
Alyss masih berias, ia menutup semua bekas ciuman Hazel yang terlihat dengan make up.
"Duh...
Kenapa banyak sekali?" ucap Alyss saat sibuk memberikan foundation di leher nya.
"Kau masih lama? Kenapa wanita selalu lama jika berdandan?" ucap Hazel saat sudah selesai mandi dan sudah siap.
Alyss mengerutkan dahinya dengan kesal, ia lama berias karna sibuk menutupi bekas yang di tinggalkan Hazel di tubuhnya.
"Jika kau tak ingin aku lama dandan, seharusnya kau tak melakukan itu semalam." jawab Alyss kesal sembari menatap ke arah Hazel yang sedang duduk di tepi ranjang memperhatikan nya melalui pantulan cermin meja rias nya.
Hazel hanya tertawa melihat wajah kesal Alyss, dan tangan kecil nya yang sedang sibuk memberi make up di leher nya.
"Ayah mu ulang tahun hari ini? Tapi kenapa ibu meminta kau pulang dari kemarin?" tanya Hazel.
"Iya, ibu ku mau aku di rumah satu hari sebelum ulang tahun ayahku dan satu hari setelahnya. Makanya ibuku minta aku cuti 3 hari." terang Alyss.
"Sudah, aku sudah siap." ucap Alyss dan bangkit dari duduknya.
Sekitar kurang lebih menempuh 3 jam perjalanan dari Villa Hazel kerumah Alyss, mereka pun akhirnya sampai di rumah Alyss.
Rumah yang tak dapat di katakan sebagai rumah sederhana, ataupun rumah mewah.
"Akhirnya pulang juga." ucap Alyss dengan senyuman merekah di wajah nya. Ia pun segera turun dari mobil dan membuka pagar rumahnya.
Hazel pun ikut tersenyum saat melihat senyuman di wajah Alyss. Ia mengikuti langkah Alyss dari belakang.
Alyss pun seperti biasa langsung membuka pintu rumahnya dengan sandi yang belum di ubah sejak ia pergi.
"Mamahhh!" teriak Alyss saat memasuki rumah.
"Eh? Alyss? Sudah pulang nak? Ululu anak mama..." Ibu yang langsung menghampiri memeluk Alyss.
"Kenapa tak pulang-pulang ha? Kau ini!!!" ucap Ibu Alyss sembari mencubit kedua sisi pipi Alyss dengan gemas.
"Loh?! Itu siapa nak?" tanya ibu Alyss saat melihat Hazel yang sedari tadi berdiri di belakang Alyss.
"Ehmm...
Itu..." jawab Alyss bingung bagaimana memperkenalkan Hazel pada ibunya.
"Selamat pagi bibi. Saya Hazel pacarnya Alyss" jawab Hazel dengan tenang dan tak gugup sedikitpun.
Ibu Alyss melihat Hazel dari bawah ke atas dan melihat ke arah Alyss lagi.
"Kau ini sudah lama tidak pulang dan malah langsung membawa pacar ke sini." bisik ibu Alyss di telinga putrinya.
"Eh? Mamah..." jawab Alyss.
"Yasudah, ayo kesini. Mamah baru siap masak." ucap Ibu Alyss pada Alyss dan Hazel.
"Yeyyy...
Kangen masakan mamah..." ucap Alyss tersenyum cerah.
"Ayo..." ajak Alyss pada Hazel dan langsung meraih tangan Hazel tanpa ia sadari.
Hazel masih terdiam sesaat dan kemudian tersenyum saat melihat Alyss yang meraih tangan nya dan membawa nya keruang makan.
"Ayah mana mah?" tanya Alyss saat tak melihat ayahnya.
"Itu dibelakang, ngurus bunganya. Biasalah seperti tidak mengenal ayah mu saja." ucap ibu Alyss sembari menuangkan makanan yang ia buat ke piring dan mangkok.
"Alyss ke belakang yah mah, mau nyari Ayah." ucap Alyss dan langsung pergi.
"Anak itu..." ucap ibu Alyss lirih.
Ibu Alyss melihat Hazel yang duduk tenang di kursi makan sembari menunggu Alyss.
"Kau sudah lama mengenal putri ku?" tanya ibu Alyss dan duduk berhadapan dengan Hazel.
"Tak begitu lama, baru beberapa bulan." jawab Hazel.
"Aku tak minta banyak, aku hanya minta kau agar tak menyakitinya. Jangan membuat nya menangis, jika kau tak suka lagi padanya segera akhirnya hubungan mu dengan nya sebelum membuat nya terluka lebih dalam." pinta ibu Alyss pada Hazel dengan senyuman lembut di wajah nya.
Hazel terdiam beberapa saat, ia tak bisa menjawab permintaan ibu Alyss, karna ia sendiri tau sebanyak apa ia membuat Alyss menangis.
"Aku sangat menyukainya, jadi aku tak akan mengakhiri hubungan ku dengan nya." ucap Hazel, ia hanya bisa menjawab jika ia tak akan meninggalkan Alyss.
"Benarkah? Kau sangat menyukai putri ku? Alyss itu walau terlihat penurut tapi dia itu sangat keras kepala. Benar-benar sulit diatur." jawab ibu Alyss dengan sedikit tertawa ketika memikirkan Alyss.
"Kau tau? saat dia kecil dia benar-benar tak bisa dibilangin, jika tak diawasi satu menit saja dia pasti sudah menghilang, dia itu sangat penakut dulu waktu dia masih kecil dia bahkan terkejut dengan bayangan nya sendiri. Dia penakut juga memiliki rasa penasaran yang tinggi.
Alyss juga sangat manja, benar-benar manja sampai aku sering lupa kalau dia sudah bekerja, aku masih menganggap nya seperti putri kecil ku. Tapi dia juga mandiri...
Bagaimana bilang nya yah? Dia sangat manja saat bersama kami, tapi dia juga mampu untuk mengurus dirinya sendiri.
Dia sangat berharga untuk ku, dan untuk ayah nya juga, dia juga tak pernah mengenalkan teman pria atau pacar teman yang paling sering dibawanya itu Larescha." ucap ibu Alyss lagi.
Hazel masih diam ia tak bisa menjawab atau pun membalas perkataan ibu Alyss. Ia hanya mendengarkan ibu Alyss yang terus bercerita mengenai Alyss.
Sementara itu.....
"Ayah!!!" teriak Alyss di halaman belakang.
Ayah Alyss yang masih sedang merapikan bunga nya dengan memotong cabang yang berlebihan pun terkejut, ia terkejut hingga membuatnya salah memotong dan malah memotong habis tangkai bunganya.
"Ayah....
Alyss kangen ayah...." ucap Alyss dan langsung memeluk ayahnya yang sibuk meratapi bunga nya yang salah ia potong.
"Ya ampun anak ini, lihat bunga Ayah jadi begini kan?!" ucap Ayah Alyss.
"Ih masa anak nya pulang, malah bunga terus sih yang di urusin?" ucap Alyss kesal
"Makanya jangan buat ayah terkejut." ucap Ayah Alyss sembari melepas sarung tangan berkebun nya dan menjewer telinga Alyss.
"Aduh... duh...
Ayah...." ucap Alyss yang meringis memegangi telinganya.
Ayah Alyss pun mengajak Alyss masuk tapi sebelum itu ia selalu mengajak Alyss untuk mengurus bunga-bunga nya lebih dulu.
"Loh ini siapa?" tanya Ayah Alyss
"Pacar putri mu. Yasudah sini udah mama siapin makanan nya." jawab ibu Alyss.
"Pacar? Ini pacar mu nak?" tanya ayah Alyss dengan menatap wajah Alyss dan Hazel bergantian.
"I-iya yah..." jawab Alyss lirih.
Ayah Alyss pun duduk dikursinya ia menatap tajam ke arah Hazel. Mereka pun mulai memakan makanan nya.
"Apa pekerjaan mu? Dimana kau bekerja?" tanya Ayah Alyss sambil melirik tajam ke Hazel.
"Saya bekerja di JBS." jawab Hazel santai, ia sama sekali tak merasa terintimidasi dengan tatapan ayah Alyss.
"Satu tempat kerja dengan Alyss? Dokter?" tanya Ayah Alyss.
"Bukan."
"Perawat?"
"Bukan."
"Bukan."
"Yang berkerja bagian administratif?"
"Bukan juga."
"Lalu apa? Semua bukan! Kau ini tak memiliki perkerjaan yah?!" ucap Ayah Alyss kesal, ia seperti sedang bermain tebak kata dengan Hazel.
"Saya pemilik JBS, jadi paman tau kan pekerjaan saya?" jawab Hazel santai.
Ayah Alyss dan Ibu Alyss sama-sama terkejut mereka terdiam beberapa saat ketika mendengar jawaban Hazel.
"Kalau kau CEO nya, kau serius dengan anak ku? Atau kau hanya ingin main-main dengan nya? Jangan kau pikir hanya karna kau memiliki pekerjaan hebat kau bisa memiliki siapapun yang kau mau!" ucap Ayah Alyss, ia sangat takut jika putri kesayangan nya hanya dijadikan mainan dan dibuang ketika bosan.
"Saya tak main-main dengan nya. Kami akan menikah, sekitar 6 minggu lagi. Saya sudah siapkan beberapa persiapan nya. Jika paman dan bibi memiliki syarat pernikahan tersendiri atau pun ingin mengatur pernikahan yang sesuai kalian bisa menghubungi ku." ucap Hazel sembari memberikan kartu nama nya.
Ayah dan Ibu Alyss benar-benar banyak di buat terkejut oleh putri mereka, pertama Alyss pulang membawa pacar, kedua pacar nya adalah CEO tempat anaknya bekerja, ketiga mereka akan segera menikah.
Orang tua Alyss terdiam sejenak untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Sedangkan Alyss sedari tadi yang takut dan gugup saat Hazel berbicara dengan orang tuanya.
Dan Hazel sendiri bersikap sangat tenang ia malah dengan santai mencoba masakan ibu Alyss dan memakannya.
"Ya ampun lyss...
Pulang-pulang sudah bawa banyak kejutan, apa ini hadiah ulang tahun ku?" ucap Ayah Alyss sembari memijat pelipis matanya.
"Ti-tidak kok yah...
Hadiah ayah sudah Alyss letakkan di kamar Ayah dan mamah..." jawab Alyss lirih.
"Oh iya paman...
Ini hadiah dari ku." ucap Hazel sembari memberikan kotak kado yang berukuran kecil.
Ayah Alyss pun membuka kotak kado tersebut dan melihat kunci dengan logo banteng emas di dalam segitiga.
"Mobil?" tanya ayah Alyss.
"Iya tepat sekali, mobil nya di luar paman." jawab Hazel santai.
"Paman ingin melihat nya?" ucap Hazel santai.
Hazel pun bangun lebih dulu dan mengajak ayah Alyss untuk melihat mobil yang ia beli.
"Kau kapan belinya?" Bisik Alyss saat jalan berdampingan dengan Hazel.
"Aku sudah memesan saat ibu mu menyuruh kau pulang." jawab Hazel santai.
Ibu dan Ayah Alyss kembali terkejut saat melihat mobil yang dibelikan Hazel sebagai hadiah.
Bagaimana mereka tidak terkejut? Hazel membelikan mobil Lamborghini Veneno yang merupakan seri terbaru dan seri terbatas dari mobil buatan asal Italia itu.
"Ini hadiah untuk ku?" tanya Ayah Alyss memastikan.
"Iya, surat kelengkapan dan kepemilikan ada di dalam mobil, dan jika ada hal yang ingin di tanyakan paman bisa bertanya padanya." ucap Hazel santai sembari menunjuk bawahan nya yang sedang berdiri di samping mobil tersebut.
Ayah Alyss terdiam sesaat, ia melihat wajah datar Hazel yang biasa saja setelah memberinya mobil mewah seharga puluhan miliar itu.
"Kenapa paman melihat ku begitu? Paman tak suka hadiah nya? Paman mau rumah? Atau properti? Atau mungkin saham?" tanya Hazel ketika melihat wajah ayah Alyss yang tampak bingung.
"Tidak, hanya saja ini sedikit...." ucap Ayah Alyss.
"Tak suka dengan mobil nya? Ingin ganti dengan yang lain?" tanya Hazel.
"Bukan begitu." ucap Ayah Alyss bingung.
"Berarti tak ada masalah kan? Jika ada yang kurang paman katakan saja padanya." ucap Hazel santai dengan menunjuk bawahan nya lagi.
"Ya ampun...
Sekarang sudah selesai kan hadiah nya? Alyss menginap kan nak? Hazel nya nanti ajak keliling nak..." ucap Ibu Alyss mencairkan suasana.
"Iya mah..." jawab Alyss lirih.
"Duh kepala ku...
Bawa pacar mu pulang sana." ucap Ayah Alyss, pada Alyss.
"Kenapa aku harus pulang? Kalau Alyss menginap aku juga akan menginap." ucap Hazel pada Ayah Alyss.
"Kenapa kau mengikuti putri ku terus? Kalian belum menikah jadi jangan buat yang tidak-tidak!" ucap Ayah Alyss.
Hazel hanya menaikkan bahu nya dengan wajah santainya. Ia ingin sekali mengatakan kalau ia sudah melakukan semua yang dimaksud dengan "Buat yang tidak-tidak" pada Alyss.
"A-ayah...
Rumah nya jauh, ja-jadi biarkan dia menginap saja..." ucap Alyss lirih.
Ia takut Hazel kelepasan bilang bahwa mereka sudah tinggal bersama.
"Iya yah...
Tuh lihat putri mu jadi gugup begitu..." ucap ibu Alyss. Ia sangat hafal dengan sifat suaminya yang sangat protektif terhadap Alyss.
"Yasudah lah...
Tapi kau tidur di ruang tengah." ucap Ayah Alyss.
Hazel hanya menatap datar dan tak menjawab, karna mau dikatakan bagaimana pun ia tetap akan tidur dengan Alyss, dan itu tak bisa di ganggu gugat.
......................
Pukul 03.35PM
Alyss sudah mengajak Hazel berkeliling melihat lingkungan dan sekitaran rumahnya.
"Kau tak bawa aku untuk melihat kamar mu. Padahal aku lebih suka kalau kau membawa ku ke kamar." Bisik Hazel pada Alyss saat mereka sedang melihat taman bunga.
"Bukan nya bagusan melihat alam begini yah? Kan cantik." ucap Alyss Alyss.
"Kau kan lebih cantik." jawab Hazel enteng.
Hazel pun berjalan mundur dan memeluk tubuh kecil Alyss dari belakang. Rasa nya ia sangat ingin menghentikan waktu saat ini. Waktu nya saat dengan wanita yang ia cintai.
Alysscalla Zalea (Ini waktu dia disuruh ayahnya bantuin ngurus bunga yah wkwk)
Hazel Rai
...****************...
Hai hai....
Jangan lupa like, rate 5, fav, vote dan dukungan yang bisa kalian berikan ke othor yah hihi...
Jangan lupa komen juga🥰🥰🥰🤗🤗🤗
Happy Reading readers kesayangan othor❤️❤️❤️❤️