dari rambut dan leher jenjang gadis itu.


"Jangan berpikir untuk pergi dari ku! Kau tak bisa...


Kecuali aku yang memang melepaskan mu," ucap pria itu sembari menatap erat iris gadis di depan nya.


"Kau sungguh mengatakan hal seperti dengan wajah datar?" tanya Louise saat ia tak bisa membaca ekspresi pria di depan nya.


Tak tau membedakan hal yang berbohong atau tidak dari pria itu.


Humph...


Langkah nya memundur tanpa sadar saat pria itu bukan nya menjawab pertanyaan.


Louise berusaha mendorong pria itu namun James semakin menarik dan menahan tengkuk nya lalu mencium nya semakin dalam.


Glek...


Hah...hah...hah...


Louise menarik nafas nya dengan dalam saat pria itu melepaskan ciuman nya setelah membuat pertukaran saliva dan mel*mat lidah serta bibir gadis itu.


"Kau tak bisa menurut saja pada ku? Hm? Kau mau pulang kan?" tanya James dengan nada halus pada gadis itu.


"Perubahan emosi mu cepat sekali? Kau punya DID?" tanya Louise yang masih terengah-engah.


NB KET : DID sama seperti kepribadian ganda saat seseorang memiliki karakter terpisah dalam satu tubuh.


"Kau mau istirahat? Dua jam lagi kita belajar lagi." ucap James tak memperdulikan pertanyaan gadis itu.


"Aku tak mau! Terserah ku kan?! Ini kan tubuh ku! Hidup ku!" ucap Louise dengan amarah nya.


Ia masih marah saat ingat pria itu baru saja mencekik dan menjambak nya namun bersikap seperti tak melakukan apapun barusan.


James menghela nafas nya melihat gadis itu pergi berlalu dari nya dengan terlihat sangat kesal, ia membiarkan nya karna ia juga tau gadis cantik itu tak akan bisa pergi dari mansion megah itu tanpa izin nya.


Ia tau jika gadis nya bukan seperti anak anjing yang mudah ditundukkan namun seperti singa menggemaskan yang liar dan tak mudah tunduk ataupun patuh.


......................


JBS Hospital.


Louis mendorong kursi roda gadis manis itu membawa nya berjemur ke bawah sinar mentari hangat.


Selama dua minggu terakhir pria itu mulai mengganti aroma parfum dan membeli alat untuk merubah suara nya.


Alat chip kecil yang di ciptakan di oleh bawahan nya yang berasal di ruang visi.


Alat kecil itu bisa mengatur volume dan membentuk suara yang ia inginkan. Alat tersebut di masukan ke telinga nya seperti airphone kecil namun dengan ukuran mikro dan dapat mengubah langsung suara nya saat ia bicara.


Ia ingin berkomunikasi pada gadis itu lagi tanpa membuat nya kembali histeris.


"Kita di mana? Di luar rumah sakit?" tanya Clara saat mulai merasa hangat di timpa cahaya mentari.


"Hm, kau mau makan sesuatu?" tanya Louis dengan suara yang sudah berbeda hingga membuat gadis itu tak pernah tau kehadiran nya.


"Cahaya matahari itu seperti apa? Aku lupa...


Saat sudah tidak melihat nya lagi aku jadi ingin tau..." tanya Clara lirih pada pria yang ia sangka salah satu perawat atau dokter yang menjaga nya.


Louis melihat ke arah sinar mentari itu. Entahlah...


Ia juga tak bisa menjawab nya seperti apa warna mentari.


Terang?


Atau silau yang sedikit putih dan kekuningan seperti emas?


"Aku benar-benar buta kan? Aku tak bisa melihat lagi?" tanya Clara lirih dengan suara tertahan saat ia merasa tak ada lagi jawaban dari pria yang berdiri di belakang kursi roda nya.


Air mata nya jatuh dan mulai menangis tersedu lagi namun menahan suara nya.


"Maaf..." ucap pria itu lirih dan berbalik ke berjongkok di depan kursi roda gadis nya agar dapat melihat wajah yang tertunduk menangis itu.


"Aku harus apa sekarang? Aku sendiri...


Aku cacat..." tangis gadis itu yang meleleh keluar seperti lilin yang di bakar dengan nyala api.


Namun ia merasa jika pria itu mulai membuang nya juga saat tak lagi merasakan kehadiran nya.


Ia merasa di buang seperti sampah setelah di rusak hingga hancur oleh pria itu. Orang tua nya yang sudah tak ingin mengakui nya lagi di tambah dengan kondisi nya yang seperti tak bisa melakukan apapun.


Louis tak bisa mengatakan apapun ia melihat tubuh gadis itu yang gemetar dalam tangis nya.


Ia tak tau kenapa dada nya mulai sesak saat melihat gadis itu yang sudah terpukul hancur. Rasa aneh yang menyeruak hingga membuat tenggorokan nya terasa tercekat dan membungkam suara nya.


"Maaf..." ucap nya lagi dengan lirih.


Waktu tak bisa di ulang dan penyesalan tak bisa di cegah. Gadis manis itu sudah hancur dan anak yang ia inginkan sudah mati di tangan nya sendiri.


"Kenapa aku tak mati juga? Aku....


Bagaimana aku bisa hidup seperti ini..." tangis Clara yang tak tau bagaimana ia bisa bertahan sekarang.


Louis memegang tangan gadis itu sedangkan Clara tak tau siapa yang beberapa hari terakhir menemani nya selain dari adik Presdir nya.


Ia tak tau jika pria yang sangat ia benci lah dan yang ia anggap sudah membuang nya karna tau sekarang ia sudah cacat adalah pria yang sama dengan orang yang selalu menjaga nya.


"Maaf...


Kau tidak akan sendiri..." ucap Louis saat melihat gadis itu yang sudah benar-benar tak memiliki semangat untuk bangkit lagi.


"Kau bahkan tidak tau aku, kenapa baik pada ku? Kasihan? Aku harus hidup dengan belas kasihan orang lain sekarang?" tanya Clara dengan tangis nya, "Seperti pengemis." sambung nya lirih.


"Kenapa kau harus hidup dengan belas kasihan? Kau-"


"Aku cacat! Tidak bisa lihat! Tidak bisa jalan!" teriak gadis itu dengan tangis sendu nya memotong ucapan pria yang ingin berbicara pada nya.


"Aku ingin mati saja..." sambung nya lirih dengan tangis nya.


Louis tak bisa mengatakan kata penghibur apapun karna ia sendiri yang sudah menghancurkan gadis itu.


Ia bahkan masih merahasiakan tentang dua nyawa yang gugur di rahim gadis itu dan mengatakan jika ia sudah mandul dan tak bisa memimpikan untuk mengandung ataupun melahirkan seorang anak lagi.


Tangan nya mengelus lembut kepala dan menyentuh rambut halus gadis itu.


...


Skip time.


Pukul 12.30 Am


Clara terbangun di tengah malam saat ia mimpi buruk ketika pria itu kembali menemukan nya dan menghukum nya.


AKHH!!!


Gadis itu langsung bangun dan menutup mata dan telinga nya dengan erat, telinga nya berdengung mengingat kecelakaan nya dan ucapan pria yang meninggal di kecelakaan tersebut.


Cla! Kau lupa?! Dia yang menghancurkan mu! Dia yang merusak mu! Kau lupa itu?!


Ucapan Reno yang terdengar jelas di telinga nya sebelum kecelakaan begitu membekas pada diri nya.


"Di-dia yang menghancurkan ku...


Sekarang aku cacat dan dia membuang ku...


Aku benci! Benci sekali!" gumam nya lirih sembari menangis ketakutan di ranjang pasien nya.


"Aku membenci nya! Aku sangat membenci nya!" tangis gadis itu yang semakin menambah amarah di hati nya akan kebencian yang semakin memberi noda hitam pada nya.


Takut...


Gadis itu mulai beranjak bangun dan ingin pergi karna takut nya namun.


Bruk!


Ia lupa tentang kondisi nya yang sedang tak mampu berjalan, walaupun kemungkinan ia dapat berjalan jika mengikuti terapi dengan teratur namun ia bukanlah janji pasti karna ketika ia bangun di temukan lagi masalah lain.


Aku seharusnya mati saja kan? Kalau aku mati semua penderitaan ku akan hilang...


Ia yang kembali di sadarkan jika kini kesulitan berjalan membuat semangat nya semakin turun dan membuat nya tak lagi bisa berpikir jernih.


Tangan nya berusaha mencari dan meraba barang yang di sekitar nya guna menyakiti dirinya sendiri.


Auch!


Ringis nya saat tangan nya terkena serpihan kaca dari gelas yang ikut jatuh dari nakas di sebelah nya saat ia tanpa sengaja menyenggol nya.


Monitor alarm dari alat medis yang tiba-tiba tercabut membuat para dokter menyadari sesuatu tentang gadis itu dan segera melihat nya.


Louis yang juga malam itu berada di RS dan tak pulang karna adik nya yang lagi-lagi mengatakan pergi liburan dengan teman-teman nya hingga membuat nya tak bisa kembali lagi membuat juga enggan kembali ke kediaman nya dan tidur di kamar istirahat di ruangan nya agar bisa tau dengan cepat kondisi terbaru dari gadis itu.


"Jangan mendekat!" teriak Clara saat ia mulai mendengar langkah yang menuju ke arah nya.


Tangan nya terluka menggenggam erat pecahan kaca yang ujung tajam nya ia tempelkan di atas permukaan nya pergelangan tangan nya guna siap untuk memutus aliran arteri nya.


"Nona Clara jangan bertindak gegabah!" ucap salah satu dokter pada gadis itu.


Louis tak bisa mengeluarkan suara nya karna ia tak memakai chip pengubah suara nya, ia takut jika gadis itu menyadari kehadiran nya akan membuat nya semakin berfikir pendek.


"Gegabah?! Kenapa kalian menyelamatkan ku?! Seharusnya kalian selamatkan saja nyawa yang ingin hidup! Bukan aku!" teriak gadis itu histeris dengan tangis nya.


Takut dan putus asa yang berbaur menjadi satu telah menjatuhkan semangat nya.


Telinga nya semakin sensitif saat ia merasakan langkah yang mendekat pada nya.


Sreg!


Crass!!!


Tes...tes...tes...


Dengan cepat ia langsung menoreh tangan nya dengan kuat bahkan membuat nya darah segar itu terciprat ke wajah nya.


Ia ingin membuat luka lagi namun dengan cepat Louis menahan tangan nya yang memegang kaca dan berusaha menenangkan nya.


*Deg...


Aroma ini*...


Gadis itu tersentak ia tau dan sangat mengenal aroma harum yang menjadi ciri khas pria yang sudah menghancurkan nya.


Sedangkan Louis sendiri tak memakai parfum hingga aroma khas tubuh nya yang harum seperti sugar mint tersebut tercium oleh wanita yang sedang histeris tersebut.


"Lepas! Dasar iblis! Aku membenci mu! Aku sangat membenci mu!" ucap Clara dengan tangis nya sembari memberontak.


Namun tenaga nya semakin melemah karna luka di pergelangan tangan nya dan mulai kehilangan kesadaran nya.


"Kau bisa membenci ku...


Maka dari itu kau harus hidup...


Agar bisa membenci ku sebanyak yang kau inginkan..." ucap nya lirih di telinga gadis itu saat Clara mulai kehilangan kesadaran nya.


Setelah tenang ia pun membiarkan para dokter merawat gadis itu.


Kini Clara sudah berada di atas ranjang nya dengan luka yang sudah di obati. Mata nya terpejam memperlihatkan wajah tenang yang ia miliki.


Tes...


Satu bulir bening nya mengalir dari mata pria itu, ia tak tau jika hanya melihat gadis nya seperti ini akan membuat nya menjatuhkan air mata nya.


Sesak...


Awan bergemuruh kembali menyelimuti dada nya hingga membuat nya tak sulit bernafas, tenggorokan tercekat hingga membuat tak ada suara yang keluar dari bibir nya.


"Maaf...


Aku membuat mu cacat dan membunuh anak kita..." ucap nya lirih sembari menggenggam erat tangan gadis itu.


Air mata nya mulai keluar, ia tau ini bukan air mata yang sama seperti saat kedua orang tua nya meninggalkan nya.


Bukan air mata kesedihan namun air mata penyesalan....


Perasaan dan emosi baru yang membuat dada nya terasa sangat sesak dan sulit bernafas setiap kali ia melihat gadis di depan nya.