The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Perang yang kau minta, perang yang kau dapat



Pagi hari telah menyambut. Rigel dan Pahlawan lain sudah menyiapkan rencana yang bagus untuk mengatasi para iblis yang ada selagi mereka pergi menuju ke tempat gerbang dunia bawah berada. Pahlawan lain telah berangkat terlebih dahulu, dengan Sylph yang menjadi pemandu jalan mereka.


Rigel berdiri di tembok Britannia dan menatap matahari pagi yang mulai terbit. Rambut putihnya tertiup angin segar. Dari kejauhan Rigel dapat melihat sekumpulan pasukan iblis mulai bermunculan. Sangat aneh bagi mereka untuk menyerang di siang hari, seharusnya pada malam hari mereka memiliki keuntungan yang jelas. Mungkin itu karena para iblis ini tidak memiliki otak sehingga bergerak tanpa berpikir.


Seluruh warga telah mengungsi sementara para prajurit telah bersiap di dalam dinding, "Baiklah, mari kita mulai saja..."


Rigel mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum, "Bangkitlah, pasukan kematianku..." Di mulai dari para monster lemah sampai kuat muncul di luar dinding dalam jumlah yang sangat gila.


Para prajurit yang bersiaga di dalam dinding merasakan hawa dingin menusuk punggung mereka. Meski tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi, mereka meyakini bahwa itu sesuatu yang mengerikan.


Di mulai dari Goblin hingga Naga muncul dari tanah satu-persatu. Total jumlah mereka mungkin ada ratusan ribu, atau bahkan jutaan. Jika dia mau, Rigel mungkin bisa saja menaklukkan seluruh negara dan menjadi satu-satunya penguasa di dunia ini.


Para iblis semakin terlihat dengan jelas, mereka nampaknya memperhatikan pasukan kematian yang siap menyambut mereka. Tidak hanya di Britannia, tetapi di Ruberios dan Kekaisaran timur, pasukan kematian muncul. Rigel telah menempatkan cukup banyak dari mereka di masing-masing negara.


Dia merentangkan kedua tangannya, "Wahai para prajurit ku, bertarunglah sepuas dan segila kalian. Ini bukan pertempuran, melainkan peperangan! Sekarang, mari kita kirimkan mereka ke neraka yang kita tinggali!"


Dengan kata-kata singkat dari Rigel, seluruh pasukan kematian yang dia miliki bergegas maju dan menyerang pasukan iblis dengan liar. Para Naga menggunakan taring dan cakarnya untuk mengoyak para iblis yang mengabaikan pasukan monster di darat. Para iblis membunuh satu persatu pasukan kematian, namun itu hanyalah sia-sia. Selama mereka berada di Domain of Death, seberapa banyak pun mereka membunuhnya, pasukan kematian hanya akan bangkit lagi dari tanah.


Pertempuran pecah, jika di lihat oleh orang lain, ini hanya akan menjadi pembantaian sepihak. Rigel menatap pemandangan di depannya dengan senang, kekacauan di depannya benar-benar sebuah keindahan.


Di sisi lain, para Pahlawan bergegas dengan cepat menuju tempat yang di tuntun Sylph. Setelah dua jam berlalu, mereka masih tak kunjung mencapai tempat tujuan mereka.


"Kira-kira berapa lama lagi yang kita butuhkan untuk mencapai tempat itu?" Takumi bertanya kepada Sylph yang berubah menjadi pecahan roh kecil.


"Yah, kupikir akan memakan waktu sekitar satu jam lagi jika kita melaju dengan kecepatan yang sama. Namun, aku tetap kagum dengan benda yang dapat bergerak lebih cepat dari kereta Naga."


Tentu saja, karena benda yang mereka gunakan adalah benda yang tidak akan pernah ada di dunia ini. Benar, itu adalah sebuah alat transportasi, Mobil. Rigel telah menyiapkannya dua Mobil dan ini sangat cocok untuk di gunakan di jalan yang tidak rata. Satu Mobil dapat menampung setidaknya lima orang. Karena sylph berada dalam wujud serpihan cahaya, dia hanya perlu berada di pangkuan Yuri. Untuk mobil pertama di kendarai oleh Takumi dan mobil terakhir oleh Aland.


"Jika ingin, kita masih bisa lebih cepat dari ini, tahu." Takumi berkata dengan sombong.


Wajar dia ingin bersikap seperti itu kepada Sylph yang tidak mengetahui apapun tentang dunia mereka sebelum datang ke sini. Tanpa membuang waktu lagi, Takumi meningkatkan sedikit kecepatannya. Dia sedikit melirik ke Takatsumi yang duduk di belakangnya namun kembali fokus ke jalanan.


Waktu telah berlalu, mereka sampai lebih cepat daripada yang di perkirakan. Mereka memarkirkan mobil di dalam hutan dan memilih untuk melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Hazama dan Takumi akan menjadi orang yang memimpin jalan sementara Nadia dan Aland mengawasi bagian belakang.


"Sembunyikanlah hawa keberadaan kalian agar tidak terdeteksi oleh musuh. Ini hanya kemungkinan, namun pastinya ada satu atau dua pilar iblis di sana." Takumi berbisik kepada Pahlawan lain yang mengangguk.


Hazama berjalan dengan sangat hati-hati sampai dia melihat bahwa di depan sana tidak ada lagi pepohonan atau tumbuhan lainnya. Tanahnyapun berwarna hitam, sangat menggambarkan bahwa itu menghalangi tanaman untuk tumbuh. Hazama memberikan tanda untuk berhenti sejenak dan mengawasi daerah sekitar sampai dia memastikan bahwa itu benar-benar aman.


"Mari kita lanjutkan."


Hazama mengambil langkah keluar dari pepohonan, menuju pulau hitam. Udaranya terasa berbeda, meski berbeda Hazama memastikan itu bukan gas beracun.


"Tanahnya kering seperti baru saja terbakar atau sesuatu." Takatsumi mengambil sedikit tanah dan mengeceknya.


Tekstur tanahnya sendiri hampir seperti pasir halus, yang membedakan hanyalah warnanya yang ungu kehitaman.


"Aku hampir tidak percaya jika pernah ada negara makmur dan maju di tempat ini pada masa lalu." Yuri menatap sekeliling selagi membayangkan seperti apa tempat ini pada masa keemasannya.


Takumi mengangguk, "Ya. Bahkan tidak ada puing-puing bangunan atau tanda-tanda ini pernah di tempati. Nampaknya mereka benar-benar menghilang tanpa jejak pada seribu tahun lalu.


Marcel menyipitkan matanya ke kejauhan, " Ada sesuatu yang kuat di depan sana." Dia merasakan kumpulan energi sihir dalam jumlah besar berada tidak jauh di depan mereka.


"Sepertinya itu tujuan kita, sebelum pergi, beritahu Rigel bahwa kita telah mencapai tujuan." Hazama memberi arahan pada Petra yang memegang alat untuk mengabari Rigel tentang ini.


Setelah Petra menekan tombol aneh itu, Hazama mengangguk untuk mengkonfirmasi bahwa mereka sudah siap untuk menyergap sesuatu di depan sana, yang kemungkinan adalah gerbang dunia bawah. Bahkan bisa juga seorang pilar iblis.


Mereka telah berada posisi masing-masing dan Hazama memimpin penyergapan dengan Perisainya yang terulur, siap melindungi kapanpun. Mereka bergerak secara serempak dan di depan sana, berdiri seorang pria yang menghalangi jalan. Tepat di belakangnya, berdiri sebuah pintu hitam kokoh yang nampaknya terhubung dengan dimensi lain dari dunia ini.


"Jadi itu yang dinamakan gerbang dunia bawah, ya... Itu lebih kecil dari yang kubayangkan." Marcel bergumam.


"Dan sosok yang menjaga gerbang itu..." Takumi berkata, dan Sylph menyelesaikan perkataan Takumi.


"Pilar iblis, Dante. Dari pilar iblis yang lain, mungkin dia yang memiliki kemampuan paling merepotkan, Unseen Relevation."


Takumi tidak tahu seperti apa kemampuannya. Namun mungkin sama seperti namanya, kemampuannya mungkin berhubungan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Jika begitu, pasti sangat sulit melawannya.


"Selamat datang, Pahlawan sekalian. Ada urusan apa yang membuat kalian sampai datang ke tanah terbengkalai ini?" Dante merentang tangannya dengan senyuman di bibir.


Hazama tidak menurunkan penjagaan nya, malah dia meningkatkan pengawasannya terhadap Dante. Pahlawan lain tetap berdiri di belakang Hazama, kalau-kalau ada sesuatu tak terduga menyerang mereka.


"Ada apa, Nadia? kau terlihat aneh." Yuri bertanya kepada Nadia yang berada di sisinya.


Nadia yang menatap sekeliling, depan atas dan belakang dengan bingung menatap Yuri.


"Ntah kenapa, aku merasa beberapa aura aneh mengepung kita. Mungkin hanya insting, namun aura itu membentuk duri-duri tajam di sekitar kita."


Mendengar penjelasan Nadia, Hazama terpikirkan sesuatu. Sejak awal mereka datang ke sini, mereka sudah masuk ke dalam perangkap Dante.


"Hahahahaha, sungguh insting yang hebat. Kau benar, dengan datang ke sini sama artinya kalian memasuki sarang singa!" Dante tertawa senang.


Hazama dengan tergesa-gesa mengangkat Perisainya ke udara, "Shield Area!"


Perisai cahaya menyelimuti seluruh Pahlawan dan bersamaan dengan itu, sesuatu dalam jumlah banyak menghantam Perisai Cahaya milik Hazama. Beruntunglah dia tepat waktu mengaktifkannya.


"Sialan! jika ini terus berlanjut Shield Area akan hancur!" Hazama mengutuk.


Mereka tidak dapat melakukan apapun dalam keadaan ini. Terkecuali mereka telah menemukan cara mendeteksi serangan ini. Mereka bisa merasakan aura serangan, namun itu terlalu samar untuk menjadi sebuah petunjuk.


Nadia yang dapat merasakan dengan jelas berbagai bentuk serangan itu mulai memahami sesuatu. Dia dengan cepat keluar dari Shield Area dan berlari menuju Dante.


Dante tersenyum dan menyerang Nadia dengan kemampuannya, namun yang mengejutkan Nadia dapat menghindarinya tanpa masalah.


Dante bergumam kagum, "Hoho? kau mungkin menjadi Pahlawan kedua yang dapat melihat seranganku."


Dia bergerak seperti kucing, lincah namun elegan. Nadia berusaha mendekati Dante selagi berusaha mencari cara untuk mengatasi kekuatan tak terlihatnya. Takumi mengamati dalam diam. Dia berusaha mencari sesuatu yang dapat di gunakan untuk menghindari serangan tak terlihat itu.


Dia tidak mengabaikan sedetikpun waktu untuk mengamati serangan milik Dante.


Tidak perduli seberapa hebat kekuatannya, pasti kekuatannya itu memiliki kekurangannya sendiri.


Dalam pengamatannya, Takumi menemukan sesuatu yang mengejutkan. Memang hanya sekilas, namun kekuatan Dante mengeluarkan cahaya ungu samar dalam beberapa detik sebelum benar-benar menghilangkan. Ntah benar atau tidak, hanya ada satu cara untuk memastikannya. Takumi dengan cepat keluar dari Shield Area dan melesat menuju Dante.


"Takumi! jangan bertindak sembarangan!" Argo memberi peringatan, namun Takumi mengabaikannya.


Menyadari itu, Dante langsung mengerahkan serangan miliknya menuju Takumi. Dalam Visi Takumi, waktu seakan bergerak lambat. Dia hanya memfokuskan segalanya untuk mengatasi serangan ini, jika tidak kematian akan menjemputnya.


Jadi benar, aku bisa melihatnya, itu hanya akan berlangsung dalam sekejap saja...


Cahaya ungu yang perlahan menghilang itu berada tepat di depan wajah Takumi, dalam sepersekian detik, Takumi menundukkan tubuhnya ke bawah dan berhasil menghindarinya.


Bukan hanya Dante, tetapi Nadia dan Pahlawan lain terkejut karenanya. Dante mengerahkan serangan lainnya karena dia berfikir itu hanya kebetulan belaka.


Takumi menyilangkan tombaknya dan berhasil menahan serangannya. Itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, itu memang karena Takumi mengetahuinya.


Takatsumi bergumam, "Apa mungkin..." dan berlari menuju Dante.


melihat Pahlawan lain mendekatinya, Dante mengerahkan serangan kepadanya dan Takatsumi berhasil menghindarinya dengan menebaskan pedangnya.


"Perhatikanlah baik-baik! kekuatannya akan mengeluarkan cahaya samar kurang lebih satu detik lamanya!" Takatsumi memberitahukan hal yang dia dan Takumi temukan.


"Yare-yare... Sekarang jadi ada semakin banyak orang yang mengetahui kekurangan kekuatanku... Biasanya, aku tidak akan membiarkan mereka pergi hidup-hidup." Dante mengeluarkan aura menjijikkan dan mengerikan yang membuat semua waspada.


Ini tidak terlihat bagus. Selain Dante yang mulai serius, para iblis mulai keluar dari gerbang dunia bawah dan terbang ke penjuru tempat.


"Tsk! kita tidak boleh membuang waktu lebih lama dari ini, jika tidak para iblis itu akan terus berkeliaran."


Bahkan tanpa perlu Takumi peringatkan, semua Pahlawan tahu itu dengan jelas. Mereka tidak tahu bagaimana Rigel akan mengatasi banyak dari mereka sehingga mereka harus menghentikan pasukan iblis itu secepatnya.


"Jika tujuan kalian adalah menghancurkan gerbang ini, maka kalian harus bisa melangkahi mayat ku terlebih dahulu."


Kilatan ungu muncul lebih banyak dari punggung Dante dan hendak melesat ke arah para Pahlawan dalam jumlah yang gila.


*Bom!


Sebuah ledakan di langit yang sampai mengguncang daratan muncul. Dante mengalihkan perhatiannya, nampaknya ada sebuah benda yang meluncur dan menghantam iblis yang keluar. Dante tidak tahu kenapa benda itu bisa sampai di sini, sampai dia menyadari sesuatu.


"Kalian..."


Takumi tersenyum kepada Dante yang terlihat marah, "Kedatangan kami ke sini hanya untuk memberikan kordinat kepada Rigel agar dia bisa meluncurkan senjatanya dalam jumlah gila. Dan satu misil itu akan menjadi pembukaan dari kembang api." Takumi menunjuk ke langit dan Dante mengikuti apa yang di tunjuk Takumi.


Jauh di atas langit, terdapat empat benda terbang aneh. Dante berpikir bahwa itu seekor Naga, namun langsung menyangkal pendapatnya setelah melihat bentuk utuhnya. Saat dia kembali menatap Takumi dan yang lain, itu sudah terlambat. Mereka telah pergi dengan teleportasi ke tempat yang jauh.


"Dasar orang-orang keparat!" Dante mengutuk.


Sebuah pesawat jet tanpa awak terjun langsung menuju Dante dan gerbang dunia bawah.


"Hahaha, aku penasaran bagaimana wajahmu nanti ketika melihat aku menggunakan strategi yang sama denganmu, Lucifer." Rigel mengeluarkan senyumannya selagi mengendalikan pesawat tanpa awak dari kejauhan.


Strategi yang sama dengan Lucifer. Rigel menggunakan para Pahlawan lain untuk mengumpamakannya pada Pilar iblis yang menjaga gerbang itu. Rigel berpikir bahwa ada cukup banyak dari mereka, namun ternyata hanya Dante seorang yang menunggu. Hal itu mempermudah rencana Rigel.


"Silahkan kau nikmati, ledakan terbesar yang berhasil di buat umat manusia..." Rigel menjentikan jarinya, dan bersamaan, pesawat tanpa awak yang dia kirimkan ke tempat Dante dan gerbang dunia bawah meledak.


"Sialan! tidak akan kubiarkan kalian menghancurkan gerbangnya!" Dante mengaum dan mengulurkan tangannya ke langit.


Kekuatannya yang awalnya tidak terlihat kini mulai menampakan wujudnya sebagai bayangan hitam. Dante berusaha menelan pesawat yang hendak meledak itu ke dalam kekuatannya. Namun percuma saja.


Ledakan itu bukan berasal dari pesawatnya, melainkan apa yang di bawa pesawat itu. Senjata terkuat manusia di bumi, Bomb Nuklir.


*Duarrr!


Kali kedua dunia merasakan ledakan dahsyat yang di tenagai oleh Nuklir. Senjata pemusnah masal. Bahkan Dante tidak sanggup meredam sepenuhnya kekuatan ledakan itu. Rigel dapat dengan jelas melihat kabut asap yang terbentuk di langit dari jarak yang jauh. Angin berhembus kencang karena ledakan.


Rigel tersenyum dan mendengus senang, "Heh, Perang baru saja akan dimulai."