(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Passion



Louis melihat ke arah gadis manis yang sedang mengerjakan data untuk pertemuan yang akan mereka lakukan nanti nya.


"Sudah selesai?" tanya Louis dan tetap melihat ke wajah gadis manis itu.


"Anda memiliki pekerjaan lain kan? Kenapa terus melihat saya?" tanya Clara risih pada Louis yang terus memandangnya.


"Punya!" jawab Louis singkat dengan senyuman nya.


"Kalau begitu kenapa terus melihat saya?" tanya Clara pada pria tampan itu.


"Karna cantik? Pekerjaan ku adalah memperhatikan mu saat ini." jawab Louis tersenyum sembari melihat gadis itu.


"Saya tak ingin bercanda!" jawab Clara ketus sembari memejamkan mata nya agar menghilangkan rasa kesal nya.


Cup...


Pria itu tak peduli dan mencium bibir gadis manis berlesung pipit itu. Ia semakin sulit mengontrol dirinya sendiri.


"Kita akan disini lebih lama...


Mungkin sekitar 7 sampai 8 hari lagi..." ucap Louis yang pergi ketika sudah mengecup bibir gadis itu.


Clara tersentak dan menatap penuh dengan kebencian ke arah pria yang menunjukkan wajah tanpa dosa padanya.


"Bukankah hanya perlu satu malam dua hari? Harusnya kan hari ini sudah selesai?" tanya Clara yang tak terima dengan ucapan atasan nya.


"Masih banyak yang di urus! Kau tak perlu membantah!" jawab Louis kesal pada Clara yang membantah ucapan nya.


Seharusnya memang tak ada pekerjaan lain, namun karna pria itu yang masih ingin agar sekretaris manis nya tetap bersamanya membuat dirinya melakukan 1001 alasan agar dapat terus dengan sekretaris nya.


Belum sempat gadis itu protes Louis sudah lebih dulu pergi meninggalkan nya.


...


Pertemuan bisnis nya berjalan dengan lancar gadis manis itu melakukan pekerjaan nya dengan baik.


Saat kembali ke hotel pun Louis kembali ke kamar nya dan memberikan sesuatu di kamar gadis itu.


Ia tau saat mereka kembali mata Clara berbinar menatap ke arah boneka beruang menggemaskan yang sangat besar.


"Boneka?" gumam Clara saat melihat boneka besar tersebut ketika ia memasuki kamar nya.


"Apa ini salah kirim? Salah di letakkan yah?" ucap lagi sembari memainkan tangan boneka beruang tersebut.


Tak mau ambil pusing gadis itu memilih membersihkan dirinya lebih dulu dan mengganti dengan pakaian yang lebih nyaman.


"Masih ada? Gemas nya..." ucap Clara sembari memainkan boneka tersebut.


Ia tersenyum dengan cerah sembari membuat tangan besar boneka tersebut memeluk nya dari belakang.



"Kau suka?" tanya seorang pria dengan suara yang sudah ia hapal dengan jelas siapa itu.


Clara tersentak terkejut begitu mendengar suara atasan nya berada di kamar nya.


"Ba-bagaimana anda bisa masuk?!" tanya Clara bingung.


"Dengan ini." jawab Louis enteng sembari menunjukkan satu kartu pintu kamar di tangan nya.


Clara mengernyitkan dahi nya, entah kenapa uang dan kekuasaan bisa diatas segala nya dan berbuat apa saja karna dua hal yang di miliki pria tampan itu.


"Kau tak tersenyum seperti tadi? Sudah lama tak melihat mu seperti itu." ucap Louis pada Clara dan memandang nya dengan tatapan lain.


"Keluar dari kamar saya!" ucap Clara sembari mendekati Louis dan berusaha mendorong pria itu agar pergi dari kamar hotel nya.


Louis tak melangkah keluar dan dorongan yang di berikan gadis manis itu tak terasa apapun baginya.


Ia menangkup tangan Clara dan melipat nya kebelakang dengan satu tangan nya.


"Akh! Lep-"


Hummpphhh...


Mata gadis itu membulat sempurna saat pria di hadapan nya tiba-tiba mencekal tangan nya dan mencium bibir nya.


Ia pun mulai berusaha memberontak dan melepaskan ciuman yang di berikan pria tampan itu.


Clara mencoba melepaskan ciuman yang di berikan presdir. Ia tak ingin pria tampan itu kembali mencium bibir ranum nya, perasaan marah dan tak ingin di sentuh masih membekas di hati nya.


Clara hampir kehabisan nafas nya mulai mengeluarkan bulir bening dari manik jernih nya. Ia tak sanggup melawan tenaga pria tampan itu.


Clara yang mengambil nafas dalam sebanyak mungkin saat Louis melepaskan ciuman dalam nya.


"Jangan...


Ku mohon..." ucap Clara dengan suara tertahan dan gemetar karna sudah takut dengan pria yang sedang menatap nya dengan dalam.


"Tak akan sakit...


Sekali saja yah..." bisik Louis sembari menyelipkan rambut gadis itu ke telinga nya.


Clara menggelengkan kepala nya dengan lirih menatap takut pria itu.


Louis sendiri mulai kehilangan kendali nya dan tak mampu menahan gejolak dirinya, ia tak bisa mengendalikan dirinya begitu melihat gadis itu tersenyum.


Louis membuka dasi nya dan membalik gadis itu ke belakang, ia mengikat kedua tangan Clara dari belakang dengan dasi yang ia lepas baru saja.


Clara berusaha memberontak namun pria terus mendorong nya hingga ke ranjang dan menjatuhkan dirinya.


Louis pun mulai menindih gadis itu, kedua tangan Clara terikat kebelakang dengan kuat hingga membuat nya tak bisa terlepas dari pria tersebut.


Wajah nya memucat karna takut dan keringat dingin mulai keluar membasahi dahi nya. Air mata nya terus jatuh dan mengatakan jangan dengan berulang kali di bibir manis nya.


Louis menatap wajah pilu gadis itu, ia juga tak mengerti namun sangat sulit menahan gejolak di dalam dirinya. Ia sangat dan bahkan sangat merindukan tubuh gadis itu yang sudah membuat nya kecanduan.


Ia mengusap lembut air mata yang jatuh dengan ibu jari nya dan mengecup kening serta mata gadis itu perlahan.


"Jangan menangis yah..." bisik Louis dengan pelan di telinga gadis itu dan mengecup telinga nya pelan.


Louis tak mendengarkan dan tetap ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan pada sekertaris manis nya.


"Hentikan...


A-aku bukan wanita seperti itu..." tangis Clara mencoba menghentikan atasan nya.


Deg...


Louis berhenti sejenak, ia menatap gadis itu yang sedang menangis karna ulah nya.


"Iya...


Kau bukan wanita seperti itu...


Aku tak akan menganggap mu seperti itu lagi..." ucap Louis sembari menghapus air mata gadis itu.


Walaupun ia ingin meniduri gadis itu namun ia juga ingin bersikap lembut pada nya.


"Kalau begitu, ja..jangan lakukan...


Kau bilang kau tak menganggap ku seperti itu..." jawab Clara lirih dan tersendat karna bercampur dengan tangis nya.


"Aku menyukai mu...


Bisakah kau juga menyukai ku?" ucap Louis dan mulai memangut bibir gadis itu.


Pria itu dengan hati-hati menyentuh gadis nya untuk melakukan penyatuan nya agar tak menyakiti gadis itu.


Aku bisa lakukan apapun untuk mu...


Tapi jangan mengkhianati ku yah...


Terbesit ucapan sang kekasih membuat nya semakin meneteskan air mata. Rasa bersalah nya membuncah di hati nya ketik menyadari situasi nya. Ia membuat tubuh gadis itu menjadi polos tanpa rasa bersalah.


Rasa yang juga di butuhkan tubuh nya namun ditentang oleh hati nya, tak bisa ia pungkiri selama ia di jadikan pelampiasan nafsu tubuhnya sudah terlatih walau ingatan tentang hal memilukan itu tak lagi hinggap di kepala nya karna sudah terhapus.


Ku mohon...


Berhentilah...


Batin gadis manis itu yang ingin agar semua yang di lakukan oleh atasan nya berhenti dan tak menyentuh nya lagi


Sudut bibir Louis mulai tertarik, ia kini merasa jika gadis nya mulai mengikuti alur yang ia buat.


Clara masih berusaha terlepas dari jeratan maut sang Presdir arogan yang selalu menginginkan nya lagi dan lagi.


Louis tersenyum, ia tak lagi memaki atau menghina gadis itu saat melakukan hal tersebut karna kini ia menginginkan nya. Pria itu mulai melakukan penyatuan nya dan melepaskan ikatan dasi di tangan gadis itu saat sudah tak ada lagi pemberontakan yang di lakukan.


Antara cinta dan nafsu ia tak tau apa yang ia rasakan. Namun ia tak bisa mengendalikan nya dirinya setiap kali melihat gadis manis itu.


Ia tak tau yang lain namun ia sangat menginginkan gadis manis. Ingin secara keseluruhan entah itu raga ataupun kehidupan nya.


Walau sebanyak apapun Clara menolak semua sentuhan dan perbuatan pria itu namun tubuh nya menerima dan mengingat hal yang sudah terlatih seperti satu bulan yang ia tak ingat sama sekali.


Beberapa erangan lolos dari bibir nya dan juga bulir bening yang terjatuh dari mata nya karna merasa bersalah pada kekasih nya.


Tak tau sudah berapa lama Louis melakukan dan mengulangi semua penyatuan nya dan bahkan terus mengeluarkan semua isinya di tubuh gadis itu.


Ia pun memandang manik sayu gadis itu yang juga baru saja merasakan apa yang ia rasakan. Louis menjatuhkan kepala nya di leher gadis itu dan masih mengambil nafas nya dengan dalam.


Clara pun masih menangis dan berusaha menyingkirkan pria itu lalu berguling dan membelakangi nya.


Louis yang melihat hal itu langsung merapat dan memeluk gadis itu dari belakang.


"Bisakah kau putus dengan nya saja? Aku akan memperlakukan mu dengan baik...


Clara tak menjawab dan hanya terdengar suara tangisan yang lirih dari nya, ia benar-benar merasa bersalah pada Reno karna sudah seperti mengkhianati pria baik itu.


Louis menaikkan sedikit kepala nya agar bisa melihat gadis itu. Jika saja ia masih tak memikirkan perasaan gadis itu mungkin ia juga akan mengatakan.


Kau menangis? Tadi juga menikmatinya kan?


Tapi ia tau ucapan dari lidah tajam nya itu hanya akan membuat gadis itu menjauh dari nya.


"Clara..." panggil Louis lirih.


Tak ada jawaban dari gadis itu dan hanya getaran dari tangis nya yang dapat di rasakan oleh Louis.


"Besok kau putus dengan pacar mu yah...


Setelah itu pacaran dengan ku." ucap Louis dengan tanpa beban sedikit pun.


Clara tersentak emosi nya mulai naik mendengar ucapan pria tampan itu yang seperti tak memiliki beban sama sekali bahkan setelah memakai tubuh nya dengan enteng meminta nya putus dari kekasih nya.


"Kau punya hak?! Brengsek!" ucap Clara pelan namun penuh dengan nada penekanan.


"Punya! Aku punya hak atas diri mu! Kau milik ku!" balas Louis dengan sudah mengatasnamakan gadis itu sebagai milik nya.


"Putus dengan nya!" sambung Louis lagi pada gadis itu.


"Tidak!" jawab Clara yang sembari berusaha melepaskan pelukan erat pria tampan itu dari belakang.


"Putus! Harus!" ucap Louis lagi dengan semakin memeluk gadis itu dengan erat.


"Tidak mau! Kau pikir kau siapa?!" jawab Clara yang mulai terasa sesak akan pelukan yang semakin menjadi tersebut.


"Putus dengan nya atau aku gigit nih!" ucap Louis saat melihat bahu putih gadis itu yang tersibak selimut karna mereka terus bergerak.


"Gila! Aku tak ma-"


Ukh!


Bahu nya yang sedang membelakangi pria tampan itu malah tergigit dengan kuat hingga membuat nya meringis.


Louis pun terus menggigit bahu gadis itu dari belakang dan ingin gadis itu mengatakan "Iya" dari permintaan nya.


Namun Clara bukan nya menuruti malah menahan sakit dan meremas kuat selimut tebal yang menutupi tubuh nya


Ukh!


Ringis nya menahan sakit saat ia mulai merasa ada yang menetes di sela gigitan dan semakin perih. Louis pun melepaskan gigitan dan melihat darah dari bahu gadis itu.


"Kenapa tidak mau sih?! Tinggal putus dengan nya saja!" ucap Louis dengan kesal dan mencium bekas gigitan mengambil darah gadis dengan bibir.


"Kalau begitu kenapa kau tidak mau pergi? Tinggal pergi dan menjauh dari ku saja kan?!" jawab Clara dengan suara serak karna tangis nya menahan sakit dari gigitan pria tampan itu.


"Tidak mau! Aku kan suka kau! Masa di suruh pergi!" jawab Louis dan membalik tubuh gadis itu. Ia seketika menindih nya ketika tubuh Clara terlentang.


"Putus tidak? Kalau masih tidak mau, kita lakukan lagi yang tadi sampai kau tak bisa bangun!" ancam Louis pada gadis itu.


"Brengsek! Isi kepala mu itu terbuat dari apa sih? Kau tak punya pikiran?!" jawab Clara dengan mata sembab nya.


"Jadi kau mau putus tidak dengan nya?!" tanya Louis yang sudah semakin kesal karna gadis itu masih mau bersama kekasih nya.


"Tidak! Dia pacar ku!" jawab Clara dengan sorot yang penuh keyakinan dan berusaha melepaskan dirinya.


Louis pun semakin kesal menatap gadis yang berada di bawah kungkungan nya.


"Yasudah! Kalau begitu kita melakukan nya sampai pagi!" ucap Louis dengan kesal dan mulai mencium bibir gadis itu.


"Gila! Lepas!" bentak Clara sembari menyingkirkan pria itu dari dirinya.


"Makanya putus! Kalau kau tidak putus aku benar-benar akan melakukan nya!" ancam Louis lagi.


"Tidak mau! Dia kan pacar ku!" sanggah Clara dengan cepat.


"Putus!" ucap Louis lagi yang ingin perintah nya di turuti seperti anak kecil.


"Tidak! Aku tidak mau!" jawab Clara kukuh pada pria tampan itu. Tak mungkin ia mau melepaskan pria yang sudah sangat baik pada nya untuk pria yang membuat nya menderita selama ini.


"Cla! Kenapa sih? Aku kurang apa?!" tanya Louis kesal.


"Kurang semua nya!" jawab Clara dengan ketus.


Karna Louis yang kesal akan jawaban ketus gadis itu yang tak mau menuruti permintaan nya ia pun mengulangi perbuatan nya yang sebelum nya.


...


Ke esokkan pagi nya.


Gadis itu masih tertidur dengan lelap di dalam pelukan pria tampan itu. Ia tak mampu melawan ataupun sebanding dengan dengan kekutan Presdir arogan nya.


"Clara...


Cla..." panggil Louis sembari mencubit dan mencolek pipi gadis itu.


Cup...


Pria itu pun mencium gemas ke pipi halus gadis itu.


"Bangun...


Sudah jam sembilan pagi..." ucap Louis sembari terus mencium gemas pipi gadis itu.


Clara pun mulai membuka mata nya dan melihat ke sayup ke arah pria yang baru saja mencium gemas pipi nya.


"Mandi bareng yuk!" ajak Louis dengan wajah cerah pada gadis itu tak memikirkan berapa geram dan benci nya gadis itu.


Clara pun memalingkan wajah nya dan membelakangi pria tampan itu.


"Kau saja yang mandi!" jawab Clara ketus sembari menahan sakit di pinggang nya dan pegal di seluruh tubuh nya.


"Mau mandi bareng...


Nanti terlambat kalau mandi nya gantian..." ucap Louis sembari memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


Clara pun menepis tangan pria itu dan mulai berusaha bangun dengan sendirinya.


"Aku mandi duluan! Aku akan selesai dengan cepat!" ucap Clara dengan ketus sembari berusaha bangun sendiri agar mandi lebih dulu dan tak mandi bersama pria tampan itu.


Bruk!


Kaki gadis itu yang masih terasa lemas pun langsung terjatuh begitu ia turun dari ranjang.


"Kau tak apa-apa?" tanya Louis pada gadis itu dan ingin langsung membantu nya.


"Tidak apa-apa!" jawab Clara dengan nada ketus dan berusaha bangun sendiri tak mau menerima bantuan dari Louis.


Ia berjalan dengan menyeret selimut tebal yang tadinya menutupi tubuh mereka. Jalan gadis itu sedikit tertatih menuju kamar mandi. Louis pun memperhatikan gadis itu dari pinggir ranjang.


"Sakit yah pinggang nya? Maka nya jangan keras kepala..." ucap Louis yang tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun.


BLAM!!!


Clara membanting pintu kamar mandi dengan kuat begitu ia memasuki nya.


"Jangan kuat-kuat...


Nanti jatuh!" teriak Louis yang tersenyum cerah pada gadis yang sudah tak terlihat lagi di balik kamar mandi tersebut.


......................


Mansion Dachinko.


James melihat ke arah wajah pucat gadis cantik itu. Louise masih belum terbangun sejak ia pingsan karna memberi darah nya.


Tangan nya mengelus lembut pipi pucat gadis itu yang seperti putri tidur di kisah dongeng.


"Apa lagi yang kau miliki untuk mengejutkan ku? Hm?" tanya James lirih.


Tak lama kemudian Chiko pun datang dan membawa hasil pemeriksaan menyeluruh dari tubuh gadis itu. Tak hanya darah James juga memerintahkan untuk menelisik segala yang berkaitan dengan tubuh gadis cantik itu.


"Ini hasil nya tuan..." jawab Chiko dengan nada lirih sembari memberikan map yang berisi hasil dari pemeriksaan gadis itu.


"Kenapa nada mu begitu?" tanya James bingung.


"Dia tak memberikan reaksi di obat yang kita berikan. Kemungkinan besar dia memiliki obat yang di buat khusus untuk nya." jawab Chiko setelah mengetahui kondisi pasti gadis itu.


"Obat khusus?" tanya James mengerutkan dahi nya.


"Benar tuan, bukankah dia merupakan putri bungsu dari JBS grup? Mereka perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Jadi mungkin obat yang di berikan nya sudah di buat khusus dari perusahaan nya sendiri." terang Chiko pada James.


Eksperimen manusia? Mungkin dia salah satu alasan nya...


Batin James saat melihat gadis itu. Ia pun perlahan mulai membuka map yang berisi laporan dari hasil pemeriksaan kesehatan gadis itu.


...****************...


Maaf yah semalam othor ga up karna lagi ada sedikit...


Something lah...


Makanya cuma sempet up novel sebelah🤧🤧🙏🙏😭😭


Nanti sore othor up lagi yah👌👌👌


Happy Reading♥️