
Setelah kepergian Lucifer dan Dante, Rigel bersama Ozaru dengan cepat kembali ke Region dan pergi ke ruang tempat Yuri di rawat. Sesampainya di sana, Rigel dapat melihat bahwa ada Ray, Nisa dan seseorang yang seharusnya tidak ada di sini, Misa. Ray dan Nisa memberikan hormat kepada Rigel. Untuk Rigel, hal ini selalu menjengkelkan dan sedikit mengganggu.
"Bagaimana keadaan Yuri?" Tanya Rigel.
"Ya. Sejauh ini keadaanya bisa di bilang baik. Misa sedang berusaha menghambat perkembangan dari parasit itu." Ujar Ray.
"Begitu, ya." Ujar Rigel.
"Umm, mengenai itu, bagaimana dengan Tortoise? apakah kau tidak bertarung melawannya?" Tanya Nisa.
"Ada sembilan pahlawan di sana. Kupikir mereka pasti sanggup menghadapinya untuk saat ini. Lalu, untuk Asoka dan Merial kubiarkan mereka berada di Ruberios karena mungkin di sana lebih aman." Ujar Rigel.
Rigel memandang Misa yang bahkan tidak mencoba memandang Rigel. Kedua tangan Misa terulur ke tengkuk Yuri yang tengkurap. Dia begitu fokus kepada tengkuk Yuri untuk menghambat benjolan yang merupakan parasit. Nampaknya Misa juga sudah mulai kelelahan dengannya.
"Misa, biar aku gantikan kau merawat Yuri. Kerja bagus." Ujar Rigel, berjalan ke tempat Misa.
"Ya, Terima kasih, Rigel. Setelah ini ada hal yang ingin ku bicarakan empat mata denganmu mengenai penelitian. Namun, kupikir kondisi Nona Yuri harus di utamakan." Ujar Misa, mengelap keringat di dahinya.
Rigel sudah menebak hal ini. Jika Misa hadir di sini, pastinya dia menemukan sesuatu terkait penelitiannya. Rigel memintanya untuk meneliti beberapa hal dan itu adalah sesuatu yang sangat di butuhkan Rigel kedepannya.
"Erhggg...!" Yuri mengerang sakit.
Rigel menelan pahit kenyataan. Tidak ada waktu baginya untuk beristirahat. Bahkan selagi Rigel berada di sini, pahlawan lain sedang terancam bahaya. Rigel mendecakan lidahnya dan membuat pisau kecil dan berniat membedah dan mencongkelnya. Namun, Misa yang mengetahui niat Rigel menghentikannya.
"Anu, Rigel... Jika kau berniat untuk mencongkelnya keluar, kupikir itu berbahaya. Parasit itu terhubung langsung dengan urat syarafnya dan jika itu di cabut dengan paksa, kemungkinan terburuk urat syarafnya terluka dan menyebabkan kematian." Ujar Misa dengan khawatir.
Rigel tidak memikirkan itu. Parasit ini lebih sulit untuk di tangani dari yang dia kira. Rigel mengulurkan tangan kanannya dan mencoba mengalirkan Mana miliknya kepada Parasit itu.
"Emm? Parasit ini menghisap Mana?" Gumam Rigel.
Misa juga menyadari hal itu. Tidak hanya menghisap Mana milik Rigel, rupanya dia menghisap Mana milik Yuri dan mengumpulkannya. Rigel telah memikirkan hipotesis mengenai ini.
"... Sepertinya, parasit ini tidak hanya menyerap Mana saja. Tetapi dia berusaha mengubah arusnya dan mengendalikannya." Ujar Rigel.
"Mengubah arus dan mengendalikannya?" Tanya Nisa.
"Ya. Awalnya aku membayangkan kalau Yuri akan mengamuk karena di kendalikan oleh parasit, namun tidak terduga dia hanya terbaring lemah dan merasakan sakit. Kemungkinan besar, Parasit ini membutuhkan waktu untuk mengendalikan inangnya dengan cara menyerap Mana dan mengalirkan nya agar inangnya bergerak sesuai keinginannya." Ujar Rigel.
Semua orang memahami maksudnya, tentu saja selain Monyet bodoh yang hanya menggali emas di hidungnya. Rigel menarik rambutnya dengan tangan kiri. Beruntunglah karena Yuri seorang pahlawan yang memiliki Mana dalam jumlah besar, pasti butuh waktu cukup lama untuk parasit mengendalikannya.
Divine Protection bahkan tidak berguna terhadap parasit. Dia hanya bisa menangkis kutukan yang di arahkan kepada pahlawan. Rigel berfikir keras, bagaimana cara menghentikan parasit sialan ini.
Ozaru yang sedang mengupil mulai memperhatikan tengkuk Yuri dengan sedikit penasaran. Ozaru mengambil tongkat yang dia letakan di kupingnya dan mengembalikannya ke ukuran semula. Saat tidak ada yang memperhatikan, Ozaru mengulurkan ujung tongkatnya dan memukul ringan pasa benjolan di tengkuk Yuri.
Saat Rigel melihat kembali ke tengkuk Yuri, dia terkejut. Benjolan itu perlahan mengecil dan hilang, Yuri bahkan sudah tidak merasakan sakit lagi. Tidak mengerti, Rigel benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja di lakukan Ozaru.
"Ah? aku hanya menghancurkan benjolan yang membuatku risih saat melihatnya." Ujar Ozaru dengan tidak perduli.
Penjelasan itu sangat tidak menjawab apa yang menjadi kebingungan semua orang. Bagaimana caranya melakukannya?
"Tuan Ozaru, bisakah aku bertanya bagaimana caramu menghilangkannya?" Tanya Misa.
"Oh, aku hanya menyerap Energi Dunia yang berada dalam upil besar yang menempel di lehernya itu." Ujar Ozaru dengan tak acuh.
Jadi begitu, alasan dia risih karena dia menganggapnya sebagai harta yang berada di lubang hidung. Yah, yang membuat semua orang penasaran adalah mengenai Energi Dunia yang dia maksud.
"Energi Dunia? bisakah kau memberitahunya padaku?" Tanya Misa.
"Umm, ahh, seharusnya tidak ada yang boleh mengetahui ini. Namun karena kau adalah pengikut ku, akan kuberitahu... Energi dunia itu adalah cahaya emas aneh yang beterbangan di sekitar. Energi itu ada dimana-mana, terutamanya di dalam hutan. Sebelum aku di culik ke tempat aneh ini, hanya akulah satu-satunya Kera yang dapat melihat dan menggunakannya." Ujar Ozaru.
Semua orang berusaha mencerna penjelasan Ozaru.
"... Meski penjelasanmu terdengar aneh. Mungkinkan Energi Dunia yang kau maksud adalah Mana Alam?" Tanya Rigel.
"Mana Alam? apa itu makanan?" Tanya Ozaru.
Percuma bertanya apapun kepadanya, lebih mudah untuk menunjukannya. Rigel mengulurkan tangan kirinya pada Ozaru dan mengumpulkan Mana alam di tangan kirinya.
"Apakah ini Energi Dunia yang kau maksud?" Tanya Rigel.
"Hmm, yah ini mirip dengannya, namun ini bercampur dengan energi lain." Ujar Ozaru.
"Jadi begitu. Energi Dunia yang kau maksud mungkin Energi Alam, namun perbedaannya sangat tipis. Contohnya, aku mengetahui apa itu garam, namun aku hanya mengetahuinya saja. Berbeda dengan Ozaru, dia tahu apa itu garam, bagaimana rasanya, bagaimana bentuknya dan bagaimana cara membuatnya." Ujar Rigel.
Mudahnya, Rigel hanya bisa merasakannya dan bisa melihatnya saat dia mewujudkannya menjadi Mana Hand atau yang lainnya, sementara Ozaru bisa melihatnya sejak awal. Yah, bahkan jika Rigel memintanya untuk mengajari, dia yakin bahwa dia tidak akan mempelajari apapun.
"Yah, untuk saat ini kita lewatkan Energi Dunia. Misa, mari kita bicara mengenai hal yang ingin kau bicarakan denganku. Ayo, kita pindah tempat." Ujar Rigel.
"Baiklah." Ujar Misa.
Rigel memegang tangan Misa dan membawanya ke ruang kendali untuk bicara. Karena ada Leo yang tertidur di sana, Rigel memutuskan untuk memindahkannya terlebuh dahulu dan memulai percakapannya. Rigel menyiapkan dua buah kursi dan satu meja yang sudah berisi cemilan, susu dan kopi.
"Jadi, hal apa yang kau temukan?" Tanya Rigel.
"Ya, ini tentang penelitian yang kau minta padaku... Aku telah mengkonfirmasi bahwa... Pahlawan yang mati bisa di bangkitkan lagi!" Ujar Misa dengan tegas sementara Rigel terbelalak kaget.