
Louis berjalan cepat begitu tau jika Clara masuk rumah sakit saat sudah menemui kekasih nya.
Ia sendiri tau jika Clara bertemu Reno karna ia yang meminta nya untuk datang menemui pria itu dan putus sebelum hari pernikahan mereka.
"Kau sudah datang? Seperti nya terlalu terburu-buru," ucap Reno yang menunggu di depan pintu kamar ruangan gadis nya.
"Minggir!" ucap Louis tak peduli dan ingin masuk.
Tap!
Tangan nya langsung mencegah pria itu untuk masuk dan menemui gadis nya.
"Bicara dengan ku," ucap Reno dan beranjak pergi agar ke tempat yang lebih sunyi dan jauh dari keramaian agar tak menimbulkan keributan.
"Aku tak butuh!" ucap Louis sembari menepis tangan pria itu dengan kasar dan ingin masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Dia hamil kan? Menurut mu itu anak milik ku? Atau milik mu?" tanya Reno menatap wajah pria di depan nya.
Louis terhenti dan menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Bagaimana kau bisa mengetahui nya? Kalian bahkan belum pernah melakukan nya, iya kan?" tanya Louis tersenyum sinis dan menatap tajam.
"Siapa yang tau? Dia juga tak mungkin bilang kami pernah melakukan nya, kan?" tanya Reno lagi sembari semakin memanasi pria di depan nya.
Ia tau anak yang berada dalam kandungan gadis itu adalah benih yang di berikan pria yang sedang menatap nya dengan sengit.
"Kau benar! Ayo bicara!" ucap Louis lebih dulu dan mencari tempat yang tidak ramai di rumah sakit tersebut.
Setelah mencari tempat yang sesuai yang tak akan menimbulkan keributan serta perhatian khalayak umum, kedua pria itu menatap satu sama lain dengan tajam.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Louis sembari menatap ke arah Reno dengan tajam.
"Kau mengikat nya dengan sesuatu kan? Apa itu? Hutang?" jawab Reno dengan pertanyaan lain.
"Kalau dia berhutang pada ku, kau mau membayar nya?" tanya Louis menyindir ke arah pria itu.
"Aku akan melunasi nya, berapapun yang dia gunakan. Setelah itu," ucap Reno menghela nafas, "Lepaskan dia."
"Kenapa aku harus melepaskan nya? Kau punya hak sampai berani menyuruhku melakukan nya?" tanya Louis dengan nada sinis menatap pria di depan nya.
"Tentu saja! Kau tak akan mau menjadi ayah untuk anak orang lain, kan?" jawab Reno dengan menatap tajam ke arah pria di depan nya.
"Tentu saja! Tapi dia mengandung anak ku! Jadi bukan urusan mu! Lagi pula menurut mu ayah serakah mu itu akan menerima dia masuk ke keluarga mu?" tanya Louis menyindir.
Bukan hal sulit bagi nya untuk tau siapa pria yang berada di depan nya dan bagaimana latar belakang asli nya.
"Aku bisa melindungi nya dari keluarga ku!" ucap Reno mengepalkan tangan nya karna pertanyaan yang di berikan bos gadis nya benar-benar menusuk nya dengan kuat.
"Oh ya?" tanya Louis dengan wajah mentertawakan pria itu dan ingin pergi.
Ia masih tetap berusaha mempercayai ucapan Clara yang mengatakan sudah tak lagi mudah baginya untuk di sentuh setelah menjadi korban pemerk*saan dan pelecehan yang dia lakukan.
"Dia sensitif di telinga! Tahi lalat kecil di dada sebelah kiri berada dekat pusaran dan dia sensitif dia suka menggunakan warna hitam atau cream!" ucap Reno tiba-tiba.
Ia hanya mengingat detail yang ia lihat di malam saat dirinya melucuti pakaian gadis itu dan hampir saja hilang kendali dan memaksa kekasih nya untuk berhubungan dengan nya.
Langkah Louis terhenti ia menoleh dan melihat ke arah pria di belakang nya, tangan nya mengepal dengan emosi yang mendidih menggelegak.
Telinga nya memanas begitu mendengar pria lain tau bagian tersembunyi dari gadis nya. Walaupun Clara mengaku tak pernah melakukan apapun namun ia juga tak pernah menceritakan kejadian detail malam itu.
Clara takut mengatakan nya karna tak ingin Reno terseret ke masalah nya. Maka dari itu ia hanya mengaku tidak pernah melakukan nya.
Buagh!
Satu pukulan keras melayang ke arah Reno dengan kuat hingga membuat nya jatuh seketika karna mendapat pukulan yang tiba-tiba.
Tak hanya di situ Louis menarik kerah baju pria itu dan memukul lagi dan lagi. Ia menduduki pria itu dan terus melayangkan kepalan tangan nya.
"Kau berani sekali?! Tutup mulut sialan mu itu!" ucap Louis dengan emosi yang tak terkontrol.
Bugh!
"Hahaha!
Kau siapa ha?! Dia bahkan bukan wanita mu! Kau yang mengambil milik orang lain!" ucap Reno sembari menarik jas pria yang sedang memukul nya membabi buta.
Bugh!
Reno sendiri tau kekuatan pria di depan nya lebih besar dari nya namun pria itu bersikap sangat emosional sehingga pukulan dan gerakan nya tak seimbang hingga bisa memberi nya cela.
"Brengsek sialan!" ucap Louis sembari menendang pria yang menduduki nya dan berusaha memukul wajah nya.
Brak!
Reno terlepas, kedua pria itu sama-sama berdiri. Lebam dan luka di wajah Reno lebih banyak karna pria yang memukul nya memang lebih kuat.
Louis sendiri sedari kecil sudah di ikutkan dengan lebih banyak ilmu bela diri oleh sang ayah guna bisa melindungi adik nya dan diri sendiri.
Hazel ingin putra nya lebih kuat karna ia tau anak-anak nya akan lebih rentan terkena korban kejahatan yang menginginkan balas dendam pada nya atau hanya sekedar meminta tebusan.
Berbeda dengan Reno yang sejak kecil hanya belajar dan belajar tanpa tau hal lain.
"Sial! Kau memukul ku!" decak Louis sembari mengusap darah di bibir nya.
Karna emosi yang tak terkendali membuat nya membuat kekuatan nya menjadi tak beraturan.
"Siapa yang kau bilang milik mu tadi?! Ha?" tanya Louis yang masih geram dan mendekat lagi.
Ia mengambil satu pot keramik bunga yang berada di dekat nya dan ingin memukul pria itu.
Namun langkah dan tangan nya terhenti lalu membuang nya ke samping hingga membuat suara gaduh yang menarik perhatian orang lain.
Prang!!!
"Kau sepertinya sudah bosan melihat matahari!" ucap Louis beranjak pergi.
Ia tau konsekuensi jika membunuh orang lain di tempat umum akan membawa begitu banyak masalah untuk nya. Maka dari itu ia berencana menyiksa perlahan pasangan yang sangat ia benci itu.
Dia bohong? Kenapa saat ingin percaya selalu seperti ini?! Aku tak akan melepaskan mu tak akan!
Louis pun pergi dengan menyusun rencana di pikiran nya.
......................
Mansion Dachinko.
Louise terbangun dengan merasa tubuh yang seakan-akan kehilangan tenaga nya walau ia tak merasa melakukan pekerjaan berat sedikit pun.
"Aku tidur? Tapi kapan?" gumam nya saat ia terbangun namun tak tau sejak kapan mulai tertidur.
"Jarum?" gumam nya lagi melihat tangan nya yang terlihat memiliki bekas tusukan jarum.
Wajah nya mengandah melihat ke arah pria yang masuk ke kamar itu dan menyapa nya.
"Sudah bangun? Tuan meminta nona untuk meminum obat ini setelah bangun." ucap Nick dengan memberikan suplemen penambah darah yang bentuk nya sudah di ubah.
"Obat? Untuk apa?" tanya Louise heran.
"Nona pingsan sebelum nya, maka dari itu tadi kami juga memberikan suntikan vitamin," ucap Nick yang tau gadis itu terus melihat ke arah tangan nya yang memiliki bekas suntikan.
"Aku tak ingat sama sekali, dan lagi kenapa kalian lancang sekali memberi ku suntikan vitamin?" tanya Louise pada pria di depan nya.
"Tuan yang memerintahkan, Nona." ucap Nick pada Louise sekali lagi.
"Kalau begitu tuan mu yang lancang! Dimana dia?" tanya Louise dan beranjak ingin bangun dari ranjang namun.
Ukh!
Pandangan nya pecah dengan kaki yang terasa lemas tak memiliki tenaga yang hampir membuat tubuh nya roboh jatuh ke bawah.
Greb!
"Anda tidak apa-apa?" tanya Nick yang langsung meraih tubuh gadis itu sebelum terjatuh.
Louise pun langsung menepis nya, ia masih kesal dengan Nick karna pria itu membuat nya mendapat hukuman dari pria jelmaan iblis itu berulang kali.
"Lepas! Kenapa jadi pura-pura baik?!" tanya Louise dengan nada ketus dan pergi keluar.
Nick diam dan tak membantu gadis itu lagi, ia melihat gadis itu yang pergi menghilang dari balik pintu.
"Sekarang aku tau kenapa tuan bisa menyukai nya..." gumam pria itu.
Louise mulai berjalan di mansion megah yang luas tersebut. Baru beberapa langkah saja ia mulai merasa lelah.
Ini seperti...
Batin gadis itu yang merasa lain dari tubuh nya ketika stamina nya menurun. Ia pun bertanya pada salah satu pelayan di mana James berada.
Setelah tau pria itu dimana ia pun lantas mendatangi nya.
James yang masih mengerjakan beberapa urusan di ruang kerja nya menatap ke arah pintu saat ia mendengar pintu tersebut di buka tanpa di ketuk.
"Kau sudah bangun? Kenapa tak istirahat?" tanya James saat melihat Louise yang berjalan mendekat ke arah nya.
"CCTV! Aku mau melihat nya." ucap Louise datar pada James.
"Kenapa?" tanya James mengernyitkan dahi nya begitu mendengar permintaan gadis di depan nya.
"Aku tak merasa sakit sebelum nya, tapi kenapa aku bisa pingsan?" tanya Louise pada pria itu.
James diam sesaat dan kemudian tersenyum simpul mendengar nya.
Dia memang bukan gadis bodoh...
Rasa tertarik dan minat nya pada Louise semakin besar begitu ia melihat gadis yang cukup jeli akan keadaan diri nya sendiri, namun ia juga sudah mempersiapkan segala kemungkinan.
"Kesini, biar ku tunjukkan..." ucap James sembari membuka tangan nya agar gadis itu duduk di pangkuan nya.
Louise pun mendekat namun tak duduk di pangkuan pria itu, ia hanya berdiri di samping kursi James guna melihat ke arah CCTV yang ia inginkan, ia merasa ada yang janggal dari tempat tersebut.
Set!
James pun langsung menarik tangan gadis nya dan menahan pinggang Louise agar tak beranjak dari pangkuan nya.
"Kau mau lihat dimana kau pingsan, kan?" tanya James pada Louise sembari mengelus kepala gadis itu dengan perlahan.
"Hm..." Louise hanya menjawab singkat dengan nada yang datar.
James pun tersenyum dan memutar di mana gadis itu kehilangan kesadaran nya.
Sedangkan saat ia bangun. Ia merasakan hal yang sama ketika darah nya sudah diambil. Louise bahkan tak ingat ia pernah memberitau jenis tipe darah nya pada pria yang sedang memangku tubuh nya.
James tersenyum melihat gadis yang terlihat bingung. Ia sendiri memang mengambil 350 ml darah gadis itu setelah ia memberikan obat bius di makanan yang akan di makan oleh Louise.
Pengambilan darah saat seseorang tak sadar memang lebih berisiko maka dari itu Louise langsung merasakan dampak yang cukup jelas. Apa lagi jumlah yang di ambil James tak sedikit dan cukup terbilang banyak untuk tubuh yang memiliki kondisi lemah tersebut.
"Sudah lihat kan?" tanya James sembari mencium leher dan mengesap aroma harum yang membuat candu dari tubuh gadis itu.
"Tapi, tetap saja seper-"
Humph!
Ucapan nya terpotong saat tiba-tiba bibir di bungkam dan di lum*t habis oleh pria itu. Louise yang sedang tak ingin berciuman itu pun berusaha mendong bahu pria yang sedang memangku nya namun James semakin menekan tengkuk gadis itu dan mengesap bibir lembut dan manis itu.
...****************...
Side Story (Flashback dari dua tahun yang lalu.)
Penerimaan wawancara sekertaris Presdir JBS grup.
Aku melihat nya begitu gugup dan menautkan jemari nya satu sama lain bahkan sebelum aku memulai pertanyaan untuk nya.
"Kau kuliah kedokteran lalu berhenti dan kuliah di ekonomi bisnis?" tanya ku pada gadis yang sangat gugup itu.
"Iya pak! Tapi saya sangat pekerja keras!" jawab nya dengan semangat membakar.
Aku terkejut sesaat ketika mendengar dia yang bicara dari nada rendah ke nada tinggi tiba-tiba lalu setelah nya memasang wajah yang bersalah.
Hampir saja aku tertawa melihat ekspresi takut nya yang seperti ingin di eksekusi mati. Tapi aku tau aku tak boleh tertawa karna paman Rian memperhatikan sikap ku dalam pemilihan sekertaris ini.
Lucu...
Melihat nya merasa gemas seperti melihat wajah adik ku.
Setelah wawancara yang melelahkan aku memilih nya sebagai sekertaris ku. Bukan karna ia lucu melainkan ia terlihat kompeten dan loyal pada perusahaan.
...
Skip.
Taman belakang JBS hospital.
Kali ini dia sudah hampir setahun bekerja dengan ku, aku merasa nyaman dan membiarkan nya tetap menjadi sekertaris ku.
Dia cukup pintar dan pekerja keras, sama seperti yang dia katakan saat wawancara kerja. Bisa mengikuti semua pekerjaan yang ku berikan dan sangat bisa di bilang handal.
Walau terkadang aku memarahi nya dan memberikan pekerjaan yang sangat banyak karna memiliki masalah pribadi dan menjadi nya kan nya sebagai bulan-bulanan amarah ku, tapi dia tetap bisa bertahan.
Dia seperti bekerja terlalu keras hingga tidur dengan kondisi duduk di bangku. Padahal matahari sedang naik meninggi namun tak membangunkan nya dengan silau.
Aku menghalangi cahaya mentari itu dengan tangan ku agar dia tak merasa silau.
Bodoh kan?
Berdiri selama 45 menit hanya untuk menghalangi cahaya yang akan menganggu tidur nya.
Cantik...
Wajah tenang nya yang tak pernah ku perhatikan entah kenapa semakin terlihat cantik.
Setelah aku kurasa cukup baginya beristirahat aku pun pergi sebelum dia terbangun.
...
Skip.
Aku menawarinya mengantar pulang karna hari sudah larut, aku tak mau sesuatu terjadi pada nya.
Tapi dia menolak dan tetap memilih untuk pulang sendiri menggunakan taksi, aku tak bisa mengatakan apapun lagi.
Entah kenapa aku tetap tak nyaman membiarkan nya kembali larut malam sampai tanpa sadar mengikuti taksi nya dan melihat nya turun di gedung apart nya.
...
Skip.
Hari ini hari yang sangat di sukai nya, setiap kali tanggal gajian dia selalu terlihat sangat senang dan gembira.
Melihat wajah senang dan senyum mengembangnya membuat perasaan ku seperti memiliki kupu-kupu yang sedang mengepak sayap nya.
Dia baik dan lembut membuat ku merasa nyaman seperti dengan adik dan ibu ku.
Perasaan nyaman yang mirip tapi juga berbeda, dan aku tak tau apa yang berbeda dari itu?
Aku aneh kan?
...
Skip.
London, pesta pertemuan bisnis.
Tubuh ku terasa aneh seperti seseorang sudah memberikan obat pada ku, hasrat ku naik meninggi menginginkan seseorang untuk ku sentuh.
Seorang wanita berusaha mendekati ku namun langsung ku tepis, aku butuh seseorang untuk ku malam ini, dan aku melihat nya...
Clara?
Aku meminta nya mengantar ku kembali ke kamar hotel milik ku dan setelah sampai aku menarik tangan nya.
Melempar nya ke ranjang dan mulai memaksanya, dia terus memberontak pada perlakuan ku, tapi hasrat ku sudah meninggi ke ubun-ubun dan aku menginginkan nya bukan wanita lain.
Dia terus memberontak dan menangis di setiap sentuhan yang ku berikan, dan aku yang bingung mengatakan akan membayar nya setelah ini.
Itu adil kan?
Tidak ada satu pun yang tak menyukai uang, dan aku akan memberinya uang setelah malam yang menjadi pengalaman baru untuk ku.
Hasrat ku terpenuhi, gadis itu tak lagi bergerak seluruh tubuh nya terlihat jelas dengan bekas kecupan dan lebam kebiruan yang ku tinggalkan.
Aku tak tau rasa nya akan semenyenangkan ini melakukan hal itu, dan ini membuat ku ingin mengikat nya untuk tetap dengan ku.
Apa yang ku butuhkan?
Dia? Atau tubuh nya?
Aku tak tau, tapi mungkin aku hanya ingin tubuh nya kan? Karna aku merasa seperti mendapat hal baru aku berusaha mengikat nya dengan kontrak yang menjebak hidup nya.
Tapi dia tak mau menandatangi nya. Dia marah pada ku padahal aku sudah memberikan nya uang sebagai kompensasi.
Uang yang sangat di sukai semua orang, tapi dia tetap marah dan ingin aku untuk meminta maaf pada nya.
Aku tak mau meminta maaf! Jika aku meminta maaf berarti aku yang kalah! Aku sudah memberi nya uang maka harus nya dia tak marah lagi kan?
Dia tetap tak mau tanda tangan kontak nya dan lebih memilih mati. Mendengar hal itu membuat ku kesal namun tak menunjukkan nya dan tetap menampilkan senyum simpul ku.
Aku mengambil pisau dan memberikan pada nya, menyuruhnya untuk mati saja. Aku tak tau kenapa dia sesedih itu padahal aku sudah memberi nya uang dengan jumlah besar.
Dan lagi walaupun aku mengambil perawan nya dia juga mengambil perjaka ku, kan? Bukan nya cukup impas? Tapi dia seperti sangat begitu takut dan benci pada ku.
Aku sama sekali tak mengerti apa yang di hati nya. Hingga aku melihat nya benar-benar mencoba bunuh diri.
Aku panik tapi berusaha tak menunjukkan nya lalu memberi tau paman Rian.
Paman mengurus masalah ini untuk ku dan membuat nya menandatangani kontrak. Aku juga sempat memukul nya karna ia berbicara seperti mengutuk adik ku.
Aku membuat nya menangis lagi...
Tapi aku senang akhirnya aku bisa mengendalikan nya dengan ancaman. Aku bisa menyentuh nya lagi.
Tubuh yang seperti ekstasi membuat ku candu dan tak tau bagaimana cara nya untuk berhenti.
Semakin berjalan nya waktu aku tau apa makanan kesukaan nya dan yang bukan kesukaan nya.
Aku juga tak tau kenapa aku bisa memperhatikan nya dan ingin mengingat nya di kepala ku.
Aku melihat nya lagi, dia ramah dan baik pada semua orang tanpa kecuali wanita atau pria.
Aku benci melihat semua pria yang mendekat pada nya seperti lalat!
Aku mulai menyentuhnya lagi, dan dia kembali memberontak serta menangis pada ku, tapi aku ingat dengan mata dan senyum nya yang ia tunjukkan ke orang lain.
Aku marah dan meniduri nya secara kasar, aku juga menghina nya. Aku ingin dia merasa tak pantas untuk siapapun dan hanya dekat dengan ku saja.
Tapi cara itu sama sekali tak berpengaruh, dia tetap ramah dan baik ke semua orang membuat ku selalu merasa takut jika seseorang akan merebut nya dari ku.
Aku semakin sering memaksa nya dan menghina nya tanpa sadar, setiap kali aku merasa tak nyaman seperti perasaan yang dapat dikatakan orang lain sebagai rasa bersalah.
Aku memberi nya uang dengan jumlah besar, karna Papah pernah bilang kalau aku bisa membeli segala nya dengan uang dan kekuasaan.
Tidak ada yang tak bisa ku selesaikan jika aku memiliki hal itu.
Hingga aku mendengar dia memiliki kekasih membuat ku hilang kontrol dan mempersiapkan rencana untuk membalas nya.
Aku menjadikan nya seperti peliharaan ku dan tempat untuk menyalurkan hasrat ku selama satu bulan penuh, aku sangat menyukai hal itu.
Dia seperti hanya untuk ku. Aku suka saat dia tetap di sisi ku walau harus mengikat kaki nya dengan rantai.
Side Story end.
...****************...
Elouis Steinfeld Rai
Clara Olivia
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Nah disitu othor ceritain dari awal perasaan si Louis nya waktu pertama kali ketemu Clara sampai eps dia nahan Clara di mansion nya.
Nah sebenernya si Louis nya itu udah tertarik dari awal dan suka banget sama Clara nya tapi dia nya ga sadar dan malah sikap nya supaya si Clara ttp sama dia malah brengsek banget🤧🤧🤧