
Pagi hari yang menyegarkan, Rigel mengawali harinya dengan membasuh tubuhnya dengan air segar di pagi hari. Ada segudang hal yang harus dia lakukan setelah menyantap sarapannya, namun Rigel memilih untuk melakukan peregangan tubuh dengan mengajak Leo berburu Naga. Mereka tidak hanya pergi berdua saja kali ini, terdapat satu peserta tambahan yaitu Ray.
Tujuannya ingin mengikuti Rigel dan Leo adalah untuk mencoba beberapa Skill dan beradaptasi dengan senjata Pahlawannya.
Baru-baru ini, dia telah menjadi seorang Pahlawan sama halnya dengan Merial. Mereka adalah orang-orang yang Rigel pilih untuk meneruskan kehendak Pahlawan Nanami dan Argo yang telah gugur. Mereka pastinya membutuhkan penyesuaian tersendiri terhadap senjata Pahlawan, terutama batasan pada apa yang dapat mereka gunakan. Bagi Ray batasan senjata tidak terlalu memberatkan nya karena sejak awal dia memang ahlinya menggunakan belati dan senjata pendek lain.
Namun Merial berbeda, dia adalah seorang Ainsworth yang memiliki bakat unik untuk menguasai segala senjata yang ada di dunia ini dan mendapat julukan Weapon Master. Merial sendiri terbiasa bertarung dengan berbagai senjata, terutamanya pada Pedang sihir. Sebagian besar senjata di inventory miliknya adalah pedang sihir dengan kualitas tinggi.
Di karenakan saat ini dia menjadi seorang Pahlawan dan mendapatkan batasan pada senjata yang di gunakan, pasti akan sulit baginya untuk membiasakan diri bertarung dengan satu senjata. Belum lagi senjata itu adalah cambuk, yang bagi kebanyakan orang senjata paling sulit digunakan dalam pertempuran. Bahkan Rigel sendiri mengakui bahwa dia tidak bisa memikirkan bagaimana cara yang bagus untuk bertarung dan menggunakan cambuk sebagai senjata.
Ketimbang untuk melakukan pertarungan, Cambuk mungkin lebih cocok berada di bagian pendukung. Contohnya adalah membatasi gerakan lawan dengan cambuk dan menciptakan keuntungan tersendiri untuk rekan setimnya. Namun tetap saja, semua tergantung dengan Skill dan keterampilan yang di miliki oleh si pengguna.
Setelah melakukan persiapan, Rigel, Ray dan Leo berkumpul di taman istana sebagai titik pertemuan. Rigel tidak memiliki hal apapun yang dia butuhkan karena semua dapat tersedia hanya dengan dia membayangkannya saja. Berbeda dengan Ray dan Leo yang memiliki kebutuhan tersendiri.
"Sepertinya persiapan sudah selesai, kita bisa pergi sekarang juga melalui teleportasi." Ujar Rigel.
Semua orang telah berkumpul di taman istana dan nampak telah sangat siap untuk berburu. Terutama Leo yang begitu ambisius untuk pergi berburu dan merasakan pengalaman yang membuatnya berada di situasi hidup dan mati.
Mendapat persetujuan Leo dan Ray, Rigel memulai teleportasi menuju hutan di luar Region untuk mencari keberadaan seekor Naga.
Untuk mencari keberadaan seekor Naga, sebuah pegunungan akan menjadi tempat yang cocok karena kebanyakan Naga tinggal di gua yang berada di sekitar hutan.
Rigel, Ray dan Leo berjalan mendaki pegunungan berbatu. Mereka menemui beberapa monster seperti srigala dan goblin, namun Leo mengurus mereka dengan sangat mudah. Rigel masih sangat terkesan dengan Leo yang mengkombinasikan Burst Step dengan seribu tebasan kilat yang membuatnya memotong lawan dengan cepat.
"Hebat, pedang ini sangat tajam!" Leo bersemangat saat mengetahui ketangkasan dari Pedang Kusanagi yang baru-baru ini jatuh ke tangannya atas hadiah dari Rigel.
Tentu saja itu kuat, Pedang Kusanagi adalah sesuatu yang Rigel dapat dari mengalahkan Yamato No Orochi, atau yang di kenal dengan sebutan Hydra di dunia ini. Pedang Kusanagi telah di karuniakan sihir dan aura kuat Hydra selama lebih dari 100 tahun, sehingga membuatnya menjadi pedang dengan God Tier. memang awalnya Rigel mengkhawatirkan kecocokan Leo dengan Kusanagi, namun setelah melihat ini, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Sepertinya Pedang itu memang cocok di tanganmu, Leo. Jangan menjadi terlalu bersemangat, bukan kau saja yang ingin bertarung melawan monster, sisakan lah beberapa untuk Ray." Rigel tersenyum tipis kepada Leo yang terlalu bersemangat.
"M-maafkan aku, kak Ray..." Leo menundukan kepalanya dengan bersalah karena mengambil semua monster untuk dia tangani.
"Tidak masalah, Leo. Aku senang melihat kau semakin kuat dan dapat menyelesaikan mereka sendirian." Ray tersenyum dan menepuk lembut kepala Leo.
Lagipula Monster yang di lawan Leo hanyalah keroco yang tidak cocok untuk Rigel dan Ray mengasah kemampuannya. Rigel sendiri sebenarnya tidak perlu turun tangan langsung untuk memberikan Leo pengalaman berburu. Untuk Rigel yang saat ini, seekor Naga tidak lebih dari kadal terbang yang akan mati dengan satu hembusan nafas.
Berbeda dengan dirinya yang dulu hampir mati saat bertarung melawan Naga, meskipun akhirnya dia mati juga. Rigel telah sangat kuat, namun dia merasa dirinya belum terlampau kuat untuk bersaing dengan Lucifer. Belum lagi, dengan keberadaan Tangan Kiri Hades yang di berikan kepada Lucifer, membuat dua kekuatan God Hand akan saling berbenturan. Siapa yang lebih unggul, siapa yang lebih kuat di antara keduanya tidak dapat di pastikan.
Aku harus menguasai kelima tahap Void secepat mungkin, segera sebelum hari akhir, Ragnarok tiba!
Batin Rigel. Dia menekankan itu baik-baik dalam kepalanya, Void adalah kekuatan yang dapat di andalkan, namun bukan berarti dia harus selalu mengandalkan nya. Selain itu, masih ada juga kehadiran God Requiem yang kebenaran tentangnya berada dalam kegelapan.
"Untuk sekarang, mari kita mendaki lebih jauh lagi. Aku dapat merasakan jejak sihir yang cukup kuat dari puncak gunung."
Tidak ada lagi hal yang perlu di katakan, Ray dan Leo menyetujui saran Rigel untuk mendaki dan masuk lebih jauh lagi ke dalam hutan.
Selama perjalanan Rigel menyadari bahwa Leo sesekali melirik ke arahnya, seakan hendak mengatakan sesuatu namun tak kunjung mengungkapkannya. Rigel memutuskan untuk memulainya dan membuat Leo berbicara.
"Apakah ada hal yang ingin kau katakan, Leo?"
Leo tampak canggung untuk mengatakannya dan butuh beberapa saat sampai dia bicara.
"Umm, apakah benar tidak apa aku memegang pedang ini, Ayah? Rasanya Pedang Kusanagi terlalu hebat untukku gunakan dan mungkin kau jauh lebih pantas menggunakannya."
Jadi begitu, memang benar bahwa Kusanagi mungkin Pedang terhebat ke tiga setelah Excalibur dan senjata ilahi dan mungkin akan jauh lebih bermanfaat jika Pahlawan seperti Rigel yang menggunakannya. Namun ini adalah pilihan Rigel bahwa dia tidak cocok dengan pedang.
"Aku tidak terlalu memperdulikan nya karena Pedang itu hanya akan membusuk di dalam penyimpanan ku. Yah, kau akan mengerti maksudku nanti saat melihat caraku bertarung. Aku akan mengatakan ini padamu, bahwa kau lebih cocok dengan pedang itu ketimbang aku." Rigel mengusap kepala Leo selayaknya seorang Ayah.
Dari gaya bertarungnya, Rigel lebih menyukai menghantam langsung lawannya dengan tinju miliknya ketimbang menggunakan senjata seperti Kusanagi. Akan ada masa dimana Rigel menggunakan senjata seperti Pistol dan yang lainnya, namun tetap saja dia lebih menyukai pertarungan tangan kosong dan Skill-Skill yang dimilikinya.
Meski Leo saat ini hanya terlihat seperti anak kecil berumur 11 tahun, namun pertumbuhannya sebagai Demi-human akan jauh lebih cepat ketimbang manusia. Semakin banyak level yang di capai oleh Leo, semakin cepat juga pertumbuhannya dan kemampuannya akan semakin berkembang. Rigel tidak sabar dengan pencapaian macam apa yang akan di raih Leo di masa depan.
Rigel memiliki niatan untuk mengikut sertakan Leo dalam penaklukan Phoenix, namun sangat di sayangkan karena Leo belum memiliki banyak pengalaman bertarung dan kemungkinan besar dia hanya akan menghambat saja. Untuk itu Rigel mengurungkan niatnya dan selagi luang dia ingin memberikan Leo banyak pengalaman. Misalnya saja, bertarung melawan para bandit gunung, namun itu mustahil dengan keberadaan Rigel.
Tidak ada orang yang benar-benar cukup bodoh untuk merampok seorang Pahlawan. Jika benar ada maka Rigel sangat berterima kasih atas keberadaan orang bodoh macam itu.
"Rigel." Ray memanggil dengan kewaspadaan dalam nadanya.
"Ya, aku juga merasakannya." Rigel pun sama halnya dengan Ray. Dia dapat merasakan sesuatu— monster kuat berada jauh di depan sana.
Leo menatap antara Rigel dan Ray dengan bingung, dia mungkin belum dapat merasakan energi sihir dari jarak ini. Jaraknya masih lumayan jauh dari sini dan Rigel yakin bahwa apa yang mereka cari berada di depan sana.
"Ayo bergegas, Leo, Ray." Rigel memimpin jalan menuju tempat yang kemungkinan keberadaan seekor Naga.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan kewaspadaan penuh hingga akhirnya sampai di sebuah gua besar yang pekat akan energi sihir. Rigel, Ray dan Leo bersembunyi di sebuah batu terdekat. Leo dapat merasakan energi sihir kuat dan menelan air liurnya selagi keringat dingin mulai muncul di dahinya.
"Sepertinya dia berada di sana. Namun, energi sihir dan kehadirannya jauh lebih kuat ketimbang darah campuran." Ujar Ray.
Rigel sendiri setuju dengannya. Kekuatannya nampak jauh lebih kuat ketimbang Naga berdarah campuran pada umumnya, ada kemungkinan bahwa darahnya lebih pekat ketimbang Naga campuran biasa.
"Huh, kita tidak akan tahu sampai melihatnya sendiri." Rigel berjalan keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri tepat di depan gua besar itu.
*ROAR!
Auman kencang di sertai hembusan angin keluar dari dalam gua karena menyadari keberadaan Rigel. Sebuah langkah kaki yang besar mulai terdengar dan bayangan hitam raksasa mulai terlihat. Ray dan Leo keluar dari tempat mereka bersembunyi dan bersiap di belakang Rigel yang masih terlihat santai.
"Tidak kusangka akan ada manusia yang datang ke sini." Suara serak dan kuat muncul dan asalnya dari dalam gua.
Ray dan Leo bergidik ngeri karena Naga yang berada di depan mereka bukanlah Naga darah campuran seperti biasa. Melainkan berdarah murni, sosok yang seharusnya tidak mudah untuk di jumpai. Rigel sedikit menyipitkan matanya dan menghela nafas lelah.
Naga berwarna merah dan memiliki tinggi sekitar 8 meter lebih keluar dari dalam gua dengan sedikit kesal karena tidurnya terganggu. Setiap hembusan nafasnya mengeluarkan asap berwarna putih yang cukup panas dan dia menunduk langsung, berusaha mengamati Rigel.
"Kau, cukup percaya diri, Manusia..." Naga itu menampakan taring-taring tajamnya dan mendengus tepat di depan Rigel yang tidak bergeming dan tampak bosan.
"Ayah!" Leo berseru dengan khawatir terhadap Rigel yang bisa di kunyah kapanpun. Namun Rigel sama sekali tidak bergerak, karena dia tahu Naga itu tidak memiliki keinginan bertarung.
"Hahaha, kuakui nyalimu cukup besar manusia."
Ray dan Leo saling memandang dengan terkejut, mereka berpikir bahwa Naga itu akan menyerang namun tidak terduga dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk bertarung.
"Sepertinya memang benar bahwa darah murni sepertimu tidak menyukai bertarung." Rigel tersenyum dengan kecewa selagi menatap langsung mata Naga di depannya.
"Emm? siapa bilang kami tidak menyukai pertarungan, justru kami sangat menyukainya, namun pertarungan kami selalu meninggalkan bekas yang buruk untuk alam dan kami membenci merusak alam yang indah ini."
Naga bukanlah mahkluk yang lemah, bahkan dengan perjumpaan Rigel pertama dengan Naga campuran kekuatannya sangatlah hebat. Belum lagi Naga di depannya adalah Naga murni, semua orang dapat menduganya hanya dari dia yang bisa berbicara. Meski di sayangkan karena tidak menemukan Naga untuk di buru, namun bukan hal buruk untuk bertemu Naga murni. Kesempatan yang bagus bagi Rigel untuk berbicara.
"Namun para dewa keparat itu memulai peperangan tolol yang tidak tertolong dan dapat membuat alam musnah karena peperangan kalian manusia dan dua pion dewa yang lainnya, Malaikat dan Iblis." Naga itu tampaknya tidak menyukai tindakan egois para Dewa yang menggunakan pion untuk memulai peperangan.
"Aku setuju menyebut tolol para Dewa keparat itu." Rigel tersenyum dan dengan santai menepuk tangan satu kali.
Tiga buah kursi dari tanah terbentuk dalam satu tepukan tangan Rigel. Naga itu terkejut saat melihat tiga kursi tercipta tanpa banyak usaha yang di lakukan Rigel.
"Hoho? kau memiliki kemampuan yang hebat manusia. Boleh aku tahu siapa dan apa kau ini? aku merasa ada sesuatu yang lain dari dirimu." Naga itu berbaring di tanah dengan santai selagi berbicara dengan Rigel.
Ray dan Leo dengan canggung dan khawatir duduk di kursi tanpa perlu mengurangi sedikitpun kewaspadaan mereka. Terutama Leo yang berkeringat dingin dan kagum kepada Rigel yang dengan santainya duduk tepat di sisi Naga itu.
"Sebelum menanyakan nama orang, kau harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu." Ujar Rigel sambil tersenyum tipis dan bersandar pada lengan kanan.
"Haha, kau benar juga. Aku Naga dengan elemen larva, panggil saja aku Red."
"Baiklah Red. Namaku Amatsumi Rigel, panggil saja Rigel. Secara teknis aku di kenal sebagai Pahlawan dunia ini."
"Hoho? pantas saja aku merasa kau sedikit berbeda dari yang lainnya, lalu pria di sana dapat di kusimpulkan sebagai Pahlawan juga?" Red beralih kepada Ray dan tatapannya berakhir pada Leo yang terlihat tegang.
"Ya, aku Ray, Pahlawan Belati." Ray memperkenalkan dirinya. Karena suatu hal, dia tidak memiliki senjata Pisau seperti Argo, melainkan sebuah senjata yang tidak jauh berbeda dengan pisau, yaitu Belati.
"Lalu, bocah ingusan di sana? siapa namamu?" Red menatap Leo dengan penasaran dan menyadari Leo terlihat tegang dan canggung, "Woles saja bro, aku tidak akan menggigit kalian. Sudah cukup lama semenjak aku bisa memulai percakapan santai bersama manusia, terutamanya dua Pahlawan ini."
Leo menatap Rigel terlebih dahulu dan saat Rigel mengangguk,Leo memberanikan dirinya untuk berbicara. Lagipula Rigel berada bersamanya, tidak akan ada hal buruk yang akan menimpanya.
"Y-ya, na-namaku Leo."
"Rigel, Leo dan Ray, ya. Kalian manusia selalu pandai memilih nama. Selama 100 tahun ini, kalian adalah manusia pertama yang dapat ku ajak berbicara dengan santai. Kebanyakan mereka langsung berlari saat mengetahui aku berbicara." Red menghela nafas sedih selagi menceritakan ceritanya.
Sepertinya dia sudah cukup lama tinggal di gua ini dan cukup lama pula tidak memiliki teman untuk di ajak bicara.
"Memangnya dimana rekan Naga yang sejenis dirimu?"
Hal itu membuat Rigel penasaran, sejauh ini dia baru bertemu dua ekor Naga berdarah murni. Naga milik Diablo dan Red. Rigel selalu penasaran apakah populasi berdarah murni benar-benar telah menurun drastis atau mereka hidup di suatu tempat yang jauh.
"Bukannya aku membenci mereka, hanya saja aku tidak suka berbicara bersama mereka karena tidak ada hal yang patut di bicarakan. Aku lebih tertarik mendengar kisah yang di miliki manusia seperti kalian yang selalu memiliki hal bagus untuk di dengarkan." Red mengeluarkan tatapan lembut dan bibirnya terlihat seperti tersenyum.
"Begitu. Kalau begitu dimana Ras Nagamu biasanya tinggal? Selama ini kau adalah Naga darah murni yang baru kuajak berbicara."
Rigel mencoba mengorek informasi darinya, meski dia mungkin sudah tahu jawabannya. Di sebuah tempat yang cukup jauh dari kerajaan-kerajaan, terdapat sebuah hutan yang dikenal hutan Naga dan di kedalaman hutan Naga terdapat lagi sebuah tempat yang di sebut tanah terlupakan. Tanah terlupakan menjadi sarang tempat Naga Malapetaka tinggal.
"Ada yang memilih untuk berkelana ke berbagai tempat dan tertarik untuk mendengar kisah manusia sama seperti diriku. Ada juga yang memilih tinggal di hutan Naga dan menjadi budak si keparat itu." Red mulai terdengar marah saat menjelaskan situasi di Hutan Naga.
"Budak si keparat? siapa yang kau maksud?" Rigel mencoba bertanya.
"Sebagai Pahlawan kau seharusnya mengetahui sesuatu tentangnya, si Naga malapetaka. Dia bertindak layaknya penguasa diktator yang menindas kaum Naga. Meski jumlah kami terbilang tidak banyak seperti pada masa kejayaan kami, namun dia melakukan hal yang tak termaafkan."
Rigel dapat merasakan bahwa Red sangat membenci si Naga malapetaka. Dapat terlihat jelas dari raut wajahnya dan hawa di sekitarnya mulai memanas. Rigel mulai berfikir, bahwa mungkin menghadapi Naga di pilihan terakhir bagaikan pisau bermata dua.
Rigel tahu bahwa Naga malapetaka sangat kuat sehingga dia memilih untuk mengalahkan Phoenix dan Macan putih terlebih dahulu selagi membuat Pahlawan lain dan dirinya jauh lebih kuat lagi. Namun hal itu juga dapat menikam balik Rigel dan Pahlawan lain.
"Naga petaka bajingan itu membuat kaum Naga menyerahkan darahnya setiap beberapa bulan untuk di konsumsi Naga berdarah campuran dan membuat Pasukan yang terdiri dari Naga campuran yang hampir berdarah murni. Beberapa dari kaumku menolak memberikannya sampai akhirnya dia di bunuh langsung olehnya." Ujar Red.
Karena itulah mengulur waktu lebih lama dapat menikam kembali menuju Rigel. Jika semakin lama waktu yang Rigel inginkan, maka semakin banyak pula pasukan Naga yang terkumpul dan pertarungan dapat di jamin menjadi sangat sulit. Rigel tidak akan terkejut jika dia memilih Naga di tempat pertama, maka dia atau Pahlawan lainnya dapat musnah tanpa perlawanan yang berarti.
"Lalu, kenapa kalian tidak mencoba melarikan diri?" Leo bertanya. Rigel sudah tahu jawabannya, namun dia akan membiarkan Red yang menjawab pertanyaan Leo.
"Hal itu memang bisa kami lakukan, namun manusia dan alam akan di hancurkan oleh amukannya. Pada akhirnya kalian juga para manusia juga akan menjadi korban."
Tentunya Naga malapetaka tidak akan diam begitu saja saat para budaknya kabur dari genggaman tangannya. Bahkan Rigel juga akan melakukan hal yang sama jika saja Altucray lari dari tanggung jawabnya sebagai Raja boneka di bawah kendalinya.
Para Naga yang memiliki umur panjang begitu bijaksana, mereka tidak akan membiarkan Ras di luar Ras Naga mengalami hal yang sama dengan mereka. Masalahmu adalah tanggung jawabmu dan masalahku adalah tanggung jawabku. Singkatnya masalah yang di alami para Naga adalah tanggung jawab mereka sendiri dan Ras lain tidak memiliki tempat untuk ikut campur.
"Untungnya aku dan beberapa Naga lainnya tidak pernah berniat tinggal di Hutan Naga sehingga kami tidak jatuh ke dalam genggaman tangannya. Andaikan saja aku jauh lebih kuat, aku pasti akan membebaskan mereka!" Tubuh Red bergetar seakan benar-benar frustasi karena begitu lemahnya dia.
Rigel, Ray dan Leo turut prihatin atas apa yang menimpa Ras Naga berdarah murni. Informasi ini sangat berguna untuk ke depannya dan Rigel yakin jika tidak ada yang mengetahui masalah yang di alami para Naga. Ntahlah dengan Sylph, kemungkinan dia juga mengetahui beberapa rincian tentang kasus ini.
"Maaf karena menceritakan cerita yang tidak ada bagus-bagusnya ini. Masalah kami adalah milik kami sendiri, jadi kami sendiri yang harus menyelesaikannya."
Rigel memandang Red selagi berfikir akankah Red mau menerima proposal yang akan di ajukan Rigel. Alasan keraguannya adalah tidak ada hal yang dapat Rigel jadikan jaminan yang dapat Red pegang. Rigel sendiri tidak akan menerima hal seperti janji dan kepercayaan kepada orang yang baru dia jumpai, kemungkinan besar Red juga sama dengannya.
Dunia ini keras, hal absurd seperti janji dan kepercayaan dapat di khianati dengan begitu mudahnya. Sesuatu, Rigel membutuhkan sesuatu yang dapat membuat Red mau menerima proposalnya. Sampai bebrapa detik lagi berfikir, Rigel tahu apa yang mungkin bisa dia jadikan jaminan Resikonya tentu tidaklah kecil namun keuntungan yang di dapat akan menjadi pencapaian yang hebat dan bantuan besar di masa depan.
"Ada apa, Rigel? kau terlihat seperti monyet yang bingung membedakan pisang dengan batu." Red mengatakan perumpamaan yang sangat konyol.
"Red, aku ingin mengajukan sebuah kesepakatan denganmu, maukah kau mendengarkan proposal yang akan aku ajukan?"
Red mengangkat alisnya terkejut namun dengan cepat mengembalikannya, "Mari kita dengarkan apa yang ingin kau bicarakan."
Rigel mengangguk, "Mari singkat saja, di masa depan, aku pasti akan mengalahkan Naga malapetaka. Bukan berarti aku memiliki niat untuk ikut campur, namun aku seorang Pahlawan dan cepat atau lambat pasti harus berhadapan dengan Naga malapetaka untuk mengurangi segala ancaman yang ada. Aku melawan Naga malapetaka bukan berarti aku prihatin dengan apa yang menimpa Rasmu karena tidak ada hubungannya denganku." Rigel berhenti sejenak dan menarik nafas selagi mengamati reaksi yang di buat oleh Red.
"Jadi?" Red menyadari bahwa itu bukan inti dari apa yang Rigel coba sampaikan.
"Saat aku berhasil mengalahkan Naga malapetaka, aku ingin kalian menganggapnya sebagai hutang budi. Kalian para Naga memiliki harga diri yang tinggi, jadi aku yakin kalian tidak akan melupakan hutang budi karena akan menjatuhkan harga diri kalian. aku menginginkan kau dan Ras Naga darah murni membantu umat manusia dalam perang Ragnarok saat aku membutuhkannya."
Ray dan Leo hampir lupa untuk bernafas. Rigel mengajukan sebuah kesepakatan yang sangat berani dan akan menguntungkan umat manusia di masa depan. Ras Naga mendapatkan kembali kebebasan dan Manusia mendapatkan bantuan kuat yang tak terbantahkan, jelas kedua belah pihak masing-masing di untungkan.
Aku bahkan sama sekali tidak terpikirkan hal itu! Pemikiranmu benar-benar tajam, Rigel. Kau menatap jauh ke depan dan membuat segala persiapan dengan elok. Kau benar-benar orang yang mengerikan dan aku menjadi sangat menghormatimu! Batin Ray.
"Hahaha, kau memang manusia yang menarik, Rigel. Namun aku membutuhkan sebuah jaminan yang dapat kupegang, kalau-kalau kau tidak dapat mengalahkan bajingan itu. Manusia tempatnya dusta, hubungan berdasarkan janji dan kepercayaan akan sulit di percayai kami Ras Naga." Ujar Red.
Seperti yang di duga bahwa Red meminta suatu jaminan jika Rigel tidak dapat mengalahkannya, maka Red akan mengambil sesuatu yang di jadikan jaminan olehnya dan Rigel telah memikirkannya baik-baik.
"Negaraku... Aku akan menjadikan negaraku sebagai jaminan jika saja aku gagal melakukannya, kau bebas melakukan apapun yang kau mau pada negaraku."
Red dan Rigel saling menatap mata satu sama lain. Yang satu untuk menunjukan ketetapan tekad dan yang satu memastikannya.
"Sorot matamu di penuhi kekuatan, Rigel dan tatapan mata semacam itu selalu membuat sisik ku merinding, namun aku menyukainya. Baiklah! aku akan menerima kesepakatanmu dan akan tinggal di negaramu sampai waktunya tiba!" Red perlahan bangkit dan menyemburkan api ke udara dari mulutnya. Dengan begini, kesepakatan di masa depan keduanya terbentuk dan mereka pergi bersama-sama ke Region.
Sebagai catatan, jika saja Rigel benar-benar gagal melakukannya, Rigel kemungkinan akan menyiapkan sebuah senjata untuk membunuh Red jika dia mulai mengamuk di Region. Tentunya Rigel tidak akan selembut itu membiarkan Region di hancurkan