(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Kiss and make up



Saat Alyss hendak kembali ia ke tempat semula ia melihat banyak pengawal yang mencarinya yang awalnya hanya 4 orang kini sudah belasan orang.


"Nyonya sudah di temukan! Hentikan pencarian!" ucap salah seorang pengawal yang bersama Alyss kepada pengawal lainnya yang mencari di tempat berbeda.


Hotel.


"Dari mana kau?" tanya Hazel dengan menatap tajam ke arah Alyss saat Alyss kembali.


Sebelumnya ia meminta dari keempat pengawalnya untuk memberitau apa saja yang di lakukan Alyss dan mengirim foto, namun ke empat pengawal itu malah mengatakan Alyss hilang dan membuat Hazel marah besar.


Ia pun membuat ke empat pengawal yang sebelumnya menjaga Alyss kehilangan satu matanya dengan cara di congkel hidup-hidup tanpa bius sedikitpun. Walaupun bawahan nya yang lain yang mencongkel atas perintah dan bukan ia sendiri menggunakan tangannya.


Sekarang ia benar-benar menjadi sensitif jika berhubungan dengan Alyss, ia tak mau kehilangan Alyss lagi.


"Bertemu pria tampan..." jawab Alyss enteng sembari meletakkan tasnya.


Hazel pun semakin kesal dengan jawaban acuh tak acuh Alyss, ia pun berjalan mendekati Alyss dengan tatapan yang penuh dengan kekesalan.


"Auch!" pekik Alyss saat tiba-tiba Hazel mencengkram lengan nya dengan kuat.


"Lepas! Sakit! Kau janji tak akan menyakiti ku lagi kan?!" ucap Alyss kesal saat ia menahan cengkraman kuat Hazel di lengan nya.


"Kau tau? Aku sangat khawatir! Aku memikirkan semua hal buruk yang akan menimpa mu!" jawab Hazel dengan nada tinggi hingga membuat Alyss tersentak dan terdiam.


Hening...


Setelah Hazel membentak nya tak ada suara apapun di ruangan kamar suite itu. Alyss menatap iris Hazel yang juga menatap nya.


Hazel masih mencengkram kuat lengan nya hingga ia tak bisa melepaskan nya. Alyss pun perlahan semakin mendekat, ia mulai berjinjit dan menarik pakaian Hazel sedikit kebawah, dan...


Cup...


Alyss mencium lembut bibir Hazel, m*l*mat nya dengan ringan dan membuat amarah pria itu perlahan reda, perlahan Hazel melepaskan cengkraman tangan nya di lengan Alyss, ia pun mulai menikmati bibir lembut yang sedang m*l*mat halus bibirnya.


Tangan nya yang tadi nya mencengkram kini perlahan memeluk pinggang ramping wanitanya agar membuat tubuh mereka semakin dekat dan tangan satu nya lagi menahan tengkuk kepala istrinya dan membalas l*m*tan Alyss dengan aktif.


Alyss membuka mata nya sesaat saat Hazel membalas ciuman nya dengan aktif, ia pun mulai mengalungkan kedua tangan nya ke pundak Hazel, jika saja ia tau cara meredakan amarah pria yang sedang ia cium sejak dulu mungkin ia tak akan sesering itu mendapat hukuman.


Tapi dia dulu terlalu naif dan dan tak mengerti perasaan nya sendiri, bahkan untuk menggoda atau pun merayu ia tak tau caranya nya dan bahkan tak berani melakukan nya.


Setelah beberapa saat ciuman lembut tersebut berubah menjadi ciuman panas, mereka pun mulai melepaskan nya.


"Maaf membuat mu khawatir..." ucap Alyss lirih saat ia sudah dapat mengatur nafasnya.


Hazel tak menjawab dan menatap iris Alyss dengan dalam. Ia pun perlahan memeluk tubuh kecil Alyss dan mengelus rambut belakang kelapa istrinya.


......................


Sementara itu ditempat lain.


"Sial! Seharusnya aku tadi langsung membunuh nya!" ucap Dave kesal pada dirinya sendiri karna tak dapat membunuh Alyss langsung.


Ia bahkan tak tau kenapa tak bisa membunuh Alyss secara langsung padahal begitu banyak kesempatan yang datang padanya, ia memang tak pernah berinteraksi secara langsung dengan Alyss. Ia hanya mencari tau tentang Alyss karna Hazel terlihat begitu mencintai wanitanya.


"Aku akan membunuh nya! Brengsek itu harus tau rasanya kehilangan!" ucap Dave pada dirinya sendiri dengan menanam kebencian yang semakin banyak di hati nya pada Hazel.


Dave pun berusaha menyusun rencana lagi agar ia bisa membunuh Alyss.


......................


Hotel.


Pukul 11.35 PM


Hazel memeluk Alyss dengan erat di dalam pelukannya.


"Hazel...


Kau sudah tidur?" tanya Alyss lirih yang terbenam di dada bidang Hazel.


"Belum, kau kenapa belum tidur?" tanya Hazel dan menundukkan kepala nya melihat ke arah Alyss.


"Bagiamana masalah mu tadi? Sudah selesai?" tanya Alyss yang tak menjawab pertanyaan Hazel.


Alyss pun tiba-tiba tertawa kecil mendengar ucapan Hazel, pria yang di hadapan nya seperti nya memiliki bakat peramal yang terpendam.


"Kau bisa membaca pikiran?" tanya Alyss bercanda.


Hazel tak menjawab dan hanya menatap Alyss.


"Pria yang berbicara dengan ku saat aku masuk ke ruangan mu secara tiba-tiba, kau tak merasa aneh dengan nya?" tanya Alyss yang mulai mengungkit tentang Dave.


"Aneh? Berbahaya maksud mu?" tanya Hazel memastikan.


Alyss pun menganggukkan kecil kepalanya mengindahkan ucapan Hazel.


"Semua yang orang berada di titik tertinggi itu tak punya teman, tak ada yang bisa di percayai, semua nya berpotensi menjadi musuh...


Hanya saja jika ada musuh yang terlihat berbahaya aku akan memangkas nya habis." jawab Hazel.


"Jadi maksud mu, kau tak mempercayai semua rekan bisnis mu?" tanya Alyss


"Hm...


Kalau aku mempercayai mereka aku bisa dikhianati, kau tau tak ada yang namanya teman dalam kelas sosial tertinggi, kami hanya membangun hubungan simbiosis yang saling menguntungkan." jawab Hazel.


"Tapi kenapa kau terlihat sangat tertarik pada nya? Kau tak benar-benar tertarik kan? Atau kau merasa dia jahat?" tanya Hazel menyelidik.


"Kalau dia berbahaya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Alyss sembari menatap wajah Hazel menunggu jawaban.


"Membunuh nya." jawab Hazel enteng.


"Hanya membunuhnya? Kau tak mau cari tau dulu? Dan bagaimana jika dia tak jahat?" tanya Alyss.


"Lalu menyiksa nya sampai dia mati? Jika tak berniat jahat maka tak akan ada kecurigaan, lagi pula jika ada kecurigaan lebih baik langsung di bunuh dari pada nanti nya semakin jadi merepotkan." jawab Hazel enteng seperti menganggap nyawa manusia seperti nyawa semut.


"Wajah pria itu tak mengingatkan mu dengan seseorang?" tanya Alyss yang semakin berusaha agar Hazel memutar memorinya lagi.


"Siapa? Aku tak merasa mirip siapapun." jawab Hazel sembari mengingat, ingatan nya tentang Aegyt semakin mengabur dan juga ia yang sangat jarang menatap Aegyt dulu membuat ingatan nya semakin tak begitu mementingkan wajah pria psikopat itu.


Yang ia ingat jelas adalah Ellie si gadis kecil yang tak lain adalah wanita yang menjadi istrinya sekarang dan semua penyiksaan yang diajarkan Aegyt dan juga di tunjukkan Aegyt padanya.


"Sudahlah...


Tak usah pikirkan lagi..." ucap Alyss yang tak mau membahas lagi tentang kejadian penculikan mereka dulu. Ia pun semakin masuk ke pelukan suaminya dan membalas pelukan erat Hazel.


"Tapi kenapa kau terus membahas tentang nya?" tanya Hazel pada Alyss yang sedang mencari posisi ternyaman dalam pelukannya.


"Karna wajahnya mirip dengan orang yang ku benci..." jawab Alyss lirih.


"Kau tak ingin melihat nya? Mau aku membunuh nya saja? Agar kau tak kesal?" tanya Hazel pada Alyss.


"Memangnya kalau aku menyuruh mu membunuh seseorang kau akan lakukan?" tanya Alyss yang sudah tenggelam di dada bidang Hazel.


"Hm...


Tentu saja, itu hal yang mudah bagi ku..." jawab Hazel, karna memang baginya membunuh seseorang itu bukan lah hal yang sulit.


Alyss pun tertawa kecil mendengar ucapan Hazel.


"Dasar psycho..." ucap Alyss lirih di tengah tawa kecilnya sebelum ia tertidur.


...****************...


Maaf yah kalo hari up nya pendek sekali, othor lagi banyak banget kerjaan soalnya🤧🤧


Harus buat laporan yang bertumpuk, karna dosen othor ngeup materi sekaligus 2 atau 3 pertemuan, dan laporan kami harus lengkap ga boleh engga biar bisa di acc🤧🤧


Besok othor usahaiin biar panjang lagi yah🤧 dan maaf kalo ga bisa balas komen kalian satu" jadi othor like ajj yah😉


Jangan lupa like, komen, rate 5, vote, fav dan dukung othor❤️❤️🥰🥰


Happy Reading❤️❤️❤️