(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Don't go with her...



Ruang Visi.


"Kalian sudah temukan sesuatu tentang nya?" tanya Louis pada seluruh pekerja di ruang visi.


Ia berusaha mencari tau tentang kekasih adik nya karna bagi nya pria itu sangat janggal, setiap kali adik nya pergi menginap maka gadis itu akan hilang seperti di telan bumi.


"Selain profil luar nya tak ada yang bisa di temukan lagi. Dan seperti nya..." jawab salah satu staf dengan ragu.


"Seperti apa?" sahut Louis langsung.


"Dia memiliki sistem keamanan sendiri untuk data pribadi nya, sistem ini jika di ibaratkan seperti labirin," jawab staf di ruang visi.


"Tak bisa kalian retas?" tanya Louis lagi.


Ia sebenarnya tak tertarik sama sekali dengan James namun saat ia merasakan jika adik nya sudah menyukai pria itu membuat nya harus mengetahui seluk beluk pria yang di sukai adik nya.


"Kalau kita retas mungkin butuh waktu beberapa tahun untuk menembus sistem keamanan nya dan juga data kita berisiko ikut bocor juga ke pihak mereka," jawab staf tersebut.


"Kalian semua di pekerjakan untuk hal itu kan? Kenapa jadi tak bisa?!" tanya Louis marah.


"Tapi mereka juga tak akan bisa menembus sistem keamanan kita, kami membuat sistem keamanan berbentuk jaring. Mereka juga akan sangat berisiko jika menembus sistem keamanan kita." ucap salah satu staf.


"Maksud nya mereka punya sistem keamanan yang sama dengan kita?" tanya Louis lagi.


"Benar Presdir, namun dengan pola yang berbeda mereka seperti labirin dan sistem kita membentuk jaring." jawab salah satu staf.


"Presdir, kami menemukan yang lain dari nya." ucap salah satu staf.


"Tunjukan," ucap Louis dan membuat salah satu staf tersebut langsung memasukan data yang di dapat pada layar hologram di ruangan tersebut.


"Dia memiliki saham kita 15%? Saat aku di tangkap polisi?" tanya Louis mengernyit.


Ia mulai memikirkan segala yang bisa diambil dari pembelian saham tersebut.


"Kalau dia berniat membantu itu hal bagus, tapi kalau tidak..." ucap nya yang tau bantuan bisa berubah menjadi boomerang. "Dia akan bisa menjatuhkan JBS grup," sambung nya.


"Cari tau tentang nya, dan kalau bisa retas sistem nya tanpa membuat data kita bisa ikut bocor. Tidak apa-apa kalaupun butuh waktu lama," ucap Louis dan keluar dari ruang visi.


"Baik Presdir!" ucap mereka serempak pada atasan nya.


......................


Mansion Dachinko.


Tubuh gadis cantik gemetar, wajah nya pucat pasi dengan keringat dingin mulai berjatuhan di dahi nya.


"James...


Aku tak mau belajar lagi..." ucap Louise gemetar sembari melihat beberapa pelayan yang selalu tertembak karna peluru meleset nya.


"Sampai kau bisa menggunakan pistol mu kita akan berhenti," ucap James dengan wajah datar nya pada gadis yang sudah terduduk dengan wajah pucat tersebut.


"A-aku bisa membunuh mereka...


Aku tak mau..." ucap nya gemetar dengan hampir menangis karna takut. Ingatan tentang trauma nya bercampur aduk dan menjadi serpihan menyakitkan.


"Tuan, seperti nya sudah cukup. Dia terlihat sangat tidak baik," ucap Chiko yang merasa kasihan pada gadis yang memiliki guncangan psikologis tersebut.


Sebelum nya ia memang tak terlalu peduli dan bahkan sangat ingin menjadikan gadis itu sebagai objek penelitian, namun semakin banyak nya hari dan bulan ia mulai menyadari sifat menyenangkan, ceria dan polos gadis itu sehingga membuat nya paham kenapa tuan nya bisa menyukai gadis cantik itu.


"Dia belum banyak belajar! Bela diri juga masih sangat terbatas!" ucap James dengan mata dingin dan wajah datar nya.


"Bangun lagi! Kali ini jangan salah lagi!" ucap nya sembari menarik lengan gadis itu dan memaksa berdiri agar segera menembak lagi.


"Ti-tidak mau..." ucap Louise lirih sembari menggeleng tak mau.


Walaupun Hazel dulu mengajari nya namun tidak dengan cara keras seperti itu, sang ayah tak menggunakan orang lain sebagai bahan objek yang akan di tembak dan seminim mungkin agar tidak memicu trauma putri nya lagi namun bisa mengendalikan rasa takut nya.


"Tuan," panggil Chiko yang melihat psikologis gadis itu semakin terganggu.


AKHH!!!


Teriaknya dan langsung mendorong pria yang sedang berada dekat dari nya. Kepala nya terasa sakit dengan ingatan yang bercampur aduk dan bahkan mengambil rasa sakit dari ingatan sang kakak.


Visualisasi yang bisa ia rasakan seakan-akan ia juga mengalami hal tersebut, ia jatuh dan menutup mata dan telinga nya dengan rapat.


"Paman pergi...


Sakit..." tangis nya dengan ingatan berantakan yang kembali ke situasi saat ia berumur 6 tahun.


"Louise?" panggil James berusaha meraih gadis yang menyeret tubuh nya menjauh sembari menutup mata dan telinga nya.


"Kau masih mengurung psikiater yang pernah menghapus ingatan nya kan?" tanya James pada Chiko.


"Masih tuan," jawab Chiko pada tuan nya.


"Bawa dia," perintah James sembari melihat ketakutan gadis itu.


"Hanya seperti itu saja kenapa bisa sampai begini sih?!" decak James karna melihat gadis di depan nya yang tak bisa di latih dan tak bisa mengendalikan rasa takut nya.


...


Skip.


Setelah memanggil psikiater yang dulu nya pernah menghapus ingatan gadis itu saat memasuki hutan, dokter itu pun mulai memeriksa dan menyuntikkan penenang.


"Kenapa dia bisa seperti ini? Tadi juga memanggil ku paman?" tanya James pada psikiater yang baru saja mengobati gadis itu.


"Kondisi mental dan psikologis setiap orang berbeda-beda, dia belum sembuh keseluruhan dan jika dipaksa mungkin dia akan terjebak dalam ingatan masa lalu nya," jawab psikiater tersebut menjelaskan.


"Maksud nya?" tanya James ingin tau lebih jelas.


"Dia bisa memiliki kepribadian lain saat dia terjebak dengan ingatan nya, contoh nya seperti tadi. Ingatan nya berantakan dan malah mengembalikan ingatan dan kepribadian saat dia masih berumur 6 tahun. Dia harus menjalani konsultasi lagi tapi seperti nya sedikit sulit." jawab psikiater tersebut.


James mencerna dan paham mengapa gadis itu memanggil nya 'paman' sebelum nya hal itu pasti karna ingatan gadis itu yang kembali di usia 6 tahun nya.


"Kenapa sulit?" tanya James yang ingin gadis itu segera mengatasi rasa trauma nya.


"Pertama dia selalu menipu dirinya sendiri dan kedua ingatan nya sudah di hapus beberapa kali dan kembali lagi membuat nya menciptakan memori baru yang seharusnya tak ada sebagai perlindungan diri nya sendiri." jawab wanita paruh baya berkacamata tersebut.


"Alasan kedua bisa ku mengerti tapi alasan pertama maksud nya apa?" tanya James bingung.


"Dia berusaha memiliki sikap yang di inginkan orang lain dan menyembunyikan rasa takut nya, maka dari itu saat dia konsultasi pun kami akan sulit memecahkan masalah nya karna dia sudah terbiasa bersikap dengan karakter perlindungan diri nya," jawab psikiater tersebut menghela nafas.


Ada banyak alasan seseorang yang ingin pura-pura kuat dan baik-baik saja sampai orang itu melupakan luka nya yang harus nya di obati. Bisa jadi tekanan dari lingkungan atau ingin menghibur orang lain dan diri nya sendiri dengan membuat sikap seperti itu.


"Kalau ingin mengajari nya menembak bisa saja, tapi jangan lakukan yang tak di inginkan nona, seperti nya nona sangat takut menembak seseorang." ucap wanita dengan profesi psikiater tersebut karna mendengar gumam lirih dari bibir gadis yang mengatakan 'jangan tembak kakak ku'


"Kau masih mau hidup kan? Kalau kau masih mau hidup kau harus bisa menyembuhkan trauma nya." ucap James pada psikiater wanita tersebut dengan mata tajam.


"Ba-baik tuan," jawab nya gugup dan setelah ia memberikan perawatan pada gadis itu ia pun segera keluar.


Ia tau sebagian orang bahkan perlu waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan trauma sebagian orang karna kondisi mental dan guncangan psikologis yang berbeda dan tak bisa di samakan pada setiap orang.


Apa lagi gadis itu yang berusaha menutupi sifat rapuh nya sedalam mungkin dan menunjukkan hanya menunjukan sifat kuat nya saja.


Setelah semua orang telah pergi dari kamar tersebut James mengelus wajah gadis yang terlihat pucat tersebut.


"Aku ingin kau bisa melindungi diri mu sendiri..." ucap nya lirih.


Pengancam yang mengincar gadis nya kini sudah tak lagi kelihatan seperti hilang tanpa jejak dan itu semakin membuat nya was-was karna merasa seperti akan ada badai yang datang pada nya.


....


Louise terbangun, pandangan nya masih mengabur dan ia tak ingat jika sempat histeris sebelum nya dan memanggil orang lain sebagai 'paman' yang ada di ingatan nya hanya ia yang di paksa menembak walaupun ia tak mau.


Sudah malam?


Batin nya kemudian berjalan ke jendela membuka tirai nya dan melihat cahaya langit malam dengan beberapa bintang yang terlihat sedikit karna malam yang mulai berkabut mendung.


Grep...


Louise tersentak sejenak saat ia merasakan seseorang merangkul nya dari belakang dan memeluk ke bahu nya.


"Kapan kau bangun? Hm?" bisik pria itu di telinga gadis yang sedang tak merasa baik itu.


"Ck! Lepas!" decak Louise kesal dan menepis tangan yang tengah memeluk nya dari belakang ia pun membalik tubuh nya dan menatap tajam ke arah pria itu.


"Aku tak mau menembak lagi! Apa kau tak mengerti?! Kepala mu itu ada isi nya tidak sih?!" ucap Louise marah pada pria tersebut.


Ia memang akan selalu marah setiap kali di paksa melakukan sesuatu yang tak ia inginkan.


"Baik, kita tak akan belajar menembak lagi dengan orang lain sebagai objek." ucap James pada gadis itu.


Ia menggunakan orang lain sebagai objek karna ingin Louise yang bisa langsung beradaptasi tanpa tau jika sikap nya semakin meleburkan psikologis gadis itu.


"James? Kau ini orang seperti apa sih?! Kenapa bisa seperti ini?" tanya Louise tak bisa mengatakan apapun lagi saat ia melihat wajah datar pria itu.


"Aku pernah bilang kan? Aku...


Sudah mati berkali-kali, jadi aku juga tak bisa merasakan rasa kasihan seperti yang kau miliki." jawab James pada gadis itu.


"Apa yang pernah terjadi pada mu? Aku ingin tau." ucap Louise pada pria itu.


"Apa yang ingin kau ketahui dari ku?" tanya James pada gadis itu.


"Semua nya! Aku ingin tau apa saja yang sudah kau lalui," jawab Louise pada pria di depan nya.


"Akan ku beri tau nanti, tapi bukan sekarang." ucap James sembari menghela nafas nya.


"Kenapa?" tanya Louise lagi.


"Aku tak mau mengingat nya lagi," jawab James singkat.


"Apa kau selalu berfikir 'Aku bisa melalui hal yang lebih sulit, kenapa dia tidak bisa?' kau berfikir seperti itu saat melihat rasa takut ataupun rasa sakit orang lain?" tanya Louise saat melihat reaksi pria itu dan bagaimana cara ia di latih agar menjadi lebih kuat.


James diam karna apa yang dikatakan gadis itu memang benar nya.


"Kalau kau berfikir seperti itu, pasti semua orang di dunia ini sudah mati bunuh diri semua atau bahkan tak ada yang mati bunuh diri sama sekali." ucap Louise saat tak mendengar jawaban pria di depan nya.


"Maka dari itu kau harus lebih kuat!" ucap James pada gadis itu.


"Kalau semua orang punya sifat yang kuat dan jiwa yang kuat seperti mu, pasti tak akan ada orang yang mati bunuh diri karna depresi! Kau bisa mengendalikan tekanan orang lain!" ucap Louise dengan kesal.


"Baik, aku mengerti sekarang..." ucap nya dan memeluk perlahan gadis yang tengah marah pada nya itu.


Louise memberontak tak ingin pria itu memeluk nya namun tubuh nya di kukup dalam dekapan pria tersebut.


"Maaf...


Aku tak bermaksud seperti itu..." ucap nya dengan lembut di telinga gadis itu sembari memeluk dengan erat.


Louise diam sejenak, ia tak pernah mendengar pria itu meminta maaf pada nya sejak awal bertemu sampai sekarang.


James sendiri tak tau kenapa ia bisa menurunkan ego sampai ia mengatakan sepatah kata yang tak pernah ia katakan sebelum nya.


......................


8 Hari kemudian.


Cafetaria.


"Auch!" pekik seorang wanita sembari memegang tangan nya yang terkena kopi pans minuman nya sendiri.


"Anda baik-baik saja?" tanya Louise yang mengulurkan tangan nya membantu walaupun yang menabrak adalah wanita yang jatuh tersebut.


Wanita itu tersenyum tipis dalam ringis nya, ia tau pria yang ingin ia dekati juga berada di dalam cafe tersebut bersama dengan wanita yang tengah membantu nya.


"Kenapa anda menjegal saya?" tanya nya lirih dengan wajah menyedihkan.


"Siapa? Aku?! Kepala mu terluka? Sudah jelas kau yang menabrak ku!" ucap Louise yang seketika kesal ia juga terkena tumpahan kopi panas namun tak mempermasalahkan nya.


James yang merasa jika gadis nya sudah terlalu lama pergi ke toilet membuat nya bergegas menyusul, ia tau gadis itu suka pergi sendiri tanpa bilang dan kembali setelah nya.


"Louise?" panggil nya melihat ke arah gadis yang tengah mengomel pada wanita yang terlihat terjatuh di lantai.


Deg...


Ia tersentak beberapa saat ketika melihat wajah wanita yang tengah terjatuh tersebut. Ia pun langsung mendekat dan menarik tangan Louise ke arah nya.


"James?" panggil nya lirih dan mulai bangun.


Ia diam sesaat tanpa terasa air mata nya mulai jatuh melihat pria yang sudah lama tak ia lihat lagi.


James hanya melirik tajam dan melihat ke arah gadis nya lagi.


"Kau baik-baik saja?" tanya nya pada Louise sembari mengusap tumpahan kopi di tangan gadis itu dengan sapu tangan yang ia bawa.


"Kau mengenal nya?" tanya Louise saat melihat respon wanita yang menuduh nya.


"Apa dia penting sampai harus di kenal?" ucap nya dengan mengabaikan wanita yang tengah menangis menatap nya.


"James tunggu! Ada yang mau ku katakan!" ucap wanita itu yang langsung meraih tangan pria yang menjauh ke arah nya.


"Lepas! Kau pikir kau siapa?!" bentak James dengan langsung menepis kuat tangan wanita tersebut hingga membuat beberapa pengunjung menatap nya.


Wanita tersebut terkejut ia tak pernah di perlakukan seperti itu sebelum nya pada pria yang selalu bersikap perhatian dan lembut pada nya.


"James...


Kau tak ingat siapa aku?" tanya nya lirih dengan mata yang berkaca.


"Ingat, lalu? Jangan mengganggu ku!" jawab pria itu dengan mata tajam.


Louise semakin bingung dengan situasi yang tengah terjadi. Aura yang di pancarkan begitu berubah dari pria di samping nya.


"Louise, ayo!" ucap nya lagi dan meraih tangan gadis nya untuk pergi lagi.


Wanita itu tersadar dari rasa kaget nya dan mulai berteriak.


"James! Anak kita masih ada! Aku tak mengugurkan nya!" ucap nya tiba-tiba agar pria itu tak pergi.


James terkejut begitu pula Louise, ia tak mengerti namun apa yang ia dengar.


Anak? Pria yang bersama dengan nya sudah punya anak?


"Apa maksud mu?" tanya James menatap kembali wanita itu.


"Aku ingin bicara berdua dengan mu, lalu aku bisa jelaskan apa baru ku katakan," ucap wanita tersebut.


Louise menggenggam lengan pria itu dan menatap nya dengan mata yang tampak terkejut juga.


"Jangan pergi dengan nya..." ucap Louise lirih menatap mata pria di depan nya tak ingin pria itu pergi bicara dengan wanita yang mengaku memiliki anak bersama pria nya.