
Kali ini Hazel yang dibuat benar-benar terkejut oleh Alyss.
Beli pembalut? Aku?
Hazel memikirkan kata-kata yang baru di ucapkan Alyss, ia melihat Alyss yang gelisah dengan menatap wajahnya sekilas lalu menundukkan wajahnya lagi.
"Tidak! Aku tak mau! Apa kau harus memakainya?!" tolak Hazel dengan tak memandang wajah Alyss.
Alyss yang mendengar ucapan Hazel langsung mengandahkan wajahnya menatap Hazel, ia melihat dengan mata yang penuh pengharapan dan tatapan sendu.
"Ya-yasudah...
A-aku beli sendiri saja, kau naik saja lebih dulu." ucap Alyss lirih dengan nada lesu.
Ia pun membuka pintu bilik nya perlahan dan mulai keluar, Alyss terus mengalungkan tangannya menutupi dan memegangi perut nya yang masih terasa nyeri karna datang bulannya.
Melihat hal tersebut membuat Hazel membuang nafas kasar dan langsung menangkap tangan Alyss.
"Masuk!" titah Hazel yang menarik tangan Alyss sembari memasukkan nya lagi ke bilik yang ia tempati sebelumnya.
"Jangan keluar sebelum aku datang." sambung Hazel lalu ke luar dari toilet tersebut.
Alyss sempat bingung dengan perintah yang diberikan Hazel dan setelah beberapa saat ia baru bisa memprosesnya.
"Jadi....
Dia yang beli?" ucap Alyss lirih.
Hazel pun segera turun lagi untuk mencari minimarket yang berada dibawah, dan setelah ia masuk ia melihat lebih banyak pengunjung wanita dibandingkan pengunjung pria di dalam mini market tersebut.
Ia berjalan pelan mengitari minimarket tersebut. Tak beberapa lama ia berjalan, ia merasa ponselnya bergetar karna menerima notifikasi. Hazel pun segera membuka ponselnya, ia melihat jika Alyss mengirimkan pesan padanya.
"Kalau bisa yang sayap yah, dan obat pereda datang bulan juga."
Begitulah pesan yang dikirim Alyss. Hazel hanya membuang nafas kasar melihat pesan tersebut. Terkadang ia merasa heran dengan dirinya sendiri yang bersikap di luar kebiasaan jika bersama dengan Alyss.
"Haisshhh...
Kenapa aku kesini juga?" tanya Hazel yanv merasa heran pada dirinya sendiri.
Langkah nya terhenti ketika ia berada di bagian yang menjual pembalut wanita. Ia pun mulai melihat dan mencari kata "Sayap" yang dikatakan Alyss, walaupun ia tak mengerti maksud dari kata tersebut.
"Sayap...." ucap Hazel lirih sembari mata nya terus menelisik.
"Tidak ada sayap disini, sayap apa yang dimaksudnya?" ucap Hazel lirih ketika ia melihat bagian yang menjual pembalut tersebut.
Dalam bayangan nya sayap yang dimaksud Alyss adalah benar-benar sayap seperti sayap peri dongeng atau pun sayap serangga.
Tanpa Hazel sadari ia mulai menarik perhatian para pengunjung wanita yang berada di minimarket tersebut. Para wanita yang berada di sana memperhatikannya sembari menyunggingkan senyuman di bibir mereka. Karna sangat jarang seorang pria datang dan membeli pembalut.
Saat Hazel menyadari hal tersebut ia pun langsung pura-pura salah tempat.
"Eh? Yang bagian tissu mana yah?" ucap Hazel asal sembari melihat sekeliling dan mulai melangkahkan kaki nya lagi. Ia berjalan dengan kikuk melewati bagian yang menjual pembalut tersebut.
Baginya membunuh dan menghilangkan nyawa seseorang lebih mudah dari pada membeli pembalut untuk wanita. Baru kali ini dalam hidup nya ia merasa malu dan canggung.
Hazel pun berjalan mendekati bagian kasir dan mengetuk meja kasir tersebut dengan jari telunjuk nya sehingga membuat penjaga kasir langsung bertanya padanya dengan ramah.
"Ada apa pak? Dimana belanjanya?" tanya penjaga kasir tersebut ketika melihat Hazel yang tak membawa apa-apa.
"Bisakah kau yang mengambilnya? Aku akan berikan uang lebih nanti." ucap Hazel dengan nada sedikit berbisik pada penjaga kasir tersebut.
"Bisa pak, barang apa yang ingin anda beli?" tanya penjaga kasir tersebut.
"Pembalut yang sayap, dan obat pereda sakit datang bulan." jawab Hazel masih dengan nada sedikit berbisik agar pengunjung lain tak mendengarnya.
"Oohh pembalut...
Yang panjang nya berapa pak? Untuk siang atau untuk malam?" tanya kasir tersebut dengan suara yang sedikit naik sehingga para pengunjung yang lain ikut mengalihkannya perhatiannya ke Hazel dan ia sendiri.
Wajah Hazel memerah antara malu dan geram, rasanya ia sangat ingin menyobek mulut penjaga tersebut dan menggunting habis lidahnya.
Penjaga tersebut tak bermaksud untuk membuat Hazel merasa malu, karna Hazel yang berbicara pelan seperti sedang berbisik membuat nya kurang dapat mendengar apa yang Hazel katakan. Maka dari itu saat ia menangkap ucapan Hazel, ia tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Kau cari saja yang bagus." ucap Hazel kesal.
"Baik pak, ada lagi yang dibutuhkan?" tanya penjaga tersebut dengan tersenyum ramah.
"Tidak!" jawab Hazel singkat, kekesalan nya seperti sudah meluap-luap diatas kepalanya ketika melihat penjaga tersebut.
Penjaga tersebut pun mengambil apa yang dipesan Hazel, setelah ia mengambilnya Hazel langsung membayar nya dengan uang berjumlah lebih dan bahkan sangat lebih untuk barang yang ia beli.
"Cepat bungkus!" perintah Hazel.
Setelah penjaga kasir tersebut memasukkan pembalut dan obat pereda nyeri ke dalam plastik, Hazel langsung menyambarnya dan segera keluar tanpa meminta kembaliannya terlebih dahulu.
Hazel pun segera kembali menghampiri Alyss yang masih menunggu di dalam toilet.
Saat Hazel masuk ke dalam toilet beberapa pengunjung wanita yang berada di toilet tersebut yang sedang merapikan riasan mereka di depan cermin terkejut dan berteriak saat melihat Hazel yang tiba-tiba masuk.
Hazel pun dengan wajah datarnya tak perduli dengan teriakan para pengunjung wanita dan tetap menuju bilik tempat Alyss berada.
Alyss pun membuka pintu bilik nya dengan perlahan dan mengambil bungkusan yang dibawa oleh Hazel.
Setelah ia memakai pembalut nya ia pun keluar, ia melihat beberapa wanita yang melirik nya tajam, karna saat Hazel tadi masuk ke toilet tersebut hanya untuk menghampirinya dan memberinya bungkusan tersebut.
Alyss pun tersenyum kikuk kepada para wanita itu.
"Ma-maaf kak..." ucap nya dengan senyum kikuk sembari menundukkan kepala dan berjalan seperti kucing yang tersiram oleh air.
Setelah Alyss keluar ia melihat Hazel yang sedang bertelepon dan menunggunya sembari duduk di bangku yang mereka gunakan untuk istirahat tadi.
"Kau sudah selesai? Ayo naik lagi." ajak Hazel ketika melihat Alyss dan mematikan telponnya.
"Perut ku masih sakit...
Kaki ku juga..." ucap Alyss lirih dan menunduk melihat tumit dan kelingking kaki nya yang lecet karna wedges yang ia pakai.
"Kenapa pakai sepatu yang seperti itu?" tanya Hazel yang sudah berjongkok di kaki Alyss untuk melihat lukanya.
"Kan aku tidak tau jika kita mau menaiki anak tangga." jawab Alyss lirih.
"Yasudah nanti kita obati saat turun, kau sudah minum obatnya?" tanya Hazel yang kini sudah bangun sembari melihat wajah Alyss.
"Sudah..." jawab Alyss lirih.
Hazel pun mengangguk kecil dan kemudian berjongkok lagi untuk menawarkan punggung agar menggendong Alyss.
"Kalau kau tak naik dalam hitungan ketiga, aku akan menyeret naik mu tak peduli kaki mu yang terluka atau perut mu yang sakit." ucap Hazel.
"Satu.... Dua ..." Hazel yang mulai berhitung.
Alyss yang langsung naik ke punggung Hazel sebelum hitungan ketiga. Hazel pun bangun dan menaiki anak tangga lagi untuk sampai ke atas tebing.
"Kenapa kau sangat ingin naik ke atas? Kau sangat ingin melihat pemandangan nya?" tanya Alyss saat Hazel mengendong nya dan menaiki anak tangga.
Hazel merasakan hembusan nafas halus Alyss yang menerpa telinganya saat wanita yang ia bawa di punggung nya bertanya padanya.
"Iya aku sangat ingin kesana." jawab Hazel.
"Hmmm....
Aku berat?" tanya Alyss lirih, karna ia tau lelah nya naik tangga dan saat ini Hazel malah sedang menggendong nya di punggung pria kekar itu.
"Tidak, kau tidak berat. Tapi tidak tau nanti, karna seperti nya kita masih memiliki banyak anak tangga yang harus dinaiki." jawab Hazel sembari membenarkan posisi Alyss di gendongan agar tak terjatuh.
"Ahh... lebih tepat nya anak tangga yang harus ku naiki." sambung Hazel lagi dengan mendesah kasar.
Alyss tertawa kecil mendengar ucapan Hazel, ia berpikir mungkin ini sedikit balasan untuk Hazel karna menyiksa beberapa waktu lalu.
"Kau sepertinya sangat senang jika melihat ku kesulitan." ucap Hazel ketika merasakan tawa kecil Alyss.
"Ti-tidak!" sanggah Alyss cepat.
"Maaf...." sambung nya lirih pada Hazel.
Hazel hanya tersenyum mendengar maaf yang diucapkan Alyss.
"Kau tau? Tadi aku sangat ingin membunuh seseorang." ucap Hazel lagi.
Deg...
Alyss terkejut saat mendengar ucapan Hazel, jantung nya mulai berdebar, ia mulai takut jika yang dimaksud oleh Hazel adalah dirinya.
"Maaf...." ucap nya lagi.
Hazel yang merasakan degupan jantung Alyss dan mendengar permintaan maaf lirihnya membuat Hazel tertawa kecil.
"Bukan kau, tapi penjaga toko minimarket yang ada di bawah." ucap Hazel dengan sedikit tertawa.
"Eh? Kenapa? Jangan membunuh nya." ucap Alyss memohon.
"Kenapa aku harus mendengar mu? Aku tak akan membunuh nya jika kau menjadi penurut." balas Hazel.
Hazel pun terus menaiki anak tangga tersebut hingga mencapai puncak tebing, selama ia menaiki anak tangga tersebut Alyss terus saja mengobrol dengan nya, lebih tepatnya Alyss mulai menjadikannya teman bicara, dan tidak terlalu berhati-hati seperti biasanya.
Ia tak pernah berbicara sesantai dan sebanyak ini pada Alyss sebelumnya.
"Sudah sampai." ucap Hazel dan menurunkan Alyss dari punggung nya.
Alyss pun mengandahkan mata nya melihat ke sekeliling dan mulai merasakan udara sejuk yang cenderung dingin menerpa wajah dan tubuhnya.
Ia pun mulai berjalan ke pinggir tebing yang sudah di beri pembatas dan melihat pemandangan dari atas.
"Bagus sekali...." ucap nya lirih ketika melihat pemandangan yang begitu mencuci mata nya.
Hazel pun mulai mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Setelah ia mengirim pesan tersebut ia pun mulai melangkahkan kaki nya mendekati Alyss.
Ia melingkarkan tangannya dan mulai memeluk Alyss dari belakang. Ia mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya untuk menghalau beberapa angin dingin yang menerpa tubuh kecil wanita yang ia cintai.
"Bagus kan?" tanya Hazel sembari mencium dan mengesap puncak kepala Alyss dari belakang.
"Iya..." jawab Alyss mengangguk kecil dan masih terpesona dengan pemandangan di depan matanya.
"Mau lihat yang lebih bagus?" tanya Hazel lagi.
Alyss pun langsung menoleh ke kebelakang dan melihat ke arah Hazel dengan tatapan bingung.
Hazel hanya tersenyum dan mengecup bibir Alyss sekilas, belum sempat Alyss protes Alyss sudah dikejutkan dengan suara pesawat yang mulai datang.
Alyss pun langsung melihat ke sumber arah tersebut. Ia kembali terkagum saat melihat beberapa pesawat yang seperti menunjukkan beberapa atraksi, tak hanya Alyss pengunjung lainnya juga merasa terkagum melihat beberapa pesawat yang sedang beratraksi di depan mereka.
Setelah selesai pesawat tersebut seperti mengeluarkan potongan kertas manik-manik yang berkelap-kelip diikuti dengan ribuan balon yang di bebaskan terbang ke udara.
Alyss benar-benar tak bisa berkata-kata, pemandangan yang ia lihat sekarang seperti di negri dongeng yang ia lihat saat kecil dulu.
Pengunjung yang lain yang berada di tempat itu pun juga merasa terkagum dengan apa yang mereka lihat oleh mata mereka.
"Kau suka?" tanya Hazel berbisik di telinga Alyss.
Pertanyaan Hazel menyadarkan Alyss dari lamunan kagum nya. Ia pun langsung menoleh kearah Hazel dengan sedikit mengarahkan tubuhnya kebelakang, Hazel hanya tersenyum melihat wajah Alyss yang kebingungan.
"Kau yang menyiapkan ini?" tanya Alyss dengan memicingkan matanya menatap Hazel dengan penuh selidik.
"Menurut mu?" jawab Hazel yang balik bertanya dan langsung mencium bibir Alyss, ia memberikan l*m*t*n lembut ke bibir tipis itu.
Alyss membulatkan matanya dan langsung berusaha melepaskan ciuman Hazel, namun Hazel sudah lebih dulu menahan wajah Alyss dengan tangan kekarnya agar Alyss tak bisa mengelak dari ciumannya.
Setelah beberapa menit Hazel m*l*m*t bibir Alyss dengan lembut, ia pun mulai melepaskannya.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Alyss gugup ketika Hazel menciumnya seperti itu di depan umum.
Hazel hanya tersenyum dan berbisik ke telinga Alyss.
"Bayaran karna sudah menggendong mu melewati 1800 anak tangga."
Alyss merasakan hembusan hangat nafas Hazel di telinganya di tengah udara sejuk dan dingin yang sedang menerpanya.
Ia mengandahkan wajahnya untuk melihat wajah Hazel yang tersenyum ke arahnya.
Hazel benar-benar bisa membuatnya seperti menaiki roller coster, ia tak tau kapan akan di terjunkan dan kapan akan dibuat naik.
Ia benar-benar tak bisa menebak pria yang sedang tersenyum kearahnya.
Kadang bersikap sangat lembut dan kadang bersikap sangat kasar yang berada di luar batas kewajaran hanya karna masalah kecil atau bahkan masalah yang ia sendiri tak tau apa alasan nya namun harus menerima semua hukuman yang diberikan padanya.
...****************...
Jangan lupa like, komen, Rate 5, vote, dan fav nya yah🤭🤭🤭
Serta dukungan lain yang kalian berikan ke othor🤗🤗
Makasih buat dukungan yang kalian berikan ke othor, para readers kesayangan othor❤️❤️❤️
Eh, kalo othor buat adegan psycho lagi mau ga kalian?🙃🙃🙃
Tapi nanti Alyss nya kasihan sih....
Happy Reading.....🥰🥰❤️❤️