(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Wanna take your pain



JBS Farmasi


Setelah 5 hari Alyss pun menemui para prof terlebih dahulu sebelum menemui mereka bersama Hazel.


"Kalian sudah temukan yang cocok untuk ku?" tanya Alyss lagi.


"Kami sudah menemukan pengobatan yang cocok untuk penyakit nyonya dan untuk program kehamilan, tetapi..." jawab para prof ragu pada Alyss.


"Tapi apa?" tanya Alyss mengernyitkan dahinya.


"Kerusakan yang sudah ada tak bisa di perbaiki, seperti kerusakan di batang otak, namun kami dapat memperlambat kerusakan atau bahkan menghentikan kerusakan selama masih memakai pengobatan." jawab para prof tersebut.


Alyss terdiam beberapa saat mendengar hal tersebut.


"Lalu, sudah seberapa banyak penyakit ku menyebar?" tanya Alyss lagi.


"Sejauh ini masih kerusakan di batang otak, belum sampai mengeraskan organ penting, dan jika tak segera di tangani mungkin akan kehilangan sebagian fungsi tubuh atau mungkin dapat membuat lupa ingatan, selama menjalani pengobatan mungkin tak akan menyebabkan kerusakan lain, namun jika nyonya berhasil hamil pada trimester pertama maka semua pengobatan akan di hentikan dan di lanjutkan pada trimester kedua, dan di hentikan lagi saat sudah trimester ke tiga." jelas prof tersebut.


"Tak apa yang terpenting aku bisa hamil." ucap Alyss setelah menghela nafas dalam, ia tau keputusan untuk tetap ingin hamil memiliki konsekuensi yang sangat besar.


"Pengobatan nya mungkin akan lebih sakit sepuluh kali lipat dari kemoterapi penderita kanker, jika tubuh nyonya tidak sanggup menerima rasa sakit nya mungkin akan memberi kan efek selama beberapa minggu." jawab para prof tersebut.


"Aku sanggup, itu tak masalah." jawab Alyss lagi.


"Setiap 3 bulan sekali akan ada pemberian obat keras obat yang untuk di minum setiap harinya." ucap prof tersebut.


"Kami juga akan terus melakukan pembaruan untuk menemukan yang lebih baik lagi." ucap prof tersebut.


"Tentu saja kalian harus lakukan yang terbaik, bekerjalah sesuai gaji yang kalian dapatkan. Dan satu lagi, jangan lupa untuk memberitau Hazel jika ini terapi untuk program kehamilan. Jangan lupa ingatkan pada para dokter di JBS hospital." titah Alyss pada para prof tersebut.


Setelah dari JBS farmasi Alyss pun langsung ke JBS hospital menemui Hazel.


......................


JBS hospital.


Setelah sampai Alyss pun langsung menemui Hazel di ruangan nya, ia mengetuk beberapa kali sebelum masuk keruangan itu, padahal ia bisa saja langsung masuk tanpa mengetuk lebih dahulu.


"Masuk." ucap Hazel sembari melihat beberapa berkas yang masih berhubungan dengan terapi yang akan di jalani istrinya nanti.


"Kau masih sibuk?" ucap Alyss sembari masuk ke ruangan suaminya.


"Kenapa tak langsung masuk saja tadi?" ucap Hazel saat ia mendengar suara Alyss dan langsung melihat ke arah Alyss yang datang padanya.


"Mau memberi kejutan." ucap Alyss sembari mulai duduk di pangkuan suaminya.


Hazel hanya tersenyum dan mengelus rambut halus Alyss yang sedang duduk dipangkuan nya.


"Mereka akan melakukan nya jam 4 sore nanti, kau sungguh mau melakukan nya?" tanya Hazel lagi, karna para dokter sebelum nya sudah mengatakan mungkin terapi kehamilan yang akan di lakukan akan sakit saat di lakukan.


"Iya mau! Kau ini kenapa sih seperti tak mau punya anak saja!" ucap Alyss dengan nada kesalnya.


Cup...


"Yang aku mau sudah ku dapatkan, dan bagi ku itu sudah cukup." ucap Hazel setelah mengecup ringan bibir Alyss.


"Benarkah?" tanya Alyss tersenyum sendu, antara senang dan sedih saat mendengarkan nya.


"Sekarang aku mengantuk, bangunkan aku saat sudah jam 4 nanti." ucap Alyss sembari mulai memposisikan dirinya lebih rendah lagi di pangkuan Hazel dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.


"Iya, nanti ku bangunkan saat sudah jam 4." ucap Hazel lembut sembari semakin mendekap tubuh kecil Alyss yang ingin tidur di pangkuan nya.


"My big baby..." ucap Hazel lirih sembari mencium puncak kepala Alyss.


Alyss tak benar-benar tertidur, ia hanya mengatakan ingin tidur saja, pikiran nya masih terngiang tentang pembicaraan nya dengan para prof sebelum nya.


.....................


Ruang terapi.


Setelah jam yang di tentukan telah sampai, Alyss pun segera menuju ke ruang terapi.


"Kau tak mau pergi?" tanya Alyss pada Hazel saat Hazel masih berada di ruangan tersebut sebelum obat tersebut di masukkan ke tubuhnya.


"Tidak! Aku akan tetap disini." ucap Hazel dan tetap berdiri di tempat itu.


"Ckk, sudahlah terserah mu saja." ucap Alyss pada Hazel.


Tak lama kemudian cairan tersebut pun di masukkan ke tubuh Alyss, awalnya tak terlalu sakit namun semakin lama semakin sakit.


Tubuhnya terasa panas dingin, keringat mulai membasahi tubuhnya rasa nya seperti jutaan semut api yang menggigit tubuhnya sekaligus, semua persendiannya serasa akan terlepas dan masih banyak lagi rasa sakit yang tak bisa di definisikan oleh kata-kata.


"Kenapa dia begitu?" tanya Hazel cemas saat melihat tubuh Alyss yang mulai merintih dan meremas sprei ranjang pasien tersebut dengan kuat saat obat tersebut mulai menyebar di dalam tubuhnya.


"Mungkin, karna efek dari obat nya." jawab para prof tersebut lirih karna takut menghadapi kemarahan Hazel.


"Keluar!" ucap Hazel pada para prof tersebut.


Hazel pun berjalan mendekati Alyss yang sedang meringkuk menahan rasa sakitnya, telinga tak bisa mendengar apapun. Semua panca indra terasa mati dan hanya menyisakan satu rasa, yaitu..


Sakit....


"Sstt....


Sebentar lagi hilang yah...." ucap Hazel lirih sembari mulai menangkup tangan Alyss yang sedang meremas sprei dengan sangat kuat.


Saat Hazel menangkup tangan Alyss, Alyss pun langsung berganti meremas tangan Hazel, tanpa terasa kukunya mencakar tangan lelaki yang sedang memegang tangan nya.


"Maaf membuat mu jadi seperti ini..." ucap Hazel sembari mengelus kepala Alyss dengan tangan kirinya saat Alyss sedang mencakar kuat tangan kanan nya tanpa sadar.


Jika saja ia punya kekuatan untuk menyalurkan rasa sakit maka ia sangat ingin mengambil rasa sakit di tubuh wanita nya, agar wanita nya tak lagi kesakitan.


Ia merasa salah satu penyebab Alyss tak bisa hamil adalah karna kesalahan nya. Karna Will adalah ayahnya. Ia berpikir jika Will menculik Alyss saat itu untuk menekan nya karna tau jika Alyss adalah wanitanya.


Setelah cukup lama akhirnya Alyss kehilangan kesadaran nya karna rasa sakit yang begitu menyelimuti tubuhnya. Tangan Hazel pun penuh dengan luka cakaran dari Alyss.


Selama dua jam sebelum sebelum Alyss kehilangan kesadaran Hazel tetap berdiri di samping Alyss, ia terus membiarkan Alyss yang mencakarnya tanpa sadar sembari terus mengelus kepala Alyss dengan lembut.


......................


Pukul 06.43 AM


Pandangan nya pun terahlikan pada Hazel yang duduk di samping ranjang pasien nya dan tanpa sadar tertidur.


Alyss tersenyum sembari menyentuh lirih wajah yang sedang tertidur itu. Merasakan sentuhan Alyss membuat Hazel ikut terbangun.


"Kau sudah bangun? Masih sakit?" tanya Hazel saat ia melihat Alyss.


"Sudah tidak apa-apa, lagi pula sepertinya aku sudah tahan dengan rasa sakit seperti itu..." ucap Alyss tersenyum sembari memberikan sindiran untuk Hazel.


"Maaf...


Aku tak kan melakukan nya lagi..." ucap Hazel yang menyadari sindiran halus Alyss padanya.


"Iya, aku tau..." jawab Alyss tersenyum.


"Kau mau bangun?" tanya Hazel pada Alyss.


"Hm..." jawab Alyss dan mulai mengulurkan tangan nya, agar Hazel membantunya bangun.


Hazel menatap wajah pucat Alyss yang tersenyum ke arah nya, senyuman yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


"Alyss...


Apa kita harus punya anak?" tanya Hazel lirih, kini ia sudah tak bisa melihat wajah Alyss yang menahan sakit, setiap kali ia melihat hal tersebut, ia selalu teringat dengan wajah Alyss yang terakhir kali ia menyiksanya.


Bayangan dari rasa sakit yang tergambar jelas di wajah cantik itu selalu menghantuinya, ia benar-benar tak ingin lagi hal itu terulang.


"Kenapa selalu tanya seperti itu? Hm?" tanya Alyss sembari menatap lekat wajah Hazel.


"Kau kesakitan...


Aku juga tak mau punya anak jika kau menderita seperti ini..." ucap Hazel lirih.


"Tapi aku mau...


Kau bilang kau bisa memberi apapun yang kuinginkan, iya kan? Dan sekarang aku punya keluarga yang lengkap..." ucap Alyss lagi sembari meyakinkan Hazel dan mulai menggenggam tangan kekar itu.


"Keluarga yang lengkap? Sekarang aku masih ada kan? Kita masih bersama! Apa kita saja tak cukup? Hm?" tanya Hazel lagi, ia tak mau memiliki anak jika harus melihat Alyss yang seperti itu tiap 3 bulan sekali.


"Seperti anak yang membutuhkan kedua orang tuanya agar memilki keluarga lengkap, orang tua juga butuh anak untuk memiliki keluarga yang lengkap...


Kau tau apa yang paling ku sesali sekarang? Anak ku, bukan anak kita...


Apa ini hukuman? Karna apa yang terjadi dengan anak kita dulu? Kalau saja waktu bisa diulang aku akan lakukan semua cara agar anak itu tak di gugurkan...


Aku tak kan membiarkan mu tau..." ucap Alyss dengan suara tertahan entah kenapa sekarang ia memikirkan calon anak yang di gugurkan Hazel dulu, bahkan masih berusia beberapa minggu di rahim nya.


Hazel terdiam ia tau Alyss mulai memikirkan anak yang dulu ia gugurkan karna memilih Alyss.


"Bahkan kalau waktu bisa di ulang, aku akan tetap memilih mu...


Aku tak peduli hal lain, aku hanya mau kau...


Kau saja...


Bagi ku kau itu hal yang mutlak! Harus! Kau harus ada...


Seberapa banyak kau lari aku akan tetap mengejar mu dan menemukan mu..." ucap Hazel sembari menghapus lembut air mata yang keluar dari kelopak mata Alyss.


Tapi aku tak mau kau mengejar ku...


Batin Alyss sembari memegang tangan Hazel yang sedang menghapus air matanya.


"Hazel aku mau punya anak...


Aku mau jadi ibu...


Ku mohon...


Aku bisa menahan nya, aku bisa menahan rasa sakitnya..." ucap Alyss lagi penuh pengharapan dengan mata yang menjatuhkan bulir bening yang tak terbendung di kelopak mata nya lagi.


"Anak yang mirip dengan kita...


Anak yang memiliki mata yang sama dengan mu..." sambung Alyss lagi sembari mulai memegang wajah Hazel dan menatap lekat iris Hazel.


"Aku menginginkan mu...


Kau tau itu kan?" tanya Hazel lirih sembari menatap iris Alyss dengan lekat.


"Aku tau...


Tapi kau bisa kan membiarkan ku menjalani terapinya?


Aku lebih kuat dari yang kau bayangkan..." ucap Alyss tersenyum namun dengan mata yang sangat sendu, sangat sulit baginya membujuk Hazel yang tak mau melihat nya kesakitan lagi.


Alyss benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Hazel tau tentang kondisinya, tentang terapinya yang tak hanya untuk kehamilan. Alyss benar-benar sadar sekarang jika ia pergi pria yang ada di depan nya pasti akan segera mengikutinya.


"Kita coba selama satu tahun...


Jika masih belum bisa juga kita hentikan yah..." ucap Hazel yang mulai menyetujui keinginan Alyss.


"Hmm...


Satu tahun dari sekarang, berarti masih ada 3 terapi lagi kan?" tanya Alyss berusaha memaksakan senyum nya.


Tak masalah Hazel memberi nya waktu satu tahun, Satu tahun yang seperti waktu taruhan untuknya, taruhan apakah ia akan kehilangan kehidupan nya atau memiliki kehidupan baru yang tumbuh dari dalam dirinya.


Hazel mulai memeluk tubuh Alyss perlahan, ia masih tak tau tentang kondisi sebenarnya wanita yang ia peluk sekarang, ia hanya ingin wanita itu tak lagi merasakan sakit. Bahkan jika harus ia tak memiliki anak dalam pernikahan nya, Hazel bisa menerimanya, karna baginya kiblat dari kebahagiannya adalah wanitanya.


...****************...


Duh sedih yah kalian🤧🤧


Saling suka tapi takdir jahat banget sama kalian, semoga pengobatan nya berhasil yah mbak Alyss, babang Haz semangetin terus istrinya🤧🤧


Sabar yah, dibalik kesabaran pasti akan berbuah manis kok nanti buat kalian🤧🤧


Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, vote dan dukung othor🥰🥰


Happy reading❤️❤️❤️