
DUAR!!!
Suara ledakan yang berada di taman mansion nya membuat pria itu terperangah dan langsung keluar bersama dengan bawahan nya yang masih menjelaskan lebih detail tentang rencana yang ia ambil.
Tanaman indah serta pancuran air yang biasa nya mengalirkan air jernih dengan lembut kini berubah menjadi nyala api seperti obor.
Tanah dengan bunga-bunga cantik yang porakporanda juga membuat semua taman tersebut menjadi rusak.
Gadis dengan berwajah cantik itu memperlihatkan senyum puas dan manis nya setelah menghancurkan taman indah tersebut.
Ia mendengar langkah kaki yang mendekat dan langsung berbalik ke arah seseorang yang datang.
"Kau sudah datang? Bagus kan? Aku bisa menghancurkan lebih banyak lagi..." ucap Louise dengan senyuman cerah seperti tak melakukan apapun.
James hanya melihat dengan wajah datar, ia tau gadis di depan nya mulai mencari cara agar segera ia lepaskan.
Louise tersenyum dan mendekat ke arah pria itu, ia merangkul tangan kekar itu dan bersikap manja layaknya anak kucing yang menggemaskan.
"Sayang..." ucap nya dengan nada yang terlihat manja namun tersimpan maksud lain.
Pria itu tersenyum simpul ia tau jika gadis nya akan membuat kerusuhan yang lebih banyak lagi namun ia juga tak ingin melepaskan nya.
"Kau baru 3 hari disini dan sudah sangat tak sabar menghancurkan mansion ku?" tanya James dengan senyuman yang juga menyimpan arti di balik nya.
"Kalau begitu lepaskan aku breng-
Sayang maksud ku..." jawab Louise tetap dengan senyum manis nya namun hampir memaki pria yang sedang berbicara pada nya.
James membalas senyuman gadis itu dan kemudian melepaskan rangkulan tangan kecil yang berada di lengan nya.
Wajah nya berubah menjadi dingin dan tak berekspresi lagi.
"Tidak," ucap nya dengan nada tegas pada gadis itu, "Kau juga baru tiga hari kan disini? Jangan menguji kesabaran ku dengan terus meminta kembali!" ucap James yang kini tak tersenyum dan bicara dengan nada yang penuh penekanan.
"Lanjutkan bermain mu, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu." ucap James yang sedetik kemudian dan tersenyum sembari mengusap puncak kepala gadis itu dan berlalu pergi lagi.
Louise melihat nya dengan mengepalkan tangan nya, ia semakin jarang pulang kerumah nya sendiri dan semakin sering tinggal di mansion itu tanpa bisa keluar.
Sedangkan hal yang sangat ia sukai adalah kebebasan dan masih banyak hal di luar sana yang belum pernah ia coba namun sekarang mulai semakin terikat dengan rantai tak terlihat yang di ciptakan pria yang mengambil pengalaman pertama nya.
"Kalau kau tak mau melepaskan ku! Aku bakar mansion mu! Pelayan mu! Semua tempat ini akan bakar! Brengsek!" teriak gadis itu pada pria yang berjalan menjauh di depan nya.
James menoleh pada gadis nya baru satu menit yang lalu gadis itu tersenyum dan bersikap manja serta manis pada nya namun sekarang sudah kembali memaki nya lagi.
"Jangan nakal, kau mau aku menghukum mu?" ucap nya dengan bibir tersenyum namun mata yang tajam.
Ia akan membiarkan gadis itu keluar setelah kondisi tubuh nya melemah dan memerlukan obat nya. Ia juga sudah mengambil darah gadis itu setiap satu bulan sekali untuk disimpan dan setengah nya di gunakan sebagai penelitian guna membuat obat yang sesuai dan tak menghasilkan efek tabrakan dari obat rutin gadis itu.
"Ck! Sial!" decak nya kesal karna semua yang ia lalukan seperti sia-sia.
Dengan cara yang manis dan bahkan sampai ke tindakan yang merugikan pria itu tetap tak membiarkan nya kembali, sedangkan ia memang tak tahan jika harus di kurung dan di kunci langkah nya.
......................
3 Minggu kemudian.
Sudah beberapa minggu berlalu setelah kecelakaan mengenaskan itu dan kematian Reno.
Kematian mendadak yang sebelumnya sempat menghebohkan media namun tak ada satupun yang menyadari jika kematian pria itu bukan karna luka kecelakaan melainkan racun mematikan yang menyebar dan merusak semua organ tubuh nya.
Louise pun mulai tau tentang kecelakaan Clara saat melihat berita nya, walaupun dengan kekuasaan milik sang kakak yang menutupi identitas wanita yang bersama Reno namun ia tau jika wanita itu adalah sekertaris saudara kembar nya.
Clara mulai terbangun setelah tak sadar hampir satu bulan lebih, ia masih merasakan rasa sakit dan takut yang di campur aduk menjadi satu.
Gelap...
Tapi aku yakin sudah membuka mata ku...
Aku takut....
Tak ada satupun yang terlihat oleh nya, ia berusaha memejamkan mata nya dan membuka lagi lalu terus mengulangi nya, namun semua tetap sama.
Hitam....
Hanya itu yang dapat ia lihat. Kegelapan yang begitu pekat dengan tak ada satupun cahaya yang menerangi nya.
Tentu nya ia mulai merasa takut, monitor di tubuh nya mulai memberikan sinyal hingga membuat para dokter mendatangi nya dengan segera.
Suara nya masih tertahan dan sulit untuk bicara. Ia sangat ingin mengatakan.
Tolong hidupkan lampu nya...
Sangat gelap...
Namun tak bisa ia katakan.
Louis yang sudah mendapat kabar gadis itu sudah siuman pun langsung datang melihat kondisi nya.
...
Dua Hari kemudian.
Dengan perawatan yang di lakukan dengan sungguh-sungguh akhirnya gadis itu mulai bisa bicara lebih lancar walaupun tulang-tulang nya hampir remuk semua dan masih merasakan sakit yang menjalar di tubuh nya.
"Hi-hidupkan lampu nya...
Gelap sekali..." tangis nya memohon pada orang-orang yang berada di sana.
Telinga nya mendengar adanya suara orang lain namun mereka seperti membiarkan nya yang ketakutan karna gelap.
"Cla? Tenang..." ucap Louis yang tanpa sengaja mengeluarkan suara nya.
"AAKKHH!!!
Maaf...
Aku tidak kabur! Kau mengurungku di mana? Gelap sekali aku takut...
Maaf aku salah...
Huhuhu..." tangis nya histeris sembari mulai mencoba bergerak di ranjang pasien nya.
Tubuh nya tak bisa di gerakkan kecuali rasa sakit yang teramat sangat dan gelap yang ia rasakan.
Bahkan menggerakkan tangan nya saja masih sulit, kecuali bicara dan menggerakkan wajah nya yang sudah lancar.
"Gelap...
Nyalakan lampu nya, tolong..." mohon nya dengan menangis yang terdengar pilu hingga membuat pada dokter dan disana yang melihat nya merasa iba.
Terapi untuk pemulihan otot pun mulai di lakukan agar gadis itu bisa bergerak lagi, karna emosi yang tak stabil para dokter dan prof pun sepakat mengatakan jika ia di memang di letakkan di ruangan yang gelap guna proses pengobatan.
Mereka berjanji jika gadis itu sudah bisa bergerak bebas dan menjalani terapi nya dengan sungguh-sungguh akan mengeluarkan nya dari ruangan tak berwarna itu.
Walaupun mereka juga tau karna psikis Clara yang akan tetap terguncang nanti nya namun hanya ini lah jalan satu-satu nya yang terbaik.
...
15 Hari kemudian.
Tak ada satu hari pun tanpa ucapan memohon agar memberikan cahaya di ruangan nya.
Clara merasa jika Louis sengaja mengurung nya di tempat gelap karna berfikir ia mencoba kabur bersama Reno.
Ia bahkan mengganti parfum, sabun dan shampo nya agar mengelabui penciuman gadis yang sudah benar-benar menutup hati pada nya.
Tangan nya dan otot-otot Clara mulai lancar bergerak walau ia masih tak bisa berjalan dan menggunakan kursi roda untuk berpindah tempat.
"Cla? Ini aku..."
Suara seorang gadis yang ia kenal namun entah mengapa ia takut mendengar nya.
"Louise?" panggil nya sembari mencoba meraba di mana gadis yang ia kenal itu.
Louise pun menangkap tangan nya agar membuat Clara sedikit tenang.
"Bi-bisakah katakan pada kakak mu untuk membebaskan ku? Di sini gelap...
Aku takut..." ucap nya lirih dengan memohon.
Semua orang masih berusaha membohongi nya dengan mengatakan jika ia berada di tempat yang gelap untuk pengobatan.
Walau hati kecil sudah mulai merasakan adanya kebohongan nya namun ia masih tak ingin menerima kenyataan jika ia sudah tak dapat lagi melihat cahaya.
"Hm...
Kalau kau sudah lebih baik pasti tak akan merasa gelap lagi..." ucap Louise lirih yang merasa iba dengan gadis di depan nya.
"Me-mereka tidak berbohong kan? Aku takut...
Gelap sekali..." balas Clara dengan tangis nya sembari terus memegang erat tangan gadis itu.
"Aku kan menemani mu," ucap Louise dengan suara tertahan sembari membalas pegangan tangan gadis di depan nya.
Bulir bening mulai mengalir deras tak memiliki bendungan lagi di mata gadis manis itu, ia benar-benar merasa gelap dan takut sekaligus dalam waktu bersamaan.
Tak ada setitik cahaya pun yang bisa ia lihat karna mengalami kebutaan total.
Gelap...
Hanya itu yang mampu terlihat oleh nya, ia selalu berdoa dan berharap jika saat ia bangun di keesokan hari nya ia akan dapat melihat lagi namun ia seperti tak pernah terbangun dari mimpi buruk nya saat semua indah dunia di tutup oleh hitam pekat di mata nya.
Louise menghapus air mata nya dan melihat ke arah sang kakak yang memang berdiri tak jauh dari nya namun tak bersuara sama sekali.
"Cla, aku ada urusan nanti aku datang lagi..." ucap Louise setelah tangis gadis itu sedikit reda.
"Jangan pergi! Aku takut..." cegah Clara sembari menarik tangan gadis itu.
Ia menahan nya dengan sekuat tenaga bahkan hingga cenderung mencakar tangan gadis cantik itu.
Louise meringis menahan sakit saat tangan nya kembali di cakar ketika Clara tak ingin membiarkan nya pergi.
Louis yang melihat hal itu pun segera ingin melepaskan tangan Clara dari adik nya agar tak menahan dengan cara menancapkan kuku nya pada tangan saudari kembar nya.
"Jangan," ucap nya tanpa suara agar sang kakak tak mendekat.
"Baik, aku disini tenanglah..." ucap Louise lirih pada gadis itu.
Akhirnya ia menunggu hingga Clara benar-benar dan tidur saat dokter memberikan obat penenang pada nya saat obat-obatan lain di campur.
...
Ruang Presdir.
"Sekarang katakan pada ku? Apa yang kau lakukan lagi pada nya?" tanya Louise ketus pada sang kakak.
"Tak ada," elak Louis singkat.
"Tak ada? Tapi dia jadi sangat histeris saat mendengar nama mu?!" ucap Louise pada sang kakak.
Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir pria tampan itu. Ia bingung bagaimana cara menjawab adik nya lagi.
"Kau sendiri kenapa sekarang sangat jarang pulang? Pergi ke mana kau?" tanya Louis mengalihkan pembicaraan.
"Bukan ini masalah yang harus bahas! Yang aku tanya kenapa sekarang dia trauma lagi pada mu?!" ucap Louise dengan nada tinggi pada kakak nya.
"Kalau begitu hipnoterapi lagi! Lakukan sampai berulang kali sampai dia tidak trauma lagi!" Louis yang memberi jawaban lain untuk pertanyaan yang tidak di tanya sama sekali.
"Hipnoterapi? Dia bahkan tak bisa lihat sekarang! Apa sih yang sudah kau lakukan?!" tanya Louise dengan nada tinggi.
"Aku hanya ingin dia menikah dengan ku! Hanya itu!" jawab Louis dengan nada yang sama.
Louise tersentak ia kembali mengingat kecelakaan Clara dan Reno yang bersamaan serta jawaban sang kakak.
"Kecelakaan nya? Kau yang melakukan nya?" tanya Louise lirih sembari menatap lekat wajah sang kakak.
"Tidak! Bukan aku!" sanggah Louis, ia tak bisa jujur karna takut emosi adik nya tak stabil lagi dan kembali jatuh sakit.
"Satu orang mati dan satu orang lagi cacat!" teriak Louise sembari meremas jas sang kakak.
"Bukan aku!" jawab Louis pada adik nya, "Kau tak percaya kakak mu?" sambung nya sembari memegang tangan adik nya.
Deg...
Gadis itu terdiam ia menatap lekat iris pria yang selalu menjadi 'Kakak sempurna' untuk nya dalam segala situasi namun bersikap iblis pada orang lain.
"Aku..." ucap nya lirih antara ingin percaya atau tidak.
Namun gadis itu memilih mempercayai apa yang ingin ia percayai.
"Lalu kenapa dia trauma lagi pada mu?" tanya Louise pada sang kakak.
"Video," jawab Louis singkat pada adik nya.
"Video? Maksud mu?" tanya Louise singkat.
"Aku menyebarkan gosip buruk tentang nya agar tak ada lagi yang mendekati nya," terang Louis yang tak mengatakan rinci tentang video panas diri nya dan sekertaris manis nya.
"Gosip seperti apa?" tanya Louise lagi.
"Aku sudah kembali membersihkan nama nya jadi itu bukan masalah besar," jawab pria itu yang masih tak mengatakan rinci tentang perbuatan nya.
"Kenapa melakukan nya? Kau tak bisa anggap gosip sebagai hal yang mudah! Orang lain lebih suka menghancurkan nama wanita!" ucap Louise yang kembali memarahi sang kakak.
"Apa itu salah? Tidak kan? Aku hanya mau dia cuma untuk ku!" jawab Louis pada adik nya.
Walau pun ia sudah tau akan kesalahan nya namun ego nya menolak untuk mengakui nya karna rasa cinta yang begitu kuat namun tidak dengan cara yang tepat.
"Kau tak merasa salah?" tanya Louise sembari memincingkan mata nya.
Aku salah...
Aku benar-benar salah...
Tapi aku tak ingin melepaskan nya...
Aku benar-benar mencintai nya...
"Aku mencintai nya! Aku akan bertanggung jawab untuk hidup nya," jawab Louis pada adik nya.
Plak!
Pria itu terkejut sesaat ketika adik nya menampar keras pipi nya.
"Sadarlah," ucap Louise sembari menatap tajam pada sang kakak, "Itu bukan cinta tapi obsesi!" sambung nya pada saudara kembar pipi nya.