
Mansion Dachinko.
Louise melihat ke arah jejak yang di tinggalkan pria itu di tubuh nya saat ia mandi, begitu banyak hingga ia pun tak dapat menghitung nya.
"Ck! Bersenang-senang! Aku tak mau lagi bersenang-senang dengan nya!" decak Louise sembari menatap kesal dengan wajah dan mata yang masih sembab.
Setelah membersihkan diri nya dan memakai pakaian yang sudah di siapkan untuk nya semenjak ia menginap di mansion tersebut, gadis itu pun keluar.
Ia menuruni anak tangga di mansion mewah tersebut tanpa menggunakan lift. Karna rumah dan kediaman megah memang memiliki lift guna menuju lantai atas tanpa menaiki anak tangga sama seperti di kediaman nya.
Gadis itu melihat pria yang berdiri tegap menampilkan punggung kokoh nya dengan menghadap ke halaman luas dan melihat dari dinding kaca besar yang memberikan sinar mentari ke mansion tersebut.
"Aku mau pulang, lagi pula kau juga sudah selesai bersenang-senang nya kan?" tanya Louise menyindir pada pria yang masih membelakangi nya.
James berbalik dan melihat ke arah wajah gadis itu dengan tatapan mata yang menyimpan sejuta pertanyaan tak hanya bisa di jawab oleh dirinya sendiri.
"Kau habis menangis?" tanya James sembari menangkup wajah gadis itu.
Louise membuang wajah nya dan menepis tangan yang sedang memegang ke dua pipi nya.
"Bukan urusan mu, kan? Aku mau kembali, ku pikir kita sudah cukup bersenang-senang nya." jawab Louise ketus dan terus mengembalikan kata-kata yang ia terima.
"Kau membuat ku bingung..." ucap James tiba-tiba sembari menatap lekat wajah gadis itu.
Louise kembali melihat ke arah mata dan wajah pria di depan nya.
"Kau menyenangkan, membuat ku semangat dan merasa nyaman...
Perasaan nyaman yang terus mengganggu..." ucap pria itu lagi ia bingung bagaimana cara nya menyelesaikan masalah nya saat logika dan perasaan memiliki dua jalan yang berbeda.
"Lalu aku akan bertanya pada mu dengan pertanyaan yang sama.
Kau sudah menyukai ku? Atau mungkin cinta?" sambung James sembari bertanya pada gadis di depan nya.
Louise ingin mengatakan "Tidak!" namun hati nya terasa berat ingin mengatakan nya, namun saat ia ingin mengatakan "Iya" dirinya seperti memiliki alarm lain yang melarang nya.
"Entahlah, aku bingung..." jawab gadis itu lirih dengan perasaan yang tidak bisa ia katakan.
"Sama, aku juga. Tapi kalau bisa memilih aku tak ingin mencintai siapapun, termasuk kau." ucap James pada gadis itu.
"Kenapa? Kenapa seperti itu? Orang lain setidak nya harus merasakan cinta kan?" tanya Louise yang langsung tak menyukai stagment yang di ucapkan pria di depan nya.
"Cinta itu kelemahan...
Kalau aku mencintai seseorang aku akan menjadi lemah, aku akan mengharapkan orang lain, dan ingin melindungi nya." jawab James pada gadis di depan nya.
"Tapi ku rasa tidak semua nya benar! Kalau kau mau melindungi sesuatu secara otomatis kau akan belajar untuk kuat!" ucap gadis itu lagi entah mengapa ia merasa pria di depan nya sangat takut akan kata "Cinta"
James tertawa kecil mendengar ucapan gadis di depan nya, ia tau ucapan gadis itu tak salah sama sekali, namun itu tak berlaku untuk nya. Bagi orang sepertinya "Cinta" bukan lah sesuatu yang mudah, dan bagi orang seperti nya "Cinta" adalah suatu kemewahan yang sangat sulit di dapatkan.
"Saat kau menjadi kuat dan lebih banyak memiliki musuh di bandingkan teman, maka mereka akan mencari kelemahan mu, jika tak ada maka akan mencari sesuatu yang sangat ingin kau lindungi karna itu sama saja seperti kelemahan setelah itu menghancurkan nya untuk menyakiti mu." jawab James lagi pada gadis di depan nya.
"Ck! Rumit!" decak Louise dengan kesal dan membuang wajah nya.
James melihat nya dan tersenyum tipis, ia perlahan mendekat dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat serta mengesap aroma harum yang di keluarkan tubuh gadis itu bersama dengan aroma sabun segar yang biasa ia gunakan namun ia merasa lebih cocok di tubuh gadis nya.
Aku tak mau terluka lagi dan memiliki kelemahan...
Dan aku juga tak ingin kau terluka karna menjadi kelemahan ku...
Louise merasakan pelukan erat pria itu yang dengan sepenuh hati memeluk nya. Aroma khas pria iblis yang di balut dengan rupa yang tampan itu tercium lagi di indra penciuman nya.
"Kita...
Seperti ini saja dulu, jalani apa sudah di mulai..." ucap James lirih di telinga gadis itu dan melepaskan pelukan nya.
Kalau ia sudah tidak takut dengan satu kata berjuta makna itu lagi ia akan melindungi gadis nya, ia tau ia tak bisa melindungi seseorang dengan alasan "Cinta" lagi jika luka nya saja bahkan belum kering.
"Tapi kalau begitu han-"
Humpphh...
Ucapan nya yang langsung terbungkam saat pria di depan nya memangaut bibir nya dan mulai memegang tengkuk nya guna menahan kepala nya agar pria itu bisa lebih leluasa mencium nya.
Lum*tan lembut yang semakin berubah menjadi semakin dalam membuat gadis cantik itu yang awal nya membelalak mulai memejamkan mata nya dengan perlahan dan menikmati ciuman tiba-tiba tersebut.
Tangan nya perlahan ia angkat dan mengalungkan ke pundak pria yang sedang mel*mat habis bibir nya, memeluk pria itu tanpa sadar dan membalas setiap lum*tan yang di berikan pada nya.
Ia tak tau kenapa bisa bersikap sebodoh ini, tapi pria yang bersama nya saat ini sudah membuat nya berjalan dan berlari ke tempat asing yang belum pernah ia lalui tanpa tau jalan kembali.
......................
JBS Hospital.
Clara masih tetap datang ke kantor seperti biasanya, walaupun ia takut namun pria yang datang malam itu ke apart nya kini bersikap seperti tak terjadi apapun.
Bagaikan ketenangan sebelum badai datang dan menghancurkan apa yang di kenainya.
Gadis itu dengan gugup meletakkan data ke meja Presdur di depan nya, sedang pria itu terlihat sangat dingin bahkan tak berbicara sedikitpun atau pun menanyai nya tentang malam itu lagi.
Louis hanya berbicara tentang pekerjaan dan benar-benar bersikap seperti atasan dan bawahan namun kali ini sikap dingin dan tak acuh sangat terlihat hingga membuat Clara dapat merasakan nya dengan jelas.
"Itu..." ucap Clara ragu pada pria di depan nya yang masih melihat ke arah laptop tanpa memperdulikan sekertaris nya.
"Apa? Kalau bukan hal penting silahkan keluar." jawab Louis dingin tanpa melihat ke arah gadis di depan nya.
"Malam itu...
Kalau ku katakan kami tak melakukan apapun, bisakah kau mempercayai ku?" tanya Clara dengan suara lirih dan gugup.
Louis berhenti melihat layar di depan nya dan menatap ke arah gadis di depan nya, ia tersenyum dengan senyuman mengejek pada gadis itu.
Ia pun berdiri dan menghampiri sekertaris nya yang berdiri tak jauh dari nya.
Sreg...!!!
Dengan tiba-tiba dan tanpa aba-aba pria itu langsung menarik dan membuka paksa kemeja shifon itu hingga memperlihat dada putih gadis di depan nya.
Louis menampilkan senyuman mengejek serta senyuman pahit yang beradu satu saat ia melihat bekas kecupan di dada gadis itu.
"Dengan semua bekas ini kau mau mengatakan tak terjadi apapun? Mempercayai mu? Kau bahkan tak pantas untuk di percayai!" ucap Louis tersenyum namun menjatuhkan senyum nya dan menatap dengan tekanan yang kuat.
Bruk!
Pria itu langsung melepaskan tangan nya mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Aku tak tau lagi mana kebenaran dan kebohongan dari yang kau katakan, tapi yang ku tau jelas kau masih memiliki hubungan dengan nya dan berbohong pada ku!" ucap Louis sembari mengambil tissu dan mengelap tangan nya seakan-akan baru menyentuh kotoran.
Clara terdiam, ia hampir saja mengeluarkan tangisan nya namun ia berusaha menahan nya sebisa mungkin. Ia bangun dan menutup kemeja nya yang terbuka. Ia tau kebohongan nya sudah membuat pria di depan nya benar-benar kecewa.
"Aku tau aku salah, aku memang masih memiliki hubungan dengan nya dan belum putus, tapi aku sama sekali belum melakukan apapun! Yang kau lihat bukan keseluruhan yang sebenar nya!" ucap nya lagi dengan mencoba menjelaskan.
"Kau sudah membohongi ku, lalu bagaimana aku bisa percaya kalau kali ini ucapan mu bukan kebohongan?" tanya Louis pada gadis di depan nya.
Clara terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun lagi saat posisi nya memang ia lah yabg bersalah kali ini.
"Keluar! Aku tak bisa melanjutkan pekerjaan ku jika melihat wanita kotor seperti mu! Jalang!" ucap nya lagi yang mulai kembali menghina gadis itu.
Clara pun menunduk sekilas dan keluar dari ruangan tersebut, dada nya terasa sesak dan ia tak bisa menahan tangis nya. Bahkan jika ia mengatakan kebenaran pria itu tak akan kembali mempercayai nya lagi.
...
JBS Farmasi.
Para profesor tersebut tentu saja bingung dengan perintah yang di ucapkan presdir mereka, mereka juga bingung bagaimana cara nya membuat obat per*ngsang agar wanita yang di berikan tak memiliki efek mabuk dan sepenuh nya sadar akan apa yang terjadi.
"Aku mau dalam waktu satu minggu harus selesai!" ucap Louis lagi dan keluar dari ruangan lab tersebut.
Ia sudah melakukan langkah awal nya dalam menghancurkan gadis itu.
Namun ia akan kembali menyentuh gadis itu saat semua tanda dan bekas kecupan di tubuh nya hilang, karna ia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri yang merasa jijik saat tubuh itu masih memiliki bekas yang di tinggalkan pria lain.
......................
Bar.
Rian melihat ke arah putra sahabat nya yang terlihat kesal terus menerus, ia tak tau mengapa pria itu mengajak minum tiba-tiba.
"Kau tumben mengajak ku minum? Sedang ada masalah?" tanya Rian membuka suara.
"Kalau Louise bisa di ajak minum, aku juga mau nya minum sama Louise! Zayn juga tidak bisa diajak karna mau belajar tentang perusahaan." ucap Louis mendengus kesal.
"Kau tak punya teman? Selain Zayn dan Louise?" tanya Rian yang tak ingin terlibat dengan urusan anak muda.
"Tidak!" jawab Louis singkat sembari meminum alkohol nya.
Rian hanya menggeleng melihat pria muda di depan nya, baru saja ia ingin bermesraan istri nya karna mulai melepaskan pekerjaan dan status nya dalam JBS grup.
"Paman, kalau aku membunuh seseorang bagaimana?" tanya Louis pada pria paruh baya di depan nya.
"Siapa yang mau kau bunuh? Ada yang mengusik mu?" tanya Rian karna ia tau prilaku Louis yang bisa membunuh seseorang sama seperti preman yang pernah mengejar adik nya.
"Iya, tapi kali ini sedikit berbeda." jawab Louis dengan mulai menunjukkan raut wajah yang ingin membunuh dengan kuat.
"Berbeda seperti apa?" tanya Rian pada Louis sembari memperhatikan raut wajah pria di depan nya.
"Aku ingin mencongkel mata nya, lalu menguliti nya, mengambil tulang kering nya lalu membuat menjadi dadu terus mencabut lidah nya dan mengambil jantung serta memisahkan usus nya!" jawab Louis tersenyum dengan ceria membayangkan ucapan nya menjadi kenyataan. Ia sangat ingin menyiksa Reno seperti khayalan nya barusan.
"Seperti sangat menyenangkan! Iya kan, paman?" sambung Louis sembari menatap dengan berbinar.
Rian hanya menatap dan bergidik melihat nya, bagaimana bisa ayah dan putra nya memiliki rasa kesenangan yang mirip, sedangkan ia sudah ingin pensiun dan hanya tinggal menikmati kehidupan nya dengan istri nya.
Maka dari itu ia membuat keputusan besar yang membuat nya membayar pinalti yang cukup besar dan memiliki jejak kriminal.
"Tidak menyenangkan sama sekali! Jangan aneh-aneh! Kau mau menghancurkan JBS grup kalau berulah?!" ucap Rian agar jiwa iblis pria berumur 24 tahun di depan nya bangkit.
Hazel...
Kau tenang yah disana, jangan jadi arwah gentayangan yang bangkit dari neraka...
Tapi tenang lah di alam mu dengan damai bersama dr. Alyss...
Aku harap kau bisa tenang dan masuk surga...
"Paman! Kenapa sih?! Kayak lagi berdoa aja?!" tanya Louis menatap ke arah pria paruh baya di depan nya yang seperti sedang berdoa di tempat malam tersebut.
"Iya, aku sedang berdoa untuk ketenangan ayah mu." jawab Rian pada Louis dan kembali membuka mata nya.
"Kenapa bawa-bawa Papah sih?" tanya Louis heran.
"Hm...
Aku takut arwah nya bangkit dan merasuki mu, aku hampir merasakan aura yang sama tadi..." jawab Rian yang seakan-akan merinding ketika mengingat ucapan Louis yang membuat nya terbayang akan mayat yang dibunuh saat Hazel masih hidup dulu ketika ia mengurus nya.
"Paman aneh!" ucap Louis dan meminum alkohol nya terus menerus hingga ia mabuk dan membuat pria paruh baya itu repot.
......................
Kediaman Rai.
"Loh ini kenapa?" tanya Louise terkejut saat melihat sang paman yang membawa kakak nya yang terlihat mabuk.
"Ini bawa dia, padahal tadi baru mau main sama bibi mu malah tidak jadi!" decak Rian kesal sembari memapah pria yang sudah jatuh mabuk tersebut.
"Adik ku...
Adik ku tersayang yang paling cantik..." ucap Louis langsung tertawa melihat wajah adik nya.
"Sudah yah paman pulang dulu, urus kakak mu!" ucap Rian yang langsung kembali ke apart nya guna menemui istrinya dan berharap wanita itu belum tertidur agar ia bisa melakukan hal yang tak pernah bosan baginya.
Louise melihat ke arah kakak nya, ia tau kakak nya memang agak berbeda belakangan terakhir, terlihat murung dan tak bersemangat.
"Bau alkohol! Sana mandi! Jangan ketawa terus!" ucap Louise sembari menarik sang kakak ke kamar nya.
Louis hanya tertawa dan tiba-tiba menarik adik nya dan memeluk erat hingga membuat gadis itu hampir tercekik dan kehabisan oksigen.
"Sial! Louis! Aku tercekik! Lepas tidak! Ku botakin juga nanti rambut mu!" decak Louise kesal melihat sikap merepotkan kakak nya saat mabuk.
"Adik ku tercekik yah? Sayangan kakak...
Jangan sakit..." ucap pria itu dengan sempoyongan sembari mengusap-usap wajah adik nya.
"Kenapa sih? Kau ini ada masalah apa?" tanya Louise sembari mengentikan tangan kekar kakak nya yang sedang mengusap dan mengacak wajah nya.
"Di dunia yang paling sayang dengan ku cuma Mamah sama Papah lalu adik ku ini..." ucap Louis yang mulai menunjukan raut dan mata kesedihan nya.
Apa yang di lakukan sekertaris manis nya serta kebohongan yang melukai hati nya benar-benar meninggalkan noda di hati nya.
"Tumben bilang begitu? Ada yang jahat pada mu? Mana orang nya biar ku maki!" ucap Louise melihat raut wajah kakak nya yang tiba-tiba terlihat sangat sedih.
"Sekarang yang paling sayang dengan ku di dunia ini cuma adik ku...
Sama kakak terus yah..." ucap nya tanpa sadar dan memeluk satu-satu nya keluarga yang ia miliki.
Louise diam dan mengelus punggung kekar sang kakak yang memeluk nya dengan erat.
"Nanti jangan nikah terlalu cepat yah, dan kalau kau menikah juga kau tinggal disini saja dengan suami mu, biar kakak bisa main sama keponakan kakak..." ucap Louis yang sudah tak sadar lagi dengan apa yang ia ucapkan karna mabuk.
"Yah kau juga nikah, masa mau lajang sampai mati?" ucap Louise yang sadar saat sang kakak seperti mengisyaratkan tak mau menikah.
"Kakak mau nikah sama diri sendiri aja! Kau nanti harus dapat suami yang baik yah...
Jangan cari yang tukang selingkuh sama suka bohong!" ucap Louis pada adik nya.
"Siapa juga yang mau sama seperti itu! Lagi pula jangan aneh-aneh nikah sama diri sendiri! Cari istri lah Louis!" ucap gadis itu pada sang kakak.
Louis tak lagi menjawab dan kembali memeluk adik nya dengan erat hingga membuat gadis itu merasa sesak karna pelukan yang membuat nya tak memiliki ruang untuk bernafas.
Pengaruh alkohol yang membuat pria itu lebih bisa berekspresi dengan terbuka, bagi nya saat ini orang yang benar-benar menyayangi serta bisa memahami dan menerima semua kekurangan dan kelebihan nya selain kedua orang tua nya adalah adik nya.
Adik yang yang menjadi satu-satu nya keluarga nya dan tak akan mengkhianati atau mengabaikan apalagi meninggalkan nya.
...****************...
Visual nya Louis & Louise yah yang othor kasih hari ini.
Elouis Steinfeld Rai
Elouise Steinfeld Rai