(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Help me!



2 minggu kemudian.


Hari demi hari semakin berjalan, James yang semakin menahan Louise dengan berbagai alasan namun masih tak membatasi agar gadis itu menghubungi sang kakak.


Gadis itu terus menghubungi kakak posesif nya karna ia masih belum dapat kembali, bukan hanya James menahan nya namun luka di tubuh nya yang juga salah satu alasan nya.


"Kau ini main di mana sih? Tempat yang di tunjukkan juga gak bisa di lacak, aku gak mau tau pokok nya dua hari lagi harus balik!" ucap Louis dari telpon pada adik nya.


"Iya... iya..." jawab Louise dan mematikan telpon nya lebih dulu, ia tau jika jadwal suntikan obat nya adalah lusa maka dari itu sang kakak nya menyuruh nya kembali.


Louise melihat ke sekeliling tempat tersebut, tempat yang seperti kastil tersembunyi di hutan jati.


"Kau tak masuk? Kenapa lama sekali di sana?" tanya James saat melihat gadis itu seperti mencari celah agar keluar sendiri.


"Kenapa terus menahan ku? Luka sudah membaik." tanya Louise dan mendekati pria itu.


"Belum! Belum baik sama sekali!" ucap James yang menggunakan segala alasan agar gadis nakal itu tetap berada di sana.


"Ckk! Aku sudah sembuh, mau ku buktikan?" decak Louise kesal dan semakin mendekatkan diri nya.


"Oh ya? Bagaimana?" tanya James menyeringai sembari memegang dagu gadis cantik yang sedang mengandah padanya.


"Lihat saja nanti..." jawab Louise tersenyum simpul sembari menyingkirkan tangan yang sedang menyentuh dagu nya.


Setelah itu gadis itu berjalan masuk ke dalam mansion nya, James semakin tersenyum melihat punggung Louise yang berlalu masuk.


Selama gadis itu mansion nya tak pernah ada kata bosan, selalu saja ada kelakuan gadis itu yang membuat nya tersenyum atau tertarik. Tak pernah menundukkan pandangan, tak pernah bersikap seperti berusaha mencari perhatian, hanya sikap ceroboh dan terbuka serta menunjukkan semua emosi yang berada di hati nya.


"Oh iya? Anak ku mana?" tanya Louise sebelum memasuki mansion tersebut.


"Anak mu?" tanya James bingung.


Baru dua minggu lebih gadis itu di mansion nya sudah mengaku punya anak.


"Ih! My cutie white...


Mana? Kok ga ada?" tanya Louise lagi setelah ia menelusuri mansion megah itu dan melihat ke hutan bagian belakang.


"Astaga...


Sejak kapan kau jadi ibu nya?" tanya James tak habis pikir bagaimana anjing serigala yang biasanya sangat ganas itu bisa jinak dan menjadi sangat manis saat bersama gadis itu.


"Sejak ku suruh mengigit mu nanti." jawab Louise enteng.


"Di hutan belakang, panggil saja tapi jangan masuk ke hutan nya." ucap James pada gadis itu.


Louise pun langsung memutar arah nya dan menatap ke pohon rindang dan jalan yang menuju masuk membelah deretan pohon rimbun.


Semakin ia di larang rasa penasaran nya semakin menjadi dan semakin besar, kaki nya mulai masuk beberapa langkah ke dalam namun tangan nya langsung tercekal.


"Mau kemana? Sudah ku bilang tak boleh kan?" ucap James dengan tatapan tajam pada gadis itu dan mencengkram kuat pergelangan tangan nya.


"Ma-mau panggil White kok! White? My Cutie...." panggil Louise dengan refleks memanggil anjing serigala yang besar tersebut.


Setelah 2 haru sadar ia tak bisa kembali sama sekali dan mulai menanyakan banyak hal termasuk apakah pria tampan itu memelihara hewan atau tidak.


Dan jawaban adalah pria itu yang memelihara beberapa anjing serigala, salah satu nya White yang menjadi kesayangan nya dan anjing lain yang ia pelihara untuk memakan tubuh yang sudah diambil organ nya.


Anjing pemakan mayat para korban itu berada di hutan berserta semua sandra yang akan di jual atau di ambil organ nya, maka dari itu James melarang gadis itu untuk ke sana.



White pun datang berjalan ke arah gadis itu, Louise yang sebelum nya mulai mendekati anjing itu karna ia memang suka semua jenis hewan yang memiliki rasa imut didalam nya.


Hanya dalam 8 hari ia membuat anjing serigala putih itu menyukai nya.


"Uch! White kesayangan mommy..." ucap Louise sembari memeluk anjing serigala besar itu.


"Kau ini sadar tidak sih kalau sedang di culik?" tanya James heran melihat gadis itu yang selalu membawa semua nya mudah dan tak pernah terlihat memiliki beban sama sekali.


......................


Mansion Louis.


Sudah dua minggu lebih di jadikan budak nafsu oleh pria tampan itu mengikis mental nya perlahan.


Kini gadis itu seperti boneka hidup yang seperti diatur ulang dan di format sesuai keinginan tuan nya.


Mata nya selalu melihat ke rantai yang membelenggu kaki kanan nya yang sudah terlihat terluka. Tangan nya terus memegang ke kalung kucing yang berada di leher nya.


Ia ingat pernah melepaskan nya sekali dan saat itu bertepatan dengan Louis yang kembali juga membuat pria tampan itu melihat jika kalung ia pasangkan di lepas.


Gadis itu mendapat hukuman yang tak sesuai dengan sikap nya, ia bahkan tak bisa bangun-lk dari ranjang nya karna pria itu.


"Kaki mu sakit? Hm?" suara bariton pria mendekati gadis yang selalu terduduk melihat ke arah rantai di kaki kanan nya.


Tak ada jawaban dari gadis itu bahkan saat Louis memeriksa dan melepaskan rantai nya sementara.


"Aku bisa lepaskan rantai nya, tapi jangan mencoba kabur..." ucap Louis lagi sembari menatap gadis itu, ia mulai merasa iba namun takut jika gadis itu pergi.


Tangan nya membawa bungkusan yang lain.


"Ini pangsit gurita kesukaan mu, aku juga membeli nya di tempat langganan mu..." sambung Louis pada gadis itu. Agar Clara setidak nya makan lebih banyak.


"Aku mau pulang...


Lepaskan aku..." ucap gadis itu lirih sembari meraih tangan kekar pria yang di hadapan nya.


"Sudah ku bilang kau-"


"Aku salah! Aku jalang! Aku pelac*r! Aku murahan! Aku...


Aku salah...


Maaf..." tangis gadis itu yang menggema dan mengakui hal yang bahkan tak pernah ia lakukan.


Louis hanya menatap gadis yang sedang menangis itu dengan tatapan dingin, ibu jarinya menghapus perlahan air mata gadis itu yang menangis segugukan.


"Ssttt...


Kenapa cengeng sih? Kaki mu sakit? Yasudah aku lepas rantai nya selama dua hari...


Sudah jangan berhentilah menangis..." ucap Louis yang berfikir gadis itu sangat ingin keluar karna kaki nya terluka akibat rantai.


"Mau pulang...


Biarkan aku pulang..." tangis Clara memohon pada pria di hadapan nya.


Louis pun menepis tangan gadis itu dan memberikan pangsit gurita kesukaan Clara.


"Habiskan makanan mu, nanti malam kau yang bergerak di atas!" titah Louis telak dan menuju kamar mandi guna membersihkan diri nya.


...


Malam sunyi dengan ruangan yang memiliki AC dingin namun tak mampu memberikan hawa dingin di kedua tubuh wanita dan pria yang sedang berkeringat tersebut.


Sekali lagi Louis memberikan obat pada gadis itu agar, tubuh gadis itu bisa bergerak sesuai mau nya. Namun kali ini ia memberi dosis penuh agar semakin mudah mengendalikan tubuh gadis itu.


Hah...hah...hah...


"A-aku tidak kuat bergerak lagi..." ucap Clara saat ia duduk diatas tubuh kekar pria tersebut sembari menjatuhkan kepala nya ke pundak bidang yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang setelah ia mencapai puncak nya.


"Lalu kau mau aku yang bergerak? Hm?" bisik Louis yang masih belum puas sama sekali.


"Jangan...


Sakit...


A-aku mau istirahat du- Ukh!"


Louis yang langsung membalik tubuh gadis itu dan mendominasi nya lagi, tak peduli jika gadis siap atau tidak ia kembali menghujani tubuh gadis malang.


Clara merasakan sakit, perih, ngilu dan bercampur rasa geli di bagian inti nya saat pria itu kembali memaksa tubuh nya menerima semua guncangan kasar tersebut.


Obat yang semakin bereaksi namun tetap tak dapat menyembunyikan rasa sakit akibat gerakan tanpa ampun pria itu.


Bibir nya sesekali mendesah kecil di bawah kungkungan pria tersebut.


"Kata nya, jangan tapi tuh bibir lain bunyi nya..." ejek Louis seperti sedang mentertawakan gadis itu.


Clara hanya memalingkan wajah nya dan berusaha mengigit bibir nya agar suara nya tak lagi keluar, obat yang di berikan pria tersebut benar-benar memiliki reaksi yang kuat di tubuh nya.


Setelah beberapa saat dan Louis yang sudah mengeluarkan semua vanila nya kedalam tubuh gadis itu, ia pun mulai berbisik.


"Jangan pingsan lagi malam ini...


Aku masih belum selesai..." bisik Louis saat mata gadis itu semakin sayu tak berdaya di dalam kungkungan nya.


......................


Mansion Dachinko.


Louise melihat ke arah pria tampan itu sembari menyembunyikan garpu di balik punggung nya setelah makan malam nya.


"Kenapa melihat ku lagi? Anak mu di taman itu." ucap James sembari melihat ke arah gadis yang berjalan mendekat ke arah nya.


Louise hanya tersenyum dan menancapkan garpu nya dengan kuat di dada kiri pria tersebut saat mereka sudah saling berhadapan.


Cairan merah kental mulai mengalir keluar menembus pakaian pria tersebut.


"Apa yang kau lakukan?" tanya James terkejut dan merasakan sakit di tubuh nya.


"Aku sudah membaik kan? Nih buktinya bisa membalas mu..." jawab Louise dengan senyum tanpa dosa pada pria itu sembari mencabut garpu nya.


Yang kau lakukan kemarin itu lebih sakit, dan karna aku wanita yang bertanggung jawab jadi aku akan mengobati nya juga..." sambung Louise dan menarik tangan pria yang sudah menatap nya dengan sangat tajam.


Ia mendudukkan pria tersebut di sofa dan meminta bahan yang ia butuhkan untuk mengobati pria tersebut pada pelayan.


"Sekarang buka baju mu..." ucap Louise sembari menyiapkan antiseptik dan perban.


"Kenapa lama? Sini ku bantuin..." ucap Louise lagi sembari menarik kaus yang di kenakan pria tampan itu.


"Kau seperti nya semakin berani pada ku? Hm?" tanya James dengan emosi pada gadis yang sedang mengobati luka nya.


Plak!


"Jangan ribut! Nanti makin sakit!" ucap Louise sembari memukul ke arah luka saat sudah di perban.


James pun terperanjat sebentar namun tak mengeluarkan suara ringisan nya sama sekali. Ia semakin memandang setajam elang ke gadis tersebut hingga...


Cup...


"Boleh pulang yah...


Kalau boleh pulang pasti wajah mu semakin tampan..." bujuk gadis itu dengan manja setelah ia mencium ke arah luka yang di perban tersebut.


Ia memegang lengan berotot tersebut sembari memasang wajah imut nya mengandah pada James.


Apa ini? Kenapa dia tidak ada reaksi? Masih salah yah cara merayu nya? Astaga malu nya!


Gadis itu semakin canggung di senyum nya karna melihat James yang tercengang dengan sikap manis nya.


Hummppphhh....


Sedetik kemudian pria itu langsung mel*mat habis bibir nya yang merah muda tersebut. Entah kenapa kali ini James merasa gadis nakal itu sangat imut.


Louise tak pernah bersikap manja seperti itu pada James, ia selalu bersikap sesuka hati nya dan sekarang tiba-tiba berubah menjadi menggemaskan setelah menikam pria tampan itu dengan garpu.


Louise mulai kehabisan nafas ketika James mulai memainkan lidah nya dan memakan habis ciuman dalam yang mereka lakukan.


"Hah..hah..


Mau mati rasanya..." keluh Louise dengan nafas yang terengah-engah saat pria itu melepaskan ciuman dalam nya.


"Berapa banyak kejutan yang aku tak tau dari mu? Hm?" tanya James berbisik sembari mengecup telinga gadis itu.


Louise merasa geli saat telinga nya diciumo dan merasakan hembusan nafas hangat dengan aroma paper mint dari pria tersebut. Tak seperti sahabat nya yang beraroma manis, pria yang saat ini bersama nya beraroma menyegarkan.


"Akan lebih banyak kejutan kalau kau membiarkan ku pulang..." rayu Louise lagi pada James.


"Boleh, setelah aku puas mencium mu..." ucap James dan kembali mencium gemas bibir gadis itu dan terkadang mengigit nya.


Bukan ciuman nafsu melainkan ciuman gemas yang sesekali mengigit pipi gadis itu hingga tertarik.


"Aduh sakit...


Kalau mau makan! Jangan pipi orang yang di makan!" gerutu Louise saat pipi nya di gigit gas pria itu.


......................


3 minggu kemudian.


Hari semakin berlalu, Louise yang sudah kembali ke kediaman nya lagi walaupun sempat di marahi habis-habisan oleh sang kakak karna dua minggu tak kembali.


Gadis itu memberikan seribu alasan di bibir nya agar sang kakak tak mencurigai jika ia tinggal dengan pria dalam kurung waktu tersebut.


Sudah satu bulan penuh juga Clara hanya menjadi tawanan pemuas nafsu pemimpin JBS grup yang tak lain adalah atasan nya sendiri.


Selama satu bulan lebih itu ia semakin trauma dan melukai psikis nya semakin tajam, gadis itu mulai sering merasakan sakit di tubuh nya walaupun tak ada masalah kesehatan apapun saat Louis memeriksakan nya.


Reno yang merupakan pacar Clara pun masih tak dapat menghubungi gadis itu sama sekali, ia sudah mencoba mencari tau ke tempat kerja kekasih nya, namun pemberitahuan nya hanya sekretaris presdir sedang melakukan perjalan bisinis.


Louis juga sesekali membalas pesan Reno yang di kirim ke ponsel Clara agar tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.


"Bosan nya...


Pergi main lah!" ucap Louise dan segera ingin keluar, semenjak kepergian orang tua nya ia memang tak tahan jika terus menerus di kediaman megah itu sendirian.


Awalnya Louise ingin mengajak Zayn namun saat tau sahabat tampan nya itu sedang akan mengadakan pameran seni lukis nya, Louise tak jadi mengajak dan memilih pergi sendiri agar tak mengganggu sahabat nya.


Gadis itu menghirup hawa menyegarkan dari hamparan bunga lavender yang begitu banyak di padang lavender tersebut.


"Nanti balik ke rumah utama atau ke mansion Louis dulu yah? Istirahat di sana dulu lah...


Nanti pas balik minta pengawal nya yang anterin..." ucap Louise saat ia sudah selesai menyegarkan pikiran nya.


Mansion sang kakak dengan padang lavender tersebut tak berjarak jauh, gadis itu berpikir ingin sejenak beristirahat di sana, Louis bahkan tak tau adik nya saat ini sedang pergi sendirian dan menuju ke mansion tempat ia menahan sekretaris manis nya.


......................


Mansion Louis.


Gadis itu berdiri dan mulai masuk ke mansion tersebut, para pengawal awal nya tak mengizinkan nya masuk karna tau jika tuan mereka menyimpan gadis malang itu di dalam mansion nya.


"Kalian tak membiarkan aku masuk? Belum tau aku siapa?" tanya Louise pada para pengawal yang terlihat bingung.


"Kalian tau aku adik nya kan? Menurut kalian apa yang akan dia lakukan saat tau adik kesayangan nya di perlakukan tak sopan?" ancam Louise pada para pengawal kakak nya.


Para pengawal pun saling melihat, mereka semua tau jika gadis nakal nan manja itu adalah gadis kesayangan pemimpin JBS grup tersebut, adik yang selalu di perlakukan seperti tuan putri dan ratu sekaligus.


"Maafkan sikap lancang kami, nona..." ucap Para pengawal menundukkan kepala nya dan mempersilahkan gadis itu masuk.


Tak ada yang salah dari mansion tersebut hingga suara gaduh ia terdengar di telinga nya saat ia ingin menaiki tangga menuju ke kamar kakak nya.


Gadis itu pun turun lagi dan memeriksa ke arah suara yang berasal dari salah satu ruangan yang masih di lantai bawah.


"Nona? Ada apa?" tanya salah satu pelayan wanita dengan sigap saat gadis itu ingin membuka pintu dimana Clara berada di balik nya.


"Aku mendengar suara dari dalam." jawab Louise.


"Mungkin kucing nona..." ucap pelayan tersebut.


Louise mengernyitkan dahi nya, ia tau sang kakak tak suka memelihara hewan seperti dirinya.


"Minggir! Tak ada satupun pintu yang tak bisa ku masuki disini! Kalau kau mau tangan mu masih utuh, pergilah dari hadapan ku!" ucap Louise tegas, ia semakin merasa ada yang tak beres saat semua orang seperti sangat menghalangi nya saat itu.


Deg...


Ia pun mulai masuk dan betapa terkejut nya ia saat melihat wanita yang mengenakan lingerie seksi sedang duduk tertunduk di tepi ranjang sembari menarik-narik rantai yang membelenggu kaki nya yang sudah terlihat terluka tersebut.


Tubuh gadis itu terlihat penuh dengan memar, bekas kepemilikan dan gigitan di setiap sudut nya, lingerie tembus pandang yang seperti tak memakai apapun itu bahkan membuat mata gadis itu malu menatap nya.


"Kau...


Si-siapa?" tanya Louise dengan suara bergetar mendekati gadis yang tertunduk.


Clara pun melihat ke arah suara wanita yang terdengar oleh nya.


Langkah Louise terhenti saat melihat wajah gadis tersebut yang pucat dan mata yang penuh akan keputusasaan.


"Se-sekretaris Clara? A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Louise dengan bibir yang gemetar karna sangat terkejut.


Clara terkejut, ia salah menangkap maksud dan langsung turun ke lantai berlutut pada gadis itu dan menyatukan kedua tangan nya.


"Maaf....


A-aku tak mencoba kabur...


Aku tak mencoba kabur sama sekali...


A-aku hanya memegang rantai nya saja..." mohon gadis itu menangis pilu dan terus berlutut.


Ia berpikir jika Louise sedang memeriksa nya dan sangat takut jika adik atasan nya melaporkan nya kalau ia ingin kabur dan menjadi bulan-bulanan nafsu lagi nanti nya.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Louise tak mengerti sama sekali dan mencoba membangunkan gadis itu agar tak memohon di kaki nya.


"Jangan laporkan pada tuan...


Huhuhu...


Aku salah...


Maaf..." tangis Clara lagi yang terus memohon dengan tubuh gemetaran, ia sudah trauma sampai ke akar nya hingga membuat mental nya terganggu.


"Tuan? Siapa tuan mu? Mereka menahan mu? Ini mansion milik kakak ku...


A-aku bisa beri tau dia kalau kau disini..." ucap Louise sekali lagi yang berusaha berfikir jika ini semua masih bukan ulah kakak nya.


"Tu-tuan Louis..." jawab Clara lagi dengan tangis nya. Ia sudah tak tau lagi mana benar dan salah sampai benar-benar sudah menjadi mainan pria tampan itu dan memanggil nya "Tuan"


"Tolong aku...


Jangan bilang pada nya...


Kau tak kabur huhuhu...." sambung Clara dengan linangan air mata dan tubuh gemetaran mengingat semua rasa takut dan trauma nya.


Deg...


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, kaki gadis itu terasa lemas dan seketika terjatuh di lantai sama seperti Clara yang sedang berlutut.


"A-apa maksud mu? Kakak ku...


Dia...


Bukan orang seperti itu..." ucap Louise memandang kosong dengan bibir gemetar dan tanpa sadar menjatuhkan bulir bening dari mata nya.