(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Dark



2 Hari kemudian.


Pria itu tersenyum melihat gadis yang tengah berbalut gaun putih yang indah tersebut, ia melihat bayang dirinya dan gadis manis itu di balik cermin.


"Kau mau coba gaun yang lain lagi?" tanya Louis sembari sesekali mengesap aroma dari leher jenjang gadis itu.


"Tidak..." jawab Clara dengan ekspresi kosong.


Ia sudah tak lagi bisa mengetahui mana yang benar dan salah, pikiran yang berkecambuk dengan satu hingga ia sendiri pun mulai kehilangan satu persatu pembeda di kepala nya.


Ia tak bahkan kini tak bisa memandang mata orang lain karna ia selalu menganggap tatapan yang di berikan pada nya hanya tatapan hina.


Tak tertawa dan tak menangis lagi.


Ekspresi yang hilang seperti sudah tak lagi memiliki emosi, saat rasa takut nya muncul ia akan berteriak dan menangis histeris dan saat rasa takut nya tak muncul ia akan terlihat baik-baik saja dengan wajah yang tak menunjukkan raut apapun.


Setelah mencoba gaun yang akan di gunakan untuk pernikahan nya pria itu mengantar lagi gadis malang itu ke apart nya.


Clara tak mengatakan apapun namun mata nya terlihat berbinar saat melihat gambar kiwi segar yang di pampang di sebuah cafe.


Ia ingin namun takut untuk mengatakan nya, dan ini adalah keinginan pertama nya saat ia bersama pria itu.


Namun bibir nya bungkam tak mampu untuk mengatakan nya. Ia hanya ingin namun tak bisa mengatakan nya.


Langkah nya terhenti menatap ke arah cafe tersebut.


"Kenapa?" tanya Louis saat melihat gadis itu berdiri menatap ke arah gambar kiwi segar tersebut.


Clara diam tak mengatakan apapun namun ia sangat menginginkan memakan kiwi tersebut.


"Ayo! Jalan!" ucap Louis berdecak ia tau gadis itu menginginkan nya namun ia tak ingin memberikan nya.


Ia tak mau mengabulkan keinginan dari benih yang semakin tumbuh di perut gadis itu yang sangat sulit di untuk bunuh dengan obat penggugur.


Louis tau dan bahkan sangat tau jika gadis manis itu tak suka kiwi namun saat ini ia bisa menginginkan makanan yang tak ia sukai dan sudah di pastikan itu keinginan bayi nya kan?


Clara masuk ke dalam mobil dan kembali melihat gambar kiwi tersebut. Ingin sekali ia memakan makanan yang tak pernah ia sukai itu. Namun kini ia begitu menginginkan nya.


Louis melihat lagi wajah gadis itu yang mirip seperti anak kecil yang menginginkan permen namun tak di beri oleh orang tua nya.


"Jangan lihat terus!" ucap Louis tiba-tiba hingga membuat Clara tersentak dan tak lagi melihat nya.


Ia menunduk sembari sesekali menautkan jemari nya satu sama lain.


"Kita belum makan siang, kau mau makan apa?" tanya Louis menatap gadis itu.


"Kiwi..." jawab nya lirih dengan tertunduk.


"Tak boleh! Apa saja yang penting bukan kiwi!" ucap Louis dengan nada tinggi hingga membuat gadis itu tersentak.


Clara diam tak lagi mengatakan apa yang ia inginkan, "Apa saja," jawab nya lirih sembari menunduk.


Louis pun membawa gadis itu ke sebuah restoran dan memesan makan siang untuk nya.


Sekali lagi Clara menatap ke arah salad dan jus kiwi yang di pesan pelanggan lain di restoran tersebut.


Louis menghembus nafas kasar menatap wajah gadis itu yang terlihat melas menginginkan buah dengan rasa yang cukup asam tersebut.


Ia pun memanggil pelayan dan memesan makanan yang berdasar bahan kiwi tersebut.


"Jangan lihat orang lain lagi, aku sudah pesan." ucap Louis pada gadis itu.


Setelah salad kiwi tersebut datang mata gadis itu berbinar menatap nya, ia pun ingin mengambil makanan nya dengan garpu.


Deg...


Mata nya menatap sekilas ke arah pelanggan lain yang tak sengaja menatap nya setelah melihat ponsel nya.


Cring!


Garpu tersebut terjatuh, tubuh nya gemetar. Beban moral dari hinaan yang ia terima sebelum nya benar-benar menghancurkan mental nya hingga setiap kali ia merasa orang lain menatap nya ia akan merasa orang tersebut sedang menghina nya apalagi jika sembari memegang ponsel.


"Mereka tau aku...


A-aku mau pulang..." ucap nya lirih sembari menutup mata dan telinga dengan erat.


"Cla? Ayo kita pulang," ucap Louis sembari menatap tangan tangan gadis itu sebelum Clara histeris.


Ia membawa gadis itu ke mobil nya dan membeli salad kiwi serta jus nya.


"Ini...


Kau belum makan kiwi mu, kan?" ucap Louis memberikan kiwi tersebut.


"Pergi! Ini semua karna mu! Brengsek!" ucap nya dengan mulai menangis dan histeris di dalam mobil tersebut.


Louis meletakkan makanan gadis itu di dashboard mobil dan melajukan mobil nya.


Sedangkan Clara menutup mata dan telinga nya dengan erat. Air mata nya meleleh dengan tubuh gemetaran dan terus menggumamkan kalimat, "Aku tak melakukan nya..."


"Ayo, turun!" ucap Louis menarik gadis itu namun Clara memberontak dan terus menyalahkan pria itu karna sudah membuat hidup nya hancur.


"Ini karna mu, Huhuhu..." tangis Clara dengan sembari berusaha mendorong dan memberontak pada pria tampan itu.


Louis pun menggendong gadis itu ke pundak nya walaupun Clara terus memberontak pada pria itu.


Ia membawa ke kamar nya dan menurunkan gadis itu.


"Kau belum sempat makan kan tadi? Ini kiwi mu," ucap Louis sembari memberikan makanan yang di inginkan gadis itu.


Brak!


Tangan nya menolak dan membuang salad kiwi itu dengan tangan nya.


"Ini semua karna mu! Mereka membenci ku karna mu!" teriak nya dengan tangis yang menggema memarahi pria di depan nya.


"A-aku salah apa? Kenapa kau jahat padaku?" sambung nya dengan suara melemah dan tangis nya.


Louis tak menunjukkan raut apapun di wajah nya, namun ia lega karna sudah membawa gadis itu sebelum menangis histeris di restoran.


"Mereka tak akan menghina mu lagi, jadi berhenti lah menjadi seperti wanita gila." bisik nya pada gadis yang sedang ketakutan gemetaran itu.


Gadis itu kini bahkan tak bisa lagi menatap mata orang lain dan merasa semua orang sedang menghina.


"Jangan rusak hari pernikahan kita dengan sikap mu yang seperti ini," ucap nya lagi dan kembali ke JBS hospital.


......................


JBS Hospital.


Pria itu tersenyum melihat berita skandal tentang universitas dan sekolah yang di kelola keluarga pria yang menjadi kekasih gadis nya.


Menghancurkan reputasi yayasan dan universitas yang di kelola keluarga Reno dan membuat pria itu mengalami intrik keluarga yang cukup merumitkan.


"Dia akan berangkat ke Paris lusa pukul delapan pagi," ucap sekretaris Ferdi yang merupakan sekertaris kedua pria tampan itu.


"Paris? Kenapa dia pergi saat keluarga nya mengalami intrik seperti ini?" gumam Louis yang tau pria itu ingin membuat rencana.


"Bunuh dia sebelum pergi ke bandara," perintah Louis pada sekertaris baru nya.


"Baik, Tuan." ucap sekertaris Ferdi pada yang sudah seperti bawahan nya untuk melakukan pekerjaan kotor.


"Kau sudah buat klarifikasi dan balikan opini publik tentang video sekertaris Clara?" tanya Louis lagi pada sekertaris Ferdi.


"Sudah tuan, menurut data yang saya analisa sekitar 56% sudah berubah menjadi positif dan rasa kasihan dan seperti nya akan mulai semakin banyak yang percaya dengan isu baru nya," jawab sekertaris Ferdi.


"Hm, bersihkan nama dan reputasi nya secepatnya." ucap Louis dan kemudian menyuruh pria itu untuk keluar.


Ia mengubah opini publik yang memutar balikkan fakta sehingga merasa bersalah pada sekertaris manis nya dengan mencari gadis lain yang mirip Clara dan mengubahnya lagi.


Sehingga menunjukkan seakan-akan gadis yang berada di video itu bukanlah Clara melainkan orang lain, dan karna video yang hanya ada selama 3 menit di publish tersebut membuat kebanyakan orang berfikir jika mereka salah lihat dan sangka jika itu orang lain yang mirip Clara.


......................


Skip time.


Kediaman Rai.


Pria itu memasuki kediaman nya dan melihat ke arah adik nya yang terlihat murung.


"Louise?" panggil Louis pada adik nya guna mengatakan tentang pernikahan nya.


"Hm? Kenapa?" jawab Louise sembari menoleh wajah nya tampak sedikit pucat namun ia berusaha tak menunjukkan nya.


"Aku akan menikah," ucap Louis singkat pada adik nya.


Louise pun membulatkan mata nya karna tiba-tiba sang kakak yang mengatakan akan menikah.


"Minggu depan dengan Clara," jawab Louis singkat.


"Dia mau? Sebelumnya kau seperti sedang patah hati dan sekarang sudah mau menikah?" tanya Louise pada sang kakak.


"Dia mau. Sekarang yang ingin ku tanyakan kau tak apa, kan?" tanya Louis pada adik nya.


"Kenapa memang nya? Kau mau mengusir ku kalau sudah menikah? Atau mau tinggal dengan nya saja?" tanya Louise bingung.


"Bukan begitu...


Kau mau kan Clara jadi kakak ipar mu?" tanya nya lagi pada adik nya.


"Kalau aku tak mau?" tanya Louise menatap pada kakak nya.


"Berarti aku tak bisa menikahi nya," jawab Louis singkat.


"Lalu?" tanya Louise bingung.


"Di jadikan simpanan saja, di kurung di apart atau mansion." jawab Louis enteng.


"Hush! Jangan gitu lah!" decak Louise langsung, "Aku tidak masalah sih, tapi dia memang setuju kan?" tanya Louise lagi.


"Iya, dia juga setuju kok." jawab Louis pada adik nya.


Mata nya tertuju pada riasan di leher adik yang tampak berbeda karna terlihat di berikan bedak yang lebih tebal.


"Kau pakai riasan di leher?" tanya Louis sembari menyentuh ke leher jenjang adik nya.


"Tidak ada!" sanggah Louise langsung dan menepis tangan sang kakak.


"Itu memar kan? Sini coba ku lihat!" ucap Louis lagi sembari semakin menarik adik nya saat ia mulai memperhatikan bekas memar di punggung dan bahu adik nya yang terlihat sekilas.


"Louis!" teriak gadis itu dengan kuat saat sang kakak ingin memeriksa tubuh nya.


"Malu tau! Kan kita sudah besar! Ngapain mau buka baju ku?!" tanya gadis itu marah.


Ia bersikap seperti itu bukan nya tak suka karna perlakukan kakak nya namun takut bekas yang di tinggalkan oleh James terlihat oleh sang kakak.


"Aku juga bukan ingin melakukan yang tidak-tidak dengan mu! Aku cuma mau periksa kan?!" jawab Louis pada adik nya karna ia melihat reaksi yang berlebihan.


"Tapi kan tetap saja! Sudah sana aku mau balik ke kamar!" bentak gadis itu sembari pergi menjauh dari sang kakak.


Gadis itu langsung beranjak kabur meninggalkan sang kakak setelah sikap tak sopan nya.


Ia beranjak ke kamar nya dengan segera dan langsung menutup pintu nya dengan rapat. Ia ke cermin dan melihat lagi dengan membuka pakaian atas nya dan melihat bekas yang di tinggalkan pria itu pada tubuh nya.


"Yang ku lakukan sudah benar kan?" gumam nya lirih.


Hubungan yang ia miliki semakin lama semakin mengikat nya hingga ia tak memiliki ruang gerak bagi dirinya sendiri.


Belenggu ikatan yang semakin mencekik nya kini mulai membuat nya mencari cara agar terlepas lagi seperti sebelum nya, satu persatu aturan yang membuat corak di kehidupan perlahan di lepaskan oleh pria itu dan di ganti serta di bentuk sesuai keinginan pria tampan.


Louise menjatuhkan diri nya ke atas ranjang dan mendesah kasar.


"Semua akan baik-baik saja..." gumam nya menyakinkan diri sendiri.


......................


2 Hari kemudian.


Reno kembali menghubungi Clara dan meminta gadis itu untuk bertemu dengan nya di hari yang ia tentukan.


Clara yang tau pun awal nya sempat menolak karna takut jika ketahuan pria yang akan ia nikahi dalam beberapa hari ke depan, namun karna bujukan Reno dan ia yang ingin juga bertanya tentang video nya apakah pria itu sudah tau atau belum akhirnya memutuskan untuk menemui pria itu yang terakhir kali nya.


Pertemuan yang memang akan menjadi terakhir untuk nya.


"Kau sudah tau? Apa kau juga yang mengirimnya pada orang tua ku?" tanya Clara saat ia bertemu pria dengan wajah tampan dan menenangkan itu.


"Aku memang sudah tau tapi aku tak mengerti apa yang kau katakan tentang mengirim nya dengan orang tua mu," jawab Reno pada gadis itu.


"Kalau kau sudah tau, kenapa?" tanya gadis itu melemah dengan tangis.


"Cla! Sekarang bukan waktu nya untuk ini, kita harus pergi! Aku sudah siapkan tiket dan identitas baru!" ucap Reno yang mengajak gadis untuk kabur bersama.


"Pe-pergi?" tanya Clara terkejut.


"Hm...


Kita ke Paris dan tinggal disana dengan identitas baru," ucap Reno sembari mulai membawa gadis itu ke bandara.


Clara diam sesaat dan kemudian menepis tangan pria yang sedang menarik nya.


"Aku tak mau!" ucap nya menggeleng ia takut jika nanti pria iblis itu mencelakai orang tua nya dan ia juga takut jika sampai pria itu menemukan nya saat ia sudah kabur nanti.


"Kenapa? Orang tua mu? Aku sudah meminta orang lain untuk menjaga nya!" ucap Reno yang memang sudah memberikan penjagaan untuk orang tua gadis itu menggunakan saham universitas yang milik nya yang sudah ia jual sebelum Louis menjatuhkan nya.


Ia menggunakan uang itu untuk kabur dengan gadis nya, memberikan penjagaan kepada kedua orang tua gadis itu dan membeli identitas baru agar mereka bisa memulai hidup baru di negara lain.


Namun pria itu sampai lupa dengan penjagaan pada nyawa nya sendiri saat ia tengah sibuk mencari cara menyelamatkan dan melepaskan gadis itu dari genggaman pria yang tak memiliki hati itu.


Reno yang melihat gadis itu sangat sulit dibawa pun membuat nya langsung mengangkat gadis itu dan memasukkan nya ke mobil nya dengan paksa.


Ia tau mental gadis itu sudah di kurung oleh Louis hingga membuat rasa takut yang berlebihan dan mulai timbul sikap patuh yang tak wajar.


"Ren...


A-aku mau keluar Ren..." tangis Clara memohon pada pria itu saat diri nya hendak di bawa pergi.


Ia takut Louis menemukan nya dan mendapat hukuman lagi, ia sudah tak sanggup untuk di hancurkan lagi.


"Cla! Kau lupa?! Dia yang menghancurkan mu! Dia yang merusak mu! Kau lupa itu?!" ucap Reno dengan semakin menanamkan kebencian di hati gadis itu yang sudah terluka.


Clara terdiam mendengar bentakan itu dan Reno pun mulai melajukan mobil nya, ia melihat wajah shock gadis itu karna bentakan nya namun ia masih fokus untuk membawa kabur gadis itu.


Hingga ia mulai menyadari jika mobil lain dan sebuah mobil truk mendekati dan mengejar mobil nya.


Hingga...


BRAKK!!!


CKITT!!


Suara keras yang begitu nyaring terdengar di jalan raya bebas hambatan itu.


Mobil mewah tersebut langsung terguling dan bahkan di tabrak dan seret lagi hingga lebih dari satu kilo meter.


AAKKHH!!!


Teriakan gadis itu yang menggema namun tubuh nya di peluk oleh Reno agar mengurangi cidera nya.


Airbag keamanan yang langsung hidup menyala namun bukan berarti bisa menyelamatkan nyawa mereka.


Pandangan nya gelap dengan rasa perih yang teramat sangat di tubuh nya dan mata nya. Mobil truk itu berhenti menyeret mobil yang ia gunakan.


Ia tak dapat melihat apapun lagi namun masih bisa merasakan jika pria yang berusaha melindungi nya sudah lembab dan basah lalu tercium aroma darah yang kuat.


"Tolong...


Hiks..." rintih nya dengan tangis yang lirih.


Ia menangis namun semakin ia mengeluarkan air mata nya semakin pula sakit dan perih yang ia rasakan di mata nya semakin kuat.


Tubuh yang tak bisa bergerak sedikitpun, rasa sakit yang luar biasa ia rasakan secara bersamaan di seluruh anggota tubuh nya.


Gelap, suara orang lain yang berbicara sayup di telinga nya serta rasa sakit di tubuh nya yang sudah tak bisa ia jelaskan lagi secara signifikan di bagian mana serta aroma darah yang begitu mencekik penciuman nya.


Gelap...


Sakit sekali...


Aku...


Aku merasa seperti sudah ada yang hilang dari ku...


Jangan pergi, aku butuh 'sesuatu' yang hilang itu untuk bisa membuatku bertahan...


Tangan nya masih memegang dan secara alami memegang perut nya yang terasa sakit bersamaan dengan tubuh nya yang sudah tak mampu lagi untuk bertahan.


Pandangan yang gelap itu kini mulai semakin gelap dan hilang saat gadis itu kehilangan kesadaran nya.


...****************...


Maaf yah up nya lama, othor nya masih lagi ada kesibukan lain🙏🙏🙏


Happy Reading♥️♥️♥️