(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
How crazy I am



Alyss yang membaca pesan tersebut pun terkejut bukan main, ia segera keluar dan menuju JBS farmasi.


Melajukan kecepatan mobil dengan kecepatan maksimal untuk segera menyusul suaminya. Wanita cantik itu juga berulang kali menghubungi Hazel namun tak ada balasan sama sekali, dan membuat nya kembali menelpon Rian.


"Kau sudah menemui nya?" tanya Alyss begitu tersambung.


"Belum, aku masih menuju JBS farmasi...


Jangan menyusul, dia seperti nya sangat marah." jawab Rian pada Alyss.


Alyss pun hanya berdecak kesal dan mematikan panggilan nya, bagaimana mungkin ia tak menyusul pria itu? Pria yang memiliki emosi yang menggebu-gebu.


Hazel...


Jangan lakukan apapun...


Harap Alyss dengan semakin melajukan mobil nya.


......................


JBS Farmasi.


Ketakutan dan kegelisahan memenuhi ruangan laboratorium luas dan megah tempat dimana pada profesor hebat yang menguji dan membuat semua bahan kimia obat-obatan.


Mata dari ke lima belas profesor yang terdiri dari wanita dan pria paruh baya itu terlihat gusar sembari menatap pria yang berdiri di depan mereka.


Ruangan Lab yang putih dan bersih di kelilingi dengan banyak pengawal berbadan besar sehingga tak memungkinkan mereka untuk kabur.


"Sekarang kalian takut?" tanya Hazel menyeringai.


Ia sudah mengetahui semua kondisi persis istrinya dan bahkan kondisi yang semakin parah saat wanita itu tetap memilih untuk mengandung dan melahirkan.


"Ma-maaf tuan...


Kami hanya..." ucap seorang prof yang terlihat sangat gugup dan takut.


Semua profesor tersebut terus berlutut di hadapan pria yang tak memiliki simpati atau empati sedikit pun.


Plak!


Tangan yang dengan mudah ia layangkan ke pipi profesor tersebut membuat yang lain semakin ketakutan.


"Bagus sekali kalian! Berani menipu ku di tempat ku sendiri!" ucap Hazel marah dengan seringai nya.


"Ka-kami hanya mengikuti perintah nyonya...


Kami juga tak pernah-"


Akhh!!!


Ucapan nya yang langsung terpotong saat pria itu dengan sengaja menumpahkan asam sulfat pekat ke tubuh profesor wanita yang ia anggap terlalu banyak bicara.


Rasa perih, panas dan terbakar begitu terasa di punggung dan tubuh wanita paruh baya itu, jas putih nya langsung berubah warna menjadi hitam. Jelas terasa jika kulit nya kini sudah melepuh.


"Terlalu banyak bicara! Kau pikir karna kau wanita aku tak akan melakukan apapun padamu?" ucap Hazel santai sembari menuangkan air keras ketubuh prof di depan nya.


"Ampun tuan....


Sa-sakit..." rintih nya sembari memohon ampun.


"Kalian tak bisa hidup lagi! Aku sangat benci di tipu seperti ini! Di bohongi di istana yang ku bangun sendiri!" jawab Hazel dengan penuh penekanan dan semakin membuat para prof tersebut ketakutan.


"Pegang mereka." perintah Hazel dingin pada para pengawal nya untuk memegangi para prof tersebut agar tak mengelak saat ingin ia tembak nanti nya.


"Tuan! Kami mohon! Ampuni kami!" teriak mereka bersamaan dengan suara yang penuh ketakutan dan tubuh yang gemetar.


Hazel hanya tersenyum mendengar suara ampunan dan teriakan yang memohon dengan ketakutan padanya. Ia tak peduli dan mulai memasukkan satu persatu peluru ke dalam pistol nya.


"Satu orang akan menerima tiga peluru, menyenangkan jika melihat kalian mati perlahan." ucap Hazel tersenyum dan mulai mengarahkan pistol nya.


Dor!!!


"Wah! Sial! Pria yang menjadi dalang utama nya sudah datang!" ucap Hazel tertawa sinis pada Rian saat pria itu langsung mengangkat tangan nya hingga membuat peluru nya lepas ke lain arah dan tak mengenai siapapun.


"Bukan begitu! Aku tak memberi tau mu itu kar-"


Bugh!


Satu pukulan dengan kepalan tangan yang masih memegang senjata api itu melayang ke arah pria yang sudah menjadi teman nya hingga bertahun-tahun.


"Kau yang paling tau aku tak suka di bohongi kan? Tapi kenapa kau juga menipu ku?! Mau sampai kapan kalian merahasiakan nya? Sampai di hari pemakaman nya?!" tanya Hazel geram menatap teman nya yang terjatuh setelah pukulan nya.


"Bangun dan coba lawan aku! Karna kita sudah lama berteman aku tak ingin kau hanya menerima pukulan ku!" ucap Hazel menyuruh teman nya untuk bangun, ia meletakkan pistol yang ia pegang ke atas meja.


Buagh! Bugh!


Pukulan yang membabi buta melayang pada nya secara bertubi-tubi membuat nya tak mampu menghindar.


Kekuatan yang jauh berbeda terletak di kedua nya, walaupun Rian memiliki ilmu bela diri namun ia tetap tak bisa melawan manusia baja itu yang memang sudah terbiasa menjadi tempat pukul sebelum pemukul.


Hah...hah...hah...


Kedua pria yang sama-sama menarik nafas nya dengan panjang, yang satu kelelahan karna menghajar habis-habisan yang satu lagi merasakan sakit di seluruh tubuh nya karna terpukul berulang kali di bagian vital seperti ulu hati.


"Menurut mu karna kita berteman kau bisa berbuat sesuka mu? Aku bahkan pernah hampir membunuh wanita yang ku cintai! Jadi tak sulit bagi ku jika harus membunuh mu juga!" ucap Hazel dengan nada penuh penekanan, ia paling tak suka di bohongi dan ia malah di bohongi untuk hal sebesar ini.


Rian hanya menghela nafas nya dengan berat sembari merasakan sakit di tubuh nya, ia tak marah atau pun benci bahkan ia juga tak memberi penjelasan dengan membela diri nya.


"Lalu kau mau membunuh ku?" tanya Rian sembari mengandahkan pandangan nya melihat ke arah pria yang berdiri di depan nya.


"Menurut mu?" tanya Hazel dengan sembari menodongkan pistol pada sekretaris sekaligus teman nya.


Ia merasa benar-benar marah dan tertipu saat orang kepercayaan nya membantu menutupi kebohongan pada nya.


"Kalau begitu, aku mau bilang Terimakasih...


Aku...


Tak akan hidup seperti ini jika tak pernah mengenal mu kan? Teman yang selalu menyusahkan..." ucap Rian dengan tertawa mengingat pertemanan mereka.


Hazel yang membawa nya untuk mencapai ke titik tertinggi di hidup nya, membuat nya dapat membalik semua cemooh yang ia terima sejak kecil karna berada di keluarga yang tak mampu.


Mau berteman dengan si anak miskin yang selalu menjadi julukan nya karna berada di sekolah para bangsawan atau kalangan atas, bersekolah di sana pun ia hanya mengandalkan biaya siswa.


Keputusasaan dan tingkatan tekanan yang ia terima membuat nya ingin mengambil keputusa ekstrim Sampai ia bertemu dengan anak kalangan atas yang tak ikut membuli nya dan malah mengatakan.


Kau bodoh? Kenapa tak membalas? Takut karna mereka kaya? Kau takut dituntut pengacara mereka?


Membantu nya perlahan keluar dari tekanan yang ia miliki dan membuat nya memiliki kepatuhan dan kesetiaan di luar batas wajar pada pria itu.


"Kalau benar-benar terimakasih! Seharusnya kau tak lakukan itu!" jawab Hazel yang masih di liputi amarah.


"Aku tak peduli kalau kau mau membunuh ku...


Karna kau juga yang menyelamatkan nyawa ku, tapi jangan keluarga ku, jangan sentuh mereka..." ucap Rian sembari menahan nyeri dan sakit di tubuh nya.


"Baik, aku tak akan menyentuh mereka." jawab Hazel yang masih memikirkan setidaknya pertemanan mereka dengan tak mengganggu orang yang dicintai sahabat nya.


Dor!!!


Akh!


"Kau gila?! Kenapa disini?" ucap Hazel marah saat wanita yang tak lain adalah istrinya menghalangi tembakan hingga terkena pelesetan peluru di lengan nya.


"Kenapa dia bisa masuk?! Kalian tak bisa bekerja dengan benar?!" tanya Hazel marah pada seluruh pengawal nya yang berjaga.


"Aku yang memaksa masuk!" jawab Alyss pada suaminya yang sedang gelap mata.


"Pergi dari sini! Atau aku juga akan menyakiti mu!" ucap Hazel sembari menatap tajam ke arah wanita yang memegang lengan nya yang semakin mengeluarkan darah karna pelesetan peluru nya.


"Pergi supaya kau bisa membunuh mereka?!" tanya Alyss yang tak mau beranjak.


"Aku yang membuat kebohongan nya! Aku yang salah! Jangan lakukan apapun pada mereka!" ucap Alyss pada suaminya.


"Lalu mereka tak lalukan kesalahan apapun? Membiarkan mu ikut terapi kehamilan dan tak memberi obat sama sekali! Menurut mu mereka tak salah?!" tanya Hazel semakin geram dan mencengkram bahu wanita nya.


"Aku yang meminta mereka seperti itu...


Mereka hanya mengikuti kemauan ku saja!" ucap Alyss yang meringis karna cengkraman kuat di bahu nya.


HAHAHAHAHA


Tawa menggema yang membuat semua orang di dalam ruangan itu bergidik ngeri.


"Menyenangkan? Menyenangkan melihat ku seperti orang bodoh karna menipu ku bertahun-tahun?!" tanya Hazel dengan seringai yang tak bisa diartikan setelah tawa nya.


"Aku tak menganggap mu bodoh...


Aku juga tak pernah bermaksud untuk menjadi seperti ini..." jawab Alyss lirih.


Hazel membuang pandangan nya karna tak ingin melihat tatapan mata istrinya yang memancarkan kesedihan dan keputusasaan.


"Bawa dia pergi dari sini!" ucap Hazel pada para pengawalnya dan mendorong tubuh wanita nya agar menjauh darinya.


Ia mulai menyiapkan pistol nya lagi dan ingin menembak semua yang membantu wanita nya untuk menutupi kebohongan yang istrinya buat.


"Jangan! Jangan bunuh dia..." ucap Alyss yang berusaha melepaskan cengkraman tangan pengawal suaminya dan langsung bersimpuh di kaki pria itu.


Ia takut karna kebahagiaan membuat nya merenggut kebahagiaan orang lain hanya karna sikap egois nya.


"Kenapa? Kalian sudah jadi dekat sekarang? Sampai membuat mu berlutut lagi seperti dulu?" tanya Hazel dengan nada yang menuduh istri dan teman nya.


"Pertama aku yang membuat kebohongan...


Kedua dia suami teman ku...


Aku tak mau menghancurkan dunia Lala..." jawab Alyss lirih sembari mengepalkan tangan nya, ia tau pria yang ingin di bunuh suaminya adalah dunia sahabat nya.


Ia tak mau sahabatnya harus menderita dan membuat anak yang di kandung teman nya tak melihat ayah nya sebelum lahir.


"Kau benar-benar mau menghukum mereka? Mereka juga yang membantu ku tetap hidup sampai sekarang...


Ku mohon...


Jangan..." ucap Alyss lirih dengan air mata yang mulai jatuh.


"Ku mohon..." ucap Alyss lagi dan mulai bangun ia mendekat kearah pria itu dan memegang pistol yang berada di genggaman suaminya.


"Bunuh aku lebih dulu...


Sebelum membunuh mereka, karna jika kau membunuh mereka aku juga akan membunuh diri ku sendiri." ucap Alyss lirih dengan memposisikan pistol yang berada di tangan suaminya ke jantung nya.


"Kau gila?!" tanya Hazel marah dan ingin menarik lagi tangan nya namun tangan kecil istrinya menahan nya.


"Aku harus membalas orang yang sudah baik pada ku kan?" Jawab Alyss dengan pertanyaan dan tersenyum getir.


Ia masih sadar untuk membalas jasa para prof yang membantu nya untuk tetap hidup dan bahkan bisa memiliki para malaikat kecil begitu juga dengan Rian yang membantu nya menutupi kebohongan hingga para malaikat kecil itu bisa lahir.


"Sial!" umpat Hazel sembari menarik pistol nya dan langsung membuang nya saat ia merasa jemari istrinya mulai ingin menarik pelatuk pistol tersebut.


Akh!


Pekik Alyss saat pria itu menarik tangan nya dengan kasar dan membawa nya pulang.


......................


Kediaman Hazel.


Akh!


Pekik Alyss saat suaminya langsung menghempaskan tubuh nya ke tembok dan menghimpit nya.


"Katakan! Masih ada lagi kau sembunyikan?!" tanya Hazel dengan penuh penekanan.


"Kau sudah tau semua kan?" tanya Alyss lirih dengan suara tertahan. Rasanya benar-benar sesak berada di situasi yang serba salah.


Prangg!!!


Hazel langsung menghancurkan vas yang di atas meja sebagai hiasan ke dinding yang berada di sebelah istrinya.


Akh!


Pekik Alyss dengan langsung memalingkan wajah nya dan melindungi dengan tangan kecil nya saat vas tersebut hancur berkeping-keping tepat di sebelah kepalanya.


"Kenapa kau melakukan nya?! Kenapa menyembunyikan dari ku?!" bentak Hazel seketika memekakan telinga wanita nya.


"Kau...


Kau bilang kau mau mengikuti ku...


Menurut mu aku mau jika sampai itu terjadi?" tanya Alyss dengan suara tertahan dan menjatuhkan bulir bening nya.


"Lalu menurut mu sekarang aku tak akan mengikuti mu lagi?" tanya Hazel dengan nada penuh penekanan.


"Kau tak waras? Kalau kau seperti itu bagaimana dengan anak-anak mu?! Kau mau meninggalkan mereka?! Egois!" ucap Alyss yang juga merasa marah dan sedih di saat bersamaan.


"Aku? Aku egois?! Lalu bagaimana dengan mu?! Kau tak egois juga? Kau minta anak dari ku walaupun tau kondisi mu seperti apa! Kau juga hanya memikirkan kebahagian mu kan?! Kau tak memikirkan ku sama sekali!" jawab Hazel dengan penuh amarah.


Alyss tak bisa menjawab apapun ia hanya menjatuhkan air mata nya, ia tau jika keinginan nya egois tapi ia juga manusia.


Manusia biasa yang juga menginginkan kebahagian nya.


"Lalu aku harus gimana? Bukan aku yang mau sakit...


Aku juga tak mau seperti ini..." tanya Alyss lirih di sela tangis nya yang terus menjatuhkan bulir bening nya.


Hazel hanya menarik nafas nya dengan kasar sembari membuang pandangan nya ke lain arah tak mampu melihat sorot mata yang penuh dengan rasa putus asa di depan nya.


"Kau bilang kau belum siap mengatakan nya waktu itu kan? Sampai kapan kau mau bilang? Sampai aku melakukan pemakaman untuk mu?" tanya Hazel dengan suara serak dan melemah, hatinya terasa sesak. Ia merasa bersalah karna dirinya lah penyebab utama dari penderitaan wanitanya.


"Aku takut...


Maaf...


Aku juga tak mau seperti ini...


Aku tak mau sakit...


Aku juga lelah..." jawab Alyss dengan suara tertahan dan semakin menjatuhkan bulir bening nya.


"Aku mencintai mu...


Aku mau punya keluarga utuh...


Aku tau aku egois...


Tapi hanya kali ini biarkan aku egois sekali saja..." ucap Alyss lagi dengan menumpahkan rasa sesak di dada nya, kesedihan dan keputuasaan yang selama ini hanya ia pendam sendiri.


"Kalau kau pergi...


Kalau kau benar-benar tiada...


Aku bagaimana? Aku tak bisa mengurus mereka...


Mereka mirip dengan mu, aku takut...


Takut membunuh mereka seperti yang ingin ku lakukan sekarang..." ucap Hazel dengan penuh sesak menahan kesedihan dan amarah sekaligus serta menahan dirinya agar tak membunuh si kembar darah daging nya sendiri.


"Jangan..." jawab Alyss lirih dengan menjatuhkan bulir bening dan menggelengkan kepala nya.


"Aku masih hidup...


Sampai sekarang aku masih bernafas di depan mu kan? Aku cukup bahagia sekarang...


Kau akan baik-baik saja walau aku tak ada..." ucap Alyss pada suaminya dengan memaksakan senyum nya di tengah air mata yang mengalir, ia berusaha meraih tangan kekar itu.


"Aku tak akan baik-baik saja! Kalau tau seperti ini aku tak akan biarkan mereka lahir! Tidak! Aku seharusnya tak membiarkan kau hamil!" jawab Hazel dan mulai berpikir jika anugrah yang di berikan Tuhan untuk nya adalah sebuah petaka.


"Bukan salah mereka! Mereka masih kecil! Tidak tau apa-apa! Mereka juga tak pernah minta di lahirkan! Tapi aku yang menginginkan mereka..." balas Alyss pada suaminya.


"Aku senang...


Senang karna kau membalas perasaan ku...


Walaupun aku sering menyiksa mu...


Tapi kalau tau perasaan cinta mu, hanya membuat mu pergi...


Lalu untuk apa?" tanya Hazel yang membuat wanita di depan nya bingung.


Kalau saja wanita yang di depan nya tak pernah mencintai nya pasti wanita itu tak akan menginginkan anak dari nya kan? Tak akan menyembunyikan tentang penyakit nya dan tak akan membuat nya hampir kehilangan.


Cinta? Jika kau benar-benar mencintaiku kau tak akan melukai ku seperti ini.


Aku... aku...


benar-benar tak sanggup menerima cinta mu.


Cinta yang kau miliki terlalu mengerikan...


"Kau benar...


Sekarang aku tau seperti apa rasa nya cinta yang mengerikan..." sambung Hazel lagi tertawa getir yang mengingat kembali ucapan wanita nya saat dulu ia pernah menghukum nya dan jawaban dari wanita itu saat ia bilang ia melakukan semua tindakan nya atas dasar cinta.


Cinta yang sama-sama menjadi racun bagi kedua nya.


Cinta yang pernah merenggut kebahagian dan kebebasan wanita itu hanya karna pria yang mengaku memiliki perasan "Cinta" padanya.


Dan Cinta yang membuat pria itu hampir kehilangan wanita nya, dunia dan kebahagiaannya tanpa ia ketahui, karna sekarang wanita itu sudah membalas rasa "Cinta" nya dan tak ingin melihat nya terluka tanpa tau memberi luka yang semakin dalam.


Hua...


Hue...


Huhu....


Tangisan bayi yang terdengar pilu memasuki kamar kedua pasangan suami istri tersebut, mengoyak setiap perasaan yang membuat kesedihan semakin menjalar.


"Kalau kau membenci ku lagi...


Kau punya alasan untuk hidup lebih kuat kan? Kau harus membalas ku sebelum kau mati...


Dan aku akan menyingkirkan si pembawa sial itu." ucap Hazel pada wanita yang sedang menangis di hadapan nya.


"Ma-maksud mu?" tanya Alyss yang mulai khawatir saat mendengar suaminya berbicara seperti itu setelah tangis bayi mereka membuncah.


"Kalau kau mencintai ku tapi membuat ku kehilangan mu...


Lebih baik kau membenci seperti dulu, dan aku akan tetap mencintai mu...


Tetap bersama walau menyakiti satu sama lain.." ucap Hazel yang mulai kehilangan akal sehat nya.


"Itu bukan cinta...


Itu obsesi..." balas Alyss lirih menatap sendu ke arah pria yang sudah tak bisa di jelaskan ekspresi mata dan wajah nya.


"Kalau begitu anggap perasaan ku sebagai obsesi, aku tak peduli bagaimana kau menganggap nya." jawab Hazel sembari menatap lekat iris wanitanya.


"Kau gila?! Mereka darah daging mu!" teriak Alyss sembari memukul dada bidang suaminya.


"Hm...


Aku gila...


Kau yang membuat ku sampai sangat menggilai mu..." jawab Hazel yang juga sudah seperti kehilangan kendali nya.


"Dan aku bisa menunjukkan seberapa gila aku sekarang!" ucap Hazel dan langsung melangkah kaki nya keluar dari kamar itu.


"Hazel jangan!" ucap Alyss sembari berusaha menghentikan suaminya.


Hazel menepis dan mendorong tubuh istrinya hingga membuat wanita cantik itu terjatuh ke lantai karna memang tubuhnya yang semakin melemah.


BLAM!


Bantingan pintu yang kuat dan langsung mengunci istrinya dikamar membuat wanita itu panik bukan main.


Tangan kecil itu menggedor dengan kuat berulang kali, teriakan dan tangisan terdengar begitu pilu meminta untuk sang suami nya mebukakan pintu dan tak menyentuh anak-anak nya.


"Hazel...


Aku salah...


Maaf...


Jangan mereka...


Jangan sentuh mereka...


Ini salah ku..." ucap Alyss menangis pilu dengan suara yang semakin melemah.


Pria itu menatap ke arah anak kembar nya yang sedang menangis terisak, tangan nya perlahan semakin mendekati ke arah leher putra nya.


Ia tak tau kenapa ia bisa gemetar saat ingin mencekik putra sendiri, perasan bersalah, marah, sedih, takut bercampur menjadi satu membuat dada nya terasa sesak.


Tes...


Tanpa sadar air mata nya ikut jatuh tanpa sebab melihat bayi nya, melawan suara dua arah yang ingin membunuh namun bimbang di saat bersamaan saat melihat si kembar nya tiba-tiba berangsur diam ketika melihat ayah nya yang menetaskan air mata.


Deg...


Sekali lagi genggaman tangan kecil itu memegang jemari nya yang ingin mencekik leher malaikat polos yang masih suci tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kenapa harus kita?


Diantara semua orang dan nasib buruk kenapa harus kita yang seperti ini?


Cinta yang tak seperti di miliki oleh orang lain...


Cinta yang memberi luka dan pisau pada pasangan nya.


Apa karna cinta ini sudah di mulai dengan cara yang salah?


Maaf...


Karna aku memberi cinta yang beracun untuk mu...


Aku egois karna aku mencintai mu...


...****************...


Happy Reading♥️♥️♥️