The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Menghancurkan dan menentukan takdir




Aku akan melubangi dinding ini, meskipun terdengar tidak masuk akal bukan berarti mustahil untuk melakukannya.


Azazel melesat bagaikan kilat langsung menuju ke arahku, dia melontarkan bola energi berwarna hijau langsung ke arahku.


Aku menghindarinya dengan melompat ke atas namun Azazel menerjangku dengan sangat cepat.


Azazel mengayunkan tinjunya yang di selimuti aura hijau, aku menyatukan kedua tanganku dan menciptakan tembakan cahaya berwarna biru. Kami saling bertukar serangan dan pukulan sambil berkeliaran ke segala tempat. Aku dapat merasakan darah mengalir dari hidungku.


Sial! Aku harus melakukannya dengan cepat.


Aku berhenti sejenak sambil mengusap hidungku yang mengeluarkan darah karena bergerak terlalu cepat. Azazel juga berhenti dan menghadap langsung ke arahku.


"Kau sangat hebat pahlawan. Kau bahkan memaksa tubuhku untuk beregenerasi terus menerus karena luka luka yang kuterima."


Ucap Azazel sambil memutar bahunya.


Aku sangat membenci lawan yabg memiliki kemampuan regenratif yang sangat cepat sepertinya!


Biasanya, untuk menghadapi seseorang yang memiliki kemampuan regenratif yang luar biasa seperti Azazel, aku harus sebisa mungkin membuatnya menerima luka yang sangat parah atau menghancurkan seluruh tubuhnya sampai tak bersisa.


Kemampuan regenratif bukanlah kemampuan yang tanpa kelemahan. Kelemahan dari kemampuan itu adalah mengkonsumsi banyak stamina dan membuat tubuhmu lelah dengan cepat karena, kekuatan penyembuhan tubuh di paksa meningkat berkali kali lipat untuk menyembuhkan sebuah luka.


Jadi, meregenerasikan tubuh jauh lebih melelahkan dari pada berlari berputar lapangan. Namun, Azazel entah kenapa regenratif miliknya sedikit berbeda. Kemampuan miliknya tidak hanya menyembuhkan tubuhnya, namun juga menyembuhkan kekuatannya.


Apakah kekuatannya itu berasal dari kunci yang dia simpan? Aku tidak boleh beristirahat dalam pertarungan ini, karena selama kami berdiam diri seperti ini, kekuatannya kembali pulih.


"Ayolah, jika begini terus aku yang akan membunuhmu nantinya. Apakah kau tidak ingin mengetahui takdir tentang takdirmu yang telah di tentukan?"


Azazel mencibir.


"Aku tidak terlalu perduli dengan sesuatu yang tidak logis dan selalu berubah udah seperti takdir."


Rigel mengejek.


Azazel tersenyum dan memejamkan matanya, dia bertumpu pada satu kakinya dan menaruh tangan kanannya di pinggangnya.


"Memang benar bahwa takdir setiap mahkluk hidup selalu berubah ubah, tidak perduli itu adalah iblis, malaikat atau bahkan manusia. Takdir tidak akan pilih kasih, takdir selalu merenggut apapun yang kau sayangi."


Ucap Azazel, ada nada kesedihan di balik suaranya.


"Namun kau berbeda, Rigel." Azazel menatap Rigel dengan serius.


Ini pertama kalinya dia memanggil namaku, sebelumnya dia hanya memanggilku pahlawan. Lalu, Azazel mulai melanjutkan kata katanya


"Kau telah memiliki takdirmu sendiri. Takdirmu tidak akan bisa dirubah lagi semenjak kau menerima tawaran orang itu. Secara perlahan, takdir itu akan merenggut segalanya darimu."


Azazel mulai merentangkan kedua tangannya.


"Perjalananmu tidak akan mudah, kau akan menemui berbagai macam jalan sulit yang sudah menunggumu. Segalanya, semua yang kau cintai dan kau benci akan melebur menjadi satu, hanya menyisakan kau menjerit dalam kesunyian. Lalu, di akhir itu semua, kau hanya diam menunggu akhirmu selama ribuan tahun lamanya."


Azazel menatap langit langit, tangannya masih terentang.


Aku tidak hanya diam dan mendengarkan kata katanya yang mungkin benar benar mengacu pada apa yang menungguku. Aku juga sedang mengumpulkan mana dari rune berwarna biru yang terbentuk di tubuhku. Dari sepersekian detik, aku menyadari bahwa ada cairan yang keluar dari mataku, mata kiriku yang telah hancur.


"Apa? Kenapa ini, apakah aku menangis?"


Tidak, hanya mata kiriku saja yang mengeluarkan cairan. Seharusnya mata kiriku telah hancur dan tidak lagi memiliki bola mata untuk menampung air mata, lalu kenapa ini menetes dari sana?


Aku mengusap air yang keluar dari mata kiriku, namun saat aku menyadarinya, itu bukanlah air. Itu adalah darah yang keluar seolah menggantikan air mata yang tidak ada.


"Lihat? Jiwamu dengan miliknya terhubung. Ahh, itu adalah bukti nyata bahwa kaulah orang yang akan mewujudkan hari yang dijanjikan."


Ucap Azazel bersukacita.


Lagi lagi dia membahas hari yang dijanjikan. Sebenarnya hari apa itu? Hari senin? Aku sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang dia katakan. Bahkan jika aku mencoba mencari tahu, aku yakin dia hanya akan menyuruhku menghadapi Satan.


"Aku tidak tahu apa yang sedari tadi kau bicarakan dan bahkan aku tidak perduli dengan itu, termasuk takdir yang kau maksud."


Ucap Rigel.


Alis Azazel berkerut marah karena kata kata yang aku ucapkan, dia juga memancarkan sedikit aura yang aneh, bukan kemarahan atau apapun.


"Namun, aku akan memilih takdirku sendiri, persetan dengan dewa atau sosok lain yang sok menentukan takdirku! Akan aku hancurkan takdir itu sendiri."


Rigel berteriak dan mengambil ancang ancang.


"Kalau begitu, perlihatkanlah padaku jika kau BISA MENGHANCURKAN TAKDIR!"


Azazel mengaum dengan marah dan mengeluarkan hawa membunuh yang sangat besar.


Namun, aku tidak hanya diam dan mendengarkan ocehannya saja. Aku sudah selesai melakukan persiapan untuk seranganku. Aku berlari dengan cepat menuju Azazel yang mulai menembaki bola api berwarna hijau.


Aku menghindarinya dengan mudah, karena Mirai dan Anastasia telah pergi dan bersembunyi di depan pintu yang hancur karena serangan Azazel saat kami hendak memasuki tempat ini. Dengan ini, aku tidak perlu mengkhawatirkan serangan yang nyasar ke arah mereka.


Aku menambah kecepatanku dan menundukan sedikit badan ku. Azazel tidak dapat mengikuti kecepatanku sehingga dia terkejut karena aku sudah berada di sisinya. Aku menggunakan tangan kananku yang di aliri oleh kekuatan rune berwarna biru dan menghantamkannya dengan keras ke perut Azazel.


"Jika benar bahwa takdirku telah di tetapkan. MAKA AKU AKAN MENETAPKAN TAKDIRMU UNTUK MATI DISINI!!"


Rigel mengaum sambil menghempaskan Azazel ke dinding.


Dinding tempat Azazel mendarat memilik banyak retakan sementara Azazel memiliki cukup banyak kerusakan yang diterimanya. Tidak berhenti sampai disitu, Rigel menggerakan jari jari di lengan kanannya untuk melontarkan apa yang sudah dia buat tanpa sepengetahuan Azazel.


"Teknik mana : PALU PENGHAKIMAN!"


Rigel berteriak.


Sebuah palu raksasa berwarna biru meluncur ke arah Azazel yang masih menempel di dinding tempatnya di hempaskan. Palu raksasa itu menghantam seluruh tubuh Azazel yang masih menempel di dinding dengan sangat keras.


Bang!


Krak!


Karena hantaman keras dari palu raksasa, kini dinding itu memiliki kawah yang cukup lebar sementara Azazel menggunakan kedua tangannya untuk menahan dorongan palu itu.


"Ini masih belum berakhir!!"


Rigel berteriak.


Sebuah telapak tangan raksasa yang terbentuk dari mana muncul dan memukul gagang palu raksasa itu. Palu raksasa terdorong karena hantaman tangan mana lalu,


Krak-


Krak-


Duar!!


Dinding pilar yang menghubungkan lantai ini ke lantai selanjutnya berhasil di tembus. Rigel telah berhasil menciptakan sebuah lubang dan membawa Azazel keluar dari lantai.


Dengan ini, aku akan menggunakan seluruh serangan habis habisanku meskipun kita harus bertarung di langit.


Rigel menarik lebih banyak kekuatan dari alam dan dari rune yang terbentuk di tubuhnya.


Satu serangan! Kerahkan semua yang kumiliki untuk satu serangan penghabisan!!


Kekuatan yang sangat besar berkumpul di sekitsr Rigel. Mata dan mulut Rigel yang terbuka mulai mengeluarkan sinar berwarna biru karena kekuatan yang besar meluap luap di dalam tubuhnya.


Rigel menarik lengan kanannya dan meluncur menunu Azazel yang sudah babak belur karena tubuhnya di jadikan paku untuk melubangi pilar. Azazel hanya diam saja meskipun tahu bahwa dengan serangan kuat yang akan dikeluarkan Rigel, dia pasti akan terbunuh dengan tubuh babak belur seperti ini.


Aku mengabaikan fakta bahwa Azazel tidak melakukan apapun seolah dia sudah menyerah dan siap menerima kematiannya.


Aku menghantamkan tinju di tangan kanannya keperut Azazel dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk satu skill terkuat miliknya.


"Rasakan ini, DRAGON NOVA!"


Rigel berteriak.


Cahaya biru keluar dari tinjuku. Cahaya itu menyebar seperti meteor dan menghujani tubuh Azazel dengan meteor berwarna biru.


"A-aaaarrrrrgghhhhhh!!!"


Azazel mengaum ke sakitan.


Azazel terhempas jauh dari pilar penghubung lantai berada. Azazel mendarat di tanah seperti sebuah bom atom, dia mendarat jauh dari pemukiman sehingga tidak ada korban jiwa dari kejatuhannya.


Aku perlahan menghampiri Azazel yang sudah lemah tidak berdaya di tanah. Tanah tempatnya mendarat, menciptakan sebuah kawah raksasa yang kemungkinan akan menjadi sebuah danau jika di isi dengan banyak air.


"Bagaimana, menurutmu? Aku menentukan takdirmu untuk mati disini."


Ucap Rigel dengan dingin.


Azazel menutup matanya dan tertawa lemah.


"Ahaha, yah, kau memang kuat, Rigel. Namun, apakah kau tahu, bahwa rune itu bukanlah berasal dari kekuatan jiwa dan kutukan kemarahan lagi."


Ucap Azazel dengan lemah.


Aku terkejut dengan apa yang dia katakan. Dia mungkin benar bahwa ini bukan lagi rune kutukan amarah karena kekuatan yang kurasakan sangat berbeda dari sebelumnya. Mungkinkah ini karena energi jiwa?


Seolah ingin menjawab rasa penasaranku, Azazel membuka mulutnya.


"Itu adalah kekuatan kunci. Khack!"


Ucap Azazel sembari memuntahkan darah di tenggorokannya.


Mataku membesar karena terkejut dengan pernyataanya. Aku yakin dia tidak berbohong, karena tidak ada untungnya bagi Azazel untuk berbohong di saat saat terakhirnya.


Azazel mengeluarkan sesuatu dari infertory miliknya, dia mengeluarkan kunci yang aku inginkan.


"Kunci ini adalah sesuatu yang kau butuhkan. Sebenarnya, ada lima pecahan kunci seperti ini. Kami para pangeran diharuskan menjaga masing masing satu dari mereka. Lalu, untuk kunci yang ke lima, akan diserahkan kepada seseorang yang pantas menggunakan kekuatan dari kunci ini."


Ucap Azazel.


Aku hanya mendengarkan penjelasan yang diberikannya dan mencatat setiap kata katanya di dalam kepalaku. Karena, ini mungkin informasi yang sangat aku butuhkan kedepannya.


"Kami para pangeran, termasuk satan bahkan tidak dapat menggunakan kekuatan dari kunci ini. Alasan kami para pangeran memungut biaya dari menaiki lantai adalah untuk memperkuat kekuatan dari kunci ini."


Ucap Azazel.


"Memperkuat kekuatan kunci?"


Ucap Rigel kebingungan.


"Ya. Kami tidak menggunakan setiap inti jiwa yang kami terima untuk di serap ke inti jiwa milik kami, namun inti jiwa itu akan di serahkan kepada kunci kunci ini dengan harapan mereka akan semakin kuat."


Azazel berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang.


Nafasnya kini sudah terengah engah, waktunya tidak lama lagi jadi aku tidak mengajukan pertanyaan pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya.


"Aku akan memberikan kunci ini kepadamu, orang yang pantas menggunakan kekuatan dari kunci. Karena kau orang yang dipilih kunci pertama, kau tidak lagi diharuskan mendaki lantai dari bawah. Aku akan menggunakan kekuatan terakhirku untuk menteleportasikanmu ke lantai tempat para pangeran berada. Di lantai 50, kau hanya perlu mengambil kuncinya karena si bodoh Astaroth membiarkan inti jiwanya di serap oleh kunci."


Azazel sedikit tertawa dan menyodorkan kunci di tangannya ke arahku.


Aku menerimanya dan terus memperhatikan kunci yang sekarang berada di tanganku. Aku dapat merasakan energibyang sangat besar berasal dari kuncinya.


"Sekarang, waktuku tidak banyak lagi. Aku akan langsung memindahkanmu ke lantai tempat kunci berada dan di akhir, kau akan bertemu dengan Satan. Kau akan otomatis berpindah setiap kali mengambil kunci."


Ucap Azazel yang mulai merapalkan mantra.


"Tu-tunggu! Dengan keadaan babak belur seperti ini, aku akan langsung mati saat berhadapan dengan pangeran lain!"


Rigel membentak Azazel.


"Tenang saja, meskipun kau menganggap kami para pangeran sebagai musuh. Namun, percayalah bahwa kami semua berada di pihak yang sama dengan orang yang mengirimmu kesini."


Ucap Azazel.


Aku terkejut karenanya. Dia mengetahui bahwa aku berada disini karena seseorang yang tidak ku ingat menyuruhku untuk menyelesaikan 100 lantai labyrint neraka ini. Namun, apakah aku dapat benar benar mempercayainya?


"Kami adalah orang orang yang menginginkan perubahan besar kepada dunia ini. Aku yakin, bahwa kaulah orang yang akan mewujudkannya."


Tubuhku mulai bersinar terang karena mantra perpindahan yang di lontarkan Azazel kepadaku.


"Takdir yang menunggumu di akhir akan sangat menyedihkan, Rigel. Namun, aku yakin bahwa kau dapat menghancurkan takdir sialan yang bahkan telah merenggut banyak hal dariku, kalau begitu inilah akhirnya. Sampai jumpa."


Ucap Azazel.


Azazel tersenyum lembut. Padahal aku menganggapnya sebagai musuh yang harus ku kalahkan, namun dari senyuman yang dia tunjukan, aku tidak dapat merasakan sedikitpun kebencian justru senyuman dan matanya menandakan harapan yang sangat besar.


Aku terus menatap Azazel yang mulai tubuhnya mulai berubah dan menjadi inti jiwa. Lalu, dengan satu kata darinya aku akan berpindah tempat.


"Aku akan memberikan sebuah nasihat kepadamu, Rigel. Tempat ini adalah tempat yang di penuhi orang orang munafik, jangan sampai perasaanmu menghalangi dirimu di akhir nanti. Itu saja yang ingin ku katakan,"


Ucap Azazel.


Aku ingin menanyakan apa maksud dari kata katanya namun sebelum aku sempat bertanya.


"Sampai jumpa, Rigel. Teleport!"


"Tu-tunggu!"


Cahaya keemasan yang menyilaukan menutupi selurug tubuhku. Ini adlaah perasaan nostalgia dari sebuah sihir transportasi instan yang membuatku dapat berpindah tempat dalam sekali kedipan.


Apakah dengan ini, aku tidak perlu membuang banyak waktu selama 90 tahun untuk menyelesaikan labyrint ini? Seingatku, mungkin sudah sekitar 4 atau 5 tahun semenjak aku memasuki tempat ini.


Meskipun aku merasa senang karena berhasil menyelesaikan labyrint ini, entah kenapa aku merasa seperti ini sangat curang dan tidak adil. Tidak hanya di berikan kesempatan mencapai lantai 100 dengan sekali jalan, namun aku juga mendapatkan kekuatan dari kunci yang kemungkinan sangat kuat.


Yah, akan lebih baik bagiku memikirkannya nanti, setelah seluruh ingatanku kembali.