(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Bukan pria baik



"Tara......


Aku buat bubur abalone, ini buatan ku sendiri. Cobalah." ucap Leo dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Bu-buatan sendiri? kakak bisa masak?" tanya Alyss ragu, ia takut jika itu mirip dengan masakan Hazel.


"Pfttt...


Kau takut tak enak? Coba saja dulu." Leo tertawa kecil dan memberikan sendok ke tangan Alyss.


Alyss tersenyum kikuk dan mulai mencoba sedikit bubur abalone buatan Leo. Alyss langsung membulatkan matanya, dan memakan sesendok lagi.


"Bagaimana?" tanya Leo.


"Enak, ini bukan makanan pesan antar?" tanya Alyss sembari terus memakan bubur tersebut.


"Sepertinya aku benar-benar diragukan." ucap Leo pura-pura lesu.


"Eh, bu-bukan gitu kak...


Masakan kakak lebih enak dari masakan ku." Alyss memuji Leo, ketika melihat wajah lesu Leo.


"Benarkah? Mau ku masakan makanan untuk mu setiap hari?" tanya Leo dengan senyum mengembang.


"Eh?..." Alyss bingung ingin menjawab apa.


" Pftt..


Habiskan bubur nya dan makan dengan banyak. Aku masih ada urusan, jadi aku beri ini." ucap Leo sembari memberi ponsel pada Alyss.


"Kau bisa menelpon jika ada sesuatu, atau menelpon orang tua mu jika kau takut mereka khawatir, jika ada yang kau butuhkan kau bisa panggil pelayan.


Dan jangan terlalu banyak bergerak, rusuk retak. Dan....


Jika kau ingin pergi bisakah memberi tau ku lebih dulu?" sambung Leo lagi.


Alyss pun menganggukkan kepalanya sembari melihat Leo.


"Yasudah, aku pergi dulu." ucap Leo tersenyum dan berlalu meninggalkan Alyss.


Pandangan mata Alyss mengikuti punggung Leo yang keluar dari kamar nya dan setelah itu ia melihat ke arah ponsel yang di berikan Leo padanya.


"Apa aku harus menelpon Hazel?


Ah tidak..tidak..


Jika dia tau aku bersama kak Leo dia pasti akan marah, tubuh ku masih sakit semua. Aku tak sanggup menghadapi kemarahannya." ucap Alyss sembari bergidik ngeri membayangkan Hazel marah.


Ia pun melanjutkan kembali sarapannya.


......................


Ruang Visi


"Sudah mendapat sesuatu tentang Alyss?" tanya Hazel pada seluruh staf berbakat nya.


"Ada 27 mobil yang lewat jalan tersebut pada hari itu pak, kami masih menyelidikinya." ucap salah satu staf.


"Penculiknya?" tanya Hazel lagi.


"Sekretaris nona Vion menemui komplotan penculik beberapa kali pak, dan sepertinya awalnya mereka hanya meminta para penculik tersebut untuk melecehkan nona Alyss.


Namun karena nona Alyss memberi banyak perlawanan, jadi si penculik hampir membunuhnya." jelas salah satu staf.


"Hah....


Jadi Vion yang berulah?" ucap Hazel sembari membuang nafas kasar.


"Rian!" panggil Hazel.


"Ya, ada apa?" tanya Rian ketika Hazel memanggil nya.


"Kirim orang untuk melecehkan Vion, minimal harus 5 pria dan pastikan mereka membuat video yang sangat panas.


Setelah itu potong tangannya, oh tidak...


jangan di potong tapi buat para dokter tak punya pilihan selain mengamputasinya.


Dan sentuhan terakhir nya siram wajahnya dengan air keras." perintah Hazel pada Rian.


"Rilis artikel tentang tambang Logan minggu depan bersama dengan video panas anaknya." sambung Hazel lagi.


"Baik, akan segera ku urus." jawab Rian.


"Berani sekali dia menyentuh wanitaku..." ucap Hazel lirih


Hazel masih sangat kacau karna Alyss hilang kabar lagi, pikiran benar-benar tak bisa tenang.


"Dimana kau? Kau tak akan bisa pergi dari ku."


Batin Hazel ketika melihat rekaman terakhir Alyss di blackbox mobil penculik.


......................


Pukul 05.48 PM.


Leo telah menyelesaikan beberapa pekerjaan mendesak nya dan segera kembali ke vila nya.


"Dia sudah pergi?" tanya Leo pada pelayannya, ketika ia sampai ke villa.


"Belum tuan, nona sedang berada di balkon." jawab pelayan tersebut.


Leo pun langsung mengembang senyum di wajahnya dan mendatangi Alyss yang tengah menikmati pemandangan.


"Ku bilang jangan banyak bergerak kan?" ucap Leo tiba-tiba.


Alyss pun langsung mengalihkan pandangan nya ke Leo.


"Bosan jika seharian di tempat tidur kak, aku ingin lihat pemandangan, pemandangannya sangat cantik. Udara nya juga segar." ucap Alyss sembari berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin dan melihat lurus kedepan ke arah bukit dan pantai yang berdampingan.


"Kalau begitu kau bisa kesini kapan pun kau mau nanti." ucap Leo sembari melihat wajah Alyss dari samping.


Alyss hanya tersenyum dan memejamkan matanya menikmati udara lembut yang datang ke wajahnya.


"Kau tau? ada yang lebih cantik dari pemandangan ini." ucap Leo lagi.


"Apa itu?" tanya Alyss dan langsung melihat ke arah Leo.


"Kau." ucap Leo tersenyum.


"A-apa sih?" ucap Alyss dan langsung membuang wajahnya lagi ke depan.


Leo hanya tertawa melihat Alyss yang salah tingkah.


"Hah..


Aku ingin makan peach.." ucap Alyss lirih sembari mengelus perutnya.


Walaupun suara Alyss sangat pelan, namun Leo masih dapat mendengarnya.


"Peach? Kau ingin itu?" tanya Leo pada Alyss.


Aku hanya sembarang bilang saja." ucap Alyss sembari mengibaskan tangan nya mengatakan tidak pada Leo.


"Aku bisa carikan, tunggu disini sebentar." ucap Leo.


"Eh? Tidak usah kak." cegah Alyss sembari langsung meraih tangan Leo yang hendak pergi.


"Tidak apa, kau kan sedang.." ucap Leo menggantung.


Alyss hanya menatap Leo dengan tatapan bingung.


"Sedang sakit, jadi aku harus mengikuti keinginan orang yang sedang sakit kan?" tanya Leo sembari memberikan senyum ramahnya ke Alyss. Leo pun melepas tangan Alyss perlahan dan segera pergi mencari buah peach yang di inginkan Alyss.


"Itu seperti kata-kata untuk orang hamil." ucap Alyss lirih ketika melihat Leo pergi.


Ia masih belum menyadari bahwa ia sedang hamil, dan Leo yang masih belum memberitahu nya sama sekali.


Tak lama kemudian Leo kembali dengan sekantung penuh buah peach di dalam nya.


"Kau benar-benar mendapatkannya?" tanya Alyss tersenyum.


"Tentu saja." ucap Leo dengan percaya diri.


Mereka pun kemudian duduk dan mulai memakan buah peach yang di bawa Leo.


"Hmm...


Manis.." ucap Alyss ketika memakan buah tersebut.


Leo hanya tersenyum melihat Alyss.


"Oh iya..


Kenapa kakak berhenti di RS? Aku juga tak tau kakak punya villa disini." tanya Alyss sembari memakan buah peach nya.


"Aku kecelakaan dan tanganku..." ucap Leo menggantung.


"Aku punya banyak villa kau masih belum mengenal ku saja." ucap Leo mengalihkan pembicaraan ia tak mau membahas tangannya.


"Kecelakaan apa? kakak baik-baik saja?" tanya Alyss dengan raut wajah khawatir.


"Seharusnya aku yang tanya, Kau baik-baik saja? Apa kau tau aku hampir kena serangan jantung saat melihat mu di jalan berlumuran darah." tanya Leo sembari menatap Alyss.


"Eh? A-Aku baik-baik saja." ucap Alyss yang merona ketika Leo menatap lekat wajah nya.


Melihat hal itu pun Leo tertawa kecil.


"Rasanya aku benar-benar ingin mengurung mu disini. Tapi aku tak boleh melakukannya kan?" ucap Leo pada Alyss.


"Eh? Maksudnya?" tanya Alyss kebingungan.


"Tak apa-apa. Hanya saja...."


"Hanya apa?" tanya Alyss lagi.


"Kau masih berhubungan dengan Presdir Hazel, oh maksudku Hazel aku lupa dia bukan atasan ku lagi." tanya Leo mengalihkan pembicaraannya.


"Ah.. Itu...


Be-begitulah..." ucap Alyss yang menggaruk dagunya walaupun tak gatal.


"Kau menyukainya?" tanya Leo tiba-tiba.


"Eh? A-aku..." Alyss semakin bingung menjawab pertanyaan Leo.


"Kalau kau sudah tak menyukainya, bisakah kau menyukaiku? Aku akan memperlakukan mu dengan baik." ucap Leo lagi secara mendadak.


"Aku menyukai mu, sejak kita masih kuliah." ucap Leo lagi.


Alyss benar-benar terkejut saat mendengar pengakuan Leo.


"Tapi aku...


Aku beda... aku tak bisa... aku tidak pantas..." ucap Alyss lirih dengan nada sangat pelan ketika mendengar pengakuan Leo.


Kenapa Leo tak dari dulu mengatakan perasaan nya? Kenapa baru sekarang saat Hazel sudah menjerat hidup nya?


"Jangan merasa terbebani dengan pengakuan ku. Dan apa yang kau katakan tadi? Tidak pantas? Menurutku aku yang tidak pantas, sejak kecelakaan tangan ku cacat, tanpa alat yang berada di balik pakaian ku, tangan ku tak bisa di gerakkan sama sekali.


Aku menjalani terapi tapi entah sampai kapan ini bisa benar-benar bergerak lagi. Jadi jangan menganggap rendah dirimu." ucap Leo lagi.


"Kenapa tidak dari dulu?" tanya Alyss lirih.


"Aku ingin mengatakannya, tetapi aku mendengar bahwa kau menyukai orang lain. Makanya aku tak jadi mengatakannya, aku takut kau tak ingin berteman dengan ku lagi.


Tapi ini benar-benar terasa lucu, sekarang aku malah mengatakannya saat kau sudah punya pacar." ucap Leo dengan senyum pahit.


Alyss semakin terkejut mendengar ucapan Leo, karna saat ia kuliah orang yang disukainya adalah Leo sendiri.


"Aku bukan wanita baik kak, kakak bisa dapatkan yang lebih dariku." ucap Alyss lirih.


"Aku juga bukan pria baik, jika aku pria baik aku tak akan mengejar pacar orang lain kan?" tanya Leo.


"Sudah ku bilang jangan merasa terbebani dengan perasaan ku, aku tak mengharap lebih atau pun memaksa perasaan ku. Aku hanya ingin merasa lebih tenang dengan mengungkap kan nya.


Dan yang terpenting aku ingin melihat terus tersenyum seperti sebelumnya. Kau bisa menjadikanku seperti rumah.


Kau bisa datang saat lelah, dan meminta ku melindungi mu, aku akan melakukannya jika itu bisa membuat mu bahagia." ucap Leo.


"Itu terdengar seperti aku sedang memanfaatkan mu." ucap Alyss.


"Aku tak masalah jika kau memanfaatkan ku." ucap Leo tersenyum lembut pada Alyss.


......................


Ruang Visi


"Tunggu ini..." ucap Hazel ketika melihat salah satu data tentang mobil Leo termasuk dalam mobil yang sedang di selidiki.


...****************...



Alysscalla Zalea



Leonard Kim.


...****************...


**Hai Guyss Author agak banyakin cerita Alyss sama Leo nya, karna peran Leo disini sebagai Second lead male hihihi


Masa Second lead male ga da part sama Female lead nya hihi...


Jadi jangan anggap keluar jalur yah ni cerita hihi


Jangan lupa like, komen, rate 5, Vote dan favoritkan yah hihi


Happy Reading🥰🥰🥰**