(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : I need you mom!



"Set a touch on you..." bisik James lirih di pada gadis itu, ia ingin menyentuh perlahan agar wanita yang ia inginkan tak mengalami serangan panik sebelum ia mendapatkan sensasinya.


Louise pun seketika panik dan berusaha melepaskan dirinya namun James malah semakin menghimpit tubuhnya hingga gadis itu semakin rapat dengan pintu yang ingin ia buka.


"Brengsek! Lepas!" ucap Louise lirih sembari tetap berusaha memasukkan kunci kamar itu dan membuka nya.


Tling....


James pun menarik tangan kecil yang berusaha membuka pintu kamar mewah dan melempar nya, ia pun dengan cepat membalik tubuh gadis cantik hingga saling menghadap nya.


"Ukh!" pekik Louise saat tangan kekar pria langsung mencekik leher nya begitu tubuh nya di balikkan.


Tangan gadis itu memukul berulang kali ke tangan James yang terus berusaha membuat nafas nya terhenti.


Pria itu tersenyum, ia melonggarkan tangan nya perlahan dan membiarkan gadis itu menghirup udara setelah wajah nya memerah akibat tercekik dari tangan kekar miliknya.


Uhuk! Uhuk!


"Sialan! Kenapa menargetkan ku?! Aku tak merasa membuat kesalahan!" ucap Louise sembari memegang leher nya yang terasa sakit.


"Luka di leher mu sepertinya sudah membaik..." ucap James tersenyum sembari memperhatikan luka yang ia buat di leher jenjang itu tempo hari saat gadis itu memasuki ruangan privat room secara acak.


"Bukan urusan mu! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!" tanya Louise sembari menepis tangan kekar pria yang ingin mengelus wajah cantik nya.


"Entahlah...


Aku juga bingung..." ucap James dengan nada santai dan semakin tersenyum menatap gadis yang benar-benar terlihat marah itu.


"Kau punya trauma kan? Kau mau menghilangkan trauma lama mu?" tanya nya lagi sembari memandang lekat wajah cantik itu.


"Aku tak punya trauma apapun! Dan aku juga tak menginginkan semua bantuan mu! Atau apapun yang ingin kau lakukan!" ucap Louise tegas pada pria di hadapan nya.


"Kau tak takut pada ku?" tanya James lagi.


"Tidak!" jawab Louise pada James dan semakin membuat pria itu tertarik.


Cktak!


"Walau seperti ini?" ucap nya lagi sembari mengeluarkan satu pistol dari balik jas nya dan langsung mengarahkan ke kepala gadis itu.


Louise terdiam beberapa saat ketika ia merasakan senjata api itu menyentuh kepalanya.


"Kau mau membunuh ku?" tanya gadis itu lagi sembari menatap erat iris pria di hadapan nya.


"Bagaimana menurut mu? Aku harus lakukan atau tidak?" tanya James tersenyum.


"Hidup dan Mati ku bukan di tangan mu! Aku yang akan memilih mau tetap hidup atau tidak!" jawab Louise dan ikut memegang pistol itu, ia melapis tangan kekar pria yang bahkan ia tak tau namanya dengan tangan kecil nya yang ikut memegang pelatuk.


"HAHAHAHAHA" tawa James menggema menjadi satu di ruangan tersebut, rasanya benar-benar menyenangkan melihat wanita yang ia inginkan memilki keberanian seperti itu.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Louise heran menatap pria yang tertawa dengan riang tersebut padahal tak ada hal yang lucu sama sekali.


"Kau benar-benar menyenangkan, karna kau tertawa aku akan membuat trauma lama hilang." ucap James sembari menurunkan pistol nya dan menarik tangan kecil gadis itu.


"Apa yang kau lakukan? Lepas!" ucap Louise berusaha memberontak dan ingin melepaskan tangan nya.


James tak menjawab dan hanya tersenyum, ia membawa gadis itu ke kamar mandi dan menghempaskan nya begitu saja ke hingga terperojok ke dinding.


"Shit! Aku mau keluar!" ucap gadis itu hampir terjatuh karna pria asing yang tak ia kenal begitu saja melempar tubuh nya.


Byur....


Seketika James langsung menyalakan shower dan menyiramnya ke tubuh gadis itu.


"Haisshh...


Apa yang kau lakukan?!" tanya Louise dan berusaha meraih shower di arahkan padanya.


"Membuat mu sadar...


Kalau disini akulah yang memberikan perintah!" ucap James santai sembari terus menguyur gadis itu dengan shower di kamar mandi nya. Ia tak peduli walaupun hari sudah malam namun tetap menyalakan air dingin dan bukan nya hangat.


"Sial! Hentikan!" ucap Louise yang tak bisa mengambil Shower tersebut dari tangan pria yang sedang bersama nya.


Jiwa lelaki pria itu mulai bangkit saat melihat tubuh gadis di hadapan nya tercetak jelas karna guyuran air yang terus ia siramkan pada gadis cantik itu. Tubuh nya mulai ikut basah saat shower yang ia pegang terus bergerak karna berebut dengan gadis cantik yang sedang bersama nya.


Sedetik kemudian ia tak bisa menahan dirinya dan mulai mencium bibir mungil di hadapan nya.


Hummpphh...


Belum selesai gadis itu mengambil nafas ia langsung di kejutkan dengan bibir pria yang bertaut di bibir nya. Tangan nya berusaha mendorong pria yang mencium nya dengan agresif.


James pun yang semula menahan tengkuk gadis dihadapan nya kini mulai beralih menahan tangan yang terus berusaha mendorong tubuh bidang nya.


Hah...hah...hah...


"Sial! Lepas! Dasar brengsek!" ucap Louise yang masih terengah-engah mengambil nafas nya saat pria di hadapan nya melepaskan ciuman dalam nya.


James hanya tersenyum sembari terus memegang erat kedua tangan yang ia tautkan dan memojokkan tubuh gadis cantik itu ke dinding.


"Sekarang kau harus ingat dengan ingatan baru mu...


Dan lupakan trauma lama mu, mengerti?" tanya pria itu lirih namun menekankan kata di setiap kalimat yang ia ucapkan.


"Sudah ku bilang aku tak punya trauma!" jawab Louise sembari terus berusaha melepaskan tangan nya yang di pegang erat oleh lelaki itu ke dinding.


"Kalau begitu kau harus ingat malam ini...


Aku akan mengajari mu satu persatu..." ucap James dan langsung menutup hidung gadis di hadapan nya.


Louise yang tak bisa bernafas pun membuka mulut nya sedikit dan di situlah James langsung menautkan ciuman nya dan membelit setiap inci mulut gadis itu dengan lidah nya. Setelah ia berhasil mel*mat bibir mungil itu langsung melepaskan bekapan tangan nya.


Gadis cantik itu membelalak dan semakin takut, semua situasi tak ada satupun yang menguntungkan nya. Tak ada yang bisa menolongnya nya saat ini.


Belum sempat gadis itu beradaptasi pada rasa takut dan situasi yang ia hadapi sekarang, ia mulai merasakan tangan pria di yang sedang mencium nya membuka kancing kemeja nya satu persatu.


Hemmpphh...


Teriak gadis itu yang terbungkam oleh ciuman panas pria di hadapan nya dan membuat nya semakin takut dan mulai gemetar saat ia merasakan rabaan halus yang menyentuh dada nya dengan lembut dan semakin lama menjadi liar.


Sakit...


Batin Louise saat tangan pria di hadapan nya sudah memainkan salah satu bagian tubuh indah yang tak bisa sembarang di sentuh itu dengan sesuka hatinya.


Hah... hah... hah...


"Hentikan..." ucap Louise dengan mata yang sayu dan tubuh yang semakin gemetar saat pria di hadapan nya melepaskan ciuman nya.


"James...


Saat kita melakukan nya kau harus menyebut nama ku...


Anggap saja itu suatu kehormatan..." bisik pria tampan itu di telinga gadis cantik di hadapan nya. Ia tak pernah membiarkan siapapun memanggil namanya secara langsung, semua wanita yang ia tiduri harus memanggil nya "Tuan"


"Bastard!!! Don't touch f*cking me!!" maki Louise dengan segala keberanian yang masih tersisa. Jantung nya berdegup semakin kencang dengan nafas yang semakin sulit ia ambil.


"What if I f*ck with you all night?" tanya James lirih sembari menyentuh dagu wanita cantik itu.


"I don't want it!" jawab Louise cepat dan semakin membuat pria di hadapan nya tertarik.


"Really?" tanya James menyeringai sembari melirik ke arah bagian atas gadis itu yang sudah tak terbuka karna ia sudah membuka kancing kemeja yang di kenakan nya.


Pria itu pun mulai mencium ke arah lengkung leher gadis cantik itu dan mulai meraba bagian sensitif gadis itu yang masih tertutup oleh pakaian dalam yang belum ia buka sebelum nya.


"Berhenti..


Hah...hah....


A-aku..." ucap Louise saat semua nya semakin berputar di kepalanya, tak ada yang bisa menolongnya di situasi seperti ini membuat nya semakin merasakan takut.


James semakin suka dengan situasi sekarang, ia merasa seperti menundukkan dan menjinakkan rubah nakal yang benar-benar menjadi mainan nakal baginya.


Tubuh gadis itu terasa semakin berat, ia semakin kehilangan rasa tubuh nya, ciuman geli yang terus menerus ia rasakan dari leher hingga ke dada nya dan jemari tangan yang mulai menyusup di bagian privasinya. Tubuhnya semakin takut hingga membuat pandangan nya semakin memutar, nafas nya kian sulit ia ambil dan...


Bruk...


"It's okey..." ucap nya lirih sembari mengecup bibir mungil di hadapan nya. Sekali lagi ia membuat gadis itu pingsan karna serangan panik yang ia ciptakan di setiap sentuhan yang ia paksakan.


James pun mulai menggendong tubuh gadis cantik itu dan mengeringkan nya serta menggantikan dengan pakaian yang baru.


Ia meletakkan perlahan gadis cantik itu kembali keranjang empuk di kamar itu. Senyum nya mengembang saat ia melihat tanda kepemilikan yang ia tinggalkan di sepanjang leher jenjang itu dan dada dari gadis cantik itu.


......................


London.


Hotel.


Louis yang sedari tadi tak dapat menelpon adik nya membuat nya mulai merasa khawatir, ia belum pernah pergi LN meninggalkan adik nya dalam waktu yang selama ini. Hampir satu minggu lebih, walaupun saat ia berada di rumah dengan adiknya dan memiliki waktu masing-masing namun setidaknya ia masih bisa terus mengawasi gadis nakal itu.


"Kau sudah siapkan tiket untuk kita kembali?" tanya Louis pada sekretaris nya yang tak lain adalah gadis yang sudah ia nodai.


"Sudah." jawab Clara dengan singkat dan nada yang ketus pada tampan itu.


Ia berencana untuk kembali sekitar 2 hari lagi setelah semua urusan nya benar-benar selesai.


"Ada apa dengan nada bicaramu?" tanya Louis kesal sembari menatap ke arah sekretaris nya.


"Lalu aku harus berbicara dengan baik padamu? Setelah semua yang kau lakukan?" tanya Clara dengan nada penuh penekanan dan memandang dengan semua kebencian yang ia punya.


"Aku tetap atasan mu! Bersikaplah yang sopan!" jawab Louis sembari menatap ke arah sekretaris nya.


Gadis itu tertawa pahit mendengar perintah jika ia harus bersikap sopan pada pria yang sudah mengambil kesucian nya.


"Kau punya adik perempuan kan?" tanya Clara tiba-tiba pada pria tampan di hadapan nya.


Louis pun yang sebelum nya sedang merapikan dokumen miliknya langsung melirik tajam gadis itu.


"Kalau adik perempuan yang di perlakukan sama dan menghadapi pria yang sama seperti mu, bagaimana?" tanya Clara pada atasan nya, ia tak berniat sama sekali ingin agar saudara kembar pria tak punya hati itu merasakan apa yang ia rasakan. Namun ia ingin agar pria di hadapan nya sadar jika ia sudah melakukan kesalahan. Kesalahan yang pria itu tak mau mengakuinya.


"Kau sedang mengutuk nya?" tanya Louis dan mendekat ke arah gadis cantik itu.


Clara pun sontak memundurkan langkah nya, tubuh nya masih mengingat semua rasa sakit dan rasa takut yang sudah di ciptakan pria tampan itu.


"Bukan! Aku hanya kasihan padanya karna mempunyai kakak seperti mu!" jawab Clara dengan suara gemetar saat pria yang berada di hadapan semakin mendekat.


"Auch!" pekik nya saat tiba-tiba rambut panjang nya tertarik karna jambakan kuat atasan nya.


Mata nya langsung tertutup dengan refleks saat pria di hadapan nya mulai mengangkat tangan nya.


Sedetik... dua detik... tiga detik...


Ia tak merasakan perih atau panas di pipinya, Clara pun mulai membuka matanya dan melihat pria di hadapan nya sedang menahan diri untuk tak memukul nya.


"Aku tak memukul wanita! Kali ini ku biarkan! Tapi jika ku dengar sekali lagi kau menyinggung tentang adik ku, akan ku buat kau tak bisa bicara lagi!" ucap Louis sembari melepaskan tarikan rambut panjang gadis itu dengan kasar.


Bagi Louis ucapan seperti itu bagaikan kutukan untuk adiknya, walaupun ia bersikap brengsek namun ia tak pernah ingin satu-satu nya keluarga yang ia miliki mengalami hal seperti itu.


Clara terdiam, ia membisu dan mulai mengelus kepala nya perlahan dengan tangan gemetar nya saat pria yang paling ia takuti melepaskan jambakan nya.


Mata nya mulai berkaca dan menangis tanpa suara, ia tak pernah membayangkan jika ia akan bertemu dengan pria yang tak punya hati seperti itu.


"Jangan cengeng! Kalau aku mendengar tangisan mu aku mungkin akan mengulangi apa yang kita lakukan kemarin!" bentak Louis pada gadis malang itu. Ia tak mau mendengar tangisan apapun, dan jika ia akan mendengar nya lebih baik ia membuat gadis itu menangis sekalian saja.


Clara tersentak ia berusaha sebisa mungkin menahan tangis nya saat mendengar ancaman yang baginya sangat menakutkan.


......................


Satu hari kemudian.


Apart Sky blue.


Zayn sekarang sudah tak lagi tinggal dengan orang tua nya. Ia memilih tinggal di rumah sendiri sejak satu tahun yang lalu agar bisa hidup mandiri.


Pria itu yang tak bisa menghubungi gadis yang ia sukai sejak kemarin membuat nya semakin khawatir, ia sudah kerumah Louise namun gadis itu tak pulang semalaman. Ia juga tak bis memberitau Louis jika adiknya tak pulang semalaman karna tak ingin menambah masalah.


Louise pun hanya mengirim pesan saat di pagi hari dan mengatakan


Aku baik-baik saja...


Aku hanya bermain dan lupa waktu semalam...


Namun gadis itu tak kunjung menjawab telpon nya juga. Zayn semakin gelisah saat ia melihat hujan yang begitu deras seperti malam yang sedang menangis pilu dari dinding kaca apartnya.


Ia tau jika gadis yang ia sukai dan telah menjadi sahabatnya itu sangat membenci dan takut dengan suara guntur.


"Apa aku ke rumah nya saja?" gumam Zayn yang semakin khawatir.


"Iya! Aku kerumah nya saja!" ucap Zayn sekali lagi. Walaupun ia tau jika ia pergi akan berisiko karna hujan badai yang melanda dan tak mungkin tak akan terjadi kecelakaan ia tetap membulatkan tekat nya untuk mengunjungi si gadis cantik pembuat onar itu.


......................


Kediaman Rai.


Louise menutup dirinya dengan selimut yang ia gulung agar membungkus tubuh nya. Semua nya masih terasa seperti mimpi saat ia mengingat kejadian semalam.


Malam yang baginya menakutkan saat tubuh nya menerima semua sentuhan yang baginya terasa menjijikkan.


Sebelumnya James mengantar nya kembali saat keesokkan paginya dan tentunya ia setelah mel*mat bibir mungil itu sebagai bayaran karna telah mengantarkan nya kembali.


Gadis itu merasakan takut dan semakin meringkuk di atas ranjang empuk nya. Apa yang ia alami tak ada ubah nya dengan pelecehan.


Di cium tanpa izinnya, disentuh secara paksa, dan tubuh nya di lihat tanpa keinginan nya yang seperti di telanjangi saat ia menolak semua hal yang tak pernah ia mau itu.


Sejak kembali ke kediaman nya ia belum makan apapun karna jijik saat mengingat sebagian liur pria asing itu yang tertelan oleh nya saat ia dipaksa berciuman.


Telpon nya terus berdering dari karna panggilan dari sahabat dan kakak nya yang terus bersahutan tak henti menghubungi nya.


Malam yang semakin mendukung rasa takut nya saat hujan deras dan petir yang bersahutan malam itu.


Suara gelegar yang selalu dapat mengejutkan jantung lemah nya membuat nya sangat membenci suara guntur itu.


Rasa takut nya akan suara yang mengejutkan bukan tanpa alasan, ia masih bisa mengingat bagaimana saudara kembar nya terkena tembakan karna melindunginya dulu.


Kebun jagung berdarah yang penuh dengan teriakan dan suara tembakan yang bersahutan mengelilingi kepala nya setiap kali ia mendengar suara guntur yang mirip dengan senjata api itu.


Orang tuanya hanya menghapus ingatan tentang pelecehan nya namun tidak akan keseluruhan dari penculikan yang ia alami, hal itu di lakukan untuk tetap menjaga psikis nya agar tak pecah saat potongan puzzle yang mengerikan itu menyatu.


Ia semakin membungkus dirinya dengan selimut tebal, menutup telinga nya sebisa mungkin.


Kediaman mewah yang dulu nya penuh keceriaan saat sang ibu masih ada kini semakin sepi dan memberikan kesan sunyi.


Semenjak kepergian ibu yang sangat ia sayangi perlahan suasana kediaman itu berubah. Sang ayah yang mulai suka bepergian selama 3 tahun terakhir sebelum kematian nya dan sang kakak yang semakin di sibukkan dengan urusan sebagai pewaris membuat nya semakin sering sendiri di kediaman mewah itu.


Menutup semua rasa kesepian nya dengan sikap egois, angkuh, nakal dan kekanakan nya serta sikap yang ia buat seceria mungkin agar bisa membohongi dirinya sendiri, ia tak sama dengan saudara kembar nya yang bisa tetap kuat. Ia masih seperti gadis biasa pada umumnya.


Zayn pun yang setelah tiba di kediaman megah itu langsung mencari gadis cantik itu. Ia pergi kekamar dan melihat gadis itu menggulung dirinya dengan selimut tebal.


Pria itu berjalan perlahan dan dapat mendengar tangisan lirih dari balik selimut yang menutup tubuh gadis cantik itu.


Ia perlahan mendekat dan menepuk tubuh gadis itu dengan sangat lembut dan perlahan, menjaga nya seperti menjaga anak kecil yang sedang ketakutan tanpa sepengetahuan anak itu.


Mamah...


Louise takut...


Disini sunyi mah...


Louise mau sama Mamah...


Louise kangen...


Kenapa Mamah jadi bintang sih?


Louise gak mau jadi dewasa Mah...


Louise butuh Mamah...