The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Labyrint neraka part 3



Butuh waktu beberapa jam untuk Dandan kembali tersadar.


"Kau sudah sadar? Sekarang waktunya untuk introgasi."


Kata Rigel.


"Ini..."


Dandan bingung.


Dia melihat lengan dan kakinya dan menyadari bahwa tubuhnya telah di ikat di lemari besi.


Aku masih duduk di kasurku dan menghadap ke arah Dandan yang kuikat dengan posisi berdiri dengan tangan dan kaki terbuka lebar.


Aku sengaja memilih mengikatnya dengan besi dari pada tali, karena dengan kukunya yang dapat memanjang, aku khawatir dia akan dapat melepaskan diri dengan mudah.


"Sekarang, jika kau tidak ingin merasakan rasa sakit, aku ingin kau menjawan pertanyaanku dengan jujur."


Kata Rigel.


Dandan memalingkan wajahnya dan mengejek.


"Hmm! Aku tidak memiliki keharusan untuk menjawab pertanyaanmu."


Ucapnya sambil memalingkan wajahnya. Aku menghela nafas panjang karena aku membenci untuk melakukan hal ini kepada seorang perempuan.


Aku menunjuk kakinya dengan telunjuk tangan kananku. Dandan tampak bingung karena tidak mengerti makna dari apa yang kulakukan. Aku hanya mengabaikannya dan menggunakan skill ku.


"Skills : ciptakan jarum!"


Dengan kata kata itu, sebuah jarum kecil muncul di ujung telunjukku. Berkat pelatihanku bersama pria itu tentang pemanfaatan mana,


Aku dapat menggunakan elemen yang kuinginkan dengan bantuan kemampuan Creator Hero yang kumiliki. Meskipun begitu, aku tidak dapat membuat elemen cahaya ataupun gelap.


Dengan menggunakan mana dalam diriku, aku menciptakan angin di telunjukku dan menggunakannya sebagai dorongan kepada jarum untuk melesat dengan cepat.


Woosh!


Jarum melesat dan menuju kaki Dandan dan menembus daging dan tulang di kakinya.


"Arrghh!!"


Dandan menjerit kesakitan.


Meskipun dia hanyalah jiwa tanpa tubuh fisik, nampaknya rasa sakit masih berlaku di alam. Jiwa ya?


"Jujur saja aku benci melakukannya kepada wanita, aku bisa saja melakukan hal yang lebih menyakitkan dari pada itu, karena itulah akan adil jika kau menjawab pertanyaanku."


Dandan hanya diam dan menatapku dengan penuh kebencian.


"Pertanyaan pertama, apakah kau tahu sesuatu tentang empat pangeran neraka?"


Tanya Rigel.


Namun Dandan tetap diam dan terus menatapku dengan intens. Aku menatapnya balik dan menunggu dia mengatakan sesuatu. Nampaknya dia tidak ingin mengatakan apapun.


Aku menggunakan skill Creator ku lagi untuk membuat sebuah pencapit dari besi. Dandan memiliki wajah yang tampak terkejut saat melihat capit besi muncul di tangan kananku.


Dia sepertinya tahu apa yang ingin aku lakukan dengan capit ini. Aku akan menggunakan capit ini untuk mencabut kuku miliknya.


Aku dengan hati hati mendekatinya karena khawatir dia akan memanjangkan kukunya untuk menyerangku.


Clap!


"AAAARRRRGGGHHH!!"


Dandan berteriak.


Aku terus mencabuti satu persatu jari jari kakinya. Mungkin ini tampak sangat tidak manusiawi, namun menjadi mahkluk berdarah dingin sangat diperlukan dalam hal ini.


Aku telah mencabut tiga kuku kakinya. Aku kembali dudul di tempat tidur dan melihat Dandan yang meringis kesakitan.


"Akan aku ulangi pertanyaanku. Apakah kau mengetahui sesuatu mengenai empat pangeran neraka?"


Akhirnya setelah beberapa saat, Dandan mulai bicara.


"Empat raja neraka adalah sosok tertinggi yang menguasai Labyrint Neraka. Mereka adalah iblis yang bernama Azazel, Beelzeebub, Astaroth dan yang terakhir adalah Satan.


Masing masing dari mereka menjaga lantai 25, 59, 75 dan yang terakhir adalah lantai 100."


Jadi, jarak setiap pangeran neraka adalah 25 lantai. Satu orang dari empat pangeran nampaknya menguasai 25 lantai masing masing.


"Lantai 1-25 di kuasai Oleh Lord Azazel, Lantai 26-50 di kuasai oleh Lord Beelzeebub, lantai 51-75 di kuasai oleh Lord Astaroth, sementara lantai 76 sampai 100 di kuasai oleh Lord Satan."


Masing masing dari pangeran memiliki jarak sekitar 25 lantai rupanya. Dandan terus menceritakan segala hal yang dia ketahui mengenai empat pangeran neraka. Dia tahu lebih banyak hal dari apa yang aku harapkan.


Dari apa yang diceritakan Dandan, para pangeran tidak bisa pergi lebih dari 5 lantai tempat mereka menjaga kunci di lantai tertinggi.


Selain itu, mereka tidak dapat melewati lantai yang lebih tinggi dari yang mereka kuasai tanpa ijin dari pemilik lantai tersebut. Contohnya pangeran yang menguasai lantai 25 ingin memasuki lantai 26,


Lalu, untuk para jiwa yang terjebak di tempat ini, mereka memiliki cara khusus untuk dapat menaiki lantai, yaitu dengan cara apa yang telah Dandan coba lakukan.


Untuk menaiki lantai, kau membutuhkan apa yang disebut batu jiwa. Batu jiwa adalah inti dari sebuah jiwa untuk tetap mempertahankan keberadaannya.


Lebih mudahnya, batu jiwa sudah seperti jantung manusia pada umumnya. Tanpa batu jiwa, sebuah jiwa tidak akan dapat mempertahankan eksistensinya.


Yang menjadi perbedaan besar batu jiwa dengan jantung adalah, jika kau menyerap batu jiwa lain ke dalam batu jiwa milikmu, kau akan mendapatkan sebuah peningkatan kekuatan dan memiliki kemampuan dari batu jiwa yang telah kau serap sebelumnya.


Jadi karena alasan itulah batu jiwa dijadikan sebagai alat pembayaran untuk menaiki lantai atas. Selain menggunakan batu jiwa untuk menaiki lantai, ada satu buah jalan lagi yang disediakan.


Yaitu dengan cara menaklukan monster atau sosok yang menjaga lantai. Kalian pasti pernah memainkan sebuah game yang memiliki dungeon dengan bos di setiap lantainya.


Hal ini tidak jauh berbeda dengan game itu. Untuk naik ke lantai selanjutnya, kau harus membunuh monster bos yang menjaga pintu ke lantai selanjutnya.


Aku terus melanjutkan introgasi untuk mendapatkan semua informasi yang kuinginkan. Ada kalanya Dandan tidak mau menjawab yang membuatku dengan terpaksa harus memotong jari dan kukunya.


Tidak kusangka mengintrogasi Dandan membutuhkan waktu yang cukup banyak. Tidak terasa, matahari mulai menunjukan sinarnya, pagi hari telah tiba.


Aku berdiri menghadap Dandan yang terlihat compang camping karena terus merasakan rasa sakit dari jari jarinya yang putus.


"Aku akan memberikanmu sebuah penawaran khusus."


Kata Rigel.


"Penawaran?"


Tanya Dandan dengan lesu.


"Apakah kau mau aku membawamu naik ke lantai 100 daru labyrint ini?"


Tanya Rigel.


Dandan memiliki sinar tersendiri di wajahnya, seolah dia menemukan sebuah cahaya harapan di dalam lubang keputusasaan.


"A-apakah kau bisa menaklukan se-seluruh lantai?"


Tanya Dandan.


Suaranya penuh dengan harapan dan kesenangan tertentu yang tersirat. Aku mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Dandan.


Wajahnya terlihat seperti dipenuhi dengan rasa syukur yang mendalam, teramat dalam sampai sampai dia menangis.


Aku mengulurkan tanganku dan meletakkannya di perut Dandan yang tertutupi piyama tipis yang dia kenakan. Dandan sedikit terkejut dan tersipu dengan apa yang aku sedang lakukan.


Aku tidak sedang mencoba berbuat mesum dengannya, karena aku menginginkan keperjakaanku tetap utuh.


Aku perlahan menaikkan tanganku ke arah dadanya— tempat inti jiwa miliknya berada.


Cruch!


Darah mulai keluar dari dada Dandan. Dia sangat sangat terkejut karena darah yang seharusnya tidak dimiliki jiwa keluar dari dadanya, tempat tanganku berada.


Aku menghancurkan dada Dandan untuk meraih batu jiwa yang berada disana. Aku mendekatkan wajahku sejajar dengan wajah Dandan yang menatapku dengan marah.


"Tenang saja, aku akan membawamu ke lantai 100 bersamaku, atau lebih tepatnya aku hanya akan membawa batu jiwamu."


Kata Rigel dengan dingin.


"K-kau ********!!!!"


Dandan berteriak marah.


Sebelum dia menjadi lebih ribut lagi, aku mencabut batu jiwa yang berada didalam genggaman tanganku.


Ukurannya cukup besar dari yang kuduga. Semakin besar dan berkilau batu jiwa seseorang, semakin kuat orang itu.


Setelah batu jiwa yang berada di dsdanya tercabut, tubuh dan darah yabg membanjiri tempat itu mulai menghilang secara perlahan.


Aku terus memperhatikan tubuh Dandan yang mulai menghilang dan pergi ke lemari pakaian untuk mencari sesuatu yang dapat ku gunakan.


Sinar matahari pagi yang menyinari awal hari mulai terlihat. Ini masih terlalu pagi untuk orang orang di tempat ini memulai aktifitasnya masing masing.


Seluruh kota masih sepi dan di tengah kesepian itu, aku beranjak pergi dari kota yang sudah tidak memiliki penghuni lagi untuk menempatinya karena seseorang telah memanen habis seluruh batu jiwa yang ada.


Karena wanita tidak bisa melahirkan, tidak ada anak anak di kota ini jadi aku tidak perlu memanen batu jiwa milik anak anak tidak berdosa.


Aku menjauh dari kota mati itu dengan mengenakan pakaian dan jubah yang aku ambil di salah satu rumah.


Saat ini aku memiliki 8000 batu jiwa di dalam penyimpananku. Karena ini berada dilantai 1 batu jiwa yang berada disini sangatlah kecil dan lemah.


Aku akan menyelesaikan labyrint ini dan mendapatkan ingatanku serta mengetahui semua hal yang ingin ku ketahui.


Aku mungkin tahu alasanku mengikuti orang itu karena hal ini sudah terukir jelas di dalam jiwaku bahwa,


Aku ingin menjadi lebih kuat dari sebelumnya!