
Tubuh boneka Marionette hilang tanpa menyisakan apapun, bahkan debu sekalipun. Disaat terakhir hidupnya, Marionette meneriakan nama seseorang yang bahkan belum pernah sekalipun didengar oleh Rigel. Nama itu adalah 'Aludra'. Seingatnya,Aludra termasuk nama-nama bintang yang ada di bumi. Entah siapa orang bernama Aludra ini, yang jelas dia sosok yang cukup berkemampuan karena dapat membuat Marionette begitu membencinya.
Meski aku bisa mengabaikannya, namun kenapa dia salah mengira aku orang lain? batin Rigel.
Bahkan jika wajahnya mirip, namun seharusnya Marionette dapat mengetahui perbedaan besar diantara Rigel dan Aludra. Mustahil ada orang yang benar-benar mirip dengannya. Rigel juga tidak memiliki saudara kembar. Yah, tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak patut dipikirkan.
Rigel menyadari empat orang sedang mendekatinya. Mereka adalah Gahdevi, Ganesha, Leo dan Garfiel. Dua diantaranya tidak terkejut, namun lain halnya dengan Gahdevi dan Ganesha yang baru mengetahui identitas sebenarnya sosok bernama Matsu.
"Kau,tidak..., apakah anda adalah Pahlawan Creator yang sering diperbincangkan?" tanya Ganesha.
Tanpa mengatakan apapun, Rigel hanya mengangguk. Melihat itu, secara serempak Gahdevi dan Ganesha berlutut di hadapan Rigel. Mereka tahu bahwa tidak ada orang yang cukup bodoh berusaha menjadi Pahlawan palsu. Selain itu, di dunia ini hanya Rigel yang memiliki ciri khas berupa rambut putih, mata dan tangan kiri yang unik.
Sebelum mereka berbicara lebih banyak dan menanyakan hal merepotkan, Rigel menoleh kepada Leo dan Garfiel yang telah bergabung.
"Bagaimana keadaannya? Apa kalian berhasil mengungsikan semua orang?"
"Ya, sesaat pertarungan terakhir hendak terjadi, orang-orang telah diungsikan. Tidak ada korban jiwa diantara mereka, namun tidak sedikit orang yang terluka," Leo memasang wajah pahit, namun tetap bersyukur bahwa tidak ada korban jiwa.
"Untuk keadaan di luar arena, nampak baik-baik saja berkat Odin dan para petarung yang berada di luar. Namun, aku tidak bisa mengatakan nol korban jiwa," ujar Garfiel.
Nah, Rigel sendiri tidak terlalu berharap untuk tidak ada korban jiwa dari luar arena. Marionette mengamuk lebih cepat dari perkiraan Rigel, namun syukurlah bahwa dampak pertarungannya lebih minim dari perkiraan.
"Yah, kita hanya bisa berharap untuk tidak ada korban dipihak kita. Sebentar lagi bantuan akan datang, jadi jangan risau. Untuk sekarang mari kita tetap berwaspada, takut akan serang---"
CRUCH!
Belum saja dia menyelesaikan kata-katanya, sebuah boneka dengan dua belati di tangan kembali bergerak dan menebas kepala Ganesha dengan cepat. Belati itu terus memotong udara, hendak mencapai Gahdevi. Namun dengan kekuatan manusia supernya, dia menahan belati itu dengan mengorbankan tangannya.
Meskipun fisiknya telah diperkuat, tetap saja belati itu mampu memotong sampai tulangnya, untungnya tangannya tidak putus karena boneka itu menghiraukan dan memilih menikam Rigel langsung.
"MATI,KAU HARUS MATI DI SINI, ALUDRA!!!"
Rigel bisa saja menghapusnya langsung, namun ada beberapa hal yang mengganjal dan membuatnya mengurungkan niat. Rigel mengulurkan kedua tangannya untuk menahan belati di tangan boneka itu dan menatap langsung matanya. Meskipun yang berada di depannya hanyalah boneka belaka, namun itu tampak hidup.
"Kau..., apakah mungkin Marionette?!" ucap Gahdevi selagi menghentikan pendarahan menggunakan tangannya. Perlahan, lukanya mulai pulih dengan sendirinya. Rigel tentu penasaran apakah itu regenerasi cepat atau memang kemampuan pemulihannya yang cepat. Namun sekarang bukan waktunya untuk itu.
"Namun bagaimana bisa?! Bukankah seharusnya dia telah mati akibat api biru sebelumnya?" ucap Garfiel, tercengang.
Benar apa katanya. Seharusnya hampir mustahil Marionette yang tanpa perlindungan dapat meloloskan diri dari api penyucian. Namun, berkat hal itu Rigel dapat mengetahui triknya.
"Begitu, jadi begitu... Kau memindahkan jiwamu sebelum terlahap api. Jika dipikirkan seharusnya memang mustahil, namun lain halnya jika kau tidak memiliki tubuh seperti iblis lain."
Bahkan jika itu iblis, mereka tetap memiliki tubuh fisik yang tentunya sangat berbeda dengan manusia. Namun, dari apa yang terlihat, Rigel menduga bahwa Marionette tidak memiliki tubuh fisik sehingga dia bersemayam di tubuh boneka-bonekanya. Namun, tidak hanya sampai di situ saja pembahasan tentang Marionette. Rigel tersenyum mengejek,
"Haha, siapa yang menduga bila Pilar iblis tolol sepertimu blasteran peri!"
"BACOT! AKU AKAN MEMBUNUHMU,ALUDRA! KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA HAL YANG KAU LAKUKAN PADAKU, PADA ANAK-ANAKKU, REKANKU, KELUARGAKU, TEMANKU, SAHABATKU, KENALANKU, ORANG TUAKU! KAU JUGA HARUS MEMBAYAR KARENA MENCURI HATI DAN TUBUHKU!!"
Kebenciannya tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu kata saja. Kebenciannya benar-benar murni sampai membuat Rigel sedikit merinding.
"Bukalah matamu lebar-lebar! Apa aku benar-benar orang yang kau benci itu?!"
Mengatakan hal yang tidak masuk akal, Marionette berputar dan mengayunkan kakinya menuju wajah Rigel. Namun dengan mudah dibatalkan oleh Rigel dengan membanting Marionette sebelum tendangannya mencapai wajahnya.
Ada hal yang ingin dia coba, jadi Rigel menggunakan Purgatory untuk melenyapkan boneka di tangannya. Boneka itu lenyap, namun boneka lain yang dirasuki Marionette kembali menerjang setelahnya.
Sepertinya tidak perduli berapa kali dia menghancurkan boneka yang dirasuki Marionette karena masih ada begitu banyak boneka miliknya di tempat ini. Cara yang dapat digunakan untuk mengalahkannya adalah menghancurkan langsung jiwanya menggunakan Void, namun itu tidak mudah dilakukan selama masih ada banyak boneka miliknya yang tersebar. Dia pasti tidak akan diam dan membiarkan Rigel membunuhnya dengan mudah.
Tch! meski dia tidak terlalu kuat, namun dia mungkin yang paling sulit dibunuh setelah Tortoise..., batin Rigel.
"Leo, Garfiel, Gorila, kalian hancurkan seluruh boneka yang tersebar di kota ini tanpa tersisa satupun! Aku akan menghadapi orang gila ini sendirian, jadi cepatlah!"
Gahdevi sepertinya menyadari tujuan Rigel dan mengangguk lalu pergi menghancurkan boneka terdekat satu persatu. Leo dan Garfiel belum menyadari trik di balik Marionette yang sulit mati, namun mereka menuruti Rigel tanpa banyak bicara.
"Kalian berdua pergi saja keluar arena dan lenyapkan boneka yang berada di sana, aku akan mengurus yang di sini!" ujar Gahdevi.
Leo dan Garfiel mengangguk dan berlari keluar. Garfiel mulai khawatir tentang keselamatan kakaknya, Theresia. Dia secepatnya ingin berjumpa dengannya dan karena itu dia tidak menolak untuk keluar meninggalkan Rigel bertarung dengan Marionette.
"Tch! memangnya apa yang membuatmu begitu membenciku? kupikir aku tidak melakukan apapun yang salah terhadapmu," ujar Rigel. Dia terpaksa mengikuti Marionette dengan mengakui bahwa dirinya adalah Aludra dengan tujuan mengorek informasi lebih tentang orang bernama Aludra dan juga hal yang terjadi kepada Marionette.
"Tidak termaafkan, sangat tak termaafkan, sungguh tak termaafkan, sulit termaafkan, karena itu tidak bisa dimaafkan! Berani-beraninya kau tidak mengingat dosa yang kau perbuat padaku!! Kau menjadikanku alat pemuas nafsu, kau mencuri kebebasanku, kau mencuri hatiku, kau mencuri pengalaman pertamaku, kau mencuri tubuhku, kau mencuri keluargaku, KAU MENCURI SEGALA MILIKKU!!"
Meski tubuhnya hanya boneka kosong belaka yang diisi dengan jiwa miliknya, dengan mengejutkannya boneka itu dapat mengeluarkan air mata. Rigel tidak memahami bagaimana mekanisme itu bekerja, namun kesedihan yang dikeluarkan Marionette nyata.
"Kau bajingan yang paling bajingan diantara para bajingan yang sangat bajingan dan begitu bajingan... Tak termaafkan, memang tak termaafkan, sungguh tak termaafkan!!! Akan kubunuh kau dan kusiksa lalu kubunuh lagi kau setelahnya!"
Marionette meledakan laser merah yang sama dengan yang melenyapkan topeng dan rambut palsu Rigel. Tanpa repot-repot menghindari, Rigel melemparkan perisai udara untuk menahan serangannya, namun begitu mengejutkan karena itu hancur dengan mudah. Rigel tidak memiliki pilihan lain selain melompat.
Laser merah itu juga mengikuti pergerakan Rigel dan terus mengejarnya. Rigel sedikit mendecakkan lidahnya karena serangan Marionette terus mengejarnya, seakan tetap akan mengejar bahkan jika Rigel pergi ke ujung dunia sekalipun.
Selagi Rigel terus melompat ke sana sini, Marionette mulai bergetar. Mata bonekannya terus mengeluarkan air mata yang tiada habis-habisnya.
"Karena kau aku menggila, karena kau aku tak bahagia, karena kau hidupku hancur, karena kau hatiku hampa, karena kau aku tak memiliki fisik, karena kau aku bergentayangan, karena kau aku pergi ke sisi gelap dan menjadi Pilar iblis untuk menunggu hari pembalasana tiba!! AHHHH~ AKU BERTERIMA KASIH KEPADAMU, TUAN LUCIFER YANG PERKASA YANG AGUNG!!!"
Marionette merentangkan kedua tangannya ke langit dan menciptakan getaran hebat pada kota bawah tanah. Tanah yang menjadi langit-langit mulai terkikis dan menjatuhkan tanah lumpur yang membentuk boneka dengan senjata dikedua lengannya.
Jika Marionette terus membuat ratusan arau ribuan boneka, maka kesempatan membunuhnya akan semakin kecil dan lebih merepotkan lagi jika tanah di langit-langit mulai runtuh. Yah, setidaknya beruntung Rigel membuat antisipasi yang tepat.
"Hahaha! kau pikir hanya kau saja yang bisa memanggil bantuan? Jika begitu kau salah besar,"
Rigel tersenyum lebar dan membalikan ibu jarinya untuk memprovokasi Marionette selagi mengatakan :
"Aku juga punya bala bantuan!"
Bertepatan dengan kata-katanya, cahaya kebiruan akibat teleportasi menyinari kota Darkness dan tidak lama setelahnya suara tembakan terdengar dari penjuru kota. Beberapa anak panah cahaya di tembakan kelangit untuk menghancurkan boneka yang akan terbentuk. Tombak cahaya raksasa terbentuk dan menyapu habis seluruh boneka yang berterbangan.
Tidak sembarang orang dapat melakukannya. Bantuan yang dipanggil Rigel tidak hanya tentara Region, tetapi Takumi dan Yuri. Tidak berhenti sampai di situ, Pilar cahaya kebiruan mulai membentuk pilar besi dan menjadi penyanggah kota Darkness.
"Semua telah dipersiapkan sejak awal kedatangan. Bahkan jika kau berniat mengubur kota ini, hal itu tidak lagi dapat dilakukan karena aku telah mengubah kota ini dan menjadikannya milikku!"
Dia tidak datang ke tempat ini hanya untuk bermain-main. Rigel datang dengan tujuan mengambil budak Dwarf sekaligus mengambil alih kota yang menjadi pusat perdagangan budak. Ini hanyalah tahap awal mewujudkan mimpinya membebaskan perbudakan!