
Odin melepaskan segel pada pedangnya. Dia memperlihatkan bilah tajam nan indah yang memanjakan mata semua orang. Mengenai kekuatan dan kualitasnya tidak perlu dipertanyakan. Sangat jelas bahwa itu setara dengan pedang Kusanagi, kualitas tingkat tinggi, God tier.
"Pertarungan ini menjadi semakin menarik saja."
Senyuman tumbuh di bibir Rigel, meski tidak dapat terlihat berkat topeng yang menutupi wajahnya. Namun, Odin tampak menyadari bahwa lawan didepannya sangat jelas sedang tersenyum.
"Pedang ini sangat cocok denganku. Ini bernama Pedang Odin, persis sepertu namaku. Kekuatannya jelas sebanding atau mungkin lebih kuat ketimbang pedang bocah itu. Dan juga, tidak sembarang orang dapat menggunakannya."
"Sungguh mengejutkan, bila kau dapat menebak kualitas pedangku," Leo mencibir dan tersenyum masam.
"Hah! Orang yang telah mengalami berbagai keadaan yang hampir membuatmu mati tentunya menyadari kualitas pedang dalam sekali lihat... Benarkan, Matsu?"
Odin nampak memprovokasi, namun jelas dari ucapannya dia memiliki niat terselubung. Dilihat dari caranya berbicara, itu seakan dia mengetahui bahwa lawannya telah mengalami banyak pengalaman antara hidup dan mati. Ketimbang berlama-lama dan membuat identitasnya perlahan terungkap oleh orang setajam Odin, ada baiknya untuk mengakhiri pertarungan dengan segera.
"Leo, Tiger. Kita akhiri ini dengan cepat."
Mendengar perintah Rigel, Leo dan Tiger mengambil langkah mundur dan memposisikan diri disekitar Rigel. Tentunya mereka tidak harus melakukannya, namun dengan begini, Rigel dapat memberikan Power up dengan lebih mudah.
"Heh, aku tidak membenci orang sepertimu... Aku juga akan mulai serius saat ini."
Pedangnya bersinar saat Odin menunduk. Dia memposisikan pedangnya dibelakang punggung agar tidak mudah dilihat kemana dia akan menyerang.
Leo mulai mengambil kuda-kuda, memposisikan pedangnya di depan dada dan mengumpulkan partikel Mana yang tersebar..., "Tehnik satu : Sayatan."
Cahaya keemasan berkumpul disekitar Leo dan membust bilah pedang bersinar cemerlang. Rigel tidak tahu dengan jelas apa saja yang telah dipelajari Leo bersama Tirith dan Altucray. Namun setidaknya, dia akan melihat sejauh mana perkembangannya.
Garfiel menyilangkan cakarnya dan memejamkan matanya. Tanah tempatnya berpijak perlahan retak dan bulu-bulu halus berwarna putih menutupi tubuhnya. Taring hewan buas serta mata tajamnya berubah hingga persis seperti Harimau putih. Garfiel menggumamkan sesuatu berupa :
"Transform...!!"
Transformasi dari ras langka Demi-human, Hakurou. Satu-satunya ras yang berkemungkinan besar memiliki hubungan dengan petaka white tiger dimasa lalu. Sebuah pemandangan yang dapat digambarkan pemandangan sekali seumur hidup.
Para penonton yang menyaksikan berteriak dengan semangatnya, seakan tidak lagi memperdulikan uang yang mereka pertaruhkan.
"Wah, wah, wah, wah, wah! Sungguh pemandangan yang memanjakan mata! Untuk pertama kalinya dalam arena, Tiger menggunakan wujud transformasinya! Apakah mungkin dia menganggap Odin setara atau lebih kuat darinya?!!"
Pembawa acara mulai heboh sendiri akan hal yang terjadi didepan matanya. Sesuai perkiraan, bila Rigel memanfaatkan transformasi Garfiel, orang-orang akan berpikir bahwa akhirnya tim Matsu kehabisan cara melawan Odin.
Kenyataannya, Rigel bisa mengalahkan Odin hanya dengan satu kedipan mata. Namun hal ini diperlukan bila tidak ingin tampil terlalu mencolok, meskipun mereka sudah sangat mencolok.
"Tidak baik bagiku untuk tidak serius... Kembalilah."
Mengatakan itu, Rigel menarik kembali Naganya ke neraka dan mengumpulkan banyak bayangan hitam dibawah kakinya. Entah apa kata orang, jika menyaksikan seorang Pahlawan menggunakan kekuatan jahat. Yah, Rigel tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan jika Moris membuka mulut, ucapannya hanya akan berakhir menjadi rumor dan mudah untuk Rigel membungkam mulutnya.
"Itu bagus... Mari kita lakukan dengan cepat!"
Odin melompat maju, bersamaan dengan Leo hingga terjadi bentrokan hebat diantara mereka. Pedang mereka saling mengadu hingga menciptakan percikan api karena gesekan dua logam keras. Kekuatan mereka sangat hebat, sampai menciptakan hembusan angin yang cukup kuat untuk mengibarkan bendera.
Namun tidak perduli seberapa kuat Leo, Odin masih tetap unggul dibagian kekuatan sehingga tidak sulit menghempaskan Leo. Sebelum dia benar-benar dihempaskan, Garfiel yang berada dalam wujud macan putih kini menerkam maju dari sisi lain dengan kedua cakarnya.
Odin tidak dapat menggunakan pedangnya, karena sedang berhadapan dengan Leo. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan tangan kirinya untuk menahan cakar dan taring Garfiel.
CRUCH!
Darah keluar dari tangannya, akibat cakar Garfiel yang mengoyak dagingnya. Odin sedikit kesal, namun dia mencekram kepala Garfiel dan mencegahnya pergi untuk menghindari serangan lainnya.
Dia begitu sibuk menghadapi Garfiel dan Leo, hingga tidak menyadari bahwa Rigel telah selesai menyiapkan persiapannya.
Rigel mengulurkan tangan kanan dan menggunakan bayangan dibawah kakinya yang berbentuk duri tunggal namun tajam. Bayangan itu melesat menuju Odin, hampir mengenainya. Namun Odin dengan cemerlang menghindarinya dengan melemparkan Garfiel kelintasan bayangan dan menendang Leo Setelahnya.
Rigel tidak memiliki hal lain selain kekaguman akan gaya bertarung yang unik namun menakutkan seperti itu. Kemampuan berpikir keritis dan kemampuan membuat keputusan mendesak bukanlah hal yang mudah dilakukan.
Ditengah pertarungan yang bisa merenggut nyawa, hampir tidak ada waktu untuk berpikir dengan tenang sehingga kemampuan berpikir keritis dan mengambil keputusan mendesak sangatlah penting.
Bertarung bukan hanya saling menukar tinju dan pedang. Tetapi bertarung juga saling menguak strategi satu sama lain dan mengambil berbagai keputusan sulit demi meraih kemenangan.
Odin melompat mundur untuk menghindari kepungan. Dia mulai membetulkan posisinya dan menerjang maju dengan kecepatan yang lebih cepat lagi. Leo dan Garfiel hampir kehilangan, namun mereka masih dapat mengikuti kecepatan Odin dan menghadangnya.
Odin tampak tidak perduli dan dengan niat membunuh besar, dia mengayunkan pedangnya dengan lebar dan sekuat tenaga.
BANG!
Angin kencang akibat ayunan pedangnya menimbulkan kerusakan pada tanah. Beruntung perisai sihir Rigel tiba tepat waktu, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Leo dan Garfiel.
Meskipun perisai datang tepat pada waktunya, namun itu hanya berguna untuk mengurangi dampaknya, bukan serangannya. Leo dan Garfiel tetap terhempas ke dinding arena dan menciptakan keretakan yang cukup parah. Leo dan Garfiel memuntahkan sedikit darah, tubuh mereka mulai melemah karena organ dalam mereka serasa diremas sesuatu.
Hmm? Jadi begitu. Aku paham kemampuan pedang itu..., batin Rigel.
Pembawa acara berteriak dan bersamaan dengannya para penonton menggila akibat pertarungan hebat yang mereka saksikan. Berbeda dengan zona A, dimana semua orang selain Alexander langsung bertepuk lutut dihadapan Marionette. Untuk zona B, C, dan D memang cukup memuaskan, namun zona E akan menjadi acara paling menarik dari zona sebelumnya.
Odin meletakan punggung pedangnya di bahu dan tersenyum berani. Meski begitu, dia nampak tidak berniat mengatakan bahwa dirinya telah menang atau sesuatu. Dia lebih terlihat seperti ingin mencoba menyampaikan sesuatu.
"Dua bocah itu memang sangat berkemampuan, namun mereka memiliki kekurangan masing-masing, terutama bocah pedang itu," ujar Odin menatap Leo.
"Kemampuan dan teknik pedangnya kuakui sangat hebat dan itu mengingatkanku tentang seseorang yang menyebalkan. Namun, teknik saja tidak berguna. Yang dibutuhkan bocah ini adalah pengalaman bertarung yang nyata..., dan untuk bocah macan disana, dia harus belajar lebih sabar dan memikirkan kembali sebelum memutuskan untuk menyerang."
Daripada merendahkan dan menyatakan diri bahwa ini kemenangannya, Odin justru menjelaskan kekurangan nyata yang dimiliki Leo dan Garfiel. Untuk Leo dia telah memahami, namun tidak terduga Odin menyadari sesuatu yang tidak disadari Rigel tentang kekurangan Garfiel.
"Aku mengakui bahwa pengamatanmu sangat bagus, bahkan mungkin lebih baik dariku. Jika begitu, aku juga memiliki pengamatanku mengenai pedangmu," Rigel menyadari satu hal tentang pedang Odin dan jujur saja, cukup merepotkan untuk menghadapi pedang itu.
"Pedang itu memberikan efek debuff kepada lawan berupa penurunan kekuatan fisik dan ketahanan terhadap sihir. Tidak hanya itu, dari pengamatanku, luka yang disebabkan pedang itu sama sekali tidak dapat disembuhkan dengan cara biasa. Lalu, bagian yang membuatnya merepotkan adalah semakin kuat lawan yang dihadapi, maka semakin kuat efek debuff dan ketajaman pedang itu meningkat hingga mengimbangi kekuatan lawan."
Odin sedikit terkekeh, senyuman lebar yang benar-benar terlihat sangat senang tumbuh di bibir. Dia bahkan tidak berusaha menyangkalnya sama sekali, karena pengamatan Rigel sepenuhnya benar.
"Hahahaha! Sudah kuduga kau benar-benar orang yang menarik sekaligus mengerikan! Benar sekali, kemampuan pedang ini tepat seperti yang kau duga, meski ada beberapa hal yang kau tidak duga dan aku tidak berniat mengungkapkan..., memang benar bahwa pedang ini sangatlah cocok untuk menghadapi orang kuat karena pedang ini akan mengikuti kekuatan lawannya. Meski begitu, tidak semua orang dapat menggunakan pedang ini karena sulit dikendalikan."
Jika dilihat dari sisi lain, pedang itu tampak sangat mengagumkan. Namun, bukan berarti tanpa kekurangan sama sekali. Keyakinan Rigel mutlak, bahwa ada batasan seberapa jauh pedang itu mampu mengikuti kekuatan lawannya. Jika tidak, dia pastinya sudah mengalahkan Rigel atau bahkan monster malapetaka..., dan juga, dari perkiraan Rigel, ada beberapa syarat yang diperlukan untuk pedang itu mengikuti kekuatan lawannya.
Tunggu, jika misal memang benar pedang itu bertambah kuat dan menyesuaikan diri dengan lawan, apa mungkin dia tahu bahwa pedang itu tidak bisa menyesuaikan diri dengan lawan atau sejenisnya? Jika begitu maka..., batin Rigel.
Jika begitu, maka tidak akan mengejutkan nahwa Odin tahu sosok bernama 'Matsu' bukanlah orang biasa.
"Hmm, sepertinya gelar petarung solo terkuat bukanlah kursi kosong belaka. Tidak hanya pedangmu yang merepotkan, namun aku mengakui kau sangat berkemampuan dan perpaduan dirimu dengan pedang itu memang sangat cocok."
"Hahaha, sungguh kehormatan mendapst pujian anda... Sebagai rasa terima kasih, aku akan menyerangmu!"
Rigel tentu terkejut, dengan sikap formal Odin sebelumnya. Namun tidak ada waktu memikirkannya, karena Odin telah bergerak dengan cepat dan mengayunkan pedang tepat diatas kepalanya.
Rigel mengelak sedikit ke kiri dan membuat pedang Odin menghantam tanah. Namun, Odin langsung mengubah arahnya dan membuat pedangnya memotong udara dan menuju sisi pinggang Rigel.
Rigel melompat dan mengambil langkah kuat di bilah pedang Odin dan membuat pedangnya terhempas ke tanah dengan kuat, namun sayangnya itu tidak patah. Rigel mengirimkan tendangan kuat ke wajah Odin, namun dihindari dengan mendangak ke langit. Tetapi, memang itu niat Rigel. Dia mengirimkan kembali kakinya dan menjadikannya Axe kick di wajah Odin dan membuat hidungnya terluka.
"Aargh!"
Odin mengerang dan mengirimkan tinjunya ke Rigel, namun terlambat, dia telah berada di belakangnya dan bersandar di punggung Odin.
"Sepertinya pedang itu tidak dapat mengukuti kekuatanku, ya?"
Rigel mencibir, tentu dengan suara pelan yang tidak akan didengar para penonton. Odin segera terssnyum senang terhadap perkataan Rigel. Dengan senyuman lebar di bibirnya, Odin berkata dengan berbisik :
"Seperti yang diharapkan dari tuan Pahlawan yang mengalahkan tiga monster malapetaka. Harapanku untuk meninggalkan setidaknya luka gores di kulitmu tidak akan dapat terwujud."
Jika dia berkata tiga, maka tidak salah lagi itu termasuk Hydra. Sepertinya dia sudah menduga bahwa identitas asli dari sosok bernama 'Matsu' adalah 'Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel'.
"Tidak, tidak. Aku mengakui kemampuanmu sangat hebat dan kau sangat cocok untuk mengajar..., bagaimana? Jika tertarik, aku akan memberikan pekerjaan di Region."
"Memang tawaran yang menarik dan aku ingin membahas beberapa hal sebelum menerima atau menolak setelah pertarungan ini...!!"
Odin mengulurkan sikutnya dan Rigel melompat menjauh untuk menghindarinya. Rigel mengirimkan beberapa bayangan dan membuat Odin harus terus menghindari. Saat melihat sedikit celah, Rigel mengirimkan Asura Punch dan tepat menghantam perut Odin, hingga membuatnya memuntahkan isi perut.
Odin berlutut memegang perut, namun dia benar-benar terkejut begitu tahu bahwa Rigel telah berada didepannya dan menggunakan kakinya untuk menghantamkan kepala Odin tepat ke tanah arena.
Kepalanya bocor dan Odin tidak lagi bergerak ataupun melakukan perlawanan. Sebagian mungkin berpikir bahwa Odin telah tewas, namun nyatanya dia hampir tidak sadarkan diri. Sebelum kesadarannya menghilang, dia menggumamkan, "Aku menyerah," selagi memberikan pedangnya.
"Kalau begitu, aku ambil pedang ini sebagai barang berharga milikmu..., itu pertarungan yang sangat bagus, Odin."
"Wah, wah, wah, wah, wah! Tidak disangka petarung solo terkuat akan kalah oleh pendatang baru! Tudak hanya kemampuan Necromancer yang langka, tetapi pendatang baru bernama Matsu ini sangat lihai dalam bela diri!"
Pembawa acara berkata dengan riang, selagi suara senang dan kecewa membanjiri penonton.
"Ahh! Sial! Aku bertaruh cukup banyak untuk Odin!"
"Beruntunglah aku bertaruh untuk pendatang baru itu."
"Ahh, aku bertaruh sepuluh ribu emas untuk Odin..., kampret, nampaknya aku akan tidur di kandang kuda."
Diantara orang-orang yang sedih dan merugi, hanya Moris yang terlihat tertawa bahagia karena untung banyak. Namun, dibalik kesenangannya itu, dia menyembunyikan kekecewaan karena Rigel tidak membunuh Odin.
Rigel menarik pedang Odin dan merasakan bahwa Mana dalam dirinya terserap oleh pedang itu. Jumlahnya mungkin cukup banyak, namun tidak cukup banyak untuk mempengaruhi Rigel.
Jadi begitu, aku mengerti maksud dari pedang ini sulit dikendalikan..., singkatnya, mungkin tidak sembarangan orang dapat menggunakannya dan hanya Odin saja yang bisa menggunakannya.
Maka ada baiknya dengan segera meletakannya ke infentory karena akan merepotkan untuk membawa sesuatu yang terus menerus mengurangi Mana. Yah, mengenai permasalahan Moris dan Odin, akan diselesaikan nanti.