(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Sabar yah...



5 Bulan kemudian.


Setelah banyak percobaan dan puluhan hingga ratusan nyawa melayang hanya untuk menemukan pengobatan yang paling cocok dan bisa menangani serta memperpanjang hidup wanita cantik itu akhir nya membuahkan hasil walaupun tetap tak bisa menghilangkan namun bisa di kontrol dan di perlambat pengrusakan organ-organ nya.


"Kau mau sarapan apa?" tanya Alyss pada suaminya sembari memeluk pria yang masih mengusap mata nya dengan kasar saat ia baru bangun.


"Kalau yang tanya di jadikan sarapan bisa tidak?" tanya Hazel sembari sedikit mengangkat wajah nya menatap istrinya yang bersandar di atas dada bidang nya.


"Isshh...


Yah gak kenyang!" jawab Alyss sembari mencubit kecil pinggang suaminya dan beranjak bangun.


"Mau kemana?" tanya Hazel dengan langsung mencekal tangan kecil istrinya.


"Mandi...


Mau bareng?" tanya Alyss pada suaminya dan tentu saja membuat pria itu langsung tersenyum.


"Ikut!" jawab Hazel dan langsung bangun.


Alyss hanya menggelengkan kepala nya melihat pria nya yang benar-benar bersemangat karna ajakan nya.


"Sini aku yang bukain..." ucap Hazel sembari meloloskan semua pakaian di tubuh istrinya.


Dan mengatur bathup agar lebih nyaman untuk mandinya.


"Wangi...." ucap Alyss sembari mengusap dan membasuh berulang kali dada bidang nya. Tubuhnya polos nya telungkup di atas tubuh kekar pria itu.


Hazel hanya tersenyum dan mengecupi wajah kecil istrinya. Tangan nya mengusap halus punggung wanita yang sedang telungkup dan menyandarkan tubuh nya di atas tubuh kekarnya.


"Hazel..." panggil Alyss lirih menatap pria yang sedang memandang nya dengan lekat.


"Hm?" jawab pria itu hanya dengan deheman.


"Mereka kenapa cepat sekali menemukan obat ku? Tidak sakit lagi waktu pengobatan obat keras nya..." tanya Alyss pada suaminya.


"Mungkin karna mereka takut ku kubur." jawab Hazel mengendikkan bahu nya dengan enteng.


"Tapi waktu aku yang membuat perintah tak secepat ini mereka menemukan nya..." ucap Alyss lagi yang memandang dengan penuh rasa penasaran.


"Mereka lebih patuh pada ku...


Jadi lebih mereka bekerja lebih keras..." jawab Hazel sembari mencubit kecil hidung wanita nya. Ia tak mungkin mengatakan menjadikan orang lain sebagai eksperimen agar dapat membuat obat yang terbaik bagi istrinya.


Orang-orang yang di jadikan eksperimen bukanlah orang yang di culik dengan tangan nya sendiri seperti korban untuk kesenangan nya melainkan orang-orang malang yang terjebak dari perdagangan manusia dan di beli oleh suruhan pria iblis itu lalu di jadikan sebagai eksperimen.


Sehingga ia tetap bisa menyembunyikan perbuatan iblis nya dan melakukan semua nya tanpa jejak.


"Seremin sih...


Lebih serem dari hantu gimana mereka gak takut?" ucap Alyss tertawa kecil, jika ia pikir lagi suaminya memang sangat menyeramkan saat marah dan mungkin itu yang membuat para prof itu bekerja dua kali lipat bahkan seribu kali lipat karna takut dengan pria iblis nya.


"Hantu ganteng kan?" tanya Hazel percaya diri sembari mulai bangun dan duduk tegap membuat wanita langsung ikut duduk diatas pangkal paha nya.


"Gimana yah?" jawab Alyss sembari memutar bola mata nya ke atas menggoda suaminya.


Cup....


Satu kecupan lembut mendarat di bibir tipis itu dan membuat wanita cantik itu langsung terkesikap.


"Kalau begini...


Walaupun aku sakit tapi seperti tak sakit sama sekali..." ucap Alyss tiba-tiba menatap suaminya, penyakit nya yang tak mungkin bisa di sembuhkan namun bisa diperlambat penyebaran dan di hilangkan rasa sakit nya serta kerusakan yang terjadi masih bisa ditangani.


Jika saja eksperimen manusia itu tak di lakukan, mungkin sekarang wanita cantik itu sudah semakin melemah dan kerusakan yang semakin menjalar di tubuh nya setiap hari nya


"Maaf...


Karna membuat mu sakit...


Aku akan pastikan kau tetap hidup lebih lama..." balas Hazel yang mulai merasa bersalah menatap wanita di di depan nya.


"Iyah...


Aku bakalan hidup lama kok...


Biar my lovely bear gak nikah lagi..." jawab Alyss di selingi dengan canda sembari memeluk pria nya dan memainkan rambut pria itu dalam pelukan nya.


"Iyah aku nikah nya cuma dengan mu saja...


Untuk sekarang dan untuk seterusnya..." jawab Hazel sembari membalas pelukan wanita nya.


"Seterusnya?" tanya Alyss bingung sembari melepaskan pelukan nya.


"Iya seterusnya...


Kalau kehidupan selanjutnya benar-benar ada aku akan mencari mu lagi..." jawab Hazel wanita nya.


"Hm...


Kalau kehidupan selanjutnya beneran ada...


Terus kalau aku jadi laki-laki gimana?" tanya Alyss serius dan langsung membuat pria itu tertawa.


"Jangan ketawa! Aku serius tanya!" ucap Alyss kesal pada suaminya.


"Gimana yah? Nanti kita pikirkan kalau kau terlahir sebagai pria yah..." jawab Hazel dengan masih menahan tawa nya.


"Shit! Menyebalkan!" jawab Alyss kesal dan semakin membuat pria itu tertawa.


Setelah melepaskan tawa nya yang membuat Alyss semakin kesal kini pria itu menatap lekat wajah istrinya.


"Hazel...


Kau lagi mau yah?" tanya Alyss lirih saat ia merasakan sesuatu yang ia duduki mulai beranjak naik.


"Hm...


Kau sudah bisa?" tanya Hazel dengan suara yang semakin berat, sudah sangat lama ia tak melakukan nya dan menahan diri nya karna istrinya menjalani masa pemulihan dan penyesuaian dengan obat baru.


Tiba-tiba terulas senyum tipis di bibir tipis wanita cantik itu dan ingin menggoda suami nya lebih dulu sebelum memberikan apa yang pria itu inginkan.


"Masih belum sih sebenarnya...


Tapi..." jawab nya lirih sembari menggerakkan dan menggeser pinggul nya berulang kali dengan perlahan dan semakin membuat pria nya tak bisa menahan diri.


"Kalau belum bisa...


Jangan bergerak! Nanti masuk!" jawab Hazel dengan suara tertahan dan nafas berat yang sudah sangat tak beraturan.


"Apanya yang masuk?" tanya Alyss pura-pura polos dengan semakin menggoda suaminya dan mulai mengecup leher pria itu perlahan.


"Alyss...


Jangan nakal...


Atau aku- ungh..." ucapan nya yang langsung terpotong saat ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang nyaman dari tubuh istrinya.


"Tapi aku mau jadi nakal..." jawab Alyss dengan wajah dan mata sayu saat ia juga menginginkan hal yang sama, karna sudah lama tak melakukan nya.


"Kau yang ingin...


Jadi jangan minta berhenti nanti..." ucap Hazel sembari mengecup dan menciumi lengkung leher serta bahu istrinya.


Mmhhhmm....


Lenguh wanita itu saat merasakan suami nya yang bergerak di bawah nya dengan liar hingga membuat air di dalam bathup itu tumpah ke luar.


Tangan pria itu memainkan dada istrinya sembari terus memberikan kecupan kecupan ringan pada wanita nya.


"Love you..." ucap Alyss lirih dan nafas yang terengah-engah setelah memangut bibir pria nya saat ia mencapai pelepasan nya.


"Love you more, babe..." jawab pria itu dengan suara serak dan nafas yang berat membalas pernyataan istrinya.


Ia pun perlahan mulai menidurkan istrinya dan bergerak lagi saat wanita itu sudah di bawah kungkungan nya.


Engghhh...


Tangan kecil wanita cantik itu yang semakin memeluk pria nya dan melingkarkan tangan nya di punggung kekar suaminya.


......................


Skip time.


Apart winter garden.


"Mau kemana?" tanya Rian pada istrinya yang semakin sulit berjalan karna perut besar nya.


"Mau itu kesitu..." jawab wanita itu manja sembari menunjuk ke arah sofa yang menghadap ke arah dinding kaca apart tersebut.


"Gendong..." ucap Larescha sembari membuka tangan nya, ia sebenarnya bisa dan sanggup berjalan sendiri namun saat suaminya bertanya ia jadi ingin bermanja-manja dengan pria itu.


Rian pun yang melihat wanita nya bersikap dengan manja padanya tak bisa menahan senyum nya.


Ia pun mulai menangkup tubuh yang sedang hamil besar itu dan mendudukkan nya ke atas sofa dengan perlahan.


"Udah gak sabar deh minggu depan mau lihat baby nya..." ucap Larescha semangat sembari mengelus perut besar nya.


Kandungan nya sudah menginjak sembilan bulan dan waktu operasi caesar nya di jadwalkan minggu depan.


"Iyah...


Lima hari lagi dia bakal lihat mama sama papa nya..." jawab Rian lembut pada istrinya dan mengecup perut besar itu sekilas.


"Ihh...


Gerak! Mau jadi pemain sepak bola yah anak papa?" tanya Rian menatap perut besar itu saat ia merasakan gerakan dari calon anak nya.


"Aku...


Kok tiba-tiba takut yah..." ucap Larescha tiba-tiba.


"Takut kenapa?" tanya Rian dan mulai memandang istrinya.


"Takut semua nya...


Takut ngelahirin...


Takut jadi ibu...


Kalau aku jadi ibu yang ga bener gimana?" jawab Larescha.


"Ya ampun La...


Belum ngelahirin kok uda kena baby blues..." ucap Rian pada istrinya.


"Gak papa...


Kan ada aku...


Buat sama-sama nanti ngurus nya juga sama-sama..." ucap Rian dan mulai merangkul istrinya menghilangkan kegelisahan dan kecemasan karna takut belum siap menjadi ibu.


Wanita itu pun semakin mengusap wajah nya di dada bidang suaminya.


Rian berusaha membuat wanitanya tenang dan merasa nyaman.


"Tidur yah...


Sudah malam, gak baik kalau hamil malah begadang..." ucap Rian pada istrinya saat wanita itu mulai tenang.


Larescha pun mengangguk mengiyakan ucapan suaminya dan memeluk pria itu seperti memberi isyarat agar ia di gendong lagi ke kamar.


Larescha sudah terbiasa manja sejak pacaran dan semakin manja saat menikah terlebih lagi sedang mengandung membuat nya semakin super duper manja pada suaminya.


.....................


3 Hari kemudian.


JBS Hospital.


Wanita hamil itu datang kerumah sakit untuk memeriksa kandungan nya lagi sekaligus mengejutkan suaminya, walaupun suaminya tak mengizinkan nya keluar rumah sendiri, namun ibu hamil itu tak mengindahkan ucapan sang suami dan ingin menemui nya.


"Lah?! Dia kemana?" ucap Larescha lirih saat ke meja suaminya yang berada sebelum ruangan presdir.


"Yah...


Nanti dingin lah ini..." ucap nya lesu sembari melihat makan siang yang ia bawa.


Ibu hamil itu ingin menelpon sang suami namun ia takut tak akan menjadi kejutan lagi jika pria nya sudah tau ia akan datang.


"Tapi tadi Lily mau ke sini juga kan? Dia udah sampai belum yah?" gumam ibu hamil itu sembari memeriksa riwayat chat nya.


Alyss memang ingin ke JBS untuk mengambil beberapa obat sekaligus melihat pemeriksaan rutin putri nya.


Tak lama kemudian setelah berdiri menatap meja kosong suaminya ia tanpa sengaja melihat atasan suaminya yang tak lain adalah suami sahabat nya saat baru keluar dari ruangan nya.


"Tu-tunggu..." panggil Larescha mencegah pria saat ingin mendahuluinya.


"Apa?" jawab Hazel ketus dengan tatapan yang dingin.


"Eh? I-itu...


Rian di mana yah? Kok meja nya kosong?" tanya Larescha dengan gugup karna ia selalu merasakan hawa mencekam dan merinding jika bersama dengan atasan suami nya yang juga atasan nya karna ia masih bekerja di JBS group.


"Mana ku tau. Suami mu kok tanya nya sama aku." jawab Hazel ketus dan beranjak ingin pergi lagi.


"Kau kan atasan nya! Masa ga tau sih?! Atasan gak bener!" jawab Larescha kesal mood nya cepat sekali berubah karna kehamilan nya.


"Apa? Coba ulangi lagi?" tanya Hazel dengan langsung berbalik dan menatap tajam ke ibu hamil itu.


"A-aku gak bilang apa-apa..." jawab ibu hamil itu dengan nyali yang seketika ciut melihat pria yang baginya menakutkan.


"Aku dengar kau mengatakan sesuatu tadi." ucap Hazel dengan nada penuh penekanan, kalau saja wanita di hadapan nya bukan istri sahabat nya dan juga bukan sahabat istrinya ia pasti sudah mencincang habis wanita itu.


"Gak ada kok! Aku tadi cuma bilang kau atasan gak bener! Ups!" ucap Larescha keceplosan karna merasa takut dan langsung menutup mulut nya.


"Sial! Mulut mu itu memang harus di jahit yah!" ucap Hazel semakin kesal dan membuat ibu hamil itu semakin takut karna aura yang membunuh begitu kuat.


"Hazel..." panggil Alyss pada suami nya saat ia melihat wajah dan tatapan marah sekaligus kesal pada teman nya yang sudah terlihat ketakutan.


Seketika ibu hamil itu dan pria yang sudah sangat kesal itu menatap ke arah suara wanita yang memanggil nama suaminya.


"Lily!" panggil Larescha dan langsung berjalan ke arah sahabat nya.


"Ly...


Suami kok nyeremin banget sih? Takut..." cicit Larescha mengadu pada teman nya.


Hazel yang melihat hal itu semakin tajam menatap ke arah wanita yang berlindung di balik istrinya.


"Ga papa dia lagi PMS..." jawab Alyss pada teman nya.


"Laki-laki bisa PMS yah Ly? Bukan nya untuk perempuan yah?" tanya Larescha polos dengan suara berbisik


"Yah dia nya aja udah ngalahin perempuan yang lagi PMS." jawab Alyss pada teman nya.


"Sini...


Jangan keseringan di pegang-pegang sama orang!" ucap Hazel sembari menarik istrinya.


Baginya wanita itu hanya boleh di sentuh oleh nya saja tak boleh orang lain maupun itu pria atau wanita.


"Isshh...


Gak boleh gitu!" ucap Alyss sembari memukul punggung suaminya.


"La, uda priksa ke ruangan sekretaris Rian belum?" tanya Alyss sembari menatap ke arah sahabat nya.


"Belum..." jawab Larescha yang baru ingat ia belum memeriksa ruangan suaminya.


"Yaudah aku kesana dulu yah...


Mau nganterin ini..." ucap ibu hamil itu bersemangat saat ia ingin mengunjungi suaminya.


"Mau ku anterin?" tanya Alyss pada teman nya, karna takut terjadi apa-apa pada wanita yang sedang hamil besar itu.


"Dia kan bisa sendiri! Udah sama aku aja!" ucap Hazel pada istrinya, ia tak suka jika wanita nya terlalu perhatian pada orang lain.


"Auch!" pekik Larescha saat berjalan menuju ke ruangan suaminya.


"La? Kenapa?!" tanya Alyss sembari merangkul teman nya yang terlihat merintih sembari memegang perut nya.


"Perut ku tiba-tiba sakit Ly..." ringis Larescha pada teman nya.


"Hazel sini! Bantuin! Jangan diem aja!" ucap Alyss saat melihat pria nya yang hanya menatap dingin melihat sahabat istrinya mau melahirkan.


Dengan malas pria itu memanggil dokter dan teman nya untuk mengabari jika istrinya mau melahirkan.


"Yaudah sini! Bawa dia masa di suruh jalan sendiri sih?!" ucap Alyss yang ikut panik melihat teman nya yang semakin merintih.


"Nyusahin yah teman mu..." keluh Hazel karna ia benar-benar malas menyentuh orang lain, kecuali wanita yang sudah mengambil isi hati nya.


Argghhh....


Alyss seketika semakin panik saat melihat teman nya tiba-tiba menarik rambut suami nya saat ia menyuruh pria iblis itu membantu temannya.


"Sial! Dasar wanita sialan!" umpat Hazel dan berusaha melepaskan jemari yang menarik rambut nya tiba-tiba.


"Ya ampun...


Yang sabar...


Sampai dokter nya datang yah..." ucap Alyss yang malah menenangkan suaminya dan bukan nya menenangkan teman nya.


"Lily sakit...." cicit Larescha pada teman nya.


"Hazel...


Jangan kasar...


Mau melahirkan loh dia..." bisik Alyss pada suaminya, ia tau dengan tenaga pria itu sangat mudah mendorong dan melepaskan tangan yang menarik rambut nya, namun itu bisa membahayakan teman nya.


"Gak urus!" jawab Hazel kesal dan ingin segera menghempaskan ibu hamil itu.


"Na-nanti malem main sama permainan mu..." bisik Alyss langsung yang semakin panik, takut suami nya membuat celaka sahabat dan calon anak sahabat nya.


"Ya ampun La!" pekik Rian saat para dokter mulai membawa istrinya.


"Rian...


Sakit...." cicit Larescha menatap suaminya.


"Astaga- Ukh!" pekik Rian saat tiba-tiba tangan istrinya menarik dasi nya dan membuat nya terasa tercekik seketika


Alyss antara mau tertawa dan juga panik di saat bersamaan, teman nya memang selalu pandai membuat rusuh suasana.


"Yang sabar yah kalian berdua..." jawab Alyss angkat tangan melihat situasi saat para dokter sudah datang.


Saat sebelum menuju ruang operasi Alyss melepaskan perlahan, jemari tangan nya teman nya yang menjambak rambut suaminya.


"La...


Ini juga lepas La..." ucap Rian saat istrinya semakin menarik dasi nya.


"Rian sakit..." ringis Larescha pada suaminya dengan buliran bening yang jatuh dari ujung mata nya merasakan setiap kontraksi di perut nya.


"Aduh sekretaris Rian itu masih ketarik dasi nya..." ucap Alyss melihat teman nya sebelum pintu ruang operasi di tutup.


"Teman mu milih yah...


Yang mau di jambak sama di tarik yang mana..." ucap Hazel mendengus kesal sembari merapikan rambut nya, kalau saja bujukan istrinya tak berhasil ia pasti sudah mendorong ibu hamil itu agar tak menyentuh nya.


"Iyalah! Lala kan My sweety kesayangan aku...


Moga ponakan ku lahir sehat..." ucap Alyss pada suaminya menunjukkan rasa semangat nya dan mulai mengabari keluarga Larescha untuk datang.


"Sweety? Jangan ketemu dia lagi!" larang Hazel lagi saat cemburu nya sudah mulai aktif.


"Isshh...


Gitu aja marah!" jawab Alyss kesal.


"Iyalah!" balas Hazel kesal.


Cup...


"My good bear..." puji Alyss setelah mengecup bibir suaminya.


Mendapat pujian dari istrinya membuat nya langsung menangkup pinggang ramping wanita itu.


"Kalau main nya dari sekarang bisa gak? Nunggu malam kelamaan..." bisik Hazel pada istrinya menagih janji wanita itu.


...****************...


Mbak Lala mau melahirkan sekalian ngeluarkan rasa kesal yang terpendam sama babang Haz yah?๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Untung pawang beruang nya temen sendiri kalo engga uda habis kamu mbak๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Happy Readingโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธ