
Alyss telah selesai bekerja dan segera kembali ke apatermen nya. Hari belum terlalu malam saat itu, jam masih menunjukkan pukul 08.00 PM.
"Nanti buat scrambled egg deh, sama daging panggang hihi." ucap Alyss riang sembari mengganti pakaian nya di ruang loker.
Saat Alyss pulang ia melewati toko kue dan tergoda untuk membeli beberapa. Akhirnya ia pulang dengan belanjaan yang penuh di tangannya.
Alyss merasa sangat bahagia akhir-akhir ini karna merasa terbebas dari Hazel. Namun saat bahagia nya akan segera berakhir.
ting...tung...ting...tung....
Suara bunyi bel apatermen Alyss. Saat itu Alyss yang tengah menikmati makan malam nya pun segera beranjak untuk melihat siapa yang datang.
Alyss pun melihat siapa yang datang dari kamera bel pintu apatermen milik nya.
"Eh siapa ya? Aku tak mengenal nya sama sekali." gumam Alyss ketika melihat orang asing yang berdiri di depan pintu nya.
"Who are you?" (Siapa kau?)
tanya Alyss ketika mengaktifkan perekam bel nya.
"Security check, could you open the door, miss?" ( Pemeriksa keamanan, bisakah anda membuka pintunya, nona?)
Jawab pria asing tersebut.
"I didn't order the service, maybe you have the wrong address." (Saya tak memesan layanan tersebut, mungkin anda salah alamat)
Ucap Alyss pada pria tersebut.
"This is a routine service from the apartmen, miss." (Ini adalah layanan rutin dari apatermen, nona)
Jawab pria tersebut.
Setelah cukup lama meyakinkan Alyss, akhirnya Alyss membuka pintu juga, dan itu adalah keputusan yang sangat salah.
Saat ia membuka pintu pria itu langsung mendorong nya masuk dan menyuntikkan obat bius ke leher Alyss.
Alyss yang tak sempat mengelak atau pun memberontak tak dapat menghindari suntikan tersebut.
"What! What are you doing?!" ucap Alyss yang sudah sangat pusing dengan memegang lehernya sebelum kehilangan kesadaran dan ambruk.
Pria tersebut langsung masuk, dan mengambil seluruh surat-surat penting dan mengurus keberangkatan Alyss kembali.
Pria itu adalah suruhan Hazel untuk membawa Alyss kembali.
......................
Satu malam kemudian.
Hari telah berubah menjadi pagi, namun cahaya mentari tak dapat masuk ke ruang bawah tanah.
Alyss kini tengah berada di ruang putih milik Hazel. Mata nya masih sangat berat untuk terbuka karna dosis bius yang di berikan terlalu besar padanya.
Ia memaksa membuka pandangan mata nya yang masih sangat kabur, dan belum memiliki kesadaran total.
"Sudah bangun sayang?"
Suara yang tak asing terdengar di telinganya, ia melihat samar-samar seorang pria yang duduk di samping tempat ia tidur dengan segelas wine di tangannya.
"Apa ini mimpi buruk lagi ? Kenapa aku mendengar suaranya dan melihatnya lagi ? Ayolah...
Aku ingin cepat bangun..." pikir Alyss ketika mendengar dan melihat Hazel samar-samar.
Ia masih tak tau bahwa semua ini nyata dan mengira bahwa apa yang terjadi padanya saat ini hanyalah salah satu dari mimpi buruk yang biasa menghampirinya.
Melihat Alyss yang masih setengah tersadar, Hazel hanya menyunggingkan bibirnya dan tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggu mu untuk benar-benar tersadar. Tidak menyenangkan jika kau tak dapat melihat dengan jelas nanti." bisik Hazel di telinga Alyss.
Hazel pun meninggalkan Alyss di ruang putih tersebut dan keluar membeli sesuatu.
Pagi telah berganti siang dan siang telah berganti sore.
Hazel kembali keruang putih dan melihat Alyss kembali.
Alyss membuka mata nya perlahan, kali ini ia sudah benar-benar sadar. Saat melihat Hazel, Alyss langsung membulatkan matanya. Ia masih ingin percaya bahwa ia sedang bermimpi sekarang.
"Kau! Kau, ke-kenapa bisa disini?" ucap Alyss ketika melihat Hazel. Wajah nya langsung pucat dan tubuh nya mulai gemetaran.
"Kau tak lihat kita sedang berada dimana?" ucap Hazel enteng dengan senyuman di wajahnya ketika melihat Alyss yang sedang ketakutan.
Alyss yang masih belum menyadari di mana dirinya saat ini pun langsung mengalihkan padangan nya dari Hazel dan melihat sekeliling.
Deg...
Wajah Alyss semakin pucat pasi saat ia melihat ia sedang berada di ruang putih, tempat dimana Hazel membawa nya pertama kali dan tempat untuk membunuh seluruh korban Hazel.
Ketika Alyss melihat apa yang sedang menahannya..
Deg...
Ternyata Hazel merantai satu kaki Alyss sehingga ia tak dapat pergi kemanapun. Rantai itu hanya sepanjang setengah meter, dan tentu saja dengan panjang seperti itu Alyss tak akan dapat kemanapun.
"Kenapa ingin pergi lagi?" ucap Hazel pelan dengan memegang dagu Alyss yang membuat Alyss mendongak ke atas melihat Hazel.
"Ma-maaf." ucap Alyss bergetar yang tanpa sadar mengeluarkan cairan putih bening di ujung matanya.
Hazel tak menjawab dan hanya tersenyum melihat Alyss, dan....
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Alyss. Setelah menampar Alyss Hazel menarik rambut Alyss dengan kuat, dan membuat wajah mereka berhadapan dengan dekat satu sama lain.
Alyss yang merasakan sakit dan perih di pipinya karna Hazel menamparnya hingga meninggalkan bekas.
Ketika Hazel menjambak rambut nya dengan kuat, ia dapat melihat wajah Hazel dari dekat dengan melemparkan senyum psyco padanya.
Rasa sakit di pipi nya dan rasa sakit di kepalanya karna Hazel menjambak nya, pun terasa hambar saat ia melihat senyuman Hazel.
Rasa takut lebih besar dan menguasai Alyss dibandingkan rasa sakit yang ia terima secara fisik.
"Aku punya banyak kejutan untuk mu. Mana yang ingin kau lihat lebih dulu?" bisik Hazel di telinga Alyss sembari terus menjambak rambut nya.
Alyss semakin gemetar ketika Hazel berbisik padanya. Hazel pun melepaskan tangan nya yang sedang menjambak rambut Alyss dengan kasar.
"Kau ingin lihat ini? Mereka mungkin adalah orang yang kau rindukan." ucap Hazel sembari mengambil laptop dan memutar sesuatu.
Saat Hazel menunjukkan hal tersebut, mata Alyss langsung terbelalak.
"A-apa yang kau lakukan? I-itu orang tua ku?" ucap Alyss yang melihat rekaman orang tuanya, yang seperti di buntuti oleh seseorang.
"Iya. Ini orang tua mu. Tenanglah mereka masih baik-baik saja saat ini, tapi tak tau jika nanti." ucap Hazel enteng sembari menaikkan bahunya.
"Jika kau membuat ku kesal sekali lagi, aku menyuruh orang yang sedang mengawasi kedua orang tua mu untuk langsung membunuh mereka di tempat. Dengan satu tembakan di kepala itu cukup kan, untuk membuat orang langsung mati?" sambung Hazel lagi dengan enteng dan menatap lekat mata Alyss.
"Ja-jangan kumohon...
Me-mereka tak salah apa-apa...
Ini salah ku..
Aku minta maaf.." ucap Alyss menangis sembari menyatukan kedua telapak tangannya untuk memohon pada Hazel.
Plak !
Satu tamparan keras melayang ke pipi Alyss lagi.
"Jika tau salah, kenapa kau kabur saat itu? Ha?!" tanya Hazel dengan mencengkram wajah Alyss dengan kuat.
Alyss hanya menangis dan tak menjawab apapun.
"Oh ya, aku masih punya satu hadiah lagi untuk mu." ucap Hazel sembari melepaskan cengkraman nya di wajah Alyss dengan kasar.
Ia pun berjalan menuju kursi panjang yang bentuk nya mirip seperti ranjang pasien di rumah sakit, namun lebih kecil lagi.
Hazel memutar kursi tersebut menghadap Alyss. Alyss masih bingung dengan apa yang akan di lakukan Hazel. ia melihat kursi panjang, yang di tutupi dengan kain.
Hazel menarik kain tersebut dan...
Alyss semakin gemetar dan pucat ketika melihat apa yang berada di balik kain tersebut...
Dan itu adalah Larescha...
Larescha, masih belum sadar, kedua tangan dan kakinya terikat dengan rantai, tetapi kondisi nya masih terlihat baik-baik saja.
Hazel juga menculik Larescha tak lama setelah Alyss kembali.
"Kau lihat? Aku membawa teman mu juga. Aku ingin menyimpan nya juga, agar kau memiliki teman...
Tetapi, aku tak terlalu suka orang asing, jadi aku membeli ini." ucap Hazel dengan tersenyum dan membawa boneka yang baru saja ia beli ke hadapan Alyss.
"A-apa yang kau inginkan?" tanya Alyss yang makin menangis melihat teman nya yang sedang dirantai di hadapannya.
"Dia akan bangun sekitar 2 jam lagi, dan setelah dia bangun aku akan mengulitinya dan memindahkan kulit nya lalu menjahitnya ke boneka ini, tapi jika hanya memindahkan kulit, boneka ini tak akan terlalu mirip dengannya...
Oh kita bisa memindahkan mata juga kan? dan mengganti mata boneka ini dengan mata teman mu? Bagaimana apa ide ku bagus kan? Jika masih tak cocok masih bisa kita pindahkan bagian tubuh yang lain juga." ucap Hazel dengan senyuman mengerikannya.
"Jangan kumohon...
Aku salah..." ucap Alyss yang makin menangis ketika mendengar ucapan Hazel.