
Kediaman Hazel.
Sejak sore saat mereka kembali dari rumah orang tua Alyss, Hazel terus saja menatap Alyss.
"Ke-kenapa kau menatap ku terus? Ka-kau masih marah?" tanya Alyss lirih di sela makan malamnya saat ia semakin tak nyaman dengan tatapan Hazel.
"Kenapa kau masih tak hamil juga?" tanya Hazel dengan memicingkan matanya pada Alyss.
"Uhuk!" Alyss pun langsung tersedak, ia kemudian langsung mengambil gelas berisi air minum yang di berikan Hazel padanya dengan cepat.
"Baru tanya begitu saja sudah langsung tersedak." ucap Hazel pada Alyss sembari mengelus halus punggung Alyss.
"La-lagi pula kenapa tanya begitu? Ka-kau kan tau aku meminum obat kontrasepsi." ucap Alyss ketika selesai minum, ia tak tau sama sekali jika Hazel sudah menukar obatnya.
"Yasudahlah, lupakan saja. Lanjutkan lagi makan mu." ucap Hazel sembari mulai makan lagi.
"Ka-kau masih marah? Yang tadi siang..." tanya Alyss lirih.
"Kalau aku marah, kau bisa membujuk ku kan? Dengan...." jawab Hazel yang tersenyum nakal pada Alyss.
"Se-sepertinya kau sudah tak marah lagi." balas Alyss cepat saat dia tau maksud Hazel.
Setelah makan malam Hazel pergi keruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karna sebelumnya ia menginap di rumah orang tua Alyss.
Sedangkan Alyss sendiri memilih menonton tv acara kesukaan nya.
Pukul 01.35 AM
Hazel telah selesai menyelesaikan pekerjaan nya yang sempat tertumpuk.
"Tv nya menyala? Apa dia belum tidur?" ucap Hazel saat melihat tv yang menyala. Ia pun berjalan mendekat ke arah sofa yang menghadap Televisi tersebut.
"Apa dia ketiduran?" tanya Hazel lirih saat melihat Alyss yang sudah tidur lelap di sofa panjang tersebut.
Hazel pun dengan hati-hati menggendong dan memindahkan Alyss ke kamar nya. Ia meletakkan tubuh Alyss perlahan ke atas ranjang agar tak membangunkan wanitanya.
"Good night." ucap Hazel lirih dan mengecup kening Alyss sebelum ia tertidur.
......................
Skip time.
JBS Hospital.
"Kau punya pertemuan dengan perwakilan dari Halty Farmasi grup. Sebelumnya karna kau meminta aku mengundur semua jadwal mu, aku jadi menggantinya hari ini." ucap Rian yang memberitau agenda harian Hazel.
"Baik, kau sudah atur tempat nya kan?" tanya Hazel.
"Sudah." jawab Rian
Hazel pun segera pergi menemui rekan bisnisnya.
Sementara itu...
Departemen bedah umum.
"Ayo suit, yang kalah beli kopi sama cake yah!" ucap dr. Lea di ruangan tersebut.
"Ayo! Nanti kalau kau yang kalah jangan kabur!" jawab dr. Rico pada dr. Lea
"Oke, ga bakal!" jawab dr. Lea
"dr. Alyss ga ikutan?" tanya dr. Wendi saat melihat Alyss yang masih memeriksa beberapa dokumen data kesehatan dari pasien nya.
"Engga deh, kalian saja, aku masih mau periksa ini." tolak Alyss sembari memperlihatkan kertas yang sedang ia pegang.
"Yah....
Ikutan dong...
Biar kompak." ucap dr. Rico dengan memanyunkan bibir nya.
"Iya.. iya..
Aku ikut." jawab Alyss dan bergabung ke grombolan dokter lain yang ingin ikut suit.
Setelah mereka suit.
"Dr. Alyss kalah!" ucap dr. Wendi saat melihat hanya Alyss yang membalik tangan nya dalam sekali suit.
"Kan...
Aku memang ga pernah beruntung kalau suit seperti ini." ucap Alyss dengan nada malas. Sedangkan dokter lain hanya tertawa mendengar keluhan Alyss.
"Mau kutemani?" tawar dr. Lea pada Alyss.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri, pesanan kalian ini aja kan?" tanya Alyss sembari mengangkat catatan kertas kecil ditangan nya.
"Iya." jawab dokter lain serempak.
Alyss pun akhirnya pergi ke cafe RS dan membeli pesanan teman-temannya.
"Ya ampun...
Kenapa aku ga pernah menang kalau suit." keluh Alyss lirih sembari membawa kopi dan cake pesanan teman-teman dokternya.
Namun saat ia hendak memasuki lift, lift yang ia gunakan dihadang oleh empat pria yang memakai setelan jas serba hitam dan memakai masker. Alyss pun di tarik keluar oleh salah satu pria bersetelan hitam tersebut.
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Alyss mulai marah saat tangan nya di tarik paksa keluar dari lift.
"Nona, silahkan ikut kami." ucap salah satu pria tersebut.
"Si-siapa kalian? Aku tak mengenal kalian! Dan aku juga tak punya urusan dengan kalian!" ucap Alyss yang mulai takut saat ia sudah di kepung dengan empat pria asing tersebut.
Salah satu pria bersetelan hitam dan memakai masker tersebut memberi isyarat pada teman nya yang lain untuk membawa Alyss secara paksa.
"A-apa yang kalian lakukan?! Lepas!" ucap Alyss saat dua orang tersebut memegangi tangan nya, dan satu orang lain mengeluarkan jarum suntik, dan bersiap untuk menyuntiknya.
Tenaga Alyss benar-benar tak sebanding dengan dua pria tegap yang memegangi tangan nya sedangkan salah satu nya langsung menyuntik lehernya, yang membuatnya merasa kantuk yang teramat sangat dan langsung membuat pandangan nya menjadi gelap.
Mereka pun membawa segera membawa Alyss yang sudah pingsan untuk ikut dengan mereka. Kopi dan cake yang sebelum nya di bawa Alyss dibiarkan tumpah dan berserak di koridor tersebut.
......................
Alyss membuka matanya perlahan, ia terbangun di sebuah kamar yang besar dan memiliki desaign yang mewah, seperti kamar di kediaman Hazel.
Namun ia sadar jika saat ini ia tak berada di kediaman Hazel.
"Dimana ini?" gumam Alyss ketika ia melihat kesekeliling kamar tersebut.
Alyss masih merasa sangat lemas karna bius yang suntikkan ketubuhnya. Tetapi ia berusaha mengumpulkan tenaganya sebanyak mungkin untuk bisa bangun.
Ia melihat ke sekujur tubuhnya, tak ada yang berubah, ia bahkan masih memakai jas dokter yang ia kenakan sebelumnya.
"Kau sudah bangun?" tanya seorang pria yang duduk tak jauh dari ranjang Alyss.
Alyss pun baru menyadari jika ada orang lain di ruangan tersebut, ia pun mengalihkan pandangan nya ke pria tersebut.
Alyss pun mengerutkan dahinya dengan heran ketika melihat pria tersebut. Pria yang sebelumnya bersikap tak sopan padanya.
"Apa yang anda lakukan?! Saya tak memiliki urusan dengan anda!!" ucap Alyss mulai marah pada pria tersebut yang tak lain adalah Will.
Will dengan santai menghisap rokoknya dan menatap Alyss dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Kau memang tak memiliki urusan dengan ku...
Tapi aku punya..." ucap Will sembari mulai berjalan mendekati Alyss.
Alyss pun langsung bangun dan berusaha berlari kearah pintu serta membuka nya. Namun usaha nya gagal, pintu tersebut tak bisa dibuka sama sekali walau sebanyak apapun Alyss mencoba membukanya.
"Kau mau lari? Jangan buru-buru sayang...." bisik Will yang sudah memeluk pinggang Alyss dari belakang saat Alyss berusaha membuka pintu.
Alyss langsung tersentak, ia sudah mulai merasa takut saat itu. Tangan dan kakinya mulai terasa dingin.
"A-aku tak punya salah apapun pada mu...
Le-lepaskan aku..." ucap Alyss lirih dan berusaha melepaskan pelukan Will di pinggang nya.
"Akh!!!" pekik Alyss saat tangan Will menarik rambut dengan kuat hingga membuat wajah nya mengandah ke arah Will.
Will pun dengan kasar menarik rambut Alyss dan melempar tubuh Alyss menjauh dari pintu tersebut ke lantai di kamar tersebut hingga jatuh tersungkur.
Will pun mulai berjongkok dan menyamai tinggi wajah nya dengan Alyss.
"Melepaskan? Kau ingin aku melepaskan mu? Bisa saja asalkan kau bisa memuaskan ku." ucap Will sembari mengepulkan asap nikotin nya ke wajah Alyss.
"Uhuk! Uhuk!" Alyss pun langsung terbatuk saat Will menyemburkan asap nikotin dari rokok yang ia hisap. Alyss tak terbiasa dengan asap rokok, karna tak ada pria di dekatnya yang merupakan perokok, mulai dari ayahnya dan bahkan Hazel pun bukan merupakan seorang perokok.
"Dasar gila!" ucap Alyss sembari menatap tajam Will.
Will pun hanya tersenyum datar dan langsung mengangkat tangan nya.
Plak!
Satu tamparan kuat mendarat di pipi Alyss hingga meninggalkan bekas kemerahan. Alyss memegangi pipinya yang terasa nyeri. Ia semakin merasa takut.
Saat ini ia berada di kamar tertutup dengan pria yang tak jelas memiliki motif apa pada nya. Berada di tempat asing dan bersama dengan pria yang sudah pasti tak bermaksud baik dengan nya.
"Kau sudah mengerti posisi mu?" tanya Will dengan mencengkram kuat rahang Alyss.
"Lepas!!!" ucap Alyss dengan berusaha melepas tangan Will dari rahang kecil nya. Ia sudah menahan tangis dari tadi, tubuhnya bahkan sudah mulai gemetar karna rasa takutnya yang sudah menjalar memenuhi dirinya.
Plak!
Alyss pun langsung menampar Will, entah dari mana datang nya keberanian dalam dirinya hingga ia bisa menampar pria yang sudah pasti akan menang jika ia lawan.
Walaupun tamparan tak sekuat tamparan Will barusan karna ia sendiri masih tak memiliki banyak tenaga setelah bangun dari bius. Namun ia benar-benar tak terima ketika di perlakukan seperti wanita panggilan.
"Aku bukan wanita seperti itu!" ucap Alyss dengan bibir gemetar dan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
Perasaan marah dan takut mulai menyatu di dalam hatinya, ketika ia diperlakukan rendah seperti itu.
"Wah...
Kau kasar juga, padahal ku pikir kau tak akan sekasar ini.
Aku sudah bicara baik-baik pada mu. Tapi kau sepertinya tak ingin pembicaraan yang baik, iya kan? Makanya aku juga tak akan segan-segan. Karna kau yang memintanya." ucap Will dengan nada halus.
Alyss pun semakin bergidik ngeri dan gemetar, ia melihat pandangan mata Will yang seakan-akan siap untuk menerkamnya.
Alyss berusaha menepis tangan Will dan berusaha untuk bangun, ia ingin menjauh dari Will sebisa mungkin.
"Akhh!!!" pekik Alyss saat Will langsung menarik rambut nya dengan kuat saat Alyss hendak berlari menjauh darinya, Will pun langsung melempar Alyss ke atas ranjang.
"Dasar brengsek!!! Lepas!!!" teriak Alyss saat Will sudah ikut naik dan menindih tubuh kecilnya.
"Ukh!" Alyss yang langsung terdiam saat Will mulai mencekik leher putih nya dengan kuat.
Alyss benar-benar merasa nafas terhenti, tangan nya memukul tangan Will yang sedang sedang mencekik nya dengan kuat.
Wajah nya mulai memerah karna pasokan darah yang terhenti, ia tak bisa mengentikan mata nya yang terus saja mengeluarkan bulir bening.
"Tak bisa bernafas? Hm?" tanya Will sembari terus mencekik leher Alyss, ia mulai menaikkan sudut bibirnya ketika melihat wajah Alyss yang sudah memerah kehabisan nafas, dan tubuhnya yang terus saja berusaha memberontak.
"Ckk!!" decih Will sembari melepaskan cekikan nya di leher Alyss.
"Ka-kau gila! Aku tak mengenal mu sama sekali!!" ucap Alyss dengan nafas yang masih terengah-engah sembari menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Kenapa berlagak seperti wanita suci? Ha? Kau tak sadar sekotor apa dirimu?" ucap Will dengan pandangan merendahkan pada Alyss. Ia berpikir jika Alyss mirip dengan para wanita bayaran nya, karna Alyss menjalin hubungan dengan Hazel.
"Kau pikir kau siapa?! Bisa menilai ku sesuka mu?" tanya Alyss, ia sedang merasa marah dan takut yang bercampur aduk menjadi satu.
"Bukankah kau memiliki hubungan dengan Hazel? Katakan berapa yang dia berikan pada mu. Aku akan membayar dua kali lipat dan aku juga bisa lebih memuaskan mu." ucap Will dengan senyum yang sulit di artikan.
Alyss terdiam beberapa saat, ia mulai berfikir siapa pria yang sedang mengukung tubuh nya sekarang.
"Si-siapa kau? A-aku tak mengenal nya! A-aku hanya tau dia presdir di tempat ku bekerja saja." ucap Alyss berbohong. Ia takut jika pria dihadapan nya saat ini merupakan musuh dari Hazel dan menculik nya untuk membalas Hazel.
"Kau tak pandai berbohong..." ucap Will sembari mengelus wajah Alyss yang basah karna air mata yang terus keluar.
"Ka-kau musuh nya?" tanya Alyss dengan suara semakin gemetar, ia masih belum tau jika saat ini pria yang sedang di hadapan nya merupakan ayah kandung dari Hazel.
"Aku? Aku tak menganggap nya musuh, tapi seperti nya anak itu mengganggap sebaliknya." ucap Wil sembari terus mengelus dan menyentuh wajah Alyss.
Alyss pun langsung menepis tangan Will yang sedang menelusuri wajahnya.
"Jangan bohong, aku tau kau memiliki hubungan dengan nya. Katakan, gaya apa yang sering kalian gunakan? Hm?" tanya Will dengan mulai melingkarkan jemarinya di leher Alyss lagi.
"Sudah ku katakan, aku bukan wanita seperti itu!" ucap Alyss lagi, ia berusaha menahan tangis nya sebisa mungkin, namun bulir bening diujung matanya terus saja jatuh tanpa bisa ia kendalikan.
Plak! Plak! Plak!
Will langsung menampar Alyss bertubi-tubi, hingga membuat ujung bibir terluka, dan memar di kedua sisi pipinya. Ia merasakan pipinya yang semakin perih, kepala mulai terasa sakit akibat tamparan yang dilayangkan padanya secara bertubi-tubi.
"Sudah ku bilang jangan berlagak seperti wanita suci kan! Lalu apa kau belum pernah tidur dengan nya sekalipun? Kau masih virgin?" tanya Will dengan nada yang semakin merendahkan Alyss.
Alyss tak bisa menjawab pertanyaan Will, karna ia tau jika Hazel sudah menidurinya berkali-kali. Ia hanya menatap Will dengan mata yang terus yang terus mengeluarkan bulir bening nya.
"Semua yang kukatakan benar kan? Kau, apa kau tau kau ini disebut dengan apa? Hm?" tanya Will lagi saat melihat Alyss masih terdiam. Ia pun mulai mendekat ketelinga Alyss.
"Jalang! Kau itu cuma wanita kotor! Barang bekas yang dibungkus dengan wajah dan tubuh yang cantik! Kau tak sadar?!" bisik Will di telinga Alyss.
Alyss terdiam, ia tak bisa membalas perkataan Will sama sekali, perkataan tersebut benar-benar menusuk hatinya, seperti di tusuk dengan timah panas yang baru dilelehkan.
Alyss semakin menangis, tubuh nya semakin gemetar, wajah nya mulai pucat, ia merasa saat ini ia sama sekali sudah tak memilki harga diri dan kehormatan lagi.
Will tersenyum melihat reaksi Alyss yang semakin tenggelam dengan ketakutan, kesedihan, dan amarah. Ia sengaja mengatakan hal yang dapat membuat mental wanita dihadapan nya jatuh.
"Sekarang kau sadar? Serendah apa dirimu? Bagian mana yang sering disentuhnya? Hm?" tanya Will dengan senyum licik dan mulai meraba paha Alyss.
Alyss pun mengalihkan pandangan mata nya yang gemetar ke arah Will. Ia tak tau harus bagaimana, rasa nya ia benar-benar ingin mati sekarang. Ia benar-benar tak tahan dengan semua hinaan yang terus saja menginjak rata harga dirinya.
"Bersikap lah seperti jalang yang baik, dengan memuaskan pria yang sedang bersama mu. Aku akan membayar mu setelah ini." ucap Will dan mulai menciumi leher Alyss, tangan nya mulai naik ke pangkal paha Alyss dan masuk kedalam rok yang dikenakan Alyss.
Alyss pun langsung tersentak dan tersadar dari pikiran yang sempat tenggelam dalam perkataan Will, saat tangan Will mulai menyentuh bagian yang sangat privasi dari dirinya.
"Tidak! Aku tak mau! Lepas!" ucap Alyss dan berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Will.
Namun tenaga nya benar-benar kalah telak dari Will, tubuhnya terus saja memberontak melawan Will yang sedang ingin memperkosanya.
tangan kecil berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Will menjauh darinya.
"Kau melawan? Tak apa aku juga suka wanita yang memberikan perlawanan." ucap Will tersenyum ketika sudah puas menciumi leher Alyss hingga meninggalkan beberapa bekas di leher putih tersebut.
Melihat Will yang sudah berhadapan dengan nya dan sedang tak menciumi lehernya, membuat Alyss berusaha menyerang mata Will dengan jarinya.
Will berusaha menghindar, dan saat Will menghindar Alyss langsung sebisa mungkin menyingkirkan tubuh Will yang sedang menindihnya, usahanya tak sia-sia ia berhasil.
Ia pun langsung bangun dan berusaha menjauh dari Will, ia sangat panik dan ketakutan, ia tak bisa keluar sama sekali dari kamar tersebut karna pintu keluar yang terkunci rapat.
"Hand phone? Dimana hand phone ku?!" ucap Alyss panik dan mulai meraba tubuh nya sendiri ia yakin jika ia membawa ponselnya di saku pakaiannya.
"Kau mencari Ini?" tanya Will yang terkekeh sembari menunjukkan ponsel Alyss, ia sudah mengambil ponsel tersebut dari Alyss saat Alyss sedang tertidur karna bius tadi.
Will pun mulai berjalan ke arah Alyss, dan berhasil menangkap tangan Alyss.
"Harus ku akui, kau membuat ku semakin tertarik." ucap Will sembari berusaha melepaskan jas dokter Alyss.
"Lepas!! Dasar Brengsek!!" ucap Alyss yang berusaha memberontak.
"Akh!" pekik Alyss saat Will membuat nya tersungkur ke lantai yang dingin di kamar tersebut.
"Tanah?" ucap Alyss lirih saat ia terjatuh dekat tanaman hias yang berada di kamar tersebut dengan menggunakan tanaman asli.
Alyss langsung mengambil tanah tersebut dalam genggamannya dan melemparkan ke arah Will, agar mata Will terkena tanah tersebut.
"Dasar Jalang!!!" umpat Will saat mata terkena lemparan tanah dari Alyss, ponsel Alyss yang ia pegang pun terlepas.
Alyss langsung mengambil ponsel tersebut dan membawa nya ke kamar mandi di kamar itu. Ia menutup dengan rapat dan mengganjal pintu tersebut dengan barang yang bisa ia geser dan ia letakkan di pintu kamar mandi tersebut.
Bruk!! Bruk!! Bruk!!
Suara yang terus terdengar dari balik pintu tersebut, Will sedang berusaha mendobrak pintu kamar mandi tersebut dari luar.
Tubuh Alyss semakin gemetar, ia berusaha membuka layar ponsel nya.
Alyss pun terkejut saat Hazel tiba-tiba menelpon nya, dengan cepat Alyss mengangkat panggilan tersebut.
"Tolong aku!! Kumohon cepat kesini!! Tolong aku..." ucap Alyss dengan suara gemetar yang bercampur dengan tangis nya saat telpon nya tersambung dengan Hazel.
"Halo! Halo!" panggil Alyss saat ia melihat layar ponsel nya yang sudah mati, entah karna baterai nya yang habis atau karna ponsel nya yang rusak karna terbanting sebelumnya.
Alyss semakin panik, takut dan gemetar saat pintu kamar mandi tersebut mulai rusak dan sebentar lagi akan terbuka.
......................
Sementara itu.....
Hazel yang langsung khawatir dan panik ketika mendengar suara Alyss yang sedang ketakutan meminta tolong padanya.
Hazel langsung memeriksa Gps ponsel Alyss, dan ia semakin panik saat melihat ponsel Alyss yang berada di kediaman Will.
"Siapkan semua pengawal terbaik kita, dan helikopter ku! Aku harus menjemput Alyss sekarang juga." ucap Hazel pada Rian.
Saat itu Hazel sedang tak berada di RS, dan berada di sebuah mall terbesar karna pertemuan bisnis nya, ia berada di tempat yanv memiliki jarak cukup jauh dari kediaman Will. Maka dari itu ia memilih menggunakan helikopter nya agar lebih cepat mendatangi Alyss dan menyelamatkannya.
Saat itu ia pun menelpon Alyss karna ingin mendengar suara Alyss.
Tak berapa lama helikopter Hazel sudah datang dan mendarat diatas gedung mall tersebut.
Kecemasan dan kekhawatiran sedang memenuhi dirinya saat itu.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Maaf yah kalo ini tuh panjang banget bab nya, karna ini sebenernya untuk 2 eps, karna sebelumnya othor mau doble up, tapi othor gabungin karna biar sekali review ajj, ga dua kali wkwk😅
Oh iya othor buat dobble up gini, eh maksudnya buat bab yang panjang banget gini karna sabtu sama minggu othor ga up yah, mau ngerjain tugas yang othor tumpuk selama seminggu wkwk🤣 (Kalo cepet selesai othor bakal up di lagi di hari minggu, klo belum paksa up nya di hari senin😭)
Menurut kalian Hazel berhasil gak nyelamatin Alyss sebelum diapa-apain sama Will?
Jangan lupa dukung othor dengan like, komen, rate 5, fav, vote dan dukungan lain yah🥰🥰🥰
Happy Reading❤️❤️❤️