(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
I'm missing you like crazy



Hazel gugup matanya terus saja melihat ke arah pintu operasi.


Kali ini ia benar-benar ketakutan, rasa takut dan rasa bersalah.


Sudah lama sekali ia tak merasa seperti ini, detik waktu yang berjalan begitu terasa lambat baginya, seperti menunggu jutaan tahun.


Setiap tarikan nafas yang ia ambil selalu terasa sesak, benar-benar terasa menyesakkan. Kepala nya di penuhi dengan semua kemungkinan buruk.


Setelah beberapa jam melakukan operasi akhirnya para dokter pun keluar. Mereka mengatakan operasi telah berhasil walaupun sempat mengalami kendala karna tekanan darah yang terus saja menurun. Sekarang mereka perlu melakukan pemeriksaan lanjutan pada Alyss.


Ruang perawatan.


Sekarang Alyss sudah di pindahkan keruang perawatan steril untuk sementara agar dapat lebih dipantau dan menghindari terjadinya sepsis sebelum pindah ke ruang biasa.


"Maaf...


Ku mohon...


Jika kali ini kau sadar, aku tak akan menyakitimu lagi...


Aku janji..." ucap Hazel sembari memegang jemari tangan Alyss.


Tak terasa waktu sudah hampir menjelang pagi melewati malam yang terasa sangat panjang. Hazel tak bisa mengalihkan matanya dari wanita yang sedang terbaring dengan berbagai macam alat di tubuhnya untuk menopang kehidupannya.


Walaupun operasi nya berhasil namun tak menutup kemungkinan jika kondisi nya akan memburuk lagi karna belum stabil sama sekali. Belum lagi kemungkinan cacat saat sadar karna beberapa bagian organ vital yang rusak karna sebelumnya sempat mengalami syok berat hingga mengakibatkan henti jantung.


Masa kritis belum terlewati sama sekali, Hazel hanya menatap Alyss. Ia tak tau kapan akan bisa mendengar suara wanita yang sedang terbaring lemah dengan penuh alat di depannya.


"Kau bilang kau berharap agar aku tak pernah bahagia kan? Baik...


Aku tak akan menjadi bahagia atau pun mencobanya....


Jika itu yang kau inginkan...


Tapi ku mohon....


Kau harus bisa bertahan..." ucap Hazel lirih dengan suara tertahan seperti tercekat di tenggorokannya.


Kali ini ia benar-benar menyesal, jika saja waktu bisa diulang, ia akan berusaha menahan emosi nya sebisa mungkin.


Ini pertama kali nya dia menangis lagi sejak 18 tahun lamanya. Merasakan guncangan emosi yang teramat dalam.


Koma? Namun bahkan kondisi wanita yang di hadapannya ini lebih buruk dari kata-kata itu. Ia masih menunggu perkembangan dari pengobatan yang di jalani istrinya.


Bisa saja mata yang terpejam itu tak lagi terbuka dan menatap nya.


Bisa saja bibir tipis yang saat ini sedang terlihat sangat pucat itu tak akan lagi mengeluarkan suaranya.


Hazel sekarang tau jika karma itu benar-benar ada. Dia memberi hukuman dan penderitaan bagi orang lain, dan sekarang Tuhan memberikan yang sama baginya.


Mungkin ini cara Tuhan menghukumnya cara Alyss juga agar ia ikut merasakan penderitaan. Kebahagian nya hampir terampas darinya.


Kebahagian yang sedang berusaha ia genggam bagaikan pasir pantai, yang semakin di genggam kuat semakin pula pasir itu hancur dan jatuh dari genggaman tangan nya.


Hazel pernah bilang pada dirinya sendiri "Bahkan jika Alyss mati pun, ia akan tetap membuatnya tetap disisinya, ia akan mengawetkan tubuh itu terus menerus agar tetap bersama nya." tapi sekarang ia tau itu tak semudah kelihatannya.


Sekarang setiap kali ia melihat wanita yang sedang bertarung dengan maut agar dapat di hadapannya membuat dada nya terasa sakit. Ia tak ingin wanita di hadapan nya itu pergi.


Dia pikir dengan menanamkan rasa takut dan memberi hukuman akan membuat wanita nya tetap bersama nya. Nyata nya tidak! Tubuh wanita itu sekarang memang tetap bersamanya tubuh dengan jiwa yang rapuh seperti gelembung es. Yang dapat pecah dan hilang tanpa sisa.


Pukul 11.30 AM


Hari sudah menjelang siang, Hazel belum makan ataupun tidur sama sekali ia masih menatap ke arah istrinya dengan tatapan pengharapan yang mengharapkan keajaiban datang dan membuat istrinya lekas membaik.


"Kau tak makan dulu? Kau belum makan sama sekali?" tanya Rian agar menyadarkan temannya.


"Aku tak lapar, aku masih mau disini...


Aku masih mau menemaninya..." jawab Hazel lirih dengan tak memalingkan wajahnya sedikitpun dari Alyss.


Rian hanya menghela nafasnya dengan berat melihat keadaan Hazel yang juga seperti terguncang.


.....................


Satu minggu kemudian.


Selama satu minggu terakhir Hazel juga ikut bagaikan seperti seseorang yang sudah mati. Selama satu minggu juga Alyss berulang kali mengalami kondisi yang semakin kritis dan memburuk.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Sekarang kau tak hanya mengurus JBS hospital tapi JBS grup! Ribuan karyawan di pertaruhkan di perusahaan mu!" ucap Rian yang mulai marah karna melihat Hazel yang terus-terusan terpaku pada Alyss hingga membuat semua urusan nya kacau dan membuat Rian mengurus beberapa hal menggantikan Hazel.


"Kenapa aku peduli dengan hidup mereka?! Sedangkan sekarang dia masih...." ucap Hazel yang menggantung perkataan nya saat melihat Alyss.


"Kau bisa mengulang waktu? Jika kau tak kembali para pemegang saham dan direktur yang sedari awal tak menyukaimu akan berusaha menyingkirkan mu.


Dan jika itu terjadi, apa kau bisa memberikan perawatan yang baik untuk dr. Alyss?" jawab Rian dengan nada pelan agar Hazel bisa mengerti.


Hazel terdiam beberapa saat, ia memang tak bisa mengulang waktu dan tak ada yang tau kapan Alyss bisa bangun ataupun memburuk lagi. Jika ia kehilangan apa yang ia miliki saat ini ia juga akan kehilangan wanita nya.


"Baik, aku mengerti...


Katakan pada mereka untuk mengawasi Alyss dengan baik dan segera mengabariku jika terjadi sesuatu." ucap Hazel.


Setelah mengurus beberapa hal di RS, Hazel pun kembali ke kediaman nya.


Ia belum kembali ke kediaman megah itu sejak membawa Alyss ke rumah sakit.


Deg...


Entah kenapa kali ini saat ia memasuki ruangan di kediaman megah terasa seperti hampa, terasa sangat sunyi...


Ia melewati beberapa ruangan dan beberapa tempat yang sering di gunakan Alyss untuk mengisi waktu nya agar tak bosan dan bermain dengan kucing kesayangan nya.


Hazel tertawa melihat itu, bibir yang terangkat naik namun mata yang menjatuhkan cairan beningnya.


Dada nya begitu sesak saat memasuki ruangan-ruangan di kediaman megah nya. Ia pun dengan langkah cepat ke ruang kerja nya untuk mengambil sesuatu yang ia butuhkan.


Setelah mengambil berkas yang ia butuhkan dan sebagian yang tak ia temukan di ruang kerja nya ia pun bergegas ke kamarnya.


Deg....


Dada nya benar-benar terasa sesak saat berada dikamar itu, kamar yang masih tertinggal aroma dan bayang dari istrinya.


Sudah yah...


Lelah...


Sekali lagi....


Kata-kata yang sering di ucapkan Alyss dan dia saat ia melihat ke arah ranjang berukuran king size itu, saat teringat akan hal itu membuat Hazel tertawa pahit.


"Kau akan bangun...


Bahkan jika aku harus membuat perjanjian dengan iblis pun, akan ku lakukan untuk mengembalikan mu..." ucap Hazel lirih sebelum pergi keluar dari kamar itu.


Setelah mengambil apa yang ia butuhkan Hazel pun segera menuju ke JBS hospital lagi. Sejak ia mengakusisi JBS grup ia telah membuat pusat JBS grup berada di JBS hospital.


Hazel pun segera kembali ke JBS hospital saat semua yang ia butuhkan sudah ia ambil, namun saat di perjalanan ia pun tiba-tiba mendapatkan telpon dari para dokter yang merawat Alyss.


"Ada apa?" tanya nya was-was setiap kali ia mendapat telpon dari dokter yang merawat Alyss ia selalu saja merasa seperti mendapatkan lemparan peluru, karna rasa takut akan tiba-tiba kondisi Alyss yang kembali memburuk.


"Tekanan darah nona Alyss kembali turun dan suhu nya juga kembali turun drastis!" jawab si dokter.


Hazel pun langsung menambah kecepatannya dan bahkan melanggar beberapa aturan lalu lintas untuk membuat nya segera sampai ke RS.


Jantung nya berdegup sangat kencang, ia merasa sangat takut dan khawatir di saat yang bersamaan.


Setelah sampai di RS Hazel pun langsung melihat kondisi Alyss. Ia melihat para dokter dan suster yang tengah sibuk mengatasi kondisi Alyss yang tiba-tiba memburuk.


"Mata nya tak bereaksi!" ucap sang dokter saat menyinari pupil mata Alyss untuk melihat reaksi. Namun naas tak ada reaksi sama sekali.


"Irama jantung nya menurun! 35/40 permenit!" ucap salah satu suster yang melihat monitor jantung Alyss.


NB KET : Irama jantung normal pada orang dewasa sekitar 60-100 detak permenit. Bisa berbeda pada setiap orang tergantung pekerjaan contoh : olahragawan.


"Defribilator!" ucap dokter tersebut dan mulai memberikan kejutan listrik pada Alyss untuk menghindari komplikasi aritmia.


NB KET : Aritmia adalah gangguan yang terjadi pada irama jantung.


Setelah detak kembali pada range angka yang aman mereka pun kembali memberikan rangsangan untuk melihat gerak refleks Alyss yang masih berfungsi atau tidak.


"Masih tak ada reaksi!" ucap sang dokter saat menyinari pupil mata Alyss dengan sinar.


Mereka pun mencoba memberikan rangsangan berupa cubitan namun masih tak ada gerakan refleks apapun yang di berikan.


Hingga mereka mereka mencoba menjalankan tes EEG (Electroencephalography) untuk melihat adanya aktivitas pada otak Alyss, jika hasil tes gelombang pada EEG datar maka sudah bisa di pastikan bahwa Alyss mengalami mati batang otak atau (Brain death) yang artinya ia telah meninggal secara medis dan tak akan mungkin bisa bangun bahkan di kesempatan 0,00000000001% ia tak akan punya.


Hazel terdiam melihat semua itu, ia berdiri mematung melihat para dokter yang kian sibuk berusaha menyelamatkan nyawa istrinya.


Hasil yang membuat semua orang terperangah, tak ada gelombang terbaca atau bisa dikatakan Alyss saat ini memilki gelombang otak yang datar.


"Tidak...


Ku mohon...." ucap Hazel lirih melihat monitor layar yang berada di depan nya.


...----------------...


"Mamah mau kemana?" tanya anak ku dengan mata yang jernih dan wajah polosnya


"Kesana" jawab ku sembari menunjuk cahaya putih yang bersinar terang. Aku ingin cahaya itu segara datang dan melahap ku habis untuk masuk kedalam nya.


"Jangan kesana mah! Nanti mamah ga akan balik lagi!" jawab nya dan langsung menarik ku menjauhi cahaya itu.


"Mamah memang ga mau balik lagi...


Mamah mau di sini saja..." jawab ku pada pangeran kecil ku.


"Iyah mamah disini saja, jangan pergi kesana..." ucap nya sembari menggenggam lembut tangan ku dengan tangan mungil nya.


Cahaya itu pun perlahan menjauh dari ku lagi, aku masih tetap sama...


Aku tak mau pergi dari tempat yang sangat nyaman ini...


Menit yang ku habiskan disini sangat berarti dan dan membuat perasaan ku menjadi hangat.


Alyss pov end.


...----------------...


Bagaikan sebuah keajaiban gelombang datar itu tak bertahan lama, Alyss kembali menunjukan aktivitas otak nya, namun bukan berarti ia sekarang berada dalam "Kondisi aman" tetapi hal itu memberikan sercecah harapan walaupun hanya setitik yang bahkan lebih kecil dari ukuran debu.


Para dokter pun segera melakukan pemeriksaan lanjutan pada Alyss.


......................


Pukul 09.45 PM


Hazel sudah kembali ke pekerjaan sedikit demi sedikit dan setelah selesai ia langsung datang menghampiri Alyss yang masih terpasang berbagai macam alat medis di tubuhnya.


Ia pun melihat kearah ponsel Alyss yang terus bergetar sedari malam kemarin. Ia tau ibu mertua nya terus saja menelpon putri semata wayang nya yang tak lain adalah istrinya. Dan bahkan juga menelpon nya. Mungkin karna Alyss tak menjawab ibunya jadi mencoba menghubungi suami dari putrinya.


Namun Hazel tak berani mengangkat nya, ia tak tau harus mengatakan apa pada ibu istrinya. Namun ia juga tak bisa terus-terusan lari dari hal itu. Hazel pun mencoba mengangkat telpon dari ibu Alyss.


"Halo? Kenapa ga diangkat sih nak? Mamah lo dari semalem nelpon Alyss terus." ucap ibu Alyss begitu telpon nya tersambung.


"Ini Hazel mah..." jawab Hazel lirih.


"Loh? Alyss nya dimana nak?" tanya ibu Alyss begitu mendengar suara Hazel.


"Alyss lagi sakit mah, dia lagi tidur sekarang." jawab Hazel sembari melihat ke arah Alyss.


"Sakit apa?!" tanya ibu Alyss yang terdengar begitu khawatir.


"Sakit mah...


Masih bisa di tangani mah, mama tidak perlu khawatir..." jawab Hazel lirih karna berbohong.


"Benarkah? Padahal mamah mau minta Alyss kerumah sama kamu juga...


Tapi yasudah jika Alyss sakit, besok Hazel ke rumah yah...


Biar mamah masakin makanan kesukaan Alyss, dia kalau sakit itu selera makan nya jadi pemilih banget, biar dia cepet sembuh ngerasain masakan mamah nya...." jawab ibu Alyss yang masih tak tau kondisi putri nya seperti apa.


Hazel terdiam ia memejamkan mata nya sesaat, dada nya terasa semakin sesak saat mendengar ucapan mertuanya.


"Nak? Kenapa kok diam saja? Kamu suka apa? Biar mamah masakin juga buat Hazel?" tanya ibu Alyss dengan nada suaranya yang selalu bisa menenangkan saat tak mendengar jawaban apapun dari menantunya.


"Tidak apa-apa mah, Hazel suka apa saja..." jawab Hazel dengan suara tertahan dan berat karna merasa sesuatu tercekat di tenggorokan nya.


"Yaudah gih, Hazel tidur juga biar ga sakit...


Nanti istrinya sembuh malah suami nya lagi yang sakit...


Besok jangan lupa kesini yah" jawab ibu Alyss sedikit bercanda dan mengingatkan Hazel.


"Iya mah...


Hazel tutup yah..." ucap Hazel mengakhiri pembicaraan mereka dari telpon.


Hazel meremas rambut nya dengan begitu frustasi.


"Maaf...


Maafkan aku..." ucap nya pada Alyss sembari menggenggam jemari kecil itu.


......................


Rumah keluarga Alyss.


Sesuai yang di minta oleh ibu Alyss untuk meminta Hazel datang ke rumah nya agar mengambil makanan yang akan ia persiapkan untuk putri dan juga menantunya.


"Ini yah nak, mamah kurang tau kamu sukanya apa, jadi mamah masak yang waktu kamu disini sama Alyss waktu itu." ucap Ibu Alyss.


"Iya mah, tidak apa-apa..." jawab Hazel lirih perasaan bersalah nya kian memuncak melihat perhatian yang di berikan oleh ibu istrinya.


"Hazel…" panggil ayah Alyss yang sedang duduk di sofa melihat foto album putrinya ketika kecil dulu.


"Iya?" jawab Hazel menoleh ke arah ayah mertuanya.


"Mau lihat Alyss waktu kecil gak? Dia ga suka kami masang foto nya sebelum 10 tahun di dinding. Katanya nanti jadi bikin kepo orang." ucap ayah Alyss dengan tertawa kecil mengingat ucapan putri nya.


Dan memang benar, di rumah itu tak ada foto saat Alyss kecil yang di gantung di dinding. Tapi penuh dengan foto keluarga dan foto masa remaja nya yang di perlihatkan.


"Sini...


Lihat ini..." ucap ayah Alyss mengajak Hazel.


Hazel pun melangkahkan kaki nya ke arah ayah mertuanya.


"Lihat ini dia waktu umur 6 tahun kalau ga salah. ..


Imut kan?" ucap Ayah Alyss sembari menunjukkan foto masa kecil Alyss yang sedang bermain dengan kucing gembul peliharaan nya dulu.


Deg....


Jantung Hazel bagaikan di sengat jutaan listrik melihat anak di foto tersebut.


"Alyss punya saudari?" tanya Hazel dan langsung mengambil foto tersebut untuk melihat lebih jelas.


"Tidak, dia putri semata wayang." jawab ayah Hazel.


"Tapi anak di foto ini bukankah bernama Elie?" tanya Hazel dengan bibir mulai bergetar.


"Elie? Kau tau nama itu? Dulu Alyss sedikit lama bisa berbicara dengan lancar, jadi dia sedikit celat jika mengucapkan namanya.


Kau pernah bertemu dengan nya dulu?" tanya Ayah Alyss setelah menjawab pertanyaan Hazel.


Hazel terdiam. Tangan nya bergetar memegang memegang selembar foto tersebut.


"Dia benar-benar anak itu?!" batin Hazel ketika melihat ke arah foto tersebut.


Hazel pun segera bangkit dan berjalan ke arah mobil nya.


"Loh? Hazel kok ga di bawa bekal nya nak?!" ucap ibu Alyss saat melihat Hazel yang langsung keluar tanpa sempat membawa masakannya.


Hazel pun segera mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.


TINNNN!!!!


Suara klakson yang nyaring ia dengar mengejutkan pikiran nya yang sedang kacau hingga membuat nya membanting stir dan menabrak pembatas jalan.


Duak!!!


Tes.. tes.. tes...


Tetesan darah mulai mengalir dari kening nya, tapi itu tak membuatnya terasa sakit sama sekali, sakit yang ia rasa di hati nya membuat nya lebih menderita sekarang.


"Maaf...


Aku membunuh mu lagi...


Maaf...


Karna aku terlalu bodoh, tak mengenalimu..." ucap Hazel menenggelamkan wajahnya ke setir mobil nya.


"Maaf...." ucap nya lirih dengan air mata yang terus jatuh, penyesalan dan rasa bersalah nya kian menggunung saat mengetahui sebuah fakta yang semakin mengguncangnya.


...****************...


Okey di bab selanjutnya bakal othor ceritain masa lalu mereka yah😉


Nanti juga othor kasih tau gimana reaksi ortu Alyss saat tau kondisi anak nya. Setelah flash back mereka yah🤭


Jangan lupa like, komen, fav, dan vote.


Jangan lupa kasih rate 5 juga yah buat othor 😉😉


Happy Reading❤️❤️❤️