
Tirith telah berteleport masuk ke negara Region. Dia berdiri tepat di sebuah gerbang besar yang di kelilingi tembok besi yang keras. Tirith memandang sekitar untuk mencari seseorang yang dapat membukakannya pintu gerbang ini. Namun sepertinya tidak ada siapapun yang menjaga gerbang ini dan itu membuat Tirith bingung.
"Mengapa kau bisa datang ke sini...??" Suara yang asalnya tidak di ketahui, namun begitu akrab bergema keras di sekitar.
"R-rigel?! Di mana kau?" Tanya Tirith.
"Di mana aku tidaklah penting... Yang terpenting adalah bagaimana kau bisa sampai di sini?" Rigel bertanya dengan dingin.
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu! kemari dan temuilah aku, kumohon padamu!" Ujar Tirith dengan wajah memelas.
"Untuk apa aku menurutimu? memangnya kau siapa, ibuku? pergilah dari sini sekarang juga." Ujar Rigel.
"Aku.... Aku tidak akan pergi sebelum kau datang menemuiku! bahkan jika itu harus membuatku menunggu selama berjam-jam, akan aku lakukan!" Teriak Tirith dengan keras kepala.
Rigel yang berada di ruang kontrol menggertakkan giginya. Dia tahu betul. betapa keras kepalanya Tirith, jika dia berkata akan menunggu, maka dia benar-benar akan menunggu. Rigel bisa saja mengabaikan gadis itu, namun cukup menjengkelkan juga jika dia tetap menunggu di sana. Dengan enggan, Rigel akan langsung menemui Tirith. Rigel beranjak bangun dari kursinya dan berteleport ke tempat Tirith.
Tirith yang masih berdiri menghadap pintu gerbang di kejutkan dengan Rigel yang muncul tepat di depannya. Dia tidak memperhatikan ini sebelumnya, Rigel yang sekarang tampak lebih tinggi dari sebelumnya. Badannya juga tegak yang menandakan otot-ototnya yang kuat dan telah terbentuk. Pakaian yang digunakan Rigel sama dengan yang dia gunakan saat pertemuan kaisar surgawi.
"Kenapa hanya diam saja? cepat katakan apa yang kau inginkan. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk di sia-sia kan..." Ujar Rigel dengan sedikit kesal.
Tirith sedikit bingung. Dia telah menyakiti Rigel dan mengacungkan senjata padanya. Apakah dia masih memiliki tempat di hati kecil Rigel? Yah, sekarang itu tidak penting.
"Aku mohon padamu, bantulah para pahlawan dan Tentara persatuan melawan Tortoise!" Tirith membungkuk memohon.
"Untuk apa aku melakukannya? lagipula mereka yang menolak bekerjasama denganku." Ujar Rigel.
"Tapi... Jika kau tidak ikut membantu mereka, akan ada lebih banyak orang yang mati! banyak diantara prajurit yang hilang kendali karena parasit... Jika begini, hanya butuh waktu untuk semua orang dikendalikan Tortoise..." Ujar Tirith seakan ingin menangis.
"Memangnya kenapa? itu bukan urusanku..." Ujar Rigel dengan tak acuh.
Tirith yang mendengar itu menatap dengan tidak percaya. Ada yang salah di sini. Dia bukan lagi Rigel yang dulu, jika ini dia yang dulu, Rigel pasti akan datang dan menyelamatkan mereka, sama ketika Diablo muncul. Namun kini dia benar-benar tidak perduli dengan hal seperti itu.
"Selain itu, kau seharusnya ingat bahwa aku sudah memperingati mereka untuk tidak mengirim pasukan, tetapi mereka malah bersikeras mengirim pasukan dan mengabaikan peringatanku. Aku benar-benar penasaran dimana mereka menaruh otaknya." Ujar Rigel dengan sedikit bermasalah.
"Tapi, kau adalah seorang pahlawan... Seharusnya kau datang untuk menolong mereka, bukan mengabaikannya. Kumohon, setidaknya bantulah para prajurit itu..." Ujar Tirith dengan putus asa membujuk Rigel.
"Hah, disana ada sekitar sembilan pahlawan, tidak mungkin jika mereka tidak dapat melakukan apapun dengan itu. Akan ku tegaskan satu hal padamu, Tirith. Aku sama sekali tidak perduli dengan satupun nyawa orang-orang yang bertempur di sana. Bahkan jika mereka mati, itu bukan urusanku." Ujar Rigel, mendekatkan wajahnya ke wajah Tirith dan menatap langsung ke matanya.
Rigel tidak bercanda, semua itu terpampang jelas dari kekuatan yang ada di matanya. Tirith telah mengkonfirmasi satu hal, tidak hanya penampilan, tetapi hati dan kemanusiaan Rigel telah berubah.
"... Jadi, kau tidak perduli jika Takumi, dan pahlawan lainnya kehilangan nyawanya?" Wajah Tirith tertunduk.
"... Ya... Aku tidak perdu—"
*Pack!
Sebelum Rigel menyelesaikan kata-kata nya, sebuah tamparan jatuh di pipinya. Tamparan itu berasal dari Tirith yang gemetar dan menatap Rigel dengan air mata.
"Kenapa?! apa yang membuatmu menjadi seperti ini?! Aku sadar kalau aku sudah terlalu banyak menyakitimu sampai aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri! namun kau berubah terlalu jauh! kau bukanlah Rigel yang aku kenal... Rigel yang kukenal akan melakukan apapun untuk menyelamatkan orang-orang..." Tirith menangis tersedu-sedu, "Kumohon... akan aku lakukan apapun agar bisa mengembalikan Rigel yang dulu... Kumohon..." Lanjut Tirith.
Rigel hanya diam menatap Tirith yang menangis tepat di depannya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, namun kepalanya tetap berjalan sampai akhirnya dia menemukan suatu pemikiran yang amat bagus.
"Bahkan jika aku menginginkannya, aku tidak bisa melakukannya. Diriku telah lama mati dan lahir kembali dengan sosok yang baru. Bahkan jika aku tidak menginginkannya, aku harus tetap menerimanya. Seperti yang kau tahu, yang mati tidak dapat kembali seperti semula. Rigel yang kau kenal telah mati dan terganti dengan Rigel yang baru." Ujar Rigel.
Maknanya, kepribadian Rigel yang Tirith kenal telah lama mati dan tergantikan dengan kepribadian yang baru. Rigel sudah tidak bisa kembali menjadi dirinya yang dulu lagi.
"Namun, aku akan menuruti permohonanmu, tentu dengan syarat."
Mendengar kata-kata itu dari mulut Rigel, Tirith menatap dengan terkejut dan tidak percaya. Saat menatap wajah Rigel, Tirith melihat sosoknya yang tersenyum lembut yang sama dengan dirinya yang dulu. Yang berbeda hanyalah sorot matanya yang memancarkan kesedihan mendalam.
"A-apa syaratnya?!" Tanya Tirith dengan terburu-buru.
Rigel menunduk dan menggendong Tirith selayaknya tuan Putri. Tirith terkejut dan wajahnya memerah, dia tidak menduga bahwa Rigel akan menggendongnya di pelukannya.
"Kau hanya perlu diam dan mengikuti permainanku." Ujar Rigel dengan senyuman jahat di bibirnya.
Tirith hanya mengangguk dengan wajah yang merah padam. Dia memikirkan arti dari permainan yang Rigel maksud. Mungkin ada kesalah pahaman besar dari Tirith, namun Rigel memutuskan untuk mengabaikannya dan membawa Tirith ke kerajaan dan pergi ke ruang kontrol. Dalam perjalanannya, dia bertemu Fang, Ray, Nisa dan Asoka yang sedang membahas beberapa hal. Asoka menyadari kehadiran Rigel dan sosok yang di bawanya.
"Rigel dan... Putri Tirith? apa yang sedang anda lakukan?" Tanya Asoka.
"Ada beberapa hal yang terjadi. Yah, kita lewatkan itu untuk sekarang. Perubahan rencana, kita akan langsung turun tangan dan membantu orang-orang bodoh di sana." Ujar Rigel.
Ray, Fang, Nisa dan Asoka sangat terkejut. Rencana yang di siapkan Rigel telah sepenuhnya beres dan hanya menunggu kedatangan Tortoise. Namun dia menghancurkan rencananya sendiri dan memilih untuk turun tangan langsung menghadapi Tortoise. Apa yang membuatnya berubah? begitulah pertanyaan semua orang.
Saat melihat Tirith yang sedang di pelukan Rigel, Asoka membuat kesimpulan bahwa dialah yang merubah pemikiran Rigel. Bukannya kecewa, justru Asoka bersyukur karena tidak harus melaksanakan rencana Rigel sebelumnya.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Pahlawan... Saya akan segera mengumpulkan pasukan kita!" Ujar Fang dengan senang dan bergegas pergi.
Ray, Asoka dan Nisa juga mengikuti, mereka berkata bahwa akan mempersiapkan diri mereka. Rigel hanya mengangguk dan pergi ke ruang kontrol dengan Tirith yang di pelukannya.
Rigel membiarkan Tirith duduk di pangkuannya selagi Rigel menyiapkan hal-hal yang harus dia lakukan. Tirith masih memerah dan merasa malu.
"Umm... Rigel, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Tirith dengan penasaran.
Tirith tidak dapat melihat Hologram di depannya karena dia tidak menggunakan kacamata khusus seperti Leo dan Rigel dengan mata kiri systemnya. Wajar saja bila Tirith bingung dan menganggap Rigel melakukan hal tidak jelas dengan tangannya.
"Karena kau, aku harus menghancurkan rencanaku dan membuatnya dari awal... Yah, namun itu tidak butuh waktu banyak." Ujar Rigel.
"System Call : Ciel... Hubungi Meriah dan yang lain, beritahu mereka bahwa ada perubahan rencana, kita akan langsung turun ke medan perang. Kita akan berangkat dengan Lift teleportasi yang sudah aku siapkan!"
..."Menjawab : Perintah di terima!"...
"Kita akan segera berangkat, aku akan membawa Yuri dan Ozaru juga... Apa kau puas?" Tanya Rigel kepada Tirith.
Tirith mengangguk sebagai jawaban dan tersenyum. Rigel diam-diam juga tersenyum karena telah memikirkan sebuah rencana yang sangat bagus meskipun harus merelakan strateginya yang sebelumnya.
Dan begitulah, alasan kenapa pasukan Region bisa berada di medan tempur.
***
Tahukah kamu bahwa Novel ini sudah memiliki audiobook yang di isi oleh Kak Makoto? jika berkenan aku ingin kalian memberinya dukungan agar semakin semangat dalam membuat audio book untuk novel ini