
Mansion Dachinko.
James kembali dan segera menemui Nick. Pria itu pun mendengarkan atas berita yang di bawakan oleh bawahan nya.
"Apakah tuan akan membantu nona Louise kali ini?" tanya Nick pada James yang tengah duduk di ruang kerja nya.
Pria itu diam tak menjawab melainkan mulai menggerakkan tangan nya dan meminum secangkir kopi di tangan nya dengan menyeduh nya perlahan agar lidah nya tak terbakar.
"Tergantung dari nya, kalau dia memohon pada ku akan ku bantu. Jika tidak maka tidak...
Aku bukan dewa penolong yang membantu orang lain begitu saja." jawab James sembari melihat Nick sekilas.
"Kurasa bantuan ku sudah cukup untuk saudara kembar nya." sambung nya lagi dengan masih memegang tangkai gelas yang ia minum.
Nick mengangguk mengerti, ia tau tuan nya sudah memberi bantuan yang menyokong JBS grup secara bayangan. Walaupun tidak ada yang tau namun karna bantuan nya lah masalah runtuh nya konstruksi bangunan bisa di selesaikan dengan cepat.
Ia juga tau tuan nya tidak seperti Dewa yang bisa memberi kebaikan dan menolong tanpa pamrih melainkan mirip dengan Iblis yang harus menukarkan sesuatu untuk keinginan yang ingin di raih dari pria tampan itu.
"Baik tuan saya permisi lebih dulu." ucap Nick dengan sopan dan keluar dari ruangan tuan nya.
James meletakkan cangkir kopi dan menatap sekilas ke ponsel nya yang tak ada satupun notifikasi dari gadis cantik itu.
Kalau kau meminta bantuan ku, aku akan menolong mu tanpa ragu...
......................
Kediaman Rai.
Gadis itu kembali dengan emosi yang tak stabil dari rumah Paman nya, ia menuju ke ruang kerja sang kakak dan menghubungi pengacara.
"Dimana? Harus nya ada yang bisa di gunakan, iya kan?" gumam Louise sembari mengacak berkas dan dokumen di ruang kerja kakak nya.
Mencari nama atau bukti yang bisa di sangkutpautkan untuk membuktikan jika kakak nya di jebak.
Gadis itu pun menelpon 4 pengacara nya dan menyuruh nya datang ke kediaman megah nya.
Setelah pengacara gadis itu datang ia pun langsung keluar dan bertanya tentang waktu pengalihan dan pemindahan saham kakak nya.
"Tak bisa di percepat hanya satu hari? Aku perlu hak kuasa ku secepatnya!" tanya Louise antusias pada ke empat pengacara handal tersebut.
"Biasa memerlukan waktu paling cepat selama 5 hari nona." jawab salah satu pengacara.
"Lima hari?! Apa saja yang kalian lakukan?! Kalian di bayar untuk memenuhi permintaan klien kan?!" ucap Louise marah.
Keadaan nya saat ini benar-benar mendesak agar ia secepatnya memiliki hak kuasa nya lagi agar bisa membatalkan posisi Rian sebagai ganti kakak nya ketika hari sidang datang.
"Mungkin jika kami mempercepat, hanya akan memakan waktu selama 3 hari nona." jawab salah satu pengacara dengan takut-takut.
"Tiga hari sudah terlambat..." gumam Louise lirih dengan khawatir.
"Cari cara agar dapat melakukan pemindahan dengan cepat dan cela untuk mengeluarkan kakak ku sebelum jatuh sidang!" titah Louise dan setelah itu menyuruh ke empat pengacara itu pergi.
Louise pun berusaha mencari dan memikirkan cara agar bisa mengeluarkan kakak nya dalam kurung waktu waktu yang di tentukan dengan memberikan bukti jika kakak nya tak salah dan yang bersalah adalah yang menjebak kakak nya.
Ponsel nya sedari tadi terus berdering ketika Zayn menelpon nya namun gadis itu mengabaikan nya begitu saja dan terus mencari cara agar bisa membuktikan ketidakbersalahan sang kakak.
......................
Apart Winter Garden.
Larescha menatap suami nya dengan tajam. Ia sangat membutuhkan penjelasan dan alasan sikap suami nya tersebut.
"Maaf, karna tadi aku membentak mu..." ucap Rian pada istrinya dengan nada lembut.
"Maaf? Aku sedang tak butuh itu! Apa maksud Louise tadi?!" tanya Larescha dan menepis tangan yang ingin mengelus nya.
"Aku punya cara ku sendiri, ku harap kau mengerti." ucap Rian dengan tegas pada istri nya.
Larescha menarik nafas panjang mendengar ucapan suami nya.
"Yasudah! Aku keluar! Aku juga punya cara ku sendiri!" jawab nya dengan amarah dan rasa yang mengganjal di hati nya.
Saat ini tempat yang ingin ia tuju adalah kediaman mendiang sahabat nya dulu, ia ingin memeluk gadis cantik itu dan mengatakan "Semua akan baik-baik saja" agar gadis itu tak lagi menangis.
Rian pun langsung menangkap tangan istri nya dan mencegah nya keluar.
"Walaupun kau kesana, menurut mu dia mau menerima mu?!" tanya Rian yang tau istri nya akan menemui Louise.
"Lalu kenapa buat dia membenci mu?! Kau membuat anak ku menangis!" ucap Larescha dan memukul dada bidang suami nya dengan sekuat tenaga.
"Dia bukan anak mu! Anak mu hanya Zayn!" bentak Rian pada istrinya dan seketika membuat wanita itu tersentak dan menangis.
Rian pun menatap wajah takut dan terkejut wanita itu yang sedang berada di depan nya. Ia menatap dengan teliti wajah istrinya dan membuat nya merasa bersalah.
"Maaf...
Ssttt...
Sudah...." ucap nya melembut sembari memeluk tubuh istri nya.
"Mereka juga anak ku...
Anak Lily anak ku juga..." ucap Larescha lirih, tubuh nya gemetar, ia tak pernah bertengkar dengan pria yang menjadi suami nya.
Walau terkadang Rian memiliki sikap posesif dan cemburuan namun tak sangat jarang bersikap kasar dan membentak nya.
"Aku mau bertemu mereka!" ucap Larescha dan melepaskan pelukan suami nya sembari mengusap air mata nya.
Rian pun langsung menghalangi lagi. Ia tak mau istrinya merusak rencana yang ia bangun. Karna wanita yang ia cintai nya itu memiliki perasaan yang lembut dan simpati empati yang tinggi.
"Kau tetap disini! Jangan keluar selangkah pun dari rumah! Ini bukan permintaan La, tapi peringatan!" ucap Rian tegas pada istri nya.
"Jahat! Kau jahat!" ucap Larescha pada suami nya.
Maaf...
Aku tak bisa membiarkan mu mengacaukan skema nya...
......................
Ke esokkan hari nya.
JBS Hospital.
Louise datang ke lantai pusat yang berada di lantai teratas, ia menuju ruang visi dan ruangan kakak nya.
"Kenapa aku tak boleh masuk?! Kalian tidak tau siapa aku?!" tanya Louise dengan mengepalkan tangan nya menatap para penjaga JBS security melarangnya masuk keruangan sang kakak dan ruang visi.
"Maaf nona...
Ini perintah dari wakil Presdir..." jawab salah satu penjaga dengan lirih, karna mereka semua tau siapa gadis itu dan sangat tau jika dia merupakan adik kesayangan presdir nya.
"Minggir! Berani sekali kalian!" bentak Louise marah hingga menarik perhatian pegawai lain.
"Kau yang sangat berani, kau bahkan tak punya hak untuk memerintah mereka." suara seorang pria yang membuat gadis itu memutar tubuh nya dan melihat siapa yang berbicara.
Louise pun melihat pria yang selalu ia panggil "paman" lah yang sedang menghalangi nya saat ini.
"Kenapa?! Ini perusahaan ayah ku! Kakak ku juga masih Presdir di sini!" ucap Louise sembari mengepalkan tangan nya.
Ia perlu ke ruangan kakak nya dan ruang visi guna mencari bukti ketidak bersalahan sang kakak.
"Tapi kau sama sekali tak punya hak kuasa. Kau lupa, kau memberikan semua hak kuasa mu pada Louis, tapi sekarang dia..." ucap Rian menggantung dan memprovokasi gadis itu.
"Kau tidak pantas menyebut nama kakak ku!" ucap Louise dengan menahan tangis nya agar tak terlihat lemah.
"Aku akan mengambil kembali hak kuasa ku!" sambung nya sembari menatap sengit pada Rian.
"Kalau begitu datang kembali setelah kau memiliki hak kuasa mu, itu juga kalau belum terlambat." jawab Rian tersenyum seakan mengejek kata-kata gadis itu.
"Seret dia keluar!" perintah pria itu dingin pada para penjaga. Ia ingin menunjukkan jika gadis itu tak memiliki kekuatan apapun sama sekali dan tak ada yang bisa di lakukan nya.
"Berhenti! Jangan menyentuh ku!" ucap Louise dengan tatapan tajam nya pada para penjaga, ia tak pernah membayangkan akan ada hari di mana ia di usir di istana yang di bangun ayah nya sendiri.
"Jangan bertingkah seperti putri yang kosong disini! Kau lupa? Selama kakak mu tidak ada maka aku yang memiliki posisi nya, itu berarti semua berada dalam perintah ku, bukan perintah mu." ucap Rian menekankan lagi posisi mereka saat ini.
Louise mengepalkan tangan nya dengan kuat, ingin sekali ia marah dan berteriak namun harus di tahan nya, ia benar-benar menyesal dengan keputusan bodoh nya dulu yang memberikan semua hak kuasa pada kakak nya. Jika saja ia tau akan ada pengkhianatan seperti ini, ia tak akan melakukan keputusan itu dulu.
Clara yang mendengar keributan pun datang, karna ia masih merupakan anggota dan staf dari JBS grup tentu nya ia juga masih bekerja di sana.
"Louise?" panggil Clara dan meraih tangan gadis itu.
"Kau datang di waktu yang tepat. Antar tamu tak di undang ini ke pintu keluar, ini bukan lantai yang bisa di masuki sembarangan orang." ucap Rian dengan tanpa iba pada putri mendiang sahabat nya.
Clara melihat sorot mata teman nya yang di penuhi amarah dan kesedihan yang membuncah di dalam nya.
Dia menyukai mu...
Kau juga mengkhianati nya? batin Louise menatap Clara.
"Nona Louise bukan tamu, dia adik Presdir." jawab Clara pada Rian.
"Kau lupa perjanjian mu? Selama 10 tahun kau milik JBS grup, siapapun yang memimpin nya kau masih anggota JBS grup dalam kurung waktu tersebut. Kau bisa saja mendapat pinalti akan sikap mu." ucap Rian dengan nada dingin pada Clara.
"Bukan! Yang bisa memberi pinalti pada saya hanya Presdir Louis dan perjanjian itu juga hanya berlaku pada nya!" jawab Clara pada Rian dengan mata yang kukuh.
Ia tak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Saat pria yang selalu ia akui sebagai pria yang ia benci itu sakit ia sangat khawatir. Saat pria itu menyentuh ia juga mulai tak lagi menolak bahkan saat pria itu di jemput kepolisian seperti keinginan nya dulu ia malah tidak tenang.
Kenapa aku seperti ini? Aku harus nya senang karna dia mendapatkan balasan nya kan? Tapi kenapa rasa nya tidak rela?
Rian tersenyum simpul dengan jutaan arti di balik nya.
"Kalau begitu usir mereka berdua dari sini." perintah Rian dingin pada para penjaga.
Louise pun tersentak dan meraih tangan gadis itu kemudian mendekat ke arah nya.
"Cla, jangan keluar! Bantu cari sesuatu di ruangan Louis, cari yang bisa membuktikan dia tak bersalah!" ucap Louise setengah berbisik pada Clara
Clara pun mengerti dan menatap kembali pria di depan nya.
"Aku pergi sendiri! Tak usah melibatkan orang lain!" ucap Louise mengepalkan tangan nya dan pergi.
...
Ruangan Rapat.
"Anda tak bisa melakukan nya! Putusan hakim juga masih belum di tentukan!" ucap salah satu direktur pada Rian.
Saat ini di ruangan rapat yang besar tersebut duduk 17 orang yang merupakan pemegang saham dan direktur utama JBS grup hanya tersisa 3 orang yang masih setia dari kemimpinan Hazel hingga Louise yang sementara dan Louis yang melanjutkan.
Sedangkan 14 orang lain sudah berkhianat dan berkomplot untuk menjatuhkan Louis.
"Benarkah? Tapi saat ini posisi yang mengantikan Presdir Louis masih aku, kau yakin kau berpijak di mana sekarang?" tanya Rian tersenyum simpul pada ketiga direktur utama yang masih mendukung Louis.
Ketiga orang itu yang diangkat Hazel sebagai direktur utama walaupun tak memiliki latar belakang yang mendukung, Hazel dulu nya mengangkat mereka karna melihat potensi dan bakat yang di miliki sehingga menaikan jabatan mereka, hal itu lah yang masih di ingat dan tak membuat ke tiga direktur utama itu berkhianat.
Rapat pun berjalan dengan tegang dan suasana yang tak mendukung, para pengkhianat itu kini tersenyum lebar dalam hati saat merasa mereka berada di puncak.
......................
Mansion Dachinko.
James memantau perkembangan dari kasus saudara kembar gadis nya, Ia bahkan sudah memikirkan rencana agar kakak gadis itu bisa keluar dan terbebas dari tuduhan.
Ia bisa saja melakukan hal itu untuk mengeluarkan saudara kembar gadis itu, hanya dengan dua kata yang harus di keluarkan Louise dari bibir nya.
Bantu aku...
Hanya dua kata itu lah yang ia perlukan dan akan membuat nya memberikan semua sokongan dan bantuan.
"Tak ada berita apapun?" tanya James lagi pada Nick, ia tau jika ingin menghancurkan Louis hingga ke dasar hanya tinggal mempublikasi media saja.
"Tidak ada tuan." jawab Nick pada tuan nya.
James mengangguk perlahan pada jawaban bawahan nya. Nick bersorak dalam hati saat tau tuan nya tak membantu gadis itu, ia hanya perlu sedikit langkah lagi untuk menyingkirkan Louise dari sisi James.
"Kalau dia mengkhianati mereka, maka tak akan ada lagi putra atau putri pewaris JBS grup...
Tapi kalau bukan maka berarti..." gumam James berusaha memikirkan dari sudut pandang Rian.
"Bagaimana bisa di sebut bukan pengkhianatan? Sedangkan waktu nya semakin menipis dan situasi sudah seperti ini?" tanya Nick bingung pada tuan nya.
"Menghancurkan baja..." jawab James singkat dengan kata ambigu.
"Tapi ini juga benar-benar akan jadi akhir untuk mereka, dia tak akan menemukan jalan keluar nya, karna sudah berdiri di tepi jurang." sambung James lagi mengatakan perumpamaan posisi si kembar.
Aku hanya perlu dua kata dari mu, setelah itu aku akan membantu mu...
......................
Louise menepikan mobil nya di sudut jalan yang tak begitu ramai, ia menyembunyikan wajah nya ke stir mobil.
Stir mobil yang kini mendengar tangisan nya dan deruan nafas putus asa nya, tubuh gadis bergetar dan menunduk ke arah stir meluapkan rasa frustasi nya.
Tok...tok...
Suara ketukan kaca yang mengejutkan gadis itu membuat nya mengandah dan melihat siapa yang mengetuk jendela mobil nya.
Kenapa dia bisa disini?
Batin Louise saat melihat pria yang sudah tak asing lagi baginya.
"Buka pintu mu." ucap James pada gadis itu. Ia dapat tau posisi Louise karna sudah menyadap ponsel gadis itu.
Ia pun langsung mendatangi Louise karna tau gadis itu berhenti di jalanan sunyi. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada gadis cantik itu.
Louise pun mengusap air mata nya agar tak terlihat lemah dan membuka pintu mobil nya serta keluar menatap pria di depan nya.
"Kau menangis?" tanya James saat melihat mata yang masih sembab dari gadis itu.
Louise menatap kosong, sejenak terlintas dalam benak nya ia ingin meminta bantuan pria itu, namun seketika dirinya menahan hal itu, ia tau bahkan sangat tau jika pria di depan nya bukan pria sembarangan.
Pria yang memiliki sayap iblis dan tanduk kuat yang tak terlihat.
Jika orang yang ia percayai saja bisa mengkhianati nya bagaimana dengan pria yang hanya menggunakan kesepakatan untuk mengikat nya?
Tidak...
Aku tak bisa meminta bantuan nya, saat dia tak lagi tertarik dengan ku, maka semua akan sama saja...
Batin gadis itu sembari menatap ke arah James dengan lekat. James pun menatap wajah gadis itu dengan tatapan datar, tak ada sedikitpun jawaban atas pertanyaan nya barusan.
"Aku antar, masuk ke mobil ku..." ucap James sembari menarik pelan tangan gadis itu.
"Aku bisa kembali sendiri..." jawab Louise dengan suara pelan dan nada tak bersemangat.
James diam sesaat dan meraih tubuh gadis itu mendekat ke arah nya, ia memeluk perlahan agar membuat gadis itu nyaman dan menghilangkan segala keresahan nya.
Kenapa tak minta bantuan ku? Apa aku tidak cukup kuat untuk bisa kau andalkan?
Batin James saat mendekap tubuh Louise.
Louise tak melawan ataupun menolak, ia dapat mencium aroma khas dari tubuh pria itu yang bercampur dengan aroma menyegarkan dari parfum yang di kenakan pria berwajah tampan.
Tangan nya perlahan ingin mencoba meraih dan membalas pelukan itu, namun tangan lentik itu terhenti dan hanya memegang erat jas pria itu. Ia tak tau kenapa namun saat ini dirinya merasakan nyaman di tengah pikiran yang berkecambuk.
Pria yang memberi nya pelukan saat ia membutuhkan sedang membutuhkan nya sama seperti di malam hujan yang membuat nya membagi rasa dingin dan menghangatkan hati nya dalam dekapan pria itu.
Kenapa selalu dia yang memeluk saat aku terjatuh?
Kenapa selalu bertemu di jalan saat kondisi ku sedang tampak menyedihkan?
Apa dia akan menangkap ku lagi nanti, ketika aku jatuh? Atau nantinya dia yang akan menjatuhkan ku lagi ke dasar sampai aku tak bisa bangun?
Memberi luka dan sokongan sekaligus...
Tak bisa ku tebak bagaimana akhir nya...
Dia bukan pria yang bisa ku miliki...
Aku tak mau terjerat dengan apapun...
Aku takut...
Tidak ada yang bisa ku percayai sekarang...
......................
Visual.
Athan James Dachinko
Elouise Steinfeld Rai