The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Serangan dua arah



Dunia telah merasakan ke bringasan senjata terkuat umat manusia, Bom Nuklir. Sebuah senjata yang dapat membunuh ratusan ribu manusia dalam sekejap. Para pahlawan tidak bisa berkomentar apapun, diam seribu bahasa. Mulut mereka telah terbungkam oleh pemandangan yang ada di depan mata mereka. Bahkan Takatsumi mulai berkeringat dingin dan menelan ludah. Dia sangat menyadari, jika Rigel bisa melenyapkannya jika dia berniat melakukannya.


Rigel masih merentangkan tangannya selagi menatap karya mengagumkan yang dia buat. Senyuman lebar yang menampilkan seluruh giginya masih terbentuk, dia merasa seakan bisa gila kapanpun.


Dia menatap pemandangan mengagumkan dari ledakan itu. Tidak mungkin Tortoise dapat keluar tanpa luka apapun.


"Apakah serangan itu berhasil melukainya?" Tanya Hazama.


Rigel diam tak menjawab, senyumanemghilang dari bibirnya. Asap yang terbentuk mulai mulai menghilang bersama kabut yang menutupi Tortoise.


*Gaooooo.............


Rigel terbelalak kaget, begitu juga semua orang yang menyaksikannya. Kenyataan selalu menjawab dengan begitu pahit. Serangan Nuklir bahkan hanya memberikan sedikit retakan di kepalanya. Nuklir itu bahkan hanya membuat hutan di punggungnya sedikit terbakar.


"Oii,oii. Ini bohongan, kan? senjata pemusnah seperti itu bahkan tidak memberi banyak kerusakan?" Ujar Petra, sedikit gemetar.


"Ya. Namun, setidaknya berkat Nuklir itu Monster udara yang berada di dekatnya telah mati. Sisanya hanya Monster-Monster kecil ini." Ujar Rigel.


"Kalau begitu, lebih baik kita bergerak secepatnya membereskan yang kecil ini. Simpan banyak tenaga untuk menghadapi yang besar itu." Marcel setuju dengan Rigel.


Tortoise nampaknya tidak lagi berniat melancarkan serangan. Dia hanya terus berjalan selagi menyembuhkan retakan di kepalanya dengan tak acuh. Dengan begitu, para pahlawan memutuskan untuk berpencar dan menghabisi seluruh monster yang ada.


Sore hari tiba, butuh waktu cukup lama untuk menghabisi seluruh pasukan monster selagi menghemat banyak tenaga. Semua orang terlihat berantakan. Terutamanya Hazama, dia telah kehilangan banyak tenaga untuk menahan serangan Tortoise. Yuri yang berada di kejauhan kini ikut berkumpul bersama yang lainnya. Saat ini, sebelum memutuskan untuk menyerang Tortoise. Atas kesepakatan bersama, para pahlawan harus mendiskusikan tentang strategi dan hal yang mereka temukan dari para monster. Karena, masih ada terlalu banyak hal yang menjadi misteri.


"Semua sudah berkumpul?" Tanya Argo.


"Ya, butuh waktu lama untuk menghabisi Monster-Monster ini." Ujar Aland, pahlawan Palu.


Dia adalah seorang pria yang memiliki badan lebih besar dari pahlawan lainnya. Kulitnya berwarna coklat dan suaranya yang lantang serta serak.


"Dengan begini, urusan kita hanya tersisa mahkluk besar di sana." Ujar Takatsumi.


"Dengan serangan Nuklir yang di gunakan Rigel, itu bahkan tidak cukup untuk menembus kulit kerasnya." Ujar Takumi dengan pahit.


"Ya. Belum lagi, aku merasa ada yang aneh dengan monster-monster ini." Ujar Nadia, pahlawan Cakar.


Dia adalah seorang wanita cantik berdada besar. Rambutnya hitam panjang dan di kuncir dengan gaya Pony Tail.


"Kau juga menyadarinya, ya. Setiap Monster yang berada di sini tanpa terkecuali, mereka memiliki sebuah benjolan di sekitar leher mereka dan entah kenapa, benjolan itu berbentuk seperti kura-kura kecil." Ujar Nanami, pahlawan cambuk.


Nanami, seorang wanita berambut merah pendek dengan bola mata yang seiras dengan warna rambutnya. Sekilas, dia mungkin terlihat seperti wanita tomboi, namun tanpa di duga dia cukup feminim.


Kembali ke topik. Rigel bahkan menyadari apa yang mereka sadari. Mereka memiliki benjolan seperti itu, belum lagi di tempat yang sama, yaitu di belakang leher. Letak urat syaraf berada. Di lihat bagaimanapun, ini sangat mencurigakan. Bagaimana bisa semua spesies monster dapat saling merangkul bersama? mereka bukanlah monster yang cerdas seperti Naga.


'Monster saling merangkul, mereka juga tampak di kendalikan, mata merah, bekerja sama...' Batin Rigel.


Setelah sedikit memikirkannya sendiri, semua hal merujuk pada satu hal dan hanya itulah hal logis yang dapat Rigel pikirkan.


"Mungkin saja, benjolan itu adalah sebuah parasit." Ujar Rigel, sembari menggaruk rambut putihnya.


"Parasit?" Gumam Petra.


"Ya. Aku yakin benjolan itulah yang membuat par monster dapat saling merangkul. Mereka di kendalikan oleh Tortoise melalui parasit kecil itu. Ozaru, bawakan lah aku salah satu mayat monster yang berada di sana itu." Ujar Rigel.


"Apa kau ingin memakannya?" tanya Ozaru.


"Sudah turuti dan lakukan saja apa yang aku katakan." Ujar Rigel.


Ozaru dengan cemberut menuruti Rigel dan mengambil mayat Goblin terdekat. Goblin itu sedang sekarat dengan tangan dan kakinya yang putus. Berontak juga percuma, dia tidak bisa melakukan apapun.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan itu, Rigel?" Tanya Yuri dengan penasaran.


"Aku akan mengotopsinya dan melihat perubahan apa yang terjadi." Jawab Rigel selagi mengambil pisau kecil dari Inventory.


"O-otopsi? maksudmu membedah tubuh monster ini?" Ujar Yuri dengan sedikit ngeri.


Rigel mengacuhkan Yuri dan berfokus pada tengkuk Goblin. Benjolan nya terlihat dengan sangat jelas. Rigel membelah kulit tempat benjolan itu berada dan melihat apa yang ada di dalamnya.


"Itu, tempurung Kura-kura?" Gumam Takatsumi.


"Begitu, jadi benar apa yang kau katakan. Monster ini di kendalikan oleh parasit, ya..." Ujar Hazama selagi mengulurkan tangannya untuk mengambil parasit itu.


"Tunggu." Rigel menghentikan Hazama yang hendak mengambil parasit. "Aku berfikir lebih baik kau tidak menyentuhnya. Kita tidak tahu bagaimana parasit ini menyebar, ada baiknya kita tunggu apa yang terjadi saat inangnya mati." Lanjut Rigel.


Semua pahlawan setuju dengan Rigel. Menyentuh sesuatu yang tidak di ketahui adalah hal bodoh. Jadi, mereka harus mengetahui apakah itu aman untuk di sentuh.


Sesaat Goblin itu mati, Parasit itu mulai bereaksi dan dengan cepat melompat menuju Yuri yang tidak sempat bereaksi. Rigel dengan cepat menangkap Parasit itu menggunakan tangan kirinya. Terlambat sedetik saja, parasit itu akan menabrak wajah Yuri dan masuk kedalam tubuhnya.


"Aku mengerti sekarang. Saat inangnya mati, Parasit itu tidak akan mati. Justru dia akan meninggalkan inangnya dan mencari inang yang baru." Ujar Argo.


"Ya. Ini tidak mudah, awalnya aku berharap jika parasit ini akan sama dengan tanaman benalu yang akan mati jika inangnya mati. Namun, harapan selalu menghianatiku." Ujar Rigel.


Entah sudah berapa kali banyaknya Rigel selalu berharap, namun selalu di khianati. Dia mulai membenci berharap pada apapun lagi.


"Tunggu! jika mereka akan mencari inang baru saat inang lamanya mati, maka..." Ujar Aland.


Rigel tahu apa yang ingin dikatakannya, di ikuti Marcel, Takatsumi dan Hazama. ada banyak sekali mayat monster yang di kendalikan parasit. Jika mereka semua mati, maka pasti...


"Menjauh dari mayat yang ada sini!" Marcel berteriak kepada semua pahlawan.


Tanpa perlu banyak bertanya, semua pahlawan melompat menjauh dari setiap mayat Monster. Mengikuti Teriakan Marcel, semua parasit keluar dari inangnya dan terbang menuju para pahlawan.


"Shield Skill : Perisai Suci!"


Hazama menggunakan skill nya untuk melindungi para pahlawan dari hujanan parasit itu.


"Material Buster!"


Rigel mengikuti, saat parasit menghujani tameng Hazama, Rigel menembakan laser keemasan dari lengan kirinya dan menghabisi seluruh parasit itu.


"Apa semuanya baik-baik saja?! katakanlah jika ada sesuatu yang aneh pada tubuh kalian?!" Tanya Marcel.


Meski dia awalnya terlihat sangat sombong dan bertingkah seperti penguasa, tidak di duga dia perduli dengan pahlawan lain. Dia melihat semua pahlawan satu persatu sampai akhirnya tatapannya berhenti pada Yuri yang tersenyum kering.


"... Ahh, sepertinya... aku terkena salah satunya..." Ujar Yuri, selagi membalikan badannya dan memperlihatkan lehernya.


Terdapat sebuah benjolan yang sama dengan para monster di leher Yuri. Dia terinfeksi oleh parasit dan tidak lama kemudian tubuhnya melemah dan tidak sadarkan diri.


"Yuri! Yuri! bertahanlah, Yuri!" Takumi meraih Yuri dan berusaha membangunkannya.


Mengetahui itu, para pahlawan menatap dengan terkejut dan mendecakkan lidahnya. Rigel hendak melakukan sesuatu kepada Yuri, namun di saat yang bersamaan...


..."Pemberitahuan : Terdapat panggilan masuk dari Code Name : Leo...


...Apakah anda ingin menghubungkannya?...


...Yes/No? ...


Panggilan dari Leo? ini bukan waktu yang tepat! Rigel ingin mengabaikannya, namun pastinya ada sesuatu yang terjadi pada Region sehingga Rigel memutuskan untuk menerima panggilannya.


"Ayah! Ayah! aku membawa kabar buruk!" Teriak Leo, sesaat panggilan terhubung.


"Katakanlah itu dalam satu tarikan nafas!" Ujar Rigel dengan panik.


Para pahlawan menatap Rigel dengan khawatir dan bingung saat melihat reaksi Rigel.


"Aku telah mendeteksi bahwa ada dua orang mencurigakan terbang di langit Region dalam jarak 1,5km. Aku telah menggunakan teleskop untuk melihat sosok itu. Ada dua orang di sana, salah satunya terlihat seperti Om-Om mesum dan satunya lagi pria aneh dengan enam sayap hitam. Saat aku memberi tahu Kak Ray dan Pak Fang mengenai orang itu, mereka berkata bahwa hanya ada satu orang dengan enam sayap hitam..." Ujar Leo.


Rigel tahu siapa itu karena dia sudah bertemu dengan sosok itu.


"Lucifer...!!" Ujar Rigel seolah melanjutkan kata-kata Leo.


Para pahlawan yang mendengar itu menatap Rigel dengan sangat terkejut dan menunggu Rigel mengatakan kata-kata selanjutnya.


"... Lucifer ada di negaraku! aku harus kembali dan melindungi orang-orangku!" Ujar Rigel.


"A-apa? t-tapi bagaimana dengan Yuri? apakah kau akan meninggalkannya begitu saja?! lalu masih ada kura-kura besar yang menunggu untuk di kalahkan di sana!" Ujar Takumi.


Rigel tahu itu dan dia menggerakan giginya. Tortoise terbangun dan hendak meratakan manusia, Yuri terkena parasit, dan Lucifer menyerang di saat yang tidak tepat. Ingin rasanya Rigel mengutuk takdir yang membuat runtutan kejadian sulit seperti ini.


"... Tch, Taik lah! Ozaru, bawa gadis itu bersamamu, aku akan melakukan sesuatu mengenai parasit itu. Kita akan kembali ke Region untuk menghadapi Lucifer... Untuk yang di sini, bisakah kalian menghadapi mahkluk besar itu?" Tanya Rigel kepada para pahlawan.


"... Aku tidak tahu apakah kau berbohong atau tidak. Namun, kau tidak seharusnya meremehkanku. Ada aku, pahlawan lain. Kepergian tiga orang pahlawan tidak akan berarti apapun..." Ujar Marcel.


"Namun, jika ternyata kau berbohong dan hanya melarikan diri dari ini... Berarti kau hanyalah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab! pergilah! kami tidak butuh pecundang yang melarikan diri sepertimu!" Ujar Marcel selagi berjalan menuju Tortoise.


Rigel ingin membalas kata-kata tajam Marcel, namun dia tidak mempunyai banyak waktu untuk berdebat. Tanpa perlu membuang waktu, Rigel berteleport ke Region bersama Ozaru dan Yuri yang di gendong Ozaru.


Pertarungan ini benar-benar yang paling sulit bagi Rigel. Di satu sisi Tortoise dan satunya lagi Lucifer, entah apa yang akan menunggunya di babak selanjutnya...