(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Old Friend



RS JBS.


Parkiran basement, Alyss masih enggan untuk turun dari mobil. Rasanya ia benar-benar masih tak dapat menerima gosip buruk yang mulai beredar tentangnya.


"Kenapa masih belum turun?" tanya Hazel ketika melihat Alyss yang masih duduk di bangku mobil.


"Hmmm...


Kau masuk saja lebih dulu." jawab Alyss lirih, ia tak mau terlihat datang bersama Hazel.


"Tidak, kita turun bersama. Aku akan mengantar mu sampai ke departemen mu." ucap Hazel sembari mengulurkan tangan nya mengajak Alyss turun.


"A-apa? Kau mau mengantar ku sampai sana?


Tidak tidak! Aku tak mau." jawab Alyss terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Melihat Alyss yang masih tak mau turun juga dan menolak untuk ia antar membuat Hazel langsung menarik tangan Alyss.


"Eh? Le-lepas!" jawab Alyss setengah berbisik saat Hazel menyeretnya masuk ke RS dan membuat nya menjadi pusat perhatian.


Hazel pun menghentikan langkahnya dan melihat ke wajah Alyss yang terlihat panik karna semua mata memandangnya.


"Kalau tak ingin jadi pusat perhatian, maka kau harus menurut." ucap Hazel tersenyum.


"I-iya tapi lepas dulu." ucap Alyss yang berusaha melepaskan genggaman tangan Hazel di pergelangan tangannya.


"Iya, nanti ku lepas saat sudah sampai di depan departemen mu." jawab Hazel enteng dan mulai melangkahkan kaki nya lagi.


Alyss pun akhirnya tak memberontak lagi, ia tak ingin semakin menjadi pusat perhatian.


Departemen bedah umum.


"Sudahkan, kan sudah sampai, sekarang lepas." ucap Alyss pelan dan berusaha melepaskan tangan Hazel.


Para dokter serta perawat melihat ke arah Alyss sekilas, lalu memalingkan wajah mereka. Karna saat itu Hazel masih bersama dengan Alyss.


"Jadilah anak baik, dan jangan lupa untuk merindukan ku." ucap Hazel tersenyum sembari mengusap puncak kepala Alyss.


Alyss hanya diam membatu melihat sikap Hazel, ia benar-benar kehabisan kata-kata. Setelah itu Hazel pun mulai pergi ke ruangannya.


Saat melihat Hazel yang sudah pergi para perawat dan dokter yang berada disana langsung mendekati Alyss.


"Wahh...


Sepertinya presdir sangat menyukaimu."


"Sejak kapan kau jadi dokter pribadinya?"


"Sudah terima saja presdir. Walaupun sempat ada penghalang saat saat presdir di jodohkan, sekarang kan sudah tak ada penghalang lagi."


"Tak ada kekurangan darinya, wajahnya tampan dan dia sangat kaya. Kalau kau nanti menikah jangan lupa undang kami yah."


Alyss mendengar pertanyaan dan perkataan yang disebutkan oleh para dokter dan perawat yang langsung mengerubungi nya.


Dokter pribadi? Tak ada penghalang?


Ia sedikit bingung, bagaimana semua nya tiba-tiba mendukung untuk bersama Hazel? Bukankah sebelumnya beredar gosip yang tak baik tentang nya. Dan sekarang? Sekarang semua gosip itu benar-benar terbalik.


Apa ini yang di maksud dengan perkataan Hazel tadi pagi? Saat ia bilang tak akan ada gosip buruk yang beredar tentang dirinya lagi.


Entah apa yang dilakukan Hazel sampai bisa membuat opini publik menjadi berubah.


......................


Jam makan siang.


Ruang istirahat para dokter.


"Ada yang mau cake?" tanya dr. Lea sembari mengangkat kotak berisi dengan cake yang penuh dengan krim manis.


"Mau!!..." jawab para dokter lain yang berada di ruangan tersebut.


Dr. Lea pun meletakkan cake nya keatas meja yang tak jauh dari dirinya. Para dokter serta perawat lain yang berada di sana pun mulai mengambil satu persatu cake tersebut.


Cklek...


Suara pintu ruangan tersebut terbuka oleh Alyss. Alyss baru saja kembali dari pengecekan pasien-pasiennya.


"Dr. Alyss mau cake?" tawar dr. Lea ketika melihat Alyss yang baru masuk.


"Cake?" tanya Alyss memastikan.


"Iya, Nih..." jawab dr. Lea sembari menyodorkan cake yang masih tersisa.


"Ayo ambil, nanti kalo gak diambil dihabisin sama dr. Rico." ucap dr. Lea lagi.


"Enak aja, aku kan baru makan sedikit." jawab dr. Rico sambil mengunyah cake di mulutnya.


"Tapi kok cake nya ada di kiri kanan?" tanya dr. Lea sembari tertawa kecil.


"Eh? Iya yah? Hahaha." tawa dr. Rico ketika melihat kedua tangan memegang cake.


Alyss dan para dokter lain yang berada di ruangan tersebut ikut tertawa melihat perdebatan kecil antara dr. Rico dan dr. Lea.


Alyss pun mulai mengambil cake yang di berikan dr. Lea.


"Udah, jangan bertengkar lagi. Ntar jodoh loh." ucap dr. Wenda kepada dr. Lea dan dr. Rico.


"Ih! Siapa juga yang mau jodoh sama dia!" ucap dr. Lea dan dr. Rico bersamaan.


"Kan...


Tuh jawabnya bisa barengan..." timpal Alyss yang ikut menggoda kedua teman yang satu divisi dengan nya.


Para dokter yang lain pun semakin tertawa saat menggoda teman mereka yang lain.


"Ih! Kok jadi aku sih?


Dr. Alyss bagaimana pertemuan pertemuan pertama mu dengan presdir?" tanya dr. Lea tiba-tiba pada Alyss, ia ingin mengalihkan pembicaraan karna para dokter yang lain terus menggodanya.


Para dokter yang lain pun saat mendengar pertanyaan dr. Lea langsung beralih menatap Alyss dengan mata penasaran.


"Eh? A-aku? Hmmm Ba-bagaimana yah? Saat aku pertama bertemu dengan nya...


Yah waktu kita tes masuk bekerja." jawab Alyss gugup.


"Lalu bagaimana saat kalian mulai dekat?" tanya dokter lain yang mulai menggoda Alyss.


Alyss benar-benar bingung menjawab pertanyaan dari pada dokter lain yang terus menggodanya.


Mulai dekat?


Ia sendiri saja tak tau kapan, apa dia harus mengatakan jika dia melihat presdir yang sangat mereka kagumi tak seperti perkiraan mereka?


Pertemuan nya di mula ketika ia melihat Hazel membunuh seseorang lalu menculiknya setelah itu menjadikan nya pelayan, dan mengurungnya. Lalu tiba-tiba menyatakan perasaan suka dan memaksa perasaan itu padanya, lalu mulai menjerat hidupnya.


"Ayolah katakan, kenapa melamun." tanya dokter lain sembari menggoyangkan bahu Alyss ketika melihat Alyss yang mulai melamun.


"Kenapa tanya begitu? Aku tak punya hubungan apa-apa dengan presdir." jawab Alyss dengan tawa paksa.


"Ya ampun, kenapa kau mengelak terus, padahal kan dia sangat tampan, dan yang paling penting dia kan sangat kaya." ucap dr. Wenda pada Alyss.


"Serius aku ga ada hubungan apapun dengan nya." elak Alyss lagi sembari mengangkat dua jarinya yang penuh krim sisa dari cake yang ia makan barusan.


Hazel yang saat itu juga tengah istirahat makan siang pun mencari Alyss, ia mulai masuk ke ruang istirahat dokter.


Para dokter yang melihat Hazel baru saja masuk langsung terdiam dan ingin segera menyapa dan memberi hormat. Namun Hazel memberi isyarat untuk diam saja dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya kepada para dokter yang melihat nya.


Alyss yang masih tak menyadari kehadiran Hazel yang sudah dibelakang nya, sedikit bingung karna para dokter yang lain tiba-tiba terdiam.


"Kenapa kalian diam?" tanya Alyss dan mulai menurunkan tangannya.


Hazel pun langsung memeluk pinggang Alyss dari belakang dan memegang tangan nya yang yang masih belepotan dengan krim.


Sontak saja Alyss terkejut dan langsung berusaha melepaskan dirinya, ketika ia tiba-tiba di peluk oleh seseorang dari belakang.


"Sayang kenapa bilang begitu." ucap Hazel dan mengecup pipi Alyss dari belakang.


Para dokter yang lain langsung tercengang ketika melihat Hazel yang sedang memeluk dan mencium pipi Alyss.


Alyss pun langsung diam mematung ketika mendengar suara Hazel.


"Duh! Apa yang dia lakukan? Kenapa tiba-tiba memeluk ku? Dan.. dan mencium pipi ku juga di depan orang lain?" batin Alyss ketika ia menyadari yang memeluknya adalah Hazel.


Melihat Alyss yang masih diam mematung membuat Hazel semakin merekatkan pelukannya ke pinggang Alyss.


"Sepertinya kalian baru makan sesuatu?" tanya Hazel pada para dokter lain di ruangan tersebut dengan masih memeluk Alyss dari belakang.


"I-iya pak, tadi kami makan cake. Tapi sekarang sudah habis." jawab Dr. Lea gugup ketika berbicara dengan presdir RS tempat ia bekerja.


"Jika presdir mau saya akan belikan lagi." sambung dr. Rico.


"Tidak perlu, sepertinya masih ada yang bisa ku cicipi." jawab Hazel tersenyum.


Ia pun melihat sisa krim di jemari Alyss dan mulai memakan sisa krim tersebut dengan memasukkan jemari Alyss kedalam mulutnya.


Dan sekali lagi para dokter yang melihat hal tersebut kembali tercengang, tak hanya para dokter, Alyss sendiri pun berharap pingsan saja saat itu karna ia merasa sangat malu.


"Rasanya enak." jawab Hazel tersenyum ketika mengeluarkan jemari Alyss dari mulutnya.


Ia pun melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Alyss agar menghadap nya.


"Kau sedang merasa malu? Menggemaskan sekali wajahmu." ucap Hazel setengah tertawa melihat Alyss yang terus terdiam mematung.


"Jangan lupa makan siang." ucap Hazel lagi sembari mencubit kecil hidung mancung Alyss, dan keluar dari ruangan tersebut.


Ketika Hazel telah keluar para dokter yang di


ruangan tersebut langsung menggoda Alyss.


......................


Pukul 02.35 PM.


Alyss tak sempat makan siang karna sibuk menghindari para dokter yang terus saja menanyai nya tentang hubungan nya dengan Hazel.


Akhirnya saat ia mendapat waktu kosong lagi, ia memilih makan diluar untuk menghindari para dokter yang sangat berantusias menanyai tentang hubungannya.


Cafe tempat makan.


Alyss mulai memesan roti isi yang ia inginkan, ia memesan dengan dobble daging di dalamnya.


Saat Alyss sedang menunggu pesanan tiba-tiba seorang pria menyenggol lengan nya.


"Alyss kan? Si cengeng?" ucap pria tersebut pada Alyss.


Alyss pun langsung melihat ke arah pria tersebut dengan tatapan bingung, ia berusaha mengingat siapa yang sedang menyapanya.


"Cengeng? Yang selalu mengejek ku cengeng kan..." batin Alyss.


"Rendy?" ucap Alyss melihat pria tersebut.


"Hahaha Kau masih ingat." jawab Rendy.


Rendy merupakan teman sekelas Alyss waktu SD ia duduk sebangku dengan Alyss saat kelas satu dan kelas dua.


"Sudah lama sekali yah? Ini kosong?" tanya Rendy sembari menarik bangku yang di hadapan Alyss.


"Kosong." jawab Alyss dan Rendy pun langsung duduk di meja yang sama dengan Alyss.


Tak lama kemudian makanan pesanan Alyss pun datang, Rendy pun memesan menu yang sama dengan Alyss kepada pelayan yang mengantar makanan Alyss.


"Kenapa kau masih mengejek ku cengeng? Aku sama sekali tak cengeng!" ucap Alyss kesal ketika mengingat Rendy yang langsung memanggil cengeng tadi.


"Hahaha Benarkah? Kau tak ingat, selama dua tahun aku duduk dengan mu gendang telinga selalu hampir pecah kau buat." jawab Rendy dengan sedikit tertawa.


"Ka-kapan aku begitu?" tanya Alyss mengelak.


"Saat kau lupa bawa PR mu kau menangis, saat lupa bawa baju olahraga kau menangis, saat kotak bekal mu tumpah kau juga menangis, dan yang lebih parah saat kau menangis karna marah ketika kau tak bisa mengajari ku, lalu masih banyak lagi yang kau tangisi dulu. Aku jadi selalu dimarah oleh guru karna di kira mengganggu mu." jawab Rendy dengan nada mengejek.


"Kan aku masih kecil saat itu, lagi pula kenapa kau dulu bodoh sekali, perkalian saja masih tak tau sudah kelas dua, dan aku harus mengajari mu." jawab Alyss yang membela diri.


"Hahaha sudahlah nanti jika ku ejek terus kau menangis lagi." ucap Rendy tertawa.


Alyss semakin kesal ketika mendengar suara tawa Rendy. Mereka pun mulai mengobrol satu sama lain, dan terkadang tertawa bersama ketika membicarakan atau mengingat masa kecil yang lucu.


Hazel yang saat itu selesai dari pertemuan bisnis nya dan hendak kembali ke RS, namun di perjalanan ia melihat Alyss yang sedang makan dan tertawa dengan pria lain. Ia pun meminta supir menghentikan mobilnya dan mulai mengawasi Alyss


Alyss memilih meja yang dekat dengan kaca besar. Karna ia memang suka makan di tempat yang dekat jendela, namun pilihan nya kali ini malah membuat masalah pada dirinya.


"Senang sekali dia. Apa hukuman sebelumnya tak cukup." ucap Hazel geram ketika melihat Alyss yang tertawa dan tersenyum pada Rendy.



Alysscalla Zalea



Hazel Rai


...****************...


Jangan lupa Like, komen, rate 5, Vote dan Fav nya yah😉


Happy Reading🥰🥰🤗🤗


Author ucapkan terimakasih atas dukungan yang sudah kalian berikan🤗🤗🤗🤗