(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
He's Mine!



Flashback on.


Terlihat gadis yang mulai mabuk di bar sendirian, yang tak lain adalah Larescha Wajah nya menunjukkan raut sedih dengan pipi memerah karna alkohol yang ia minum.


"Kau teman dr. Alyss kan? Kau tak apa?" tanya seorang pria sembari menyentuh pundak wanita yang sedang tertunduk karna mabuknya.


Larescha pun mengandah melihat pria yang sedang berbicara padanya, pandangan nya mengabur ia tak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang sedang berbicara padanya.


"Pergi! Aku tak butuh pria! Kalian brengsek!" usir Larescha pada pria tersebut yang tak lain adalah Rian yang memperhatikan nya sedari tadi saat wanita cantik itu mulai mabuk.


"Kalau ku tinggal, kau bisa lebih bahaya lagi. Sini ku antar pulang." ajak Rian dan berusaha merangkul wanita mabuk itu.


Sedari dari Rian memperhatikan Larescha yang mulai minum, ia sebenarnya tak terlalu peduli dengan wanita yang mabuk ataupun dapat menjumpai bahaya namun karna wanita yang sedang minum tersebut termasuk kenalan dari istri atasan nya membuat nya memiliki sedikit kepedulian.


Larescha sedari tadi berusaha melepaskan rangkulan pria yang sedang berusaha membawanya keluar dari bar.


"Lepas!" teriak Larescha keras saat sudah di luar bar.


"Kenapa jahat sekali pada ku? A-aku kan sangat menyukai mu....


Kenapa minta putus? Aku kurang apa? Huhu..." racau Larescha sembari mulai menjatuhkan dirinya terduduk di depan Rian dengan menangis tersedu.


Sontak Rian langsung kalang kabut, melihat wanita di hadapan nya yang menangis tersedu dan memaki nya habis-habisan. Orang-orang yang berada di sekitar pun sontak langsung melihat ke arah mereka.


"Ssttt...


Jangan nangis, nanti dilihatin orang! Rumah mu dimana?" tanya Rian dan langsung menutup mulut Larescha dengan tangan nya agar membuat wanita itu diam.


Larescha pun berusaha melepaskan tangan kekar yang menutup rapat mulut nya.


"Tidak mau pulang...


Mau ikut dengan mu...


Kita jangan putus yah...." ucap Larescha lirih dengan tangis sembari memegang tangan pria di hadapan nya, ia melihat Rian sebagai mantan kekasih nya.


Rian pun menghela nafas nya dengan berat, jika ia tak segera membawa Larescha mereka pasti sudah menarik banyak perhatian orang sekitar karna kegaduhan yang di buat wanita mabuk itu.


45 menit kemudian.


Rian sudah membawa Larescha ke apartnya, ia meletakkan tubuh wanita mabuk ke sofa di ruang tengah nya.


"Disini ada dua kamar, kau tidur di kamar tamu." ucap Rian sembari menuju kulkasnya dan mengambil air dingin karna merasa haus mengurus satu wanita mabuk yang bergerak kesana kemari tak ada hentinya.


Larescha mengalihkan pandanganya ke sekitar ia melihat ruangan asing namun terlihat sangat bagus dengan langkah gontai ia bangun dan berjalan ke arah sofa yang memiliki dinding kaca besar di hadapan nya, memperlihatkan kota malam dari atas.


Rian yang sudah minum dan menghampiri Larescha lagi pun terkejut saat wanita mabuk itu tak ada lagi di tempat yang ia tinggal, ingin sekali rasanya ia menelpon istri atasan nya dan menyuruhnya mengambil teman mabuk nya dari rumah nya segera, tapi ia pasti juga tak akan sanggup menerima amarah dari kecemburuan atasan nya yang tak lain adalah Hazel, jika tau ia menelpon istrinya malam-malam.


"Kau disini? Mau tidur disini?" tanya Rian pada wanita yang duduk menatap ke arah dinding kaca besar di depannya.


Bukan nya menjawab Larescha malah menarik tangan Rian dengan cepat, setelah pria itu jatuh terduduk diatas sofa karna terkejut di tarik tiba-tiba wanita cantik yang sedang mabuk itu pun dengan cepat langsung naik ke pangkuan pria yang ia anggap sebagai Rendy si mantan kekasihnya.


Rian masih terdiam menatap wanita mabuk dengan wajah memerah di hadapan nya, bau alkohol tercium jelas di tubuh wanita yang mulai kehilangan akal sehat nya itu.


"Kalau aku mau tidur dengan mu kau tak akan minta putus kan? Aku janji tak akan terlalu bergantung lagi..." ucap Larescha dengan suara tertahan, ia selalu di putuskan dengan alasan yang sama yaitu terlalu bergantung dan posesif pada pasangan nya.


Ayah nya meninggal sejak ia berusia 8 tahun, maka dari itu setiap kali ia berpacaran ia tak hanya menganggap pria nya sebagai kekasih namun juga sebagai pria yang bisa melindungi dan memberinya kasih sayang tanpa batas seperti ayah nya dulu, membuatnya selalu bersikap manja dan bergantung serta posesif pada pasangan nya.


"Aku bukan pacar mu...


Jadi jangan tidur dengan ku...


Kau mabuk saat ini, jadi jangan lakukan hal yang akan kau sesali nantinya." jawab Rian sembari berusaha memindahkan Larescha dari pangkuan nya, ia tau jika wanita mabuk di depan nya melihat nya sebagai orang lain.


"Tidak mau!" tegas Larescha dan langsung m*l*mat bibir pria di hadapan nya dengan agresif.


Hummpphhh...


Rian berusaha melepaskan ciuman panas itu dan mendorong tubuh Larescha perlahan namun wanita mabuk itu malah mengalungkan tangan nya ke pundak pria yang sedang memangkunya nya menahan kepala pria tersebut.


Jujur saja sebagai pria ia juga memiliki hasrat tersendiri, ia tak ingin ciuman panas itu berlanjut dan membuat nya melakukan hal di luar keinginan nya.


Tapi berbeda dari yang dia harapkan ciuman panas dari bibir wanita di hadapan nya begitu membuatnya terasa ikut mabuk, ia pun menahan tengkuk wanita itu dan membalas setiap l*m*tan dari Larescha.


"Hah..hah..." Larescha yang mengambil nafas dalam saat ia melepaskan ciuman nya dari bibir pria di hadapan nya.


Hening...


Saling menatap satu sama lain dengan nafas yang sama-sama menderu, Larescha tak sadar karna alkohol yang sudah meluap dan menyatu dalam tubuhnya, ia tak dapat melihat dengan jelas siapa pria didepan nya, ia tau ia hanya tak ingin putus dari kekasih nya sekarang.


Tangan nya perlahan mulai membuka kancing kemeja pria yang ada di depan nya, ia melayangkan ciuman nya ke leher pria tersebut.


Rian membiarkan Larescha berbuat sesuka hatinya, ia sudah tak peduli lagi. Wanita itu sudah membuat hasrat nya bangkit, ia bisa mencium dengan jelas aroma tubuh yang bercampur dengan parfum dan alkohol membuat nya ikut mabuk.


"Kau yang memulai nya. Jadi jangan menyesal besok." ucap Rian dengan suara berat sembari mendorong perlahan tubuh wanita di depan nya yang sedang mencium lehernya dan langsung menindihnya.


Rian pun langsung melayangkan ciuman bertubi dari leher hingga turun ke dadanya. Ia membuka pakaian wanita di depan nya satu persatu-satu hingga membuat tubuh wanita itu benar-benar terlihat polos.


Walaupun dalam keadaan mabuk namun Larescha masih sedikit memiliki kesadaran untuk malu saat dirinya tak tertutup oleh apapun tangan nya mulai menutupi bagian privasi dari tubuhnya.


Rian hanya tersenyum simpul sama seperti Larescha ia pun mulai membuka pakaian nya sendiri, ia pun kembali melayangkan ciuman panas di tubuh wanita berkulit putih tersebut.


"Engghh..." Larescha yang langsung mendesis saat ia merasakan ciuman lembut di dadanya. Rian pun mulai menurunkan jemarinya dan menyentuh bagian privasi dari tubuh wanita yang sedang di bawah kungkungan nya.


Deg...


Rian menarik jarinya lagi, ia mengankat kepalanya yang sedang terbenam dan melihat wajah sayu dari wanita yang sedang di bawah kungkungan nya.


"Kau belum pernah melakukan nya?" tanya Rian mengernyitkan dahinya, ia pun langsung bangkit dari tubuh Larescha. Ia tak ingin mengambil sesuatu yang penting dari wanita itu tanpa wanita itu tau siapa yang benar-benar bersamanya saat ini.


Larescha pun langsung menahan tangan Rian, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik yang terasa aneh dan menginginkan sesuatu yang lebih.


"Ja-jangan pergi....


Mau lagi..." ucap Larescha lirih ia belum pernah melakukan hal tersebut yang membuatnya merasakan perasaan yang aneh.


Tangan kecil pun langsung menarik tengkuk pria itu dan m*l*mat nya dengan aktif, Rian pun melepasnya ciuman nya dan menatap sejenak ke wajah sayu yang memerah seperti tomat itu, benar-benar terlihat menggemaskan.


"Kau yakin tak akan menyesal? Ini pertanyaan terakhir, aku sudah tak bisa mengendalikan diriku lagi sekarang." tanya Rian dengan suara berat.


"Iyah..." jawab Larescha lirih.


"Kalau begitu panggil namaku...


Rian...


Kau harus tau dengan siapa kau saat ini..." bisik Rian dan mulai melakukan puncak aksinya.


Larescha yang masih belum sadar tiba-tiba memekik saat ia merasa sesuatu memasuki tubuhnya, terasa begitu sakit hingga membuatnya mendorong tubuh pria yang sedang menindihnya sekarang.


"He-hentikan....


Sakit...


A-aku tak mau..." ucap Larescha sayu sembari menitikkan air matanya.


Rian menghapus bulir bening yang keluar dari ujung mata wanita di yang berada di bawah kungkungan sembari mulai menggerakkan tubuhnya. Ia tak menjawab dan hanya mencium lembut bibir wanita itu untuk membuat Larescha merasa sedikit tenang.


Setelah melakukan permainan nya Rian pun mulai bangun dari tubuh Larescha. Terlihat jelas wanita itu sudah tertidur karna kelelahan, ia pun mulai menggendong tubuh Larescha ke kamar nya dan memindahkan nya perlahan ke ranjang empuk miliknya sebelum ia ikut tertidur.


......................


Dua minggu kemudian.


Alyss dan Hazel sudah kembali dari liburan ulang tahun pernikahan mereka, dan selama liburan wanita itu sangat sulit turun dari ranjang nya, kakinya seperti tak memiliki tenaga karna sudah habis-habisan dimakan oleh suaminya.


Hazel juga menyuruhnya memakai dan mencoba satu persatu semua lingerie yang di kirimkan sahabat nya itu. Setiap kali melihat istri kesayangan nya memakai lingerie minim tersebut membuat pria itu hilang kendali dan memakan wanita nya lagi dan lagi.


Kediaman Hazel.


Hazel yang sedang bersiap-siap karna akan memiliki pertemuan bisnis dengan perusahaan lain membuat Alyss ingin ikut dengan nya.


Sekarang Alyss tak lagi berkerja, entah kenapa ia merasa muak dengan bau rumah sakit, ia merasa tak pantas menjadi dokter, ia bahkan tak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Setiap harinya wanita cantik itu selalu di bayangi dengan rasa takut penyakit yang akan selalu hidup berkembang di dalam dirinya.


Seperti sedang berkompetisi siapa yang akan menang ia atau penyakitnya.


"Hazel mau ikut...." ucap Alyss manja sembari memeluk Hazel yang sedang memakai jam tangan pemberian nya.


"Nanti kau bosan lagi..." ucap Hazel sembari mengelus puncak kepala Alyss.


"Mau ikut....


Kalau kau tidak ada lebih bosan lagi..." jawab Alyss sembari menunjukkan wajah berbinar nya.


Cup....


Satu kecupan ringan mendarat di bibir tipis Alyss, siapa yang tak akan gemas melihat wanitanya yang sedang memohon dengan wajah manjanya?


"Sana ganti bajunya, aku tunggu di bawah." ucap Hazel tersenyum lembut sembari mengelus rambut Alyss perlahan.


Senyuman mulai merekah di bibir tipis Alyss, ia sangat senang ketika suaminya membiarkan nya ikut.


"Hazel, nanti kita setelah pulang dari sana ke tempat makan waktu aku kuliah dulu yah...


Kangen masakan disana." ucap Alyss tersenyum ceria sebelum masuk ke dalam ruang ganti.


Hazel hanya tersenyum, sekarang istrinya yang memegang kendali penuh atas dirinya, ia tak bisa mengatakan "Tidak" pada wanitanya kecuali permintaan yang akan membuat nya cemburu atau permintaan perpisahan.


......................


Restoran Stovulati.


Kini setelah memesan meja VIP di restoran mewah tersebut yang memiliki ruangan privat untuk para klien yang berada di kalangan atas.


Presdir Mike memperhatikan pasangan di hadapan nya, jujur saja ia tak merasa senang saat Hazel membawa istrinya. Ia ingin mengenalkan putri tunggal nya pada pria yang memiliki status tinggi tersebut.


Walaupun tau jika Presdir JBS yang ada di hadapan nya sudah menikah dan memiliki istri bahkan terlihat jelas jika pria itu sangat mencintai istrinya dari caranya memperlakukan wanitanya.


Namun pria paruh baya itu yang tak lain adalah Presdir Mike juga menyadari jika pernikahan mereka belum memiliki seorang penerus membuatnya ingin menjadikan putrinya sebagai nyonya dari JBS group.


"Saya tak tau jika istri anda juga mencampuri masalah bisnis." ucap pria paruh baya itu dengan senyuman dan menyindir halus pada Alyss.


Saat mendengar nya membuat Alyss ingin sekali membalas sindiran itu, tapi ini juga salahnya yang selalu ingin mengikuti kemanapun suaminya pergi bahkan dalam pekerjaan sekaligus.


Hazel menyunggingkan senyuman kesalnya, ia merasa tak senang saat Presdir Mike menyindir istrinya.


"Saya juga tak tau jika putri anda mengikuti kemanapun ayah nya pergi." jawab Hazel tersenyum dengan raut yang sulit diartikan.


"Dia akan menjadi penerus ku nantinya, jadi aku ingin dia belajar lebih banyak tentang bisnis ayahnya." ucap Presdir Mike membela putrinya.


"Istriku juga akan menjalankan JBS grup jika aku sedang berhalangan, dan walaupun dia tak akan menjalankan JBS grup tak ada larangan dia untuk mencampuri urusan suaminya kan?" jawab Hazel yang memberikan jawaban telak pada Presdir Mike.


"Tentu saja, kalian pasangan yang sangat serasi. Oh iya perkenalkan ini Zeevanya putri tunggal ku." ucap Presdir Mike yang langsung mengalihkan pembicaraan.


"Perkenalkan saya Zeevanya." ucap gadis cantik itu tersenyum dan mengulurkan tangan nya pada Hazel.


Hazel menatap dingin ke arah gadis itu dan melihat kearah tangan yang sedang di ulurkan padanya, rasanya enggan sekali untuk membalas salam tangan dan bersentuhan dengan wanita lain.


Apalagi ayah dari itu baru saja menyindir istrinya membuat sudah tak ingin melanjutkan pertemuan nya, namun bisnis tetaplah bisnis, ia tak bisa bersikap anak-anak dengan langsung memutuskan kerja sama begitu saja.


Alyss menyenggol lengan Hazel pelan mengisyaratkan pada suaminya untuk membalas salam tangan dari gadis yang mulai terlihat kikuk didepan nya, walaupun tak suka ia harus bersikap profesional dengan membiarkan suaminya menjalankan bisnis nya dan tak menjadi penghalang.


Dengan malas Hazel pun membalas salaman dari Zeevanya, gadis itu pun kemudian mengulurkan tangan nya pada Alyss.


Setelah berbincang beberapa saat terlihat jelas jika gadis cantik itu berusaha berulang kali untuk menarik perhatian Hazel, tentunya Alyss sangat merasakan hal itu saat suaminya berusaha di dekati wanita lain.


"Dia tak suka manis." jawab Alyss ketus saat melihat Zeevanya memberi Hazel dessert dari restoran tersebut.


"Ini tak terlalu manis. Lagi pula mungkin Presdir Hazel menyukainya." jawab Zee dengan tak menyerah.


"Aku juga tak suka yang tak terlalu manis, lagi pula istri ku sudah mengatakan aku tak akan menyukainya kan?" ucap Hazel dingin saat melihat gadis cantik itu berusaha melawan istrinya.


Alyss hanya tersenyum mengejek pada gadis cantik yang terlihat geram di hadapan nya, namun menyembunyikan nya dengan baik.


"Aku permisi ke toilet dulu yah." ucap Zee dan mulai bangun dari duduk nya.


"Aku juga." ucap Alyss dan mulai mengikuti langkah gadis cantik yang sedari tadi ingin ia tarik rambutnya karna terlihat jelas menginginkan pria nya.


Sesampainya di toilet Zee terlihat mencuci tangan nya dan merapikan make up wajahnya di depan cermin besar toilet tersebut. Alyss pun ikut disebelah Zee dan melirik ke arah gadis itu.


"Kau ingin mendekatinya?" tanya Alyss tiba-tiba di ruangan toilet yang besar dan sunyi tersebut.


"Siapa? Presdir Hazel? Tentu saja...


Siapa wanita yang tak akan menginginkan nya?" jawab Zee santai dan membuat Alyss semakin geram.


"Kalian sudah 3 tahun menikah kan? Tapi aku mendengar kau belum memiliki anak sampai sekarang. Kau tau pemilik perusahaan terbesar seperti itu membutuhkan pewaris dan kau sepertinya tak memiliki kemampuan untuk itu." sambung Zee dengan wajah mentertawakan Alyss.


Alyss semakin kesal, bahkan Hazel tak pernah menyinggung tentang anak padanya, walupun ia kehilangan dua tahun dalam pernikahan mereka tanpa ada yang tau kejadian sebenarnya namun ia memang tak memiliki anak dalam satu tahun berikutnya.


Hatinya terasa sakit, seperti mendapat sindiran keras. Namun selama dia masih hidup ia tak ingin membiarkan miliknya di rebut orang lain.


"Kau tau dia bahkan tak pernah menyinggung hal itu pada ku, dan kau pikir kau siapa berani berkata seperti itu?" ucap Alyss dengan senyuman yang sulit diartikan.


Kakinya mulai melangkah memeriksa satu persatu bilik pintu toilet, ia ingin memastikan jika hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut.


"Siapa yang tau aku akan menjadi siapa di masa depan? Atau aku bisa memanggil kakak mulai sekarang? Mungkin kita akan berbagi hal yang sama nantinya? Contohnya berbagi pria yang sama." jawab Zee dengan tak tau malu, ia ingin menekan wanita yang sedang bersamanya.


wanita yang memiliki wajah lembut namun ia tak tau sayap apa yang tersimpan di balik punggung wanita itu. Alyss hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Zee, setelah memastikan jika hanya ada mereka berdua di ruangan itu membuat melangkah ke arah pintu keluar dan menguncinya dari dalam.


"Kau tau apa konsekuensinya jika menginginkan apa yang menjadi millik ku?" tanya Alyss dengan seringai di wajahnya pada gadis di hadapan nya. Ia sudah tak dapat lagi mentoleransi kesabaran nya.


...****************...


Yang kemarin minta Flashback Rian Lala uda othor kasih yah itu🤭


Aduh si Zee salah nyari lawan nih wkwk, dikiranya si Alyss istri yang seperti


"Ku menangis.....


Membayangkan...." kagak tau dia si Alyss kayak apa wkwk😅😅😅


Hayo kira-kira mau diapain itu si Zee nya?🤔🤔


Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, vote dan dukung othor🥰🥰


Happy reading❤️❤️❤️