
Louis melihat ke arah gadis yang berada di sebelah nya, gadis itu tidak tertidur melainkan pingsan karna terus melayani nafsu nya yang tidak ada habis nya.
Gadis itu hanya memakai selimut guna menutup tubuh polos nya yang penuh dengan bekas yang di tinggalkan.
Tangan pria itu mengelus halus pipi lembut itu. Ia tak tau apa yang ia rasakan, perasaan aneh yang tak dapat ia jelaskan sendiri.
"Kau ini apa sih? Kenapa membuat ku bingung?" gumam nya saat mengelus wajah manis itu.
Ia pun mulai bangun dan mengambil mantel tidurnya lalu mengobati beberapa luka memar dan bekas gigitan yang ia lakukan terutama pada pergelangan kaki kanan yang memerah dan memar karna rantai yang terus menjerat dengan kuat dan gadis itu terus bergerak melawan.
Setelah sudah mengolesi beberapa obat dan mengobati luka nya Louis pun mengecup bibir gadis itu sekilas tak lama setelah itu ponsel nya berdering.
"Halo?" jawab Louis saat kepala pengawal dikediaman utama nya menelpon.
"Tuan, nona Louise tidak kembali semenjak dua hari yang lalu, kami sudah mencari ke beberapa tempat namun masih belum dapat menemukan nya." lapor sang kepala pengawal di kediaman utama.
Louis terperanjat, selama ia pergi adik nya juga tak kembali sama sekali. Ia memang kembali ke JBS namun setelah dari JBS dia akan kembali ke mansion nya lagi untuk menemui Clara dan tak kembali ke kediaman utama nya.
"Cari dia sampai dapat, jika ada informasi lain segera beritau aku." ucap Louis dan segera menutup ponsel nya.
Sore itu ia membersihkan dirinya lebih dulu sebelum mencari keberadaan adik nya.
......................
Ruang Visi.
"Sudah temukan sesuatu?" tanya Louis pada para bawahan nya.
"Belum, terakhir nona Louise pergi ke cafe namun setelah itu tak terlihat lagi." jawab salah satu pria yang sedang mencoba meretas cctv umum.
"Dia tak terlihat di cctv jalan raya? Mobil nya?" tanya Louis lagi.
"Tidak ada, hilang seperti asap." ucap bawahan nya lagi.
Pria tampan itu terdiam sejenak, adik nya hilang lagi sama seperti malam itu.
"Coba cari apapun yang berkaitan tentang pria yang bernama James aku tak tau nama lengkap nya tapi dia menghadiri konser Louise yang terakhir." perintah Louis lagi.
Para orang-orang di ruang visi pun mulai menyeleksi pria bernama James yang melihat konser gadis nakal itu dan mendapatkan beberapa dari data pria yang bernama James.
"Dia orang nya! Coba cari tau tentang nya." ucap Louis saat melihat beberapa pria yang memiliki nama James yang hadir di gedung tersebut pada hari itu.
Setelah lima menit semua data yang dapat di kumpulkan ruang visi mulai terlihat.
"Data nya seperti ada yang janggal, seperti ada beberapa yang hilang..." ucap Louis saat melihat data yang bisa di raih itu.
Data keterangan identitas tersebut seperti apa yang di katakan James pada nya, tak ada yang aneh namun ia merasa ada yang janggal karna seperti ada yang di sembunyikan.
"Cari tau tempat tinggal nya dimana." perintah Louis lagi.
James yang memiliki banyak aset namun tak menggunakan nama nya membuat nya hanya terlihat seperti memiliki satu rumah saja yaitu apart mewah nya.
Namun ia sangat jarang ke apart tersebut dan lebih sering ke mansion nya karna merupakan tempat utama dari semua pendistribusian semua dunia gelap nya.
Tempat yang bahkan tak akan bisa di lacak karna sudah di rancang khusus agar tak bisa di temukan. Bahkan jika ia membawa wanita ke mansion tersebut maka saat ia mengakhiri hubungan dengan nya, wanita tersebut harus mati demi menjaga kerahasiaan dari tempat itu.
"Menurut kalian apa ada lagi tempat seperti ruang ini? Tempat yang tidak bisa di lacak?" tanya Louis pada orang-orang di ruang visi untuk menyegarkan pikiran nya.
"Mungkin saja ada, tapi kami yakin masih bisa meretas nya kecuali mereka memiliki kemampuan yang sama." jawab salah satu bawahan nya.
"Cari setiap hal yang mendetail dan gunakan seluruh otak kalian." perintah Louis lagi.
......................
Mansion Dachinko.
Mata gadis itu terbuka perlahan, namun seluruh tubuh nya tak bisa di gerakkan karna masih merasakan sakit dan di bungkus perban seperti mumi.
Apa aku sudah mati? Masuk neraka yah? Belum jadi orang baik, kenapa udah mati duluan? Mau jadi setan dulu biar bisa mencekik pria brengsek itu! Biar ke neraka bareng....
Pandangan gadis itu hanya putih tak bisa melihat apapun namun rasa sakit di tubuh nya kian terasa saat syaraf-syaraf sensorik nya semakin mulai beroperasi dengan baik.
"Sudah bangun? Cuma di cambuk seperti itu saja pingsan 2 hari..." suara bariton pria yang sangat di kenal gadis itu terdengar di telinga nya.
Louise pun mulai melihat dan melirik kan mata nya yang masih terbuka sedikit ke sumber suara.
Dia yang ikut mati? Atau aku yang masih hidup sih?
"Sedang menyumpahi ku? Hm?" tanya James saat melihat lirikan mata gadis itu walaupun terbuka sayu.
Brengsek...
Gumam gadis itu saat menyadari jika ia masih berada dalam genggaman pria tersebut, bibir nya hanya sedikit bergerak tanpa suara karna masih sangat lemah.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya James saat mendekatkan telinga nya ke bibir gadis itu.
"Brengsek sialan!" maki Louise yang kali ini mulai terdengar di telinga James saat ia mendekatkan telinga nya, walaupun Louise mengatakan dengan suara lemah.
Pria itu tak marah dan hanya tersenyum, jika gadis itu sudah bisa memaki nya saat baru bangun maka kondisi gadis itu sudah mulai membaik.
"Cepatlah membaik, masih ada yang ingin ku tanyakan." ucap James sembari mencubit kecil pipi gadis itu.
Walaupun masalah pil KB sudah di selesaikan namun masalah bekas ciuman masih belum sama sekali.
Pukul 10.45 PM
Kesadaran Louise semakin penuh saat sudah semakin malam, ia mulai dapat mendengar dengan jelas dan menatap sekitar nya serta merasakan tubuh nya yang penuh berbalut perban tebal.
"Sekarang aku jadi mumi? Dasar pria gila!" ucap Louise saat melihat tubuh perban di balik pakaian nya.
Clik...
Tak lama setelah itu James pun datang berjalan ke arah gadis cantik itu.
"Sudah lebih baik?" tanya James lagi sembari mengelus rambut gadis itu.
"Kau mau membuat ku jadi mumi?! Dan lagi tak usah pura-pura baik!" ucap Louise pada pria itu.
James pun dengan wajah yang seperti tak berbuat apapun sebelum nya hanya menggendikkan bahu nya.
"Aku yang membuat perban nya, aku belum menikmati mu, jadi masih belum bisa memberikan mu ke orang lain." ucap James ambigu membuat Louise semakin bingung.
James biasa bermain wanita dan setelah itu jika wanita yang bermain dengan nya di inginkan bawahan nya ia akan memberikan wanita itu begitu saja, karna bagi nya wanita itu hanya seperti mainan.
Maka dari itu sebelum ia bosan mainan cantik nya tak boleh di nikmati dan di lirik oleh orang lain.
"Kau pikir aku makanan? Ukh..." rintih Louise saat luka di tubuh nya tergeser karna ia bergerak.
"Mau bangun?" tanya James sembari membangunkan gadis itu.
"Itu apa? Kau mau mengganti perban nya?" tanya Louise saat melihat pria itu membawa peralatan untuk perban.
"Kalau sudah tau kenapa tanya?" jawab James sembari membuka kancing piyama gadis itu.
"Eh? Tak perlu! Aku bisa sendiri!" Cegah Louise menghentikan tangan James.
"Kenapa? Kau malu? Aku sudah melihat semua nya kok..." ucap James tersenyum dan mulai mendekatkan bibir nya ke telinga gadis itu.
"Bahkan, aku juga sudah lihat (sens*r)..." bisik James pada gadis itu.
Mata Louise membelalak dan secara refleks merapatkan kaki nya.
"Hanya untuk memastikan, walaupun sudah tau saat pakai tangan, tapi harus di lihat atau di coba kan? Kau saja sudah pingsan, jadi aku tak bisa mencoba nya." ucap James enteng.
"Da-dasar brengsek! Setan mesum!" ucap Louise terkejut.
James hanya tertawa melihat wajah malu gadis itu. Setelah perdebatan panjang tentang ganti perban. Louise melihat ke arah pria yang sedang berada di sebelah nya.
"Kenapa? Kau mau bilang di wajah ku ada ketampanan lagi?" tanya James yang tau gadis itu tetap melihat ke arah nya.
"Tampan sih...
Tapi jahat!" jawab Louise dan membuat pria itu tersenyum dan menatap nya lagi.
"Bekas ciuman di tubuh mu siapa yang membuat nya?" tanya James saat senyum nya jatuh mengingat bekas ciuman di leher gadis itu.
"Bukan urusan mu!" jawab Louise ketus sembari melihat perban buatan pria itu.
"Jangan membuat ku kesal dan jawab saja!" ucap James yang penuh dengan nada penekanan.
"Saat kau membuat tanda di tubuh ku apa aku mengenal mu? Tidak kan? Aku juga tak tau siapa yang buat..." jawab Louise yang tak ingin mengatakan jika Zayn yang membuat tanda di tubuh nya.
"Di club mana bertemu nya? Wajah nya seperti apa?" tanya James lagi.
"Gak tau! Gak ingat aku! Kenapa tanya terus sih? Menyebalkan!" ucap Louise lagi dan tetap mengatur ekspresi wajah nya.
James hanya menyeringai melihat gadis yang terlihat masih dapat melawan nya setelah hampir di tangan nya.
"Kau benar-benar tak takut ku bunuh? Hm? Selain membunuh mu aku juga bisa menjual mu sebagai wanita penghibur, kau tau wajah mu memiliki daya tarik kan?" tanya James sembari menatap tajam.
"A-aku tau aku cantik!" jawab Louise gugup saat ia merasakan hawa yang berubah dari lelaki itu.
Ukh!
Tangan nya mulai mencengkram rahang gadis itu hingga membuat Louise melihat ke arah nya.
"Jangan menyentuh batas ku lagi, atau aku akan benar-benar membuat mu memohon untuk mati." ucap James dengan penekanan pada gadis itu.
"Ba-baik!" ucap Louise sembari menepis tangan yang mencengkram rahang nya.
James pun melepaskan tangan nya dan menatap ke arah gadis itu.
"Kau ini bodoh yah?" tanya James tiba-tiba saat gadis itu mengelus rahang nya yang terasa sakit karna cengkraman barusan.
"Bodoh?! Aku?! IQ ku 175! Kau mengatakan aku bodoh?!" tanya Louise yang langsung terpancing emosinya, dari kecil hingga besar tak ada yang mengatakan jika ia bodoh.
"IQ ku 178." balas James enteng.
"Menurut mu itu hal yang luar biasa? Kakak juga segitu!" ucap Louise karna ia dan kakak nya hanya berbeda tiga angka di tingkat IQ mereka.
"Bukan itu maksud ku, maksud ku EQ mu sangat jongkok yah? Kau tak bisa membaca situasi, ceroboh, gegabah, emosian, dan juga nekat." ucap James yang sudah menganalisa sifat gadis itu.
"Oh ya satu lagi...
Kau terlalu naif..." tambah James, walaupun gadis itu seperti gadis nakal dan liar namun ia tetap seperti kertas putih yang di tutup kain bewarna.
Menyembunyikan kepolosan dan kenaifan di balik sikap ceroboh dan gegabah nya.
"Tinggi kok! Dan lagi aku tidak ceroboh! Tidak naif juga!" sangkal Louise lagi.
Jika gadis itu tidak naif mana mungkin ia termakan kebohongan teman nya tentang mengembalikan ciuman pertama.
"Yasudah! Terserah mu saja, tapi ini adalah batas terakhir ku, jangan sampai di sentuh lagi!" James yang memberikan peringatan pada gadis itu.
Ia pun ingin keluar dan beranjak dari duduk nya.
"Tunggu! Aku harus pulang!" ucap Louise yang takut ketahuan tak kembali ke kediaman nya oleh sang kakak tanpa tau ia sudah tak sadar selama 2 hari.
"Luka seperti itu mau pulang? Dan lagi ini juga sudah malam. Jangan merepotkan!" ucap James ketus pada gadis cantik itu.
"Kalau begitu mana ponsel ku?" tanya Louise lagi.
"Kenapa?" jawab James yang enggan memberi ponsel nya.
"Aku mau menghubungi kakak ku!" ucap Louise lagi.
"Kau saja sudah dua hari tak sadar, dan lagi kakak mu juga tak akan menemukan sampai ke sini." ucap James yang sudah yakin jika tempat nya tak akan di temukan.
"Kau gila! Mana ponsel ku?! Dasar sia-" Louise yang tak lagi melanjutkan ucapan nya karna pria itu sudah menatap tajam dirinya. Baru saja ia di peringatkan namun masih bersikap ceroboh. Benar-benar gadis yang mirip duplikat Ibu nya.
"Dasar si tampan maksud ku...
Minta ponsel ku boleh?" tanya Louise sembari memaksakan senyum walaupun ia tak ingin senyum sama sekali.
"Ini ponsel mu! Perbaiki senyuman mengerikan mu dan cara merayu mu!" ucap James sembari memberikan ponsel gadis itu yang sudah ia rubah sedemikian rupa dan meninggalkan gadis itu.
Louise pun mulai membuka ponsel nya dan berusaha menghubungi sang kakak agar tak ada masalah saat ia kembali nanti.
"Pulang! Dimana kau?!" tanya Louis yang terdengar sangat marah dari telpon.
"Main kak sama teman ku...
Aku bukan anak kecil lagi loh kak, masa gak boleh nginap di luar sih? Dulu kakak juga sering nginap keluar kan sama teman kakak?" jawab Louise beralasan, ia tak mungkin kembali dengan luka yang masih belum kering tersebut.
"Ku tanya kau dimana?!" tanya Louis lagi pada adik nya.
"Males ih ngasih tau kakak! Nanti di jemput! Udah dulu yah! Temen aku manggil! Besok aku telpon lagi." ucap Louise dan langsung menutup ponsel nya.
......................
"Astaga Louise! Kemana aja sih?! Main terus!" kesal Louis dan berlalu keluar dari ruang visi menuju mansion nya.
Mansion Louis.
Ia melangkahkan kaki nya masuk ke mansion megah milik nya tempat ia mengurung sekretaris manis nya.
Pria itu membuka kamar di mana tempat gadis itu berada.
Mata Clara langsung bergerak ke arah pintu setelah hanya duduk tertunduk melihat rantai di kaki nya.
"Sudah makan?" tanya Louis pada gadis itu ketika menghampiri nya, ia menyentuh dagu Clara dan membuat gadis itu melihat ke arah nya.
"Aku mau pulang...
Ku mohon...
Lepaskan aku..." ucap gadis itu dengan lelehan air mata begitu melihat pria yang sudah menodai nya berkali-kali.
"Aku sedang dalam suasana hati yang tak baik, jangan membuat ku kesal, kau mau aku kasar lagi pada mu?" tanya Louis dengan nada ancaman pada gadis itu.
Clara pun menggelengkan kepala nya perlahan dan menurunkan lagi pandangan mata nya.
"Sudah makan? Hm?" tanya Louis lagi karna gadis itu tak menjawab nya.
"Sudah..." jawab Clara berbohong dan terus menundukkan pandangan nya tak ingin melihat pria yang sedang di depan nya walaupun dagu nya di pegang agar mengandah pada pria itu.
"Jangan bohong, kau mau mencoba gaya baru malam ini?" ancam Louis lagi pada gadis itu.
"Be-belum makan malam..." jawab Clara tergagap begitu mendengar ancaman yang sudah ia mengerti.
Louis pun memanggil pelayan agar membawa kan makanan dan meja kecil karna gadis itu akan makan di atas ranjang nya.
"Habiskan." ucap Louis lagi pada gadis itu saat makan malam nya sudah di sediakan.
"Terlalu banyak..." jawab Clara lirih.
"Jika ku bilang habiskan yah kau habiskan! Menurut saja kalau tak mau membuat ku marah." ucap Louis pada gadis itu.
Clara pun mulai menyendokkan makanan ke mulut nya dengan tangan yang gemetar saat pria itu di samping nya melihat nya.
"Jangan makan rambut mu juga..." ucap Louis sembari menyingkirkan rambut panjang gadis itu dan memegang nya kebelakang seperti sedang mengikat satu.
"Lingerie merah muda nya cocok dengan mu...
Pelayan mana yang memberikan warna nya?" ucap Louis lagi saat melihat tubuh gadis itu yang memakai lingerie transparan.
Ia menyuruh pelayan wanita untuk memberikan makan dan mengganti lingerie yang sudah ia sobek agar saat kembali gadis itu terlihat cantik lagi.
Ia memang hanya menyediakan lingerie di kamar tersebut dan tak memberikan pakaian selain lingerie-lingerie seksi tersebut.
"A-aku kapan bisa kembali?" tanya Clara di tengah makan malam nya dengan suara sangat pelan dan takut.
"Tak akan! Kau akan tetap di sini dan seperti ini, kalau kau memang mau kembali kau harus melayani ku dengan baik." ucap Louis pada gadis itu.
"Setelah makan kita akan mandi...
Jadi habiskan makanan mu, susu nya juga di minum jangan sampai jadi gizi buruk." sambung Louis yang tau stamina gadis itu sangat buruk dalam melakukan hal tersebut dengan nya.
Tangan gadis itu berhenti sesaat ketika menyuapkan makanan ke mulut nya, air mata menetes kembali menahan sesak di dada nya.
"Sudah...
Jangan nangis terus...
Nanti tersedak." ucap Louis sembari terus menghalangi rambut panjang ia agar tak ikut termakan sembari mengelus lembut kepala gadis itu.
"Patuh saja malam ini, jangan memancing emosi ku lagi, perasaan ku sedang tak baik." sambung Louis sembari terus mengelus kepala gadis itu.
Masalah dengan adik nya benar-benar memenuhi kepala nya dan sedang tak ingin melakukan hal tersebut pada Clara dan hanya ingin menenangkan pikiran nya karna gadis itu seperti es dan api sekaligus yang mampu membuat nya sejuk sekaligus terbakar.