
Setelah mengobati luka di bahu Alyss, mereka pun sarapan bersama.
"Saat aku kembali dari RS, akan ku beri tau aturan yang harus kau ikuti. Jika ingin keluar dari sini." ucap Hazel di tengah-tengah sarapan mereka.
"Ya, baik." jawab Alyss singkat dengan anggukan kecil di kepalanya.
Hazel pun tersenyum melihat sikap Alyss yang penurut. Ia pun mengusap pucuk kepala Alyss sekilas dan melanjutkan sarapan nya lagi.
"Oh iya aku juga ingin kiss morning & night."
ucap Hazel tiba-tiba.
"Maksudnya?" ucap Alyss singkat pada Hazel.
"Aku ingin kau mencium ku saat pagi sebelum pergi dan saat malam sebelum kita tidur. Bisa kan?" ucap Hazel tersenyum pada Alyss.
"Hmm." Alyss hanya menjawab ucapan Hazel dengan berdehem saja, lagi pula ia juga tak dapat mengatakan tidak, karna ia sudah berjanji akan melakukan apa saja yang Hazel minta.
"Aku tak mendengar dengan jelas, coba ulangi." ucap Hazel yang merasa sedikit kesal dengan cara Alyss menjawab ucapannya.
"I-iya akan ku lakukan." ucap Alyss ketika merasa Hazel berbicara dengan penuh penekanan pada nya.
Hazel pun tersenyum lagi ketika mendengar jawaban Alyss. Tak lama kemudian mereka pun selesai sarapan.
Sebelum ia pergi, Hazel menunggu ciuman pagi nya dari Alyss. Alyss pun yang merasa bahwa Hazel menatap nya dari tadi dan tak kunjung pergi, akhirnya menyadari maksud Hazel.
"Ci-ciuman pagi?" tanya Alyss memastikan.
"Ya." jawab Hazel singkat dengan wajah datar nya.
Alyss lebih mendekat ke arah Hazel, ia menarik dasi Hazel ke arah nya, dan berjinjit sedikit. Mata mereka pun bertemu satu sama lain, Alyss sangat malu karna wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti itu.
Hazel tetap menatap nanar iris Alyss, karna merasa malu akhirnya, tangan Alyss yang satu lagi menutup mata Hazel dengan telapak tangan nya yang kecil dan mulai mencium bibir Hazel sekilas.
"Su-sudah." jawab Alyss gugup.
Hazel pun menyingkir kan tangan Alyss dan melihat Alyss yang malu-malu membuat nya merasa sangat gemas pada Alyss.
"Itu ciuman? Kenapa singkat sekali?" ucap Hazel menggoda Alyss.
"Ya-yang penting kan sudah di cium!" potong Alyss cepat dan langsung berlari ke kamarnya.
Hazel hanya tertawa kecil melihat sikap Alyss yang menurutnya sangat menggemaskan. Setelah itu pun ia pun segera pergi ke RS.
......................
Setelah sampai di RS Hazel pun segera memanggil Rian ke ruangan nya.
"Siapkan satu Ponsel yang sudah di sadap dan terhubung langsung ke Ponsel ku. Dan aku ingin kau mencetak sesuatu, dan harus selesai hari ini juga." perintah Hazel pada Rian.
"Ponsel? Siapa yang ingin kau sadap?" tanya Rian.
"Aku akan membiarkan Alyss keluar, dan siapkan posisi nya disini lagi. Sebelum nya dia di divisi bedah umum, bukan?" ucap Hazel pada Rian.
"Ya, benar." balas Rian
"Siapkan dia di bangsal VIP." perintah Hazel.
"Eh? Bangsal VIP? Tapi bukan kah dia, masih dokter yang baru saja tamat? Kau yakin tak akan menimbulkan masalah?" tanya Rian dengan raut wajah risau pada Hazel mendengar perintah nya barusan.
"Tak apa. Dia punya kemampuan untuk itu. Kau tau yang menyusun operasi walikota saat itu? Bukan aku tapi dia yang membuatnya." ucap Hazel pada Rian.
"Benarkah?!" tanya Rian yang cukup terkejut.
Setelah menjelaskan apa-apa saja yang di butuhkan, dan aturan-aturan yang dibuat untuk Alyss, Rian pun keluar dari Ruangan Hazel.
Skip Time..
Rian pun menyerahkan ponsel dan kertas yang berisi aturan-aturan yang di katakan Hazel pada nya tadi untuk Alyss.
"Kau bisa melacak dr. Alyssca dari ponsel ini dan seluruh panggilan serta pesan yang masuk ke ponsel ini akan segera terhubung pada mu juga. Dan ini aturan-aturan yang kau katakan tadi." ucap Rian menjelaskan.
"Ya, Baik. Kerja bagus." ucap Hazel sembari menepuk pundak Rian.
Ia sudah sangat tak sabar ingin kembali ke kediaman nya dan segera membacakan aturan tersebut pada Alyss.
Drtt...drtt...drtt...
Ponsel Hazel bergetar dari dalam saku nya. Hazel pun melihat siapa yang menelpon nya, ia berdecak kesal melihat nama yang tertera di panggilan ponsel nya.
Hazel mematikan panggilan tersebut, namun ponsel nya terus berdering, akhirnya Hazel pun mengangkat panggilan tersebut.
"Begitu nada bicara mu padaku? Pulanglah malam ini." ucap dari si penelpon.
"Aku tak bisa." jawab Hazel kesal.
"Baik, jika begitu aku yang akan kerumah mu." balas si penelpon.
"Baiklah akan ku luangkan waktu, tak perlu perlu ke rumah ku." jawab Hazel kesal dan langsung menutup telpon nya.
Hazel pun segera menyuruh supir nya berganti arah dan menelpon kepala pelayan di rumah nya agar menyuruh Alyss makan malam lebih dulu, ia tau bahwa malam ini ia akan pulang sedikit lebih lama.
Tak lama kemudian, Hazel tiba di sebuah kediaman yang sangat besar dan luas tak jauh beda dengan kediaman miliknya.
"Sudah lama sekali kau tak kembali." ucap seorang pria paruh baya yang duduk menunggu kedatangan Hazel di ruang tengah.
"Ada apa Presdir William memanggil ku. Aku tak punya banyak waktu percepat bicara anda." jawab Hazel.
"Dasar anak Sial!!
Begitu bicara mu pada orang tua mu?!!!
AKU INI AYAHMU!! Dan begitu cara bicara mu." ucap pria paruh baya tersebut dengan marah yang tak lain adalah William Rai ayah dari Hazel.
"Ayah? Aku tak pernah menginginkan mu sebagai ayahku ataupun orang tuaku, bagiku hanya Ibu yang ku anggap sebagai orang ku. Setelah dia meninggal maka aku sudah menganggap tak memiliki orang tua lagi." ucap Hazel dengan senyum pahit di wajah nya.
"Pasti wanita sialan itu yang mengajari mu membenci ku!" ucap Will kesal mendengar jawaban dari putranya itu.
"Kau yang sialan! Bukan Ibuku!" Balas Hazel pada Ayah nya ketika mendengar ucapan Ayahnha yang menjelekkan Ibunya.
"Sudahlah! Aku tak ingin bertengkar mu. Aku memanggil mu untuk mengatakan tentang pertunangan mu dengan Vionly putri dari Logan Renner calon presiden dan pemilik dari Starcone company
Aku sudah mengatur semua nya, dia pasangan yang sangat cocok untuk mu, dia juga bisa membantu JBS Farmasi. Dia akan kembali ke sini dari Jerman sekitar 2 hari lagi. Perlakukan dia dengan baik saat bertemu dengan nya.
Lagi pula kau juga mengenal nya sejak kecil, bukan? Jadi pasti kau akan menyukainya." ucap Will pada Hazel.
Hazel pun makin kesal mendengar ucap Will yang seenaknya mengatur kehidupannya. Apalagi memilih wanita yang akan hidup dengan nya.
"Jika aku mengenal sejak kecil lalu aku harus menikahinya? Lagi pula bukankah kau yang mengatur pertunangan ini? Kau saja yang menikah dengan nya. Aku juga tak akan peduli." ucap Hazel dengan sangat kesal.
"Dasar anak tak tau diri! Jika bukan karna ku kau tak akan mendapat kemewahan seperti ini, dan kau juga tak akan memiliki JBS Hospital." ucap Will dengan amarah memuncak.
"Tidak kau salah! JBS Hospital adalah milikku, aku yang membangun dan mengembangkan namanya, Aku juga tak ingin mewarisi JBS Farmasi milikmu. Oh ya aku akan segera mengganti nama JBS Hospital agar kau tak selalu mengira itu milikmu." ucap Hazel pada Will.
"Sudah!! Terserah mu saja, aku sudah memberitau tentang pertunangan mu. Mau tak mau kau harus menerima hal itu!" paksa Will pada Hazel.
"Entahlah, kita lihat saja nanti. Jika sudah selesai aku pergi." ucap Hazel dan segera beranjak dari tempat yang sangat ia benci.
Hazel pun segera masuk ke mobil nya dan kembali ke kediaman milik nya.
Ia tau bahwa akan sulit untuk melawan William ayah nya sendiri, karna sebagian saham nya diakusisi oleh William, dan JBS Hospital bisa sepenuhnya menjadi bagian dari JBS Farmasi.
Hazel telah mengumpulkan sebagian petinggi dan ketua JBS Hospital untuk mendukungnya dan Ia juga sudah mendapat dukungan dari walikota, Hazel mungkin akan dapat memiliki JBS Hospital sepenuhnya.
Tetapi hal itu masih belum cukup untuk membuat Will yang tak lain adalah Ayahnya sendiri untuk berhenti mengganggu nya.
Hazel pun memutar otak nya dan akhirnya menemukan sebuah cara, namun ia masih tak tau ini akan berguna atau tidak.
Hazel pun segera menelpon Rian untuk menyelediki tentang Vionly sepenuhnya. Jika ia dapat menggunakan Vionly sebagai bidak untuk melawan ayahnya, mungkin ia akan sedikit mengikuti alur yang di buat ayahnya.
"Yah...
Aku akan memanfaatkannya, setelah itu segera menyingkirkannya.
Tak ada siapapun yang berhak mengatur jalan hidup ku." ucap Hazel lirih di dalam mobil ketika selesai menelpon Rian.
......................
Tak lama kemudian Hazel telah sampai di kediamannya. Jam sudah menunjukkan Hampir jam 12 malam. Ia pun segera naik dan masuk ke kamar nya.
"Dia pasti sudah tidur." ucap Hazel lirih.
Ia tak melihat Alyss tidur di kamarnya, ia pun langsung turun dan ke kamar Alyss kemudian memindahkan Alyss ke kamarnya.
"Ya ampun...
Aku lupa bilang, bahwa dia harus tidur dikamar ku mulai sekarang." ucap Hazel ketika selesai merebahkan tubuh Alyss perlahan ke ranjang nya.
Hazel pun mengelus wajah Alyss sekilas, lalu segera membersihkan dirinya. Setelah itu Hazel pelan-pelan naik keatas ranjang dan memeluk Alyss.
"Stay with me forever, Baby..." ucap Hazel lirih kemudian mengecup kening Alyss yang sedang tertidur dengan pulas. Setelah itu pun Hazel juga ikut tertidur.