(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Just hug



"Cla?" tanya Reno mendekat pada kekasih nya yang terlihat sangat panik ketika ia datang.


"Re-reno?" jawab Clara lirih sembari melihat ke arah pria tampan yang mendekat pada nya.


Reno mengernyitkan dahi nya melihat jas pria di tubuh kekasih nya. Ia berada di lokasi pembangunan karna memang pekerjaan nya yang bertepatan berada tak jauh dari tempat tersebut.


Ia baru saja melihat wanita yang ia sukai, namun saat Louis melepaskan ciuman nya dan melepaskan pelukan nya hingga membuat nya tak tau jika kekasih nya baru saja berciuman dengan atasan nya.


"Udara nya dingin, dia mudah sakit di udara seperti ini." ucap Louis tersenyum simpul seolah-olah mengatakan jika ia yang lebih mengenal gadis itu di bandingkan Reno sendiri.


"Tak apa, aku bisa menjaga nya sekarang. Dia bisa pakai jas ku." jawab Reno sembari melepaskan jas bos kekasih nya dan mengembalikan nya.


"Pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Reno dengan lembut pada gadis itu.


"Su-sudah..." jawab Clara gugup sembari mengusap bibir basah nya akibat ciuman yang sebelum nya di berikan pada nya.


Louis pun melirik dan tersenyum simpul saat melihat gadis itu mengusap bibir nya yang masih basah akibat ciuman agresif milik nya.


"Mau pergi dengan ku?" tanya Reno lagi pada gadis itu.


Clara pun menganggukkan kepala nya. Tinjauan survei memang sudah selesai sejak tadi, dan ia hanya perlu kembali ke hotel karna karna menginap satu malam.


Perasaan nya tentu nya takut dan was-was saat ia ingin kembali ke hotel dengan presdirnya. Walaupun ingatan saat ia di jadikan budak nafsu dan di perlakukan seperti hewan di hapus namun ingatan nya sebelum saat itu tiba tak terhapus sama sekali.


Hal itu di lakukan agar hipnotis yang di berikan padanya lebih kuat dan tak begitu menyakitinya saat kepingan memori mengerikan itu datang lagi.


"Kami pergi lebih dulu." ucap Reno dengan mata yang memandang tak suka pada Presdir yang merupakan atasan gadis nya.


Ia pun menarik tangan Clara dan membawa nya pergi, terlihat raut wajah takut dan tak nyaman dari gadis itu.


Reno pun melihat nya dan dapat menyadari dan melihat wajah gelisah gadis nya.


"Mau makan sebentar?" tanya Reno mengalihkan perhatian Clara.


Ia pun membawa gadis itu ke restoran pangsit yang di sukai nya.


"Kau suka?" tanya Reno dengan senyuman lembut di wajah nya.


"Suka!" jawab Clara dengan tersenyum cerah melihat pria yang di hadapan nya seperti nya tak melihat apapun sebelum nya



"Cla? Kau lebih suka pria yang kaya yah?" tanya Reno tiba-tiba pada gadis itu.


Deg...


Tentu saja Clara terkejut setengah mati mendengar nya, ia sangat takut jika pria itu mengetahui hubungan nya yang sudah terlalu dalam dengan presdir nya tanpa status apapun itu.


"Ti-tidak kok...


Kenapa tanya begitu sih?" jawab Clara gugup membuat Reno berfikir jika gadis itu berbohong.


"Kalah kau menginginkan pria yang kaya, aku bisa menjadi pria seperti itu untuk mu..." ucap Reno dengan penuh kesungguhan.


"Aku tuh yang penting sikap aja…


Kalau masalah kekayaan juga seperti ini sudah cukup, sederhana juga bagus...


Lagi pula pekerjaan mu juga sudah termasuk tinggi kok..." ucap Clara pada pria itu.


Reno hanya tersenyum, tatapan bos kekasih nya benar-benar mengganggu nya.


"Clara..." panggil Reno pada gadis itu.


"Hm?" jawab Clara melihat pria yang selalu perhatian pada nya.


"Aku bisa lakukan apapun untuk mu...


Tapi jangan mengkhianati ku yah..." ucap Reno yang sangat takut jika kekasih nya bermain di belakang nya dengan Presdir nya.


Insting nya sebagai pria benar-benar kuat hingga rasa khawatir nya begitu kuat juga.


Clara terdiam, terbesit rasa takut di hati nya jika ia ketahuan, walaupun semua terjadi atas bukan keinginan nya.


"Tentu saja..." jawab Clara berusaha tersenyum.


Reno pun membalas senyuman gadis itu. Kini ia sudah bertekad kembali ke keluarga yang sangat ingin ia lepaskan dan mengambil hak nya. Mencoba menjadi salah satu dari pewaris universitas swasta terbesar di negara tersebut.


Reno Larsson merupakan putra ketiga dari pemilik yayasan dan universitas swasta ternama di negara nya, tak hanya di negara tersebut universitas milik keluarga nya bahkan masuk ke universitas terbaik di dunia dan memiliki beberapa sekolah lain nya. Seperti TK, SD, SMP, dan SMA.


Namun karna konflik internal yang membuat nya jengah, menuntut dirinya untuk menolak sebagai calon pewaris dan membuat dirinya secara independen bergerak dan berusaha sendiri karna tak ingin berada di jeratan keluarga yang merumitkan.


"Aku percaya pada mu, jadi jangan merusak nya..." ucap Reno dengan penuh pengharapan sembari mengelus rambut halus gadis itu.


......................


Hotel.


"Lepas! Saya tak mau sekamar dengan anda!" ucap Clara berusaha melepaskan tangan yang tiba-tiba datang dan menyeret nya ketika ia ingin tidur di kamar yang ia pesan terpisah dengan presdir nya.


"Yasudah, kalau begitu aku saja yang tidur disini..." jawab Louis enteng pada gadis itu.


Clara pun tak bisa berkata-kata lagi dan mengambil tas nya, kemana lagi jika bukan ia yang keluar. Ia tak ingin merusak kepercayaan yang sudah di berikan kekasih nya pada dirinya.


Louis pun langsung mencegah tangan gadis itu dan menarik nya hingga membuat tubuh gadis itu terkukung oleh nya.


Ia pun semakin mengencangkan pelukan dari belakang tersebut saat Clara hendak keluar.


"Jangan coba-coba buka pintu nya! Kalau kau mau kita malam ini hanya 'sekedar tidur' tapi kalau kau mau hal lain nya, coba saja buka pintu nya dan melangkah keluar!" ancam Louis saat ia berbisik di telinga gadis itu.


Clara memejam sesaat tubuh nya membeku tak mampu bergerak atau pun membalas atasan nya. Tentu nya ia merasa takut mendengar ancaman yang baru saja di lontarkan pria tersebut di telinga nya.


Setelah merasa gadis itu tenang. Louis pun membuka pelukan nya perlahan. Ia memegang bahu gadis itu dari belakang dan memutar ke arah nya.


"Jangan lakukan apapun...


Ku mohon..." pinta Clara dengan suara bergetar pada Louis.


Pria tampan itu hanya tersenyum simpul.


"Tidak...


Aku tak akan lakukan apapun asal kau patuh pada ku..." ucap Louis dengan senyum kemenangan.


Sudah lama sekali ia ingin tidur di ranjang yang sama lagi dengan gadis manis itu.


"Ayo tidur..." ajak Louis dan menarik gadis itu ke ranjang yang berada di kamar tersebut.


Ia pun langsung mendorong tubuh gadis itu lebih dulu sebelum menjatuhkan dirinya. Clara tersentak namun belum sempat ia bangun ia pria tampan itu sudah memeluk nya lebih dahulu membuat tubuh nya terkunci.


"Lepas!" ucap Clara sembari berusaha melepaskan pelukan sesak yang di berikan pada nya. Kepala tenggelam ke dalam dada bidang pria itu membuat nya terus menggeliat berusaha melepaskan diri nya.


"Clara!" bentak Louis pada gadis itu.


Berada di atas ranjang dengan gadis yang sangat ia rindukan tubuh nya dan berpelukan erat di tambah lagi dengan gadis itu yang terus bergerak kesana kemari membuat nya hampir tak dapat menahan gejolak dalam diri nya.


Clara tersentak seketika ia membatu dan tak bergerak sedikitpun.


"Kau tak bisa diam? Hm? Kalau kau tak mau kita melakukan nya maka jangan bergerak!" gertak Louis sembari sedikit menunduk melihat gadis itu.


Tak ada balasan namun terdengar suara tangis yang sayu dari gadis yang terus menunduk tak mengangkat wajah nya itu.


"Nangis? Astaga...


Aku juga tak melakukan apapun..." ucap Louis frustasi pada gadis itu.


"A..aku bukan ja..jalang..." ucap Clara lirih di balik tangisan nya, ia tetap merasa di perlakukan sebagai wanita murahan oleh pria yang terus menghina dirinya sebelum nya.


Louis terdiam, ia ingat ia selalu menghina gadis itu saat ia sedang kesal ataupun memakai tubuh gadis malang itu.


"Iya...


Bukan...


Sudah, jangan nangis..." ucap Louis sembari kembali memeluk dan mengusap punggung gadis itu.


Walaupun ia berusaha menenangkan namun tetap tak ada satu kata maaf pun dari pria tampan itu karna ia sudah menghina berkali-kali pada sekretaris manis nya.


Tubuh Clara bergetar karna takut, selembut apapun sikap pria itu tetap membuat tubuh nya ingat akan rasa takut yang di timbulkan.


Pria yang mengambil semua pengalaman pertama nya dan merusak nya hingga ke puing terdalam di hidup nya.


......................


Mansion Dachinko.


James melihat ke arah lingkungan mansion nya yang penuh dengan anak ayam, marmut dan kucing menggemaskan.


Tak seperti kediaman mewah lagi namun sudah seperti kebun binatang.


"Kenapa banyak sekali anak ayam ini?" tanya James saat kembali pada gadis yang mengelus anak ayam menggemaskan itu.


"Iya...


Peliharaan baru..." jawab Louise dengan santai, ia meminta pengawal di mansion tersebut untuk membelikan nya semua hewan mengemaskan tersebut.


James yang memerintahkan agar menuruti semua kemauan gadis itu kecuali keluar dari mansion nya.


"Mau pegang? Halus loh..." ucap Louise dengan wajah yang cerah sembari menggenggam anak ayam tersebut.


"Kau bisa mengurus nya?" tanya James tak ingin memegang anak ayam tersebut.


"Kau tau? Dulu waktu aku kecil anak ayam yang ku pelihara selalu mati, kadang satu hari sudah mati, kadang dua hari..." ucap Louise bercerita tanpa sadar sembari tersenyum manis melihat anak ayam di tangan nya.


"Mati karna kebanyakan ku kasih makan! Dulu tuh aku kasih anak ayam nya makan satu hari setengah kilo dari makanan nya, biar cepat besar...


Eh malah mati..." jawab Louise menceritakan kebodohan masa kecil nya yang menganggap jika semakin banyak di beri makan maka besok nya akan langsung besar.


James pun tertawa mendengar keluguan gadis itu dulu.


"Lalu kau menangis?" tebak James pada gadis itu dengan senyuman di wajah nya.


"Iya! Aku nangis terus minta Mamah aku buat hidupin lagi anak ayam nya. Karna Mamah ku bilang 'Gak bisa' aku terus nangis seharian sampai Papa aku pulang kerja..." jawab Louise dengan jujur pada pria di hadapan nya.


"Benarkah?" tanya James yang tersenyum melihat gadis itu yang sedang membawa anak ayam di tempat nya.


"Aku tak suka memelihara hewan..." sambung James pada gadis itu.


"Jadi suka nya apa?" tanya Louise yang masih mengelus anak ayam nya.


"Bagaimana kalau memelihara mu saja..." jawab James sembari sedikit membungkuk agar ia bisa memiliki tinggi wajah yang sama dengan gadis yang berdiri di depan nya.


"Kan aku bukan hewan!" sanggah Louise langsung pada James dan menatap pria itu dengan tajam.


Bukan nya marah James malah tersenyum dan ingin menahan tawa nya.


"Bagaimana kalau aku menghidupi mu saja?" tanya James dengan senyuman di wajah nya sembari menggoda gadis nakal itu.


...****************...


Flashback on.


Kediaman Rai.


Cipp...


Gadis kecil yang terus menerus memberikan makanan yang masuk ke mulut anak ayam menggemaskan itu membuat anak ayam itu tak mampu lagi memakan setiap bulir makanan yang berikan pada nya secara paksa.


"Ih! Kok gak mau makan sih?! Bial cepat besal pun!" gerutu gadis itu.


Sejak ia menangkap anak ayam dan di kejar induk nya ketika keluarga nya sedang berlibur, ia selalu minta di belikan anak ayam pada ibu nya.


"Makan!" ucap Louise pada anak ayam nya yang sudah tak sanggup makan lagi.


Ia tak tau jika sikap nya dapat menyiksa hewan yang ia sayangi, 1 kilo gram makanan anak ayam itu harus di habiskan satu hari itu juga.


Membuat anak ayam nya bukan tumbuh semakin cepat namun mati semakin cepat.


"Loh? Kok pingsan sih?" ucap gadis itu yang kebingungan melihat anak ayam nya sudah tak bergerak lagi.


Ia pun langsung bangun dan mencari keberadaan sang ibu.


"Mamah!" Panggil nya menggema di seluruh ruangan dari kediaman mewah tersebut mencari keberadaan sang ibu.


"Kenapa? Sayang? Kok nangis?" tanya Alyss saat melihat putrinya berlari dengan tangis dan langsung memeluk nya.


"Anak ayam nya mati Mah...


Huhuhu..." adu Louise pada sang ibu.


"Kok bisa mati? Di remas lagi anak ayam nya?" tanya sang ibu pada putri nya, ia tau jika gadis kecil itu akan suka meremas anak ayam yang terlihat menggemaskan tersebut.


"Engga Mah...


Tadi cuma Louise kasih makan...


Huhuhu..." jawab gadis itu menggeleng sembari memberikan anak ayam yang sudah mati karna kebanyakan makan tersebut.


"Masa di kasih makan aja bisa mati sih nak?" tanya Alyss bingung.


"Gak tau huhuhu...


Tadi Louise suluh anak ayam nya habisin makanan yang Mamah beliin semalam..." jawab Louise dengan keluguan nya.


"Astaga nak...


Matilah anak ayam nya kalau di suruh makan semua..." ucap Alyss pada putri kecil nya.


Hua....


"Kan bial cepat besal Mah...


Huhuhu..."


Tangis gadis kecil itu semakin pecah saat mendengar ucapan sang ibu.


"Mah...


Hidupin lagi Mah...


Louise mau anak ayam nya hidup lagi Mah..." rengek Louise pada sang ibu.


"Duh...


Kita beli yang baru aja yah? Yuk beli sama Mamah..." ajak Alyss yang bingung dengan permintaan sang putri kecil nya.


"Gak mau...


Mau yang ini.. Huhu..." tangis gadis itu semakin menjadi.


Ia duduk di lantai dan menangis sesuai anak kecil seumuran diri nya, Alyss semakin bingung tak bisa menghentikan tangis putri nya yang meminta agar anak ayam peliharaan nya hidup lagi.


Tak ada satupun yang dapat menenangkan hingga sang suami dan putra kecil nya kembali dari latihan tembak nya.


Hazel memang lebih suka mengajari putra nya berbagai macam bela diri ataupun cara mempertahan diri dibandingkan putri nya. Alasan terbesar nya bukan karna pilih kasih namun karna putri kecil yang lebih lemah membuat nya harus mengasah kakak nya lebih kuat agar bisa melindungi adik nya.


"Loh? Kenapa ini?" tanya pria tersebut pada istrinya yang sudah terlihat memijat pelipis mata nya.


"Dia minta di hidupin lagi anak ayam nya." jawab Alyss pada suami nya.


"Ih Louise cengeng!" ejek sang kakak pada adik nya, Alyss pun langsung menutup mulut putra nya karna tau jika pangeran kecil memiliki lidah yang tajam sejak dini.


"Hussh...


Makin nangis nanti..." ucap Alyss pada putra kecil nya.


"Mana anak ayam nya? Sini Papa lihat." ucap Hazel pada gadis itu.


Louise pun memberikan anak ayam yang sudah setengah penyet tersebut karna ia meremas nya saat menangis sebelum nya.


"Bisa di hidupin lagi kok ini...


Tapi besok yah..." ucap Hazel pada putri nya dan membuat gadis itu berhenti menangis dan tersenyum lebar.


"Benelan Pah?" tanya Louise senang pada sang ayah.


"Iya...


Benar..." jawab Hazel menyakinkan.


"Louise! Main sepeda yuk!" ajak Louis langsung pada adik nya.


Louise pun yang sudah mendapat iming-iming anak ayam nya hidup kembali pun langsung mengiyakan ajakan sang kakak.


"Gimana cara buat hidup lagi anak ayam nya?" tanya Alyss pada sang suami begitu melihat anak-anak si pembuat onar itu pergi ke taman belakang.


"Beli baru saja, anak ayam kan sama semua bentuk nya, dia tak akan ingat." jawab Hazel pada istrinya.


"Kenapa aku tak kepikiran..." jawab Alyss pada pria nya.


Hazel hanya tersenyum melihat wanita yang berdiri di samping nya. Ia memanggil pelayan dan menyuruh mereka mengambil anak ayam yang sudah mati tersebut.


"Yang tak bisa di beli itu anak sendiri, tapi bisa kan bisa di buat..." ucap pria tersebut dengan penuh arti.


"Iyalah masa anak sendiri di jual belikan!" jawab Alyss pada suami nya yang tak mengerti maksud sang suami.


"Yaudah, makanya kita buat anak yuk!" ajak Hazel pada istrinya.


"Buat! Buat! Gak bakal jadi anak nya!" dengus Alyss kesal pada suaminya.


"Gak jadi juga gak apa-apa, proses buat nya aku paling suka!" jawab Hazel dan membawa istrinya ke pundak tegap nya.


Merasa tubuh nya yang terangkat membuat mata Alyss membulat.


"Hazel! Masih siang!" ucap nya saat sang suami membawa nya ke kamar.


"Makanya kan bisa main sampai malam!" jawab Hazel enteng dan membawa istri nya ke kamar mereka.


"Jangan teriak-teriak nanti suara nya habis, nanti waktu main malah udah habis lagi suara nya..." sambung pria itu terkekeh.


Alyss yang mendengar ucapan sang suami pun membuat telinga nya langsung memerah begitu mendengar godaan yang sudah ia mengerti.


Flashback off


...****************...


Othor kasih bonus Flashback buat yang kangen sama Hazelyss🥰♥️


Walaupun sebenernya yang kangen tuh othor🤧🤧😭😭


Happy Reading♥️♥️♥️


Kalau ntar malam ga ada kerjaan atau kesibukan nanti othor up lagi👌