
Gedung yang megah dengan banyak penonton yang menantikan permainan biola gadis cantik itu.
Gadis itu menarik nafas nya dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan, disaat seperti ini ia selalu merindukan kehadiran sang ibu.
"Mamah...
Papah...
Kalian masih bisa kan? Lihat Louise dari sana?" gumam gadis itu lirih dengan senyuman nya, sejak sepeninggalan sang ayah ia baru kembali ke dunia musik lagi.
Louise pun perlahan keluar dan menatap kakak nya yang duduk di antara para penonton lain, dan juga pria yang ia kenal dekat dengan nya.
Sudut bibir nya naik dan menampilkan senyum manis saat melihat orang-orang yang ia sayangi, namun senyuman nya langsung jatuh saat melihat satu pria lain yang duduk diantara para penonton.
Gadis itu langsung melirik sinis dan mulai mengangkat biola nya.
Permainan alunan biola yang teratur dan memanjakan pendengaran itu pun di mulai semakin masuk ke telinga para penonton.
James tersenyum simpul sembari memegang bibir yang terluka karna ulah gadis itu.
"Benar-benar menyenangkan bermain dengan nya..." gumam nya lirih saat melihat pemusik muda dan berbakat itu memainkan biolanya.
Flashback on.
"A-apa yang mau kau lakukan?" tanya Louise terkejut saat pria di hadapan nya mulai menindih tubuh nya.
"Mengajari sopan santun!" jawab James dengan tatapan tajam.
"Sial! Lepas!" ucap Louise yang semakin memberontak di bawah kungkungan pria tampan itu. Kaki nya berusaha menendang agar ia bisa meloloskan dirinya.
Greb...
James langsung menangkap kaki gadis itu dan semakin membuat Louise ingin memberontak.
"Dasar si gila mesum!! Lepas!!" maki Louise yang semakin bergerak dan menggeliatkan tubuh nya.
James pun semakin memegang pergelangan kaki jenjang gadis itu dan mulai melingkarkan tangan nya di leher gadis cantik itu.
"Ukh!" pekik Louise saat nafas nya terasa akan berhenti ketika cekikan di leher jenjang nya semakin menjadi.
Hummpphh...
Nafas gadis itu semakin sesak saat James mulai mencium nya dan menghabiskan sisa oksigen yang ia miliki.
Tangan nya berusaha mendorong dada bidang pria yang semakin mel*mat habis bibir nya.
Louise yang semakin kehabisan nafas nya mulai menggigit bibir bawah pria yang sedang mel*mat bibir nya dengan rakus.
Tangan nya menggeliat hingga mencapai spuit yang tak jauh darinya.
"Shit!" umpat James saat gadis itu mengigit bibir nya hingga terluka dan menyuntikkan narkotika yang berada di dalam spuit ke lehernya.
Ia pun langsung memegang tangan gadis itu dan mencabut spuit yang baru di suntikkan setengah nya bahkan tak hampir setengah ke lehernya.
Rahang nya semakin mengeras dan tatapan nya semakin tajam ke arah gadis itu.
Louise pun tersenyum simpul melihat tatapan kemarahan dari pria di hadapan nya.
"Kau sekarang merasakan narkotika mu sendiri? Hm?" tanya Louise dengan senyuman di wajah nya.
"Ukh!" pekik gadis itu saat James tiba-tiba mencekik nya dengan kuat hingga membuat wajah nya memerah karna aliran darah nya yang berhenti.
Tangan gadis itu pun langsung mencakar kedua tangan kekar yang sedang mencekiknya.
"Sekarang memohon! Atau aku akan membunuh mu sekarang!" ucap James yang sudah benar-benar di ambang batas kesabaran nya.
"Tak mau! Ukh!" jawab Louise dengan kesulitan karna cekikan di leher nya, mata nya mulai berair dan wajah yang mulai berubah menjadi biru.
Tangan nya semakin lemah dan mata nya mulai menetaskan air mata, nafas nya semakin terasa habis hingga membuat nya semakin sesak tak mampu lagi menahan nya, gadis angkuh itu tak pernah ingin dan tak pernah di ajari untuk memohon dan menunduk pad siapapun.
James mengikuti arah iris mata sayu gadis itu sesaat sebelum ia kehilangan kesadaran nya.
Pria itu pun melepaskan tangan nya saat gadis cantik itu sudah kehilangan kesadaran nya.
"Ckk, Dasar keras kepala!" decak James dan mulai memberikan nafas buatan pada Louise hingga gadis itu kembali membuka mata nya lagi.
Louise mulai tersadar namun pandangan nya masih mengabur, James pun mulai mengambil spuit baru dan menyuntikkan kembali narkotika ke tangan gadis itu saat kesadaran Louise masih setengah.
Mata sayu nya terpejam lagi ketika ia merasakan reaksi dari narkotika yang baru di berikan pada nya.
James pun mulai mengelus wajah tenang gadis itu yang sedang tertidur dan mengecup bibir nya beberapa kali, tangan nya mulai mengoleskan obat lebam di leher jenjang gadis itu untuk mengobati bekas cekikan yang baru ia lakukan.
"Kau semakin membuat ku tertarik..." gumam James sembari semakin mengoles dan berubah menjadi elusan halus yang menelusuri leher jenjang gadis cantik itu.
Ia kemudian menyentuh bibir nya yang terluka saat Louise mengigit nya, ia kesal namun juga merasa sangat menyenangkan, sama sekali tak pernah ada kata Bosan saat bersama gadis yang menurut nya berbeda dengan gadis lain nya itu.
Flashback off.
Tepukan meriah pun mulai terdengar saat gadis cantik itu selesai memainkan biola nya.
Setelah acara berakhir Louise pun langsung menghampiri kakak nya dan sahabat nya yang tersenyum menatap ke arah nya.
"Kak Louise...
Mau tanda tangan nya dong..." ucap remaja pria yang merupakan salah satu siswa seni musik biola seperti Louise. Ia menghadang gadis cantik itu saat akan menghampiri kakak nya.
"Boleh..." jawab Louise tersenyum ramah dan memberikan tanda tangan nya, ia cukup terkenal di dunia musik klasik karna merupakan salah satu pemusik berbakat.
Setelah remaja pria tersebut, masih ada beberapa lagi yang mendatangi nya, karna ia memang lama vakum dari dunia musik itu. Setelah memberikan beberapa tanda tangan dan berfoto bersama, Louise pun kembali menghampiri sang kakak.
Louis tersenyum ke arah adik nya dan memeluk nya sesaat.
"Sekretaris Clara juga ikut? Bagaimana menurut mu permainan ku?" tanya Louise tersenyum pada wanita yang bekerja cukup lama dengan kakak nya sejak menduduki posisi presdir.
"Menurut ku bagus...
Aku juga kurang tau tentang dunia musik klasik..." jawab Clara tersenyum kaku pada gadis memberikan senyuman ramah padanya.
Louise hanya tersenyum setelah ia menyapa gadis manis itu dan kembali menatap ke arah teman nya.
"Zayn besok ke pantai yah kita!" ajak gadis itu karna memang saat ia sudah menampilkan penampilan biola nya ia akan pergi liburan setelah itu.
Ctak!!!
"Pikiran mu mau main-main saja..." ucap Louis setelah menjentik kening adik nya.
"Ihh...
Kan sama Zayn pergi nya!" ucap Louise kesal sembari mengusap ke kening nya.
"Zayn aja gak bilang Mau itu." balas Louis pada sang adik. Louise pun langsung menatap ke arah teman nya.
"Iya, besok kan? Besok ku jemput yah..." ucap Zayn ketika gadis nakal itu menatap nya, ia tak bisa menolak permintaan sahabat nya itu.
"Yeyy...
Zayn memang yang paling baik..." ucap Louise senang dan langsung bergelanyut manja pada sahabat pria nya itu.
"Jangan mau Zayn, dia baik kalau ada mau nya aja itu." ledek Louis saat melihat tingkah adik nya.
Clara hanya diam dan tetap tersenyum melihat gadis manja di hadapan nya, ia melirik ke arah atasan nya yang sangat ia benci itu. Ia dapat melihat tatapan lembut dan penuh kasih sayang saat atasan nya menatap ke arah adik nya.
Jahat! Kenapa dia bisa sangat jahat pada ku?
Batin gadis itu saat melirik ke atasan nya, setiap kali melihat pria itu selalu membuat ingatan berputar saat ia mendapatkan semua penghinaan dan pelecehan yang di berikan atasan nya secara terus menerus.
Sedari tadi sudah berdiri pria yang menatap gadis cantik itu dari jauh, mata nya menatap tajam dan tangan nya mengepal sempurna.
Ia tak tau kenapa ia sangat kesal saat melihat gadis itu bersikap terlalu dengan pria lain, ia tak marah pada kakak gadis itu karna tau jika mereka memilki ikatan kandung, namun pada pria yang berdiri di samping dan tempat gadis itu bersandar tentunya membuat kemarahan nya naik.
"Cari tau tentang pria itu dengan rinci!" perintah James pada Nick.
"Baik tuan." jawab Nick pada atasan nya.
James pun mulai mengirim pesan ke ponsel gadis cantik itu sekali lagi.
Nanti kau pulang dengan ku! Aku ingin bicara!
Louise pun langsung membuka pesan nya dan melihat ke arah layar pipih tersebut.
Tak mau! Kenapa aku harus ikut dengan mu!
Balas Louise dan kembali berbicara lagi pada kakak nya.
James pun yang melihat itu menjadi kesal, ia tak tau kenapa gadis itu sangat berani padanya padahal tak pernah ada yang bersikap seperti dengan nya.
Langkah nya pun mulai berjalan dan menghampiri gadis manis itu.
"Hey, babe musik mu sangat bagus tadi." ucap James tiba-tiba dan mulai bergabung diantara orang-orang gadis itu. Tangan nya langsung memeluk pinggang ramping gadis itu yang mengenakan gaun body cone.
Louise pun langsung tersentak dan melihat ke arah pria yang merangkul pinggang dari belakang.
James hanya tersenyum menatap gadis itu tak memperdulikan sang kakak nya yang menatap nya dengan wajah tak suka.
Plak!
Louis langsung menepis tangan pria itu dan menarik adik nya.
"Siapa kau? Jangan pegang-pegang adik ku!" ucap Louis sembari melindungi gadis nakal itu di balik tubuh nya.
James hanya tersenyum, ia menganggap jika pria di hadapan nya masih seperti bocah seperti gadis nakal yang menyenangkan itu.
"Aku? Aku pacar nya." jawab James tersenyum tanpa merasa terintimidasi.
"Kalau gitu putus sekarang!" ucap Louis yang tak suka dengan pria yang mengaku sebagai pacar adik nya karna bersikap terlalu frontal.
"Kalau begitu tanyakan pada nya." jawab James enteng sembari menunjuk dengan dagu nya pada gadis yang di sembunyikan di balik tubuh presdir JBS grup itu.
"Kak...
Jangan..." ucap Louise pada sang kakak, pria dihadapan nya masih memegang dokumen tentang penggunaan obat terlarang dalam tubuh nya.
"Kenapa? Apa dia yang..." tanya Louis yang seketika mengingat semua bekas ciuman di tubuh adik nya.
"Bukan! Bukan kak..." sanggah Louise langsung.
"Kapan kalian bertemu nya? Sejak kapan pacaran? Bertemu dimana? Pekerjaan mu? Alasan pacaran dengan adik ku apa?" Louis yang langsung menanyakan semua pertanyaan.
"Baru sekitar 4 hari yang lalu, dan aku langsung tertarik jadi berencana pacaran dengan nya, pekerjaan ku tak ada, aku hanya pemegang saham terbesar di beberapa perusahaan dan alasan ku karna adik mu sangat baik hati." jawab James yang mengikuti jawaban yang di berikan gadis nakal itu padanya.
Wah...
Mereka benar-benar bersaudara, bahkan pertanyaan saja sudah seperti soal pasti.
Batin James saat Louis menanyakan apa yang sudah di katakan Louise sebelum nya, ia setuju mengikuti kesepakatan itu jika kakak dari gadis itu tak boleh mengetahui apapun dan sebagai ganti nya gadis itu akan berpacaran dengan nya dan menjadi wanita nya.
Louise menghela nafas nya dengan lega saat pria itu mengatakan sesuai yang ia minta.
"Tetap saja aku tak suka pada mu!" jawab Louis sekali lagi.
"Kak...
Jangan gitu...
Louise suka kak..." ucap Louise pada sang kakak sembari memberikan wajah sedih nya.
"Ini kan hari konser ku kak..." sambung Louise lagi pada kakak nya.
Louis pun berdecak kesal, ia tak mau hari adiknya rusak karna ia kukuh tak menyukai pria yang bersama adik nya.
"Satu bulan!" jawab Louis sekali lagi, ia tau adiknya tak pernah lama dalam menjalin hubungan asmara.
Zayn yang melihat pria itu pun hanya menahan sesak di dada nya, ia tau gadis yang ia sukai selalu memiliki pacar baru terus menerus seperti berganti pakaian.
"Sudah! Pulang!" ucap Louis dan langsung menarik tangan adik nya.
Clara pun tersentak saat mendengar suara atasan nya dan mulai mengikuti dari belakang langkah kaki pria itu.
"Maaf, kami permisi dulu." ucap Clara yang membungkukkan tubuh nya sedikit dan berpamitan kembali lebih awal.
Kini hanya tinggal dua pria yang saling menatap tajam di tengah keramaian para penonton yang lain yang masih berada di tempat itu.
"Aku tak suka dengan mu, kau bisa menjauhinya mulai sekarang!" ucap James pada Zayn.
"Aku? Menurut mana yang akan pergi lebih dulu? Aku atau kau? Dan lagi dia tak akan lebih memilih mu." jawab Zayn tersenyum pada James dan semakin membuat pria tanpa darah dan air mata itu kesal.
"Aku sudah memperingatkan mu!" ucap James sekali lagi.
"Aku tak mau menjauhinya!" jawab Zayn sekali lagi yang kukuh.
James pun mulai tersenyum saat menyadari sikap yang baginya kekanakan, karna mengancam orang lain hanya karna merebutkan wanita. Ia tak tau kenapa dirinya tiba-tiba bersikap impulsif pada gadis nakal yang sering bersikap tak sopan dan lewat batas pada nya.
......................
5 Hari kemudian.
JBS hospital.
Louis melirik ke arah sekretaris nya yang berdiri di samping nya saat rapat sedang di laksanakan.
Setelah pembicaraan tentang masalah yang tengah di hadapi pun rapat mulai selesai.
"Jika sudah selesai kalian semua keluar." perintah Louis pada seluruh direktur di ruangan itu.
Saat semua yang berada di ruangan keluar, Louis pun langsung menarik tangan gadis manis itu hingga membuat nya langsung jatuh ke pangkuan nya.
"Kau seperti nya berniat sekali menggoda ku? Hm?" tanya Louis saat wanita itu sudah duduk dipangkuan nya.
"Presdir! Anda yang menarik saya lebih dulu!" jawab Clara berusaha setenang mungkin dan berusaha agar bisa bangun.
"Benarkah? Aku tak merasa menarik mu." jawab Louis enteng pura-pura tak tau apapun.
"Saya ingin bangun! Tolong lepas tangan presdir!" ucap Clara saat Louis terus menahan pinggang nya.
Louis pun mulai beranjak memegang rambut yang di ikat satu oleh gadis itu.
"Auch!" pekik Clara saat tiba-tiba tangan atasan nya menarik rambut nya hingga membuat wajah nya mengandah ke atas.
"Kenapa mengikat rambut mu? Hm? Mau menggoda siapa kau?" tuduh pria tampan itu sekali lagi, ia tau sebelum masuk keruang rapat gadis itu masih menggerai rambut nya, namun saat ia masuk gadis itu sudah mengikat rambut nya.
"Itu bukan urusan mu! Kau tak punya hak mengomentari semua yang kulakukan!" jawab Clara sembari meringis dan berusaha melepaskan tangan yang sedang menjambak rambut nya. Kesabaran nya semakin menipis hingga ia tak berbicara formal lagi.
"Dasar murahan! Kau menggoda pria dengan tubuh mu? Iya? Mau dapat uang dengan menjual tubuh saja?!" jawab Louis yang makin kesal dan semakin mengatakan kata-kata yang menyakiti gadis itu.
"Aku tak murahan! Lepas! Dasar brengsek!" jawab Clara dengan suara tertahan menahan agar ia tak menangis. Tarikan di rambut nya semakin menjadi dan semakin kuat.
"Ke kantor memakai rok pendek! Lalu memperlihatkan leher mu! Apa itu kalau bukan jalang? Hm?" tanya Louis di telinga gadis itu.
Clara hanya tak mampu lagi menahan tangis nya, air mata nya jatuh bukan karna tarikan di rambut nya melainkan semua penghinaan yang keluar dari mulut atasan nya. Ia tak tau kenapa cara ia berpakaian dan melakukan apapun sangat di komentari padahal, dari dulu ia berpakaian seperti itu dan banyak wanita pekerja juga yang melakukan nya.
"Nangis! Dasar cengeng!" ucap Louis saat melihat mata dan hidung gadis itu memerah karna tangis nya.
"Auch! Sa-sakit..." ucap gadis itu dengan suara serak saat atasan nya mulai mencium dan mengigit leher jenjang nya.
"Wanita seperti memang harus di beri pelajaran!" ucap Louis setelah ia mengigit leher gadis itu hingga berbekas.
"Ja-jangan...
Berhenti..." ucap Clara terus memberontak dalam pangkuan pria yang mulai menyentuh tubuh nya lagi.
"Auch! Berhenti sakit!" ucap gadis itu yang setengah berteriak dalam tangis nya saat bagian yang paling privasi dari tubuh nya terjamah lagi oleh tangan atasan nya.
"Sakit? Kalau begitu ingat rasanya di kepala mu!" ucap Louis yang semakin menggerakan dengan kasar jemarinya.
"Kenapa selalu menyalahkan ku? Aku bukan wanita murahan...
Sakit..." mohon gadis itu saat tenaga nya tak bisa mengalahkan tenaga atasan nya.
Louis pun mulai berhenti dan mengangkat tubuh gadis itu keatas meja panjang di ruang rapat itu.
Clara berusaha berontak dan ingin pergi dari ruangan tersebut.
Sreg...
Dalam beberapa tarikan sudah membuat pakaian nya menjadi tak teratur dan terbuka entah berantah.
"Jangan lagi...
Ku mohon..." ucap gadis itu dengan suara lemah karna tangis dan tenaga nya yang sudah habis melawan ulah atasan nya.
Louis tak hanya tersenyum dan tetap melakukan apa yang ia inginkan.
"Ukh!" pekik gadis itu menahan sakit di bagian intinya, tangan nya langsung menarik dan meremas kemeja atasan nya hingga membuat salah satu kancing yang di kenakan pria itu terlepas.
"Sekarang kau sudah tau diri kan?" tanya Louis dengan suara berat di telinga gadis itu saat ia sudah kembali menguasai tubuh gadis itu lagi.
Clara tak mampu menjawab, tubuh bagian intinya sedang merasakan sakit yang teramat sangat karna ia kembali di jamah saat ia tak pernah menginginkan nya.
"Sakit...
Hentikan...
Ku mohon..." pinta gadis itu lagi dengan lelehan air mata yang terus mengalir pada pria yang kembali memaksa nya lagi.
Seluruh tubuh nya terasa sakit hingga membuat nya tak mampu lagi melawan dan memberontak lagi.
"Jalang!" ucap Louis di telinga gadis itu di tengah kegiatan panas nya.
Clara tak menjawab lagi dan memejamkan mata nya berusaha menahan semua rasa sakit yang ia alami, dari tubuh hingga hati nya yang terus menerus di lecehkan dan dihina tanpa henti.