
"Aku sudah mengalahkan monster itu hanya dengan satu menit, seperti yang ku janjikan sebelumnya. Lalu, aku akan mengembalikan semua kekuatanmu yang ku serap dan kemungkinan kau akan mencapai batas maksimal dari level index."
Rigel bertemu lagi dengan Antares yang tubuhnya mulai memudar. Rigel mengizinkan dia untuk meminjam raganya selama satu menit untuk membunuh Hydra di pertarungan terakhir. Hasilnya sangat memuaskan, Amtares dapat mengalahkannya dengan sangat mudah. Padahal, dia hanya menggunakan sedikit dari kekuatannya saja.
"Begitu. Lalu, sebelum kau benar benar tetidur di dalam jiwaku, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
"Tanyakan apapun karena sekarang adalah waktunya..."
Antares tersenyum lembut kepada Rigel. Tanpa perlu membuang buang waktu lagi, Rigel langsung menanyakan hal yang selama ini mengganggunya. Entah apa alasannya, Rigel sudah sering bertemu eksistensi seperti Antares. Contohnya Azartooth, Satan, Azazel dan yang lainnya. Mereka termasuk Antares selalu mengatakan hal yang sama mengenai takdir yang menanti Rigel atau semacamnya. Rigel bahkan masih mengingat kata kata terakhir Priscilla yang berupa :
"Segala yang kau cintai dan kau benci akan melebur menjadi satu dan hanya menyisakan seorang pria menjerit dalam keheningan abadi..."
Bahkan, Hydra mengatakan jika Rigel adalah orang yang di pilih para dewa. Rigel sama sekali tidak mengetahui maksud perkataan mereka, namun dari semua perkataan itu mereka kemungkinan sama sama merujuk pada ini...
"Sebenarnya apa itu hari yang di janjikan...?? Lalu, aku juga tidak terlalu paham maksud Hydra tentang God Requiem atau apalah. Aku ingin kau memberitahuku mengenai itu..."
Rigel menatap Antares dengan serius. Lalu, Antares mulai berbicara...
"Hmm, kau menanyakan sesuatu yang sulit untuk di jawab, Rigel. Namun, bukan berarti aku tidak dapat memberitahukan hal itu padamu. Anggap saja sebagai hadiah perpisahan dariku. Yah, akan lebih mudah untukmu memahaminya setelah aku menceritakan alasan kenapa para dewa berperang."
Antares memejamkan matanya dan mulai menjelaskan kepada Rigel.
"Para dewa adalah mahkluk yang sombong dan di penuhi ke banggaan akan dirinya sendiri... Alhasil, karena ke sombongan dan ke banggaan mereka sendiri, perang antara para dewa di mulai... Mereka memulai perang karena alasan yang sangat bodoh. Para dewa fraksi Cahaya menganggap jika mereka adalah yang terkuat, begitu juga sebaliknya dengan dewa kegelapan. Pada akhirnya, pro dan kontra pada dewa cahaya dan Kegelapan di mulai... Peperangan terus berlanjut sampai puluhan ribu tahun di galaxy yang jauh... Perang yang awalnya untuk membuktikan siapa yang lebih kuat, berubah menjadi perang untuk mendominasi dan menghilangkan salah satu fraksi..."
Antares berhenti sejenak. Dia membuat wajah yang tampak pahit sebelum melanjutkan ceeitanya.
"Lalu, di tengah ke kacauan itu, ayahku yang dengan bodohnya mengubah kekuatannya menjadi sebuah senjata hadir. Senjata itu berbentuk sebuah tangan, dia dapat mengembalikan segala macam bentuk yang ada kembali ke kehampaan. Senjata maha kuat itu di namakan Void. Karena itu merupakan sebuah senjata, setiap dewa yang memilikinya dapat menggunakannya. Berkat itu, mereka mengubah arah peperangan menjadi memperebutkan Void milik ayahku."
"Untuk alasan apa Azartooth melakukan itu?"
Rigel tidak mengerti, kenapa Azartooth mau menunjukan kekuatannya kepada para dewa...? Bukankah itu justru akan memperparah peperangan...?? Mendengar itu, Antares tersenyum...
"Di sinilah bagian penting yang tidak di ketahui para manusia sepertimu... Hal ini adalah sebuah skenario yang sudah di rancang oleh para dewa yang tidak memihak... Saat para dewa berusaha merebut Void ayahku, di situlah ibuku sang dewi perang, Athena muncul dan membuat kesepakatan... Masing masing dari fraksi, akan memilih mahkluk hidup non abadi untuk berperang satu sama lain demi memperebutkan... Jika salah satu dari fraksi cahaya atau kegelapan menang, mereka bisa memiliki Void... Namun, jika mereka kalah, maka akan menjadi sebuah akhir dari para dewa... Di saat itulah arti dari keberadaanmu di perlukan... Saat waktunya tiba, kau akan di berikan pilihan untuk perdamaian atau sebuah kehancuran... Hari di mana nanti kau akan membuat sebuah pilihan di namakan Hari yang di janjikan..."
Rigel mulai memahami garis besar dari yang di ceritakan Antares. Jika masing masing fraksi memilih mahkluk non abadi, berarti yang di pilih oleh dewa yang tidak memihak adalah Manusia.
"Sungguh kalian para dewa sangat egois...!!! Kalian membuat kami para manusia seperti kami menyelesaikan masalah kalian...!!! Bahkan, sampai melibatkanku untuk sesuatu yang sangat tidak masuk akal seperti itu... Tidakkah kalian merasa malu menyerahkan masalah seperti ini kepada mahkluk rendah seperti kami...??"
Antares terlihat sedih saat Rigel mengungkapkan semua kekesalannya kepadanya.
Apanya yang seorang dewa jika mereka tidak dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri...!!!
Rigel sangat marah kepada para dewa bodoh itu. Antares nampak memahami kemarahan Rigel, dia tampak sangat menyesal karena hal itu. Namun apa yang bisa dia lakukan? Nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak dapat mengubah hal yang sudah terjadi...
"Izinkan aku untuk meminta maaf atas nama para dewa... Untuk menebus dosa dosa kami karena melibatkan manusia, aku rela mengorbankan tubuhku yang abadi untuk menciptakan entinitas seperti seorang pahlawan..."
Selagi mengatakan itu, Antares perlahan berjalan mendekati Rigel dan tubuhnya yang sudah tembus pandang memeluk Rigel. Antares mulai menangis...
"Maafkan aku... Maafkan aku Rigel... Aku sudah mengetahui pilihan apa yang akan kau ambil nanti... Tak perduli jalan mana yang akan kau ambil, semuanya akan tetap sama... Maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku karena membuatmu menderita... Maafkan aku karena membuatmu menanggung segalanya... Maafkan aku karena membuatmu kesepian... Maafkan aku karena membuatmu tersakiti... Maafian aku karena membuatmu hilang akal... Maafkan aku karena membuatmu marah... Maafkan aku membuatmu kehilangan orang yang kau cintai... Maafkan aku atas segalanya... Maafkan aku..."
Tingkah dan apa yang di lakukan Antares tidak memiliki maksud lain. Dia hanya meminta maaf dengan sesuatu yang sangat di sesali olehnya. Hanya itu saja...
"Uh...!!!"
Rigel terbangun dari tidurnya. Dia sedang berbaring di sebuah kasur. Ruangan itu berbentuk persegi dan tampak seperti sebuah dungeon di dalam game yang Rigel mainkan di Bumi.
Apakah yang barusan itu mimpi...?? Ugh, sial... Berapa lama aku tidak sadarkan diri...??
Kepalanya terasa pusing, sekujur tubuhnya terasa sangat sakit. Namun Rigel bersyukur karena bisa merasakan sakit, yang berarti dia masih hidup dan berhasil membunuh Hydra. Rigel kembali membaringkan tubuhnya dan mulai memeriksa sesuatu...
......Index...!!!...
......Status...!!!...
Name : Amatsumi Rigel.
Job : Creator Hero.
Type skill : Creator, mana manipulation.
Level : 853.
Attack : 79975.
Hp : ⁿ06785.
Defens : 88384.
Magic power : 90186.
Speed : 93689.
Agility : 79360.
Durability : 89655.
Intelligent : 89253.
Sense : 84953.
Rigel membuka matanya lebar lebar. Dia terkejut, benar benar terkejut dengan peningkatan yang sangat tidak masuk akal ini...
"Oi, oi, oi...!!! Bukankah ini sangat kelewatan... Aku ingat jika si Antares itu memberikan kekuatannya yang di ambil dariku, namun tidak ku sangka aku akan mendapatkan peningkatan lebih dari dua ratus level...!!! Bukankah ini terlalu Cheater...??"
Rigel dengan cepat berhasil menenangkan dirinya. Bukan berarti Rigel tidak menyukai dirinya tampak seperti Cheater, dia cukup senang karena dengan begini, dia akan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Selain itu, Rigel tidak mengetahui berada di mana dirinya sekarang ini. Awalnya Rigel berfikir jika dia sedang berada di dalam kapal, namun tidak ada guncangan sedikitpun lalu, langit langit nya berbeda dari langit langit di kamar kapal. Lalu, terpikirkan satu hal. Dia mungkin sedang berada di ruangan bawah tanah atau semacamnya. Yang jelas, saat Rigel sudah berada di tanah Yurazania.
Rigel sama sekali belum melihat bagian luar atau dalam pulau Yurazania. Rasa penasarannya mengalahkan keinginan untuk terus beristirahat memulihak dirinya. Rigel beranjak bangun dan hendak pergi keluar.
Selagi terus berjalan, Rigel melewati banyak lorong lorong yang menuju ke arah lain. Tempat ini tidak terlalu gelap karena ada beberapa obor yang terpasang di dinding. Selagi terus berjalan mencari jalan keluar, Rigel bertemu dengan seorang gadis kecil yang berusia sekitar enam atau tujuh tahun.
"Ahhh...!!! Apakah kau pahlawan yang menyelamatkan kami...??"
Gadis kecil itu bertanya dengan riang dan bersemangat. Dia memiliki telinga dan Ekor seperti rakun.
Begitu, jadi dia seorang demi-human tipe Rakun.
Rigel berjongkok agar wajahnya sejajar dengan wajah gadis kecil itu. Rigel tersenyum lembut dan mengelus kepala gadis itu dengan tangan kanannya.
"Kau benar... Aku datang untuk menyelamatkan kalian... Lalu, bisakah kau mengantarkanku keluar dari tempat ini...??"
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya dan memegang pipinya seolah bingung.
"Aku bisa saja mengantarmu ke luar. Namun ibu bilang jika aku tidak boleh pergi keluar karena itu berbahaya..."
"Ahahaha... Kau gadis kecil yang imut dan menuruti ibumu, anak baik... Namun tenang saja, kau tidak perlu ikut keluar bersamaku. Cukup beri tahu aku jalannya saja..."
Rigel tersenyum senang ke arah gadis kecil itu. Anak kecil selalu sangat lucu bagi Rigel. Lalu, untuk catatan, Rigel bukanlah seorang Lolicon atau sejenisnya.
"Baiklah...!! Ayo ikut aku...!!"
Gadis kecil itu memegang tangan Rigel dan menuntunnya keluar dari tempat ini...