The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Kecurigaan



Dua tim para Pahlawan telah memasuki tubuh Tortoise sebelum dia meregenerasikan kembali. kepalanya yang hancur karena Ozaru, yang berubah menjadi seekor Kera raksasa.


*Graooorrr....


Ozaru mengaum keras dan menatap Tortoise yang melihatnya dengan kebencian. Mereka saling tatap menatap. Meski Tortoise masih jauh lebih besar dari Ozaru, namun kekuatan tempur Ozaru mungkin jauh lebih unggul dari Tortoise.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? haruskan kita membantu Ozaru?" Hazama bertanya, kebingungan menimpa dirinya.


"Tidak, kita harus memastikan terlebih dahulu apakah Ozaru tetap memegang kesadarannya atau lepas menjadi monster gila. Aku akan pergi dan memastikannya, kau tunggulah di sini." Rigel melompat dan pergi menuju Ozaru.


Rigel memiliki perasaan tidak enak saat mengingat kata-kata Ozaru sebelumnya. Mungkin hal ini yang dia maksud lepas kendali dan Rigel harus membunuhnya jika Ozaru kehilangan kendali atas dirinya. Itu akan sangat di sayangkan karena mungkin tidak ada orang lain selain Ozaru yang dapat menggunakan senjata itu.


Untuk mengetahui apakah Ozaru memegang kendali atau tidak, Rigel harus bertanya langsung padanya. Dia tanpa ragu pergi meninggalkan Hazama dan menuju Ozaru yang diam dan menatap Tortoise dengan mata hewan buasnya. Rigel mendaki tubuh Ozaru dan singgah di bahu kirinya.


"Oii, Ozaru, apa kau masih sadar? mengangguklah jika iya." Rigel bertanya langsung ke dekat telinganya.


Ozaru mendengar itu, dia menoleh ke arah Rigel dan mengangguk. Rigel menghela nafas lega, syukurlah jika Ozaru masih bisa memegang kendali dirinya.


"Kerahkan lah semua kemampuanmu, aku dan Hazama akan mengamati selagi menunggu kabar dari tim penjelajah. Tidak apa kan?"


Ozaru mengangguk dalam diam. Dia tidak akan dapat berbicara dalam wujud monsternya itu sehingga hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepala.


"Meski aku dan Hazama akan menunggu, bukan berarti kami tidak akan membantumu. Kami akan mendukungmu dari kejauhan..." Rigel memberi pesan terakhir sebelum pergi. Ozaru menepuk-nepuk dadanya seakan mengatakan 'Serahkan saja padaku.'


Tanpa perlu membuang waktu lagi, Rigel langsung pergi meninggalkan bahu Ozaru dan kembali ke tempat Hazama.


"Apa dia masih memegang kesadarannya?" Hazama bertanya dengan tergesa-gesa.


"Seharusnya tidak ada masalah, dia masih sadar. Kita akan mendukungnya dari jauh selagi menunggu kabar dari tim lain dan juga, hematlah tenagamu sebanyak mungkin."


Hazama mengangguk setuju dengan Rigel. Untuk saat ini mereka hanya perlu menyerahkan Tortoise kepada Ozaru dan membiarkannya mengamuk sepuas mungkin. Rigel mengalihkan perhatiannya ke Tongkat Ozaru yang menancap di tanah. Meski tidak ada yang aneh, namun untuk Rigel itu mencurigakan.


Kenapa tongkat ini tidak kembali dengan sendirinya seperti tombak milik Takumi? Seharusnya senjata ilahi akan kembali ke pemiliknya setelah satu menit terpisah dengan pemiliknya.


"Hei Hazama... Tentang tongkat Ozaru, saat kalian di panggil ke dunia ini bersama-sama, apakah dia sudah membawa tongkat ini sejak awal?" Rigel penasaran apakah Ozaru sudah memegang senjata ini semenjak di dunianya atau belum.


Hazama terkejut, dia mulai menutup mulutnya dan mengingat-ngingat kejadian saat dia di panggil ke dunia ini.


"Memang benar, saat aku di panggil ke dunia ini, hal pertama yang membuatku terkejut adalah pemandangan seekor manusia Kera yang berbaring sembari mengorek telinganya." Hazama berhenti sejenak selagi menggali kenangan di ingatannya dan matanya mulai terbuka lebar. Rigel memperhatikannya dan menyadari bahwa ada sesuatu yang mengejutkan tanpa dia sadari.


"Benar juga... saat kami di kumpulkan di aula istana untuk bertemu Raja Alexei dan mengaktifkan senjata kami, Ozaru menggerutu tentang dirinya di culik dan semacamnya. Dia mulai mengamuk dan di saat itu pula, dia mengatakan 'memanjang lah Nyoibo'. Benda yang dia gunakan untuk membersihkan telinganya itu mulai memanjang dan membesar. Awalnya aku pikir itu adalah senjata ilahi miliknya. Namun, saat aku mengingatnya lagi, dia bahkan tidak mengaktifkan Index sama sekali..." Hazama menjadi semakin terkejut karenanya dan memandang Rigel.


"Dia bahkan bisa menggunakan Skill Tongkatnya sejak awal dan mengalahkan kami seorang diri... Rigel... Apakah mungkin..."


"Ya." Bahkan sebelum Hazama menyelesaikan kata-katanya, Rigel sudah tahu apa yang ingin dia katakan.


"Tongkatnya bukan senjata ilahi yang sama dengan milik kalian, namun sesuatu yang sudah ada dari dunia Ozaru sendiri..."


Jika di pikirkan lagi, Ozaru sering mengatakan hal-hal aneh yang menurut Rigel itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Namun jika di pikirkan sekarang, Ozaru tidak seperti seorang pembohong.


"Aku jadi teringat sesuatu yang dia katakan di pertemuan Kaisar Surgawi, saat kau bertanya siapa yang mereka puja di dunianya dan Ozaru menjawab bahwa dialah yang di puja... Ntah hanya aku yang terlalu banyak berfikir atau... dia benar-benar seorang Dewa di dunianya?" Hazama menatap Rigel dengan tidak percaya dan senyuman aneh di bibirnya.


Rigel sendiri tidak tahu harus menjawab apa, namun saat membayangkan seorang dewa yang hanya berbaring dan menggali emas hidung, rasanya mustahil.


"... Aku pikir itu tidak mungkin... Lagipula, dia selalu menjuluki dirinya Raja Kera, jadi aku yakin dia hanyalah Raja kera dan bukan Dewa."


"Itu masuk akal..." Hazama setuju dan tidak berniat membahas lebih jauh lagi.


Memutuskan untuk tidak membicarakan lebih jauh lagi dan menghubungi dua tim yang tersisa. Tim pertama yang di hubungi Rigel adalah tim jantung. Yang memegang radio tim jantung adalah Takumi.


"Takumi, bagaimana keadaan di sana?"


"Umm, yah, di sini baik-baik saja jika mengabaikan lendir menjijikan di tubuhnya. Kami masih bersama dengan tim segel. Sejauh ini kami belum menemukan jalan bercabang apapun, mungkin jauh lebih sulit untuk mencari jantung dan segel berada."


"Baiklah jika begitu. Tetaplah berhati-hati dan jangan lupa untuk menghubungiku jika sesuatu terjadi."


"Di mengerti."


Rigel langsung mematikan komunikasi radionya agar tidak mengganggu. Untuk saat ini, dia akan membantu Ozaru yang mengamuk dari kejauhan.


"Apa yang di katakan Rigel?" Yuri menghampiri Takumi dan bertanya dengan khawatir.


"Dia hanya mengatakan bagaimana keadaan kita di sini. Namun, dia tidak menjelaskan situasi di sana." Takumi sedikit gelisah karena tidak mengetahui situasi di luar sana.


"Dari pada itu, lebih baik kita tidak membuang waktu lebih lama di sini." Lanjutnya.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju bagian dalam tubuh Tortoise. Tempat ini mirip dengan sebuah gua, namun yang membedakan adalah atap dan dindingnya terbuat dari daging serta lendir menjijikan membasahi tempat ini.


Berkat cahaya keemasan yang di berikan Rigel, mereka tidak perlu khawatir soal pengelihatan, karena hampir tidak ada cahaya si dalam sini.


"Aku masih penasaran... apakah cahaya kecil itu benar-benar informan rahasia Rigel? nah, sebenarnya mahkluk apa kau ini?" Yuri mulai bertanya kepada cahaya itu dengan harapan mendapatkan sebuah jawaban darinya.


Cahaya keemasan itu hanya melayang ke kiri dan ke kanan selagi memimpin jalan. Yuri menghela nafas kecewa karena tidak mendapatkan jawaban apapun darinya. Sejak awal dia memang sudah salah karena bertanya kepada seberkas cahaya.


"Berhenti." Takatsumi menghentikan semua orang dan menatap jalan di depannya. "Ada lima jalan bercabang... Apa yang harus kita lakukan..." Takatsumi mulai gelisah.


Kelima jalan ini pasti menuju tempat yang berbeda-beda. Sekali mereka salah mengambil jalan, akan butuh waktu cukup lama kembali ke titik awal. Belum lagi, masalah terbesar adalah tempat ini bukan tempat yang mereka kenali. Semua dalam kebingungan besar untuk memilih jalan mana yang terbaik.


"Peluang keberhasilan dari masing-masing jalan hanya 20%... Ini sama seperti kita harus menjawab pilihan ganda saat ujian. Namun perbedaannya kita tidak tahu petunjuk untuk jawaban benarnya..." Nadia menyerukan pikirannya.


Seperti yang di katakan Nadia, hanya ada 20% peluang untuk memilih jalan yang benar. Dalam situasi seperti ini, tambahan angka 1% sangat di butuhkan. Selagi yang lain dalam kebingungan, cahaya keemasan itu mulai melanjutkan perjalanan ke jalan paling kiri. Semuanya memandang cahaya itu dan ingat apa yang di katakan Rigel bahwa cahaya itu akan menuntun menuju segel.


"Sepertinya kita akan berpisah di sini... Berjuanglah sebaik mungkin..." Yuri melambaikan tangannya dan pergi menuju jalan paling kiri bersama timnya, menyisakan tim jantung dalam kebingungan.


"Sepertinya jalur paling kiri yang akan kalian lalui. Jika begitu, bagaimana kalau kita memilih yang paling kanan?Atau kita berpencar dan setiap orang mengambil satu jalur?" Argo menyerukan pendapatnya.


"Itu mungkin ide bagus, namun terlalu berbahaya untuk bergerak sendirian di tempat seperti ini." Takatsumi menolak usulan Argo.


"Bagaimana kalau berdua? jika kita memilih jalan yang salah, kita hanya perlu kembali ke titik awal dan menuju jalan yang belum kita telusuri. Selain itu, resikonya menjadi lebih kecil." Takumi mengajukan usul.


"Itu bukan usulan yang buruk. Kalau begitu, aku dan Argo mengambil jalan kedua dari kanan." Marcel menyetujui usulan Takumi dan menuju jalan nomor dua dari kanan bersama Argo.


"Kalau begitu kita ambil yang nomor satu dari kanan, ya. Ayo kita bergegas, Takumi." Takatsumi memimpin jalan dan tim jantung terbagi menjadi dua bagian.


Setelah cukup lama berjalan, Takumi yang berjalan di belakang Takatsumi terus melirik nya sesekali. Takatsumi menyadari itu, awalnya dia berfikir jika Takumi akan segera bicara, namun itu tidak kunjung datang darinya. Menyerah dengan itu, Takatsumi langsung bertanya padanya...


"Ada apa Takumi? jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, katakan saja." Takatsumi terus berjalan.


Takumi sedikit ragu dan enggan mengatakannya. Namun sangat langka dia bisa berduaan bersama Takatsumi di tempat yang tidak akan di dengar oleh siapapun. Mau tidak mau, dia harus mengatakannya.


"... Aku ingin mengatakan beberapa hal yang mengganjal pikiranku sampai sekarang... Ini tentang kau dan Rigel..." Takumi menatap lurus punggung Takatsumi yang berada di depannya.


Mendengar hal itu dari Takumi, Takatsumi sedikit tersentak kaget namun dia kembali tenang dengan cepat dan menunggu Takumi melanjutkan kata-katanya.


Apa Rigel sudah memberitahu hal itu pada Takumi? Kapan dia melakukannya? Jika Takumi sampai mengetahuinya, itu akan merepotkan di masa depan nanti...


"Aku ingat Rigel pernah mengatakan siapa yang menyaksikan kematiannya sampai akhir... Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya, namun setelah kupikirkan lagi, kau dan Raja Altucray adalah orang yang menyaksikan Rigel jatuh. Aku dan Yuri tidak menyaksikan nya karena Raja menyuruhnya dan aku juga tidak ingin menyaksikannya...Namun kini aku menyesalinya..." Kesedihan mulai terukir di wajah Takumi, matanya mulai tertunduk dan kembali menatap Takatsumi dengan sedikit curiga.


"Saat kau kembali dengan tubuh gemetar, aku pikir kau menangis, namun aku tidak ingat menemukan tanda-tanda kalau kau habis menangis. Juga, tanganmu terluka saat itu yang aku fikir kau memukul batu atau semacamnya karena kesal tapi... Saat Rigel muncul setahun setelahnya dan menyusup ke aula kerajaan... Ntah hanya imajinasiku atau bukan, kau tampak sangat ketakutan akan sesuatu... Begitu juga dengan Raja Altucray..." Takumi mulai mengungkapkan kecurigaannya satu-persatu, sementara Takatsumi diam-diam memegang pedangnya dan bersiap menariknya kapan saja.


"Aku tidak ingat kau pernah bertengkar dengan Rigel sebelumnya, namun kenapa jarak di antara kalian begitu jauh? mengapa kau tidak mencoba membalaskan kematiannya sama seperti yang aku lakukan? dan mengapa kau bersikeras menjadikan gadis itu sebagai pengantinmu?meski tahu kalau Rigel masih hidup?... Katakanlah Takatsumi, apa yang terjadi antara kau dengan Rigel..." Takumi menatap Takatsumi dengan tajam dan marah.


"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi di jurang itu dan hanya kau, Rigel dan Raja Altucray yang tahu..." Takumi semakin menuju ke inti permasalahannya.


Kau boleh juga, Takumi. Tidak kusangka sampai sejauh ini... Jika begitu, aku mungkin akan membunuhmu sekarang juga...


Takumi yang menatap dengan tajam secara tiba-tiba menghembuskan nafasnya untuk meredam emosinya dan berhenti berjalan, begitu juga Takatsumi.


"Maaf, tidak jadi... Awalnya aku ingin bertanya apakah kau yang membunuh Rigel atau semacamnya, namun aku tidak memiliki cukup bukti dan aku juga tidak menemukan motif apa yang mendorongmu melakukan itu...Lagipula aku masih penasaran dengan maksud dari pahlawan tersesat yang akan mengamuk saat kehilangan perlindungan sucinya. Namun nyatanya dia baik-baik saja... Yah, mari lupakan pembicaraan ini." Takumi langsung berjalan melewati Takatsumi yang masih diam dan menatapnya.


"Misalnya saja... Jika aku benar-benar membunuh Rigel, apa yang akan kau lakukan?" Takatsumi bertanya, meski tampak beresiko untuk menanyakan ini.


Takumi berhenti berjalan dan berbalik menatap Takatsumi selagi berkata, "Akan kupenggal kepalamu dan menjadikanmu makanan Goblin." Wajah Takumi di penuhi kemarahan dan kebencian. Dia tidak bermain-main, ancamannya itu nyata dan terlihat jelas dari pancaran kemarahannya.


"Begitu." Takatsumi merespon dengan datar dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Pertama Rigel, sekarang kau ya, Takumi. Kau juga berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dengan dirimu yang sebelumnya, Takumi. Namun tidak hanya kau dan Rigel yang mengalami perubahan besar, tetapi aku juga... Aku sudah tidak bisa kembali lagi...


Takatsumi menatap Takumi yang kini berjalan di depannya. Ada satu hal yang membuatnya tertarik tentang Takumi, yaitu obsesinya terhadap Rigel. Dia ingat Takumi pernah mengatakan kalau Rigel teman pertama yang dia miliki, yang artinya dia tidak memiliki sosok teman di dunia sebelumnya. Dia memikirkan satu hal yang mungkin dan sedikit tersenyum karenanya.


Begitu ya... Aku mengerti Takumi. Alasanmu sangat menghargai pertemanan seperti itu... dan alasan kau tidak memiliki teman, itu mungkin karena kau korban bully...


Di balik sosok hebat seperti Takumi nampaknya ada jiwa yang rapuh dan takut dengan neraka bernama kesepian. Orang yang tersenyum paling lebar adalah orang yang memiliki luka yang dalam... Sepertinya kata-kata itu bukan kiasan belaka...