
Pemandangan mengerikan, ribuan atau bahkan jutaan mayat berserakan, tanah berubah menjadi merah, karena menyerap begitu banyak darah yang tumpah. Ratusan ribu pedang tertancap di tanah, mayat yang berserakan membentuk bukit, tidak ada apapun yang tersisa selain tanah lapang yang di hiasi banyak sekali mayat manusia ataupun iblis.
*Ting..............
*Ting..............
Hanya ada suara pedang yang saling menghantam dan jeritan kematian dari banyak orang.
Apakah ini... Neraka sesungguhnya?
Rigel melihat-lihat ke sekitar dan menyadari bahwa dia tidak memiliki tubuh fisik. Tangan ataupun kaki, dia tidak dapat melihatnya, dia hanya bisa melihat pemandangan yang berada jelas di depan matanya.
Apakah ini mimpi?
Rigel menatap daerah sekitar. Dia tidak pernah melihat tempat yang terlihat gersang seperti ini sebelumnya. Selain pertarungannya di akhir pelatihan seratus tahun. Dia menatap ke tempat lain dan menemukan manusia sedang bertarung dengan iblis dan satu sosok dengan sayap putih yang merupakan seorang malaikat. Ketiga Ras saling membunuh satu sama lain tanpa pandang bulu. Kekacauan benar-benar terjadi di sini.
Rigel menatap langit dan menemukan pertarungan lainnya. Iblis dan Malaikat serta manusia yang mengendarai monster juga saling membunuh di atas sana. Mayat-mayat berjatuhan dari langit, banyak nyawa hilang dalam hitungan detik. Ini bukanlah sebuah pertempuran, melainkan peperangan.
Mungkinkah ini... Ragnarok?
Hanya satu hal yang dapat menjelaskan alasan Armageddon ada di sini, yaitu di mulainya peperangan Ragnarok. Masing-masing pasukan dari segala rasa saling membunuh untuk meraih kemenangan mereka. Perang tetap berjalan seperti biasa, sampai dua belas cahaya putih muncul dari langit timur, di ikuti dengan beberapa cahaya hitam dari barat dan beberapa manusia Selatan.
Saat mereka muncul, peperangan mulai benar-benar pecah dan kematian semakin meningkat. Satu persatu di antara mereka tumbang dan hampir mencapai kebuntuan.
Sosok-sosok yang baru muncul itu, apakah mungkin Seraphim, Pilar iblis dan... Pahlawan?
Pemandangan yang di lihat Rigel mulai berganti ke sisi lain. Tepat di depannya, Rigel melihat seorang pria berambut putih yang sedang berlutut di tanah. Pria itu menggunakan jubah berwarna merah dengan perisai berduri di bahu kirinya. Situasi sekitar sangatlah hening, seakan perang telah berakhir. Rigel melihat kembali pria di depannya dan menyadari bahwa dia sedang memegang mayat di pelukannya. Wajahnya tidak di ketahui, wujudnya bahkan tidak Rigel kenali, hampir seakan sengaja di sensor.
Pria itu memeluknya dengan lembut dan penuh kasih sayang, namun suasana di sekitar tampak mencekram. Beberapa manusia tengah berlari dan berdiri di belakang pria itu. Wajah mereka dan sosok mereka juga tidak dapat di kenali. Hanya mulut dan alis mereka saja yang dapat Rigel lihat. Dari ratunya, mereka tampaknya sedang bersedih akan sesuatu.
Pria yang tengah berlutut itu membelai pipi mayat yang ada di pangkuannya dan membaringkan nya di tanah dengan lembut. Pria itu perlahan berdiri, kedua tangannya mengepal dengan sangat erat. Terlihat sangat jelas bahwa kemarahan menyelimuti dirinya. Pria itu perlahan menoleh, hampir seperti menyadari bahwa Rigel berada di belakangnya. Wajahnya sama seperti yang lain, tidak di dapat di kenali.
Perlahan pria itu menoleh dan bibirnya mulai bergerak seakan mengatakan sesuatu. Sekilas, Rigel melihat sorot matanya yang marah kepada dunia dan dirinya sendiri lalu, semuanya menggelap.
"Rigel... Rigel..." Sebuah suara mulai terdengar dari keheningan abadi itu, "Rigel!"
Rigel terbangun dari tidurnya. Dia setengah telanjang, dan sedang berbaring di kasur yang berada di sebuah tenda. Rigel perlu waktu untuk menyesuaikan pengelihatan nya dan wajah Tirith yang pertama dia lihat. Rigel mencoba untuk duduk dan rasa sakit yang menusuk menghujani dirinya.
"Rigel! kau sudah sadar! Jangan memaksakan dirimu dan tetaplah beristirahat!" Tirith memberikannya peringatan. Matanya masih berkaca-kaca karena air mata.
Meski dia harus tetap berbaring dan memulihkan diri, Rigel mengabaikan peringatan Tirith dan duduk di kasurnya. Dia memegang palanya karena merasa sedikit pusing, "B-berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Kau tidak sadarkan diri selama kurang lebih tujuh jam... Aku bersyukur jika kau baik-baik saja." Tirith mengusap air matanya.
Tujuh jam, yang berarti sekarang ini hari telah sore. Tidak di sangka jika Rigel bangun secepat ini. Awalnya Rigel memprediksi bahwa dia akan pingsan 2~3 hari lamanya. Yah, baguslah jika dia sadar lebih cepat. Untuk sekarang, Rigel harus memulihkan dirinya perlahan selagi mengetahui apa saja yang terjadi selagi dia pingsan.
"Bagaimana keadaan sekarang ini? dan juga, bagaimana Ozaru?"
"Pahlawan kera saat ini baik-baik saja, dan nampaknya dia masih belum sadarkan diri. Pertarungan antara para pahlawan dan Pahlawan Ozaru yang berubah menjadi raksasa sangatlah sengit. Bahkan, Pahlawan kipas harus di rawat karena kakinya yang hampir hancur di remas Tuan Ozaru." Tirith menjawab pertanyaan Rigel. Dia tidak lagi mempersalahkan Rigel untuk berbaring atau duduk.
"Begitu, mereka berhasil mengembalikan Ozaru tanpa membunuhnya ya.. Bagaimana cara mereka melakukannya?"
"Aku tidak tahu pasti, namun sepertinya mereka memotong ekornya." Tirith menempelkan jari telunjuknya di pipi selagi mengingat kejadiannya.
Rigel dapat menghela nafas lega untuk Ozaru yang berhasil selamat. Meski Petra harus menderita sedikit karenanya. Masih ada begitu banyak hal yang harus di selesaikan oleh Rigel. Sehingga dia tidak memiliki waktu untuk berbaring dan beristirahat.
"Daripada itu, apa kau benar baik-baik saja, Rigel?" Tirith bertanya dengan sedih dan khawatir.
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? aku baik-baik saja."
"Namun matamu... Kau menangis loh."
Rigel terkejut dan menyentuh mata kanannya. Tirith benar, air mata Rigel berjatuhan tanpa sebab. Rigel sendiri tidak mengetahui apa yang menjadi penyebabnya.
"Apakah kau baru saja mengalami mimpi buruk atau semacamnya?" Tirith bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak... Aku tidak ingat mengalami mimpi apapun."
Rigel menyeka air matana dan keluar dari kasurnya. Dia perlahan mencoba untuk berdiri. Rasa sakitnya kembali datang dan menikam seluruh tubuhnya. Rigel hampir terjatuh, namun Tirith bangun dan membantu Rigel berdiri.
"K-kau tidak boleh bergerak dulu, Rigel! tetaplah berbaring untuk memulihkan dirimu!" Tirith sedikit membentak Rigel.
"Tidak... bisa. Berbaring di kasur...hanya membuatku semakin sakit. Masih ada... banyak hal yang harus, aku kerjakan." Rigel menolak untuk beristirahat dan tetap ingin pergi.
Tirith menghela nafas lelah. Dia tidak menyangka jika Rigel akan menjadi sekeras kepala ini sampai tidak memperhatikan kondisi tubuhnya, "Baiklah... Tetapi aku akan menemanimu!" Tirith bersikeras menemani Rigel jika dia ingin pergi.
Rigel tidak bisa mengeluh dan membiarkan Tirith menemaninya. Rigel langsung berfikir hal mana yang harus dia kerjakan lebih dulu. Rigel ingin segera menghubungi Sylph dan memastikan kebenaran identitas gadis itu. Namun, ada hal lain yang menantinya.
Untuk sekarang, aku harus menemui Asoka dan Ray terlebih dahulu.
Rigel memutuskan untuk menemui Asoka dan Ray. Dia meminta Tirith menuntunnya ke tempat mereka berada saat ini.
"Ntah kenapa aku merasa suasananya berbeda dari biasanya..." Rigel bergumam. Tirith yang mendengar itu hanya bisa tersenyum lembut, "Mereka memberi hormat padamu, tulus dari lubuk hati terdalam mereka. Kau telah mengalahkan Tortoise dan melenyapkan tubuh seukuran gunung itu. Bagaimana mungkin mereka tidak bahagia?" Tirith tersenyum mengejek.
Para prajurit itu berbaris dan berlutut memberi hormat tanpa di perintah. Rigel tercengang dengan pemandangan di depan matanya.
"Tuan Pahlawan, Terima kasih, karena telah mengalahkan mahkluk itu. Berkatmu, istri dan anak-anakku tidak berada di dalam ketakutan akan Tortoise lagi... Terima kasih!" Seorang prajurit mengutarakan perasaannya dan menangis haru, begitu juga prajurit lain.
"A-h, y-yaa, aku..." Rigel tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti ini.
Rigel tidak ambil pusing, dia hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanannya untuk menemui Ray dan Asoka. Bahkan meski Rigel telah pergi melewati mereka, para prajurit masih mempertahankan penghormatan mereka hingga sosok Rigel benar-benar lenyap di hadapan mereka.
Setelah melewati para prajurit itu, Rigel sampai di sebuah tenda dimana para petinggi Region berkumpul. Rigel tanpa ragu masuk ke dalam dan menemukan Ray, Asoka, Merial, Misa, Nisa dan Fang berada di sana. Menyadari seseorang masuk, mereka langsung menoleh ke arah Rigel.
"Rigel! syukurlah kau baik-baik saja!" Asoka orang pertama yang bereaksi dan menghampiri Rigel. Petinggi lain hanya tersenyum dan menghampiri Rigel.
"Ya, aku baik-baik saja. Maaf sudah membuat kalian khawatir." Rigel berkata dengan lembut, "Kita lewati bagian ini. Jadi, Ray, bagaimana persiapan itu? aku yakin Takumi membawanya." lanjut Rigel.
Mendengar Rigel langsung membahas hal itu, Ray langsung membuat ekspresi serius, "Ya... Aku sudah mengamankannya dengan alasan menyambungkan kembali tubuhnya sebelum di makamkan."
"Baguslah, lalu bagaimana dengan persiapan lingkaran sihirnya?"
"Itu juga berjalan baik dan kita siap melakukannya kapanpun." Mendengar percakapan Rigel dan Ray, Merial dan yang lainnya termasuk Tirith tidak mengerti apa yang sedang Rigel dan Ray rencanakan.
Di sisi lain, Misa tampaknya sudah menyadari inti rencana Rigel.
"Kalau begitu, Ray. Kau pergilah lebih dahulu. Bawalah Takumi bersamamu, ada hal yang harus ku bicarakan dengannya setelah itu." Rigel menoleh ke arah Merial dan menatapnya, "Dan untuk Merial, kau ikutlah bersamaku. Kita harus menyelesaikan masalah ini."
Mendengar Rigel memanggilnya, Merial mungkin menduga kalau dia akan mendapat hukuman karena membiarkan Tirith pergi ke Region saat lalu. Merial telah siap untuk menerima apapun yang akan di lakukan Rigel padanya. Ray dengan cepat pergi bagaikan seorang Assasin dan menjemput Takumi.
Rigel meraih punggung Merial dan bersama dengan Tirith, mereka berteleport ke tempat yang sudah di persiapkan Rigel sejak lama secara diam-diam. Sebagai catatan, Ray memegang alat teleportasi yang sudah di kordinatkan khusus ke tempat itu.
Rigel, Merial dan Tirith tiba di sebuah hutan misterius. Kandungan Mana alam berlimpah di sini, hutan dan rerumputan hijau lebat serta udaranya masih sangatlah segar.
"Umm, tempat ini, dimana?" Tirith bertanya selagi mengamati sekitar.
"Tempat ini berada di dalam hutan roh, surga para Peri... Valhalla." Rigel menjawab pertanyaan Tirith dan secara bersamaan, peri-peri kecil mengintip dari pepohonan.
Merial dan Tirith sangat terpesona dengan pemandangan di sekitar dan kelucuan dari para peri. Mereka tampak seperti serangga kecil dengan wujud manusia. Peri kecil itu perlahan menghampiri Tirith dan Merial, karena merasa mereka tidak membahayakan. Merial dan Tirith di sambut ramah oleh para peri itu.
"Ini pertama kalinya aku melihat Peri..." Tirith bergumam selagi membiarkan salah satu peri kecil duduk di bahunya.
"Anda benar, Putri... Hanya orang-orang tertentu saja yang biasanya di perbolehkan untuk memasuki hutan peri. Jika ini benar-benar Valhalla, itu berarti kau telah bertemu dengan ratu peri, Tua Rigel?!" Merial bertanya dengan semangat.
Saat Tirith dan Merial menoleh ke Rigel, mereka di kejutkan dengan betapa banyaknya peri kecil wanita yang berterbangan di sekitar Rigel. Beberapa di antara mereka bahkan bersandar di tubuhnya dan menyembuhkan luka Rigel secara perlahan.
"Ya, aku sudah bertemu dengannya dan dia mengatakan kalau aku memiliki sesuatu yang membuat para peri nyaman berada di sekitarku." Rigel berkata dengan sedikit terusik oleh para Peri.
"Tempat tujuan kita ada di depan sana, ayo kita pergi." Rigel mengabaikan para Peri di sekitarnya dan berjalan menuju tujuannya.
Merial dan Tirith saling memandang dan mengikuti Rigel dari belakang. Mereka memandang daerah sekitar dengan sangat kagum. Hutan peri bukanlah sebuah tempat yang dapat di kunjungi. Jadi pemandangan ini adalah sesuatu yang baru bagi mereka.
"Umm... Jadi... Apa yang akan kita lakukan di sini, Tuan Rigel?" Merial bertanya. Dia bingung dan penasaran apa yang ingin Rigel lakukan.
"Aku akan menjelaskannya nanti saat Takumi dan Ray berkumpul bersama kita. Sehingga aku tidak perlu menjelaskannya dua kali." Rigel menjawab dengan acuh.
Merial tidak puas dengan jawaban itu. Awalnya sedikit ragu, namun dia memberanikan diri untuk bertanya, "Apakah ini ada hubungannya tentang kematian pahlawan?"
Rigel berhenti berjalan saat mendengar itu. Merial sedikit takut kalau pertanyaannya menyinggung Rigel.
"... Ya." Rigel menjawab pertanyaan Merial, "Ini ada hubungannya dengan kematian Nanami." Lanjutnya dan kembali berjalan.
Sesaat kemudian, mereka menemukan sebuah pintu misterius berwarna hitam. Rigel mengulurkan telapak tangannya ke pintu itu dan perlahan membukanya. Pintu itu terbuka dan di dalamnya terdapat sebuah ruangan bundar yang terbuat dari batu. Rigel melangkah masuk, Merial dan Tirith mengikutinya dengan bingung.
Lantainya memiliki garis sinar berwarna biru yang membentuk lingkaran sihir unik. Terdapat beberapa pilar batu di tepi ruangan dan sebuah mayat wanita di tengah lingkaran sihir itu.
"Tempat ini terlihat seperti Kuil pemanggilan Pahlawan, dan mayat yang ada di tengah itu...!!" Tirith berkata dengan terkejut.
"Pahlawan cambuk, Nona Nanami?!" Merial melanjutkan ucapan Tirith, "Jangan-jangan, Tuan Rigel... Apakah kau berniat..."
Ucapan Merial di potong oleh Rigel, "Benar... Kau pasti sudah mendengarnya dari Misa kalau aku menyelidiki tentang kematian pahlawan dan membangkitkan nya... Namun, ketimbang membangkitkan nya, aku berniat untuk melahirkan seorang pahlawan baru... Yaitu kau." Rigel menoleh ke arah Merial dan menunjuknya.
Terkejut dan tak bergeming. Hanya itu yang bisa Merial lakukan. Bahkan Tirith sangat terkejut dengan kata-kata Rigel. Dia tahu bahwa Rigel adalah orang yang selalu melakukan hal paling tidak masuk akal, namun. Melahirkan pahlawan baru adalah sesuatu yang melampaui akal sehat!
"Kalian mungkin berfikir aku sudah gila atau semacamnya. Dan mungkin ide ini berada di luar akal sehat. Namun, percayalah kalau aku tidaklah gila. Sampai saat ini aku benar-benar meremehkan dunia sialan ini. Namun sekarang tidak lagi. Aku akan benar-benar bermain serius mulai saat ini..." Rigel mengepalkan tinjunya dan tersenyum.
Dari sisi lain, sebuah pintu terbuka. Di sana Rigel menemukan Ray dan Takumi yang baru saja sampai. Dari wajah penasaran Takumi, nampaknya Ray belum menjelaskan apapun padanya.
"Semua orang telah berkumpul, sekarang mari kita mulai pembangkitan pahlawan baru." Senyuman Rigel tumbuh semakin dalam dan hal ini membuatnya sangat berdebar...
......____New Arc : Gate Of Underworld____......