(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Ketahuan!



Cafetaria.


Wanita cantik itu kini sedang duduk dengan menatap keluar dari dinding kaca cafe tersebut menunggu teman nya.


"Lily? Kau sudah lama?" tanya Larescha sembari duduk di kursi depan teman nya.


"Belum terlalu lama..." jawab Alyss tersenyum.


"Tumben sekali kau mengajak ku keluar, kau sedang bosan?" tanya Alyss pada teman nya.


"Iyah...


Aku mau kencan! Kita jalan-jalan kayak dulu...


Udah lama rasanya!" jawab Larescha pada teman nya.


Alyss hanya tertawa kecil melihat teman nya yang selalu bersemangat.


"Keponakan ku bagaimana? Nanti kalau ibu nya lelah malah rewel lagi..." ucap Alyss sembari menatap ke arah perut teman nya yang belum membesar karna masih menginjak minggu ke 11.


"Ihh...


Nanti tinggal bawa ketemu si kembar aja...


Gak rewel lagi kok dia..." jawab Larescha yang memang sangat suka dengan si kembar anak sahabat nya.


Bayi-bayi menggemaskan itu selalu membuat nya ingin memeluk dan mencium gemas karna sifat nya yang menyukai anak-anak tak jauh berbeda dari sahabat nya Lily!


"Malas lah...


Kalau ketemu si kembar nanti mereka nangis lagi kau buat..." ucap Alyss tertawa kecil pada teman nya yang terlihat bersemangat saat memikirkan anak-anak nya.


"Imut banget sih...


Kan gemas..." jawab Larescha berbinar.


"Tapi aku gak dapat anak kembar juga...


Tapi dapet satu pangeran!" sambung Larescha sembari mengusap perut nya.


"Jadi pangeran yang baik yah nak..." ucap Alyss sembari menunduk dan mengusap pelan perut teman nya.


"Sekarang kita mau kemana dulu?" tanya Alyss pada Larescha saat ia menatap kembali teman nya.


"Nonton!" jawab Larescha bersemangat.


"Nonton?" tanya Alyss lirih, ia tau temannya merupakan tipe penakut namun sangat suka dengan film horror.


"Iya! Film yang ini loh..." jawab Larescha sembari menunjukkan film horror terbaru yang sedang booming di banyak kalangan.


"Lagi hamil La...


Jangan lihat yang bikin terkejut La..." ucap Alyss lirih, karna walaupun sifat asli nya sudah kembali tetap saja ia takut melihat wajah seram para hantu tersebut.


"Isshh...


Mau ibu hamil loh Ly..


Masa ga mau di turutin sih?!" tanya Larescha dan langsung menarik tangan sahabat nya.


"Astaga Lala...


Nonton sama suami mu aja kenapa..." jawab Alyss frustasi mengikuti keinginan teman nya.


"Dia mau sama bibi nya gak mau sama papa nya." jawab Larescha tertawa kecil sembari menggandeng teman nya.


......................


JBS Hospital.


Setelah satu minggu yang lalu Alyss meminta untuk tak menemui dr. Jeny lagi ia benar-benar menuruti keinginan Queen nya.


Namun ia juga memiliki banyak informan lagi yang bisa memberinya semua informasi yang ia butuhkan.


"Dia benar-benar menyembunyikan sesuatu? Apapun itu aku akan menemukan nya!" ucap Hazel lirih sembari mengetukkan jemari tangan nya ke meja kerja nya.


"Ku harap ini bukan sesuatu yang besar..." gumam Hazel sembari menyandarkan kepala nya dan menatap langit-langit di ruangan kerja nya.


Ia sudah tau jika istrinya menyembunyikan sesuatu begitu juga dengan sekretaris yang merupakan tangan kanan nya sekaligus teman nya juga membantu hal itu.


Namun ia butuh waktu untuk mencari tau lebih jelas karna tak ingin melakukan sesuatu yang membuat nya menyesal lagi.


Hazel pun mulai bangun dan keluar dari ruangan nya baru saja ia keluar ia sudah melihat istrinya yang baru saja sampai dengan teman nya yang menggandeng erat lengan wanita nya.


Melihat hal itu membuat Hazel langsung memicingkan sorot mata nya dengan tajam kearah Larescha.


Membuat wanita hamil itu berangsur melepaskan tangan nya karna takut pada pria yang menjadi suami sahabat baik nya itu.


"Kau tadi mau bertemu dengan sekretaris Rian kan? Dia seperti nya sedang tak ada disini..." ucap Alyss pada teman nya.


Larescha pun mengangguk perlahan mengindahkan ucapan teman nya.


"Ly...


Suami mu nyeremin...


Lebih serem dari hantu yang kita lihat tadi..." bisik Larescha saat ia merasakan atmosfer yang berbeda dari Hazel.


"Pfftt..." bukan nya marah wanita cantik itu malah ingin tertawa mendengar ucapan temannya.


"Larescha?" panggil Rian saat melihat istrinya datang.


"Sayang..." ucap Larescha sembari berjalan memeluk suaminya dengan gemas.


Alyss hanya tersenyum dan membawa Hazel kembali memasuki ruangan nya dan meninggalkan teman nya dengan pria yang sudah menjadi suami dari teman polos nya.


"Tumben ke sini?" tanya Hazel saat istrinya menutup pintu ruangan nya.


"Iyah...


Tadi Lala katanya kangen sama suaminya jadi sekalian ku bawa saja kesini..." jawab Alyss dan menghamburkan pelukan nya pada suaminya.


"Dia saja yang rindu? Kau tidak rindu juga dengan suami mu?" tanya Hazel sembari menangkup pinggang kecil wanita nya.


"Rindu tidak yah?" jawab Alyss sembari memutar bola matanya dan tertawa kecil.


Hazel hanya tertawa kecil mendengar jawaban istrinya.


"Kalian dari mana tadi?" tanya Hazel pada istrinya.


"Kencan!" jawab Alyss semangat.


"Kencan? Tunggu dulu! Teman mu itu..." tanya Hazel langsung.


"Bukan lah! Maksud nya jalan-jalan bareng loh..." jawab Alyss tertawa melihat ekspresi kaget suaminya.


"Seperti nya kau terlalu banyak bermain hari ini." ucap Hazel sembari mengangkat tubuh wanita nya dan membawanya ke kamar istirahat.


"Mau ngapain? Masih siang!" ucap Alyss pada suaminya.


"Mau lanjut yang semalam lah...


Kan si kembar gak bisa ganggu kita..." jawab Hazel enteng dan melepaskan gendongan nya ke atas ranjang.


Pria itu tersenyum simpul dan mulai memangut bibir wanita nya.


Alyss ingin menolak ajakan suaminya, namun ia tau pria itu pasti tak akan mengindahkan ucapan nya.


Hazel mulai mengecupi tubuh polos di hadapan nya saat ia sudah melucuti semua pakaian yang ia tanggalkan.


Hummpphhh....


Pria itu mel*mat bibir tipis di hadapan nya dengan aktif ia membelit setiap inci dari bibir dan lidah wanita nya.


Ummhhh....


Desis wanita cantik itu saat ciuman nya semakin turun hingga ke bagian privasi nya. Tangan nya meremas perlahan sprei yang ditiduri nya dan mengangkat sedikit kepala nya untuk melihat suaminya yang sedang memakan dirinya.


"Ha-hazel...


Sekarang saja..." ucap Alyss lirih pada suaminya karna tak tahan dengan ransangan yang di berikan di tubuh nya secara bertubi.


"Enghh..." desis halus yang keluar dari bibir tipis itu saat suaminya memangut bibir nya dan mulai melakukan penyatuan nya.


Hari semakin larut tak terasa sudah pukul 17.30 PM.


Hazel mengelus rambut wanita nya yang tertidur lebih dulu setelah permainan panas nya, wanita itu sangat mudah lelah dan langsung jatuh tertidur.


"Ku harap kau tak menyembunyikan hal besar...


Aku takut...


Takut tak bisa mengendalikan diriku lagi..." gumam Hazel sembari mengelus dan mengecup lembut kening wanita nya.


Ia pun mulai bangun dan membersihkan dirinya, ia sengaja tak membangun wanita nya, karna ia tau istri kecil nya butuh istirahat setelah ia memainkan permainan panas nya.


......................


Pukul 07.45 Pm


Alyss mulai bangun dan membuka matanya, ia tak melihat pria yang membuatnya tidur karna kelelahan sebelum nya.


Wanita cantik itu membuang nafas nya dengan kasar dan menatap langit-langit kamar tersebut dengan tatapan kosong dan sesaat kemudian ia tertawa getir.


Berada di ruangan yang sama dengan kondisi yang sama namun kini tak membuat hati nya sakit lagi. Jika dulu ia seperti ini, ia pasti sudah memaki habis-habisan pria itu di dalam hati nya karna ia akan sangat membenci nya.


Namun kini? Rasa benci itu perlahan terkikis dan mulai berganti dengan rasa cinta.


Hazel...


Aku harus gimana?


Mata nya menatap ke arah jendela kaca yang menampilkan langit malam, wanita cantik itu tenggelam dalam lamunan nya sekali lagi.


Setelah beberapa saat ia pun mulai bangun dan membersihkan dirinya. Ia memakai pakaian wanita yang sengaja di siapkan suaminya di lemari dalam kamar itu.


Setelah memakai sweter kuning dengan riasan tipis ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar istirahat itu.


Ia juga masih tak dapat menemukan suaminya saat ia keluar dari kamar istirahat. Mata nya melihat sekeliling ke arah ruangan tersebut.


Perlahan ia mulai melangkahkan kaki nya menuju meja kerja suaminya, ia membuka satu persatu laci ke meja kerja kerja suaminya.


Sebelum nya saat ia mengantikan posisi presdir sementara ia tak begitu mengotak-atik ruangan kerja tersebut karna terlalu sibuk dengan semua pekerjaan mendesak yang harus ia lakukan sebagai presdir.


"Kotak? Kotak apa ini?" ucap Alyss lirih saat ia menemukan kotak yang berukuran seperti kotak jam.


Kotak itu di letakkan ke dalam satu laci dan di tempatkan di bagian belakang.


Wanita cantik itu mengambil kotak tersebut dan membuka nya, ia melihat satu botol kecil berisi cairan bening dengan tutup botol berwarna hitam.


Ia penasaran dan melihat dengan seksama, jika hanya cairan biasa kenapa di tempatkan seakan-akan itu istimewa?


"Apa ini? Kenapa dia meletakkan nya seperti ini?" gumam Alyss sembari melihat perlahan antara botol dan kotak nya.


"Alyss?" panggil Hazel saat ia melihat wanita nya memegang racun yang hampir ia minum saat istrinya tak kunjung sadar dulu.


Alyss pun langsung memutar kepala nya melihat ke arah suara bariton pria yang memanggilnya. Ia tak tau jika suaminya sudah masuk kedalam ruangan itu karna sibuk memikirkan apa yang berada di botol tersebut.


"Ini apa? Kenapa di letakkan di kotak seperti ini?" tanya Alyss pada suaminya saat pria itu mendekat ke arah nya.


"Bukan apa-apa." jawab Hazel dengan mata tak suka dan langsung mengambil botol berisi racun tersebut dari tangan istrinya.


"Kenapa wajah begitu? Kau marah karna aku melihat barang-barang mu?" tanya Alyss pada suaminya.


"Aku tak marah." jawab Hazel sembari menyimpan kembali kotak yang sudah di letakkan botol tersebut.


Alyss mengerutkan dahi nya menatap antara kesal dan penasaran pada suaminya.


"Lalu? Itu apa?"


"Seperti yang ku bilang...


Bukan apa-apa." jawab Hazel pada istrinya dengan menekankan kalimat kedua.


"Kau seperti menyembunyikan sesuatu? Kenapa aku tak boleh tau?" tanya Alyss dengan menatap tajam ke arah suaminya.


"Lalu bagaimana dengan kau?" jawab Hazel dengan pertanyaan lain yang membuat wanita itu menatap nya dengan bingung.


"Aku? Maksud mu?" tanya Alyss lagi.


"Kau...


Juga menyembunyikan sesuatu kan? Dan saat aku tanya jawaban mu hanya Tidak iya kan?" tanya Hazel sembari menatap lekat ke arah sorot mata istrinya yang terlihat terkejut.


Deg...


"Apa yang ku sembunyikan? Aku-"


"Jangan pura-pura bodoh...


Kau yang lebih tau apa yang kau sembunyikan. Dan aku akan mencari tau apa itu." potong Hazel pada istrinya.


"Aku tak sembunyikan apapun..." jawab Alyss lirih dan membuang tatapan matanya karna merasa sudah benar-benar terpojok.


Hazel pun membuang senyum yang tak bisa diartikan.


"Ini yang terakhir, aku akan tanya lagi...


Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Hazel sembari menyentuh dagu wanita nya.


"Aku..." jawab Alyss lirih antara takut dan ingin memberitau sekaligus.


"Tidak ada!" jawab Alyss lagi sembari menyingkirkan tangan suaminya dan membuang wajah nya.


"Kalau begitu sembunyikan terus hal itu...


Jangan sampai membuat ku tau apapun itu!" ucap Hazel sembari menatap tajam ke arah wanita itu.


"Kau tau? Kalau saja aku dulu tak pernah merasakan kehilangan mu, mungkin aku akan menggunakan cara yang sama...


Untuk membuat mu bicara..." sambung Hazel dan semakin membuat wanita itu gelisah.


"Tapi karna aku sudah tau rasanya, aku ingin tanya dengan mu dan kau tak mau memberi jawaban nya...


Tidak apa-apa...


Aku bisa cari tau sendiri, dan ku harap itu bukan lah hal yang besar, aku tak mau hilang kendali lagi..." ucap Hazel dengan menatap wanita itu yang sudah tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku tak mau menyakiti mu...


Jadi kumohon...


Jangan membuat ku sampai melakukan nya lagi..." ucap Hazel pada istrinya.


Alyss hanya terdiam ia menatap lekat ke arah prianya, kebohongan nya perlahan terbuka dan hanya tinggal menunggu waktu itu untuk semua itu terbongkar.


"Aku...


Aku tak bisa bilang sekarang..." jawab Alyss dengan suara yang sangat pelan.


"Kenapa? Kenapa tak bisa? Kau tidak percaya pada ku? Atau apa?" tanya Hazel dengan langsung mencengkram kedua lengan istrinya.


"Bukan begitu..." jawab Alyss pada suaminya.


Aku takut...


Maaf...


Aku belum bisa mengatakannya.


Hazel pun membuang senyuman namun terlihat marah pada istrinya.


"Padahal awalnya aku ingin mendengar dari mu di bandingkan orang lain..." jawab Hazel tertawa kecewa pada istrinya.


"Maaf...


Aku hanya belum siap..." jawab Alyss lirih, entah kenapa mengatakan soal penyakitnya pada suaminya sendiri membuat nya merasa gugup dan takut.


"Kalau begitu aku yang akan cari tau sendiri!" bisik Hazel dengan nada penuh penekanan pada wanita yang terlihat semakin gelisah.


Alyss pun memejamkan matanya nya sesaat melihat ke arah pria yang menjadi suaminya.


Sedetik kemudian sorot mata tajam dan wajah yang mengintimidasi itu berubah menjadi lembut dan tersenyum dengan tulus pada nya.


"Kau sudah lapar? Mau makan malam dengan ku?" tanya Hazel tersenyum lembut pada istrinya seperti tak terjadi apa-apa.


Pria roller coaster itu selalu dapat mengubah ekspresi dan emosi nya dalam sekejap.


"Aku..." jawab Alyss lirih yang bahkan menjadi menjadi bingung hanya karna pertanyaan sederhana.


"Sini...


Akan ku pesan kan makanan kesukaan mu." ucap Hazel sembari menarik kecil tangan nya dan mendudukkan nya ke sofa.


......................


4 hari kemudian.


Kediaman Hazel.


Alyss menatap kosong dari balkon kamar nya ke arah halaman dan taman di kediaman megah itu. Ucapan suaminya sudah benar-benar mempengaruhi nya.


Walaupun pria itu sudah mengetahui jika ia menyimpan sesuatu namun tetap bisa bersikap seperti biasa. Manja dan lembut pada nya.


Seperti bom waktu yang dapat meledak kapan saja, tanpa tau tanggal pastinya.


Ting...


Satu notifikasi pesan masuk kedalam ponsel nya, Alyss pun segera membuka pesan tersebut, mata nya membulat sempurna dan jantung nya serasa berdegup kencang saat ia membaca pesan tersebut.


Kita ketahuan! Dia sudah tau!


Sekarang dia menuju JBS Farmasi!


Pesan yang di kirim Rian ke ponsel Alyss.



Alysscalla Zalea



Hazel Rai



Elouis Stainfeld Rai & Elouse Stainfeld Rai


...****************...


Happy Reading♥️♥️