The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Rigel Vs Karaka II



Rigel dan Karaka saling bertukar pukulan. Selagi mereka bertarung, Asoka tengah mengatasi kekacauan yang di buat Karaka. Dia sengaja tidak mengirimkan pasukan untuk membantu Rigel. Karena sama saja dengan mengirim mereka ke kematian.


"Kalahkan dan balaskan lah dendam Nisa, Rigel." Asoka menatap langit dan yakin akan keberhasilan Rigel.


*Bom!


Rigel bertukar tinju dengan Karaka. Rigel berniat menghajar wajahnya, namun dengan banyaknya tangan yang di miliki Karaka, pekerjaannya menjadi sulit. Mau tidak mau, tangannya harus di prioritaskan. Rigel melangkah mundur dan mengambil jarak dari Karaka. Dia hendak mengambil sesuatu dari inventory, namun Karaka tidak membiarkannya begitu saja.


Dia melesat dan mengayunkan tinjunya dari bawah ke atas. Rigel menyilangkan tangannya untuk menahan, namun karena kekuatan luar biasa Karaka. Rigel harus terhempas jauh ke langit. Tangannya gemetar karena hantaman yang dia terima sebelumnya. Beruntung nya tangan kiri buatan itu jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Selagi Rigel terhempas ke udara, Karaka pergi mengambil pepohonan tumbang dan melemparkannya menuju Rigel. Mendecakan lidahnya, Rigel dengan cepat membuat kilatan petir yang turun dari langit dan membumi hanguskan pohon yang mendekatinya. Tidak sampai di situ, Rigel juga menciptakan Lightning Spear yang menuju langsung pada Karaka.


"Hantaman Energi!" Karaka mengulurkan tinju kanannya dan sebuah gelombang energi kuat menghantam serangan Rigel.


Serangan mereka saling berkonfrontasi, Rigel memanfaatkan sedikit celah itu untuk mengubah tanah tempat Karaka berpijak menjadi lumpur hisap. Rigel melesat terjun bebas menuju Karaka selagi mengulurkan tangan kanan yang memiliki garis-garis Rune.


"Void Statis!"


Karaka menggunakan empat tangannya untuk melindungi tubuhnya dari serangan Rigel. Benturan terjadi, cahaya kebiruan bersinar terang.


"Dominasi!" Rigel mengganti serangannya. Secara perlahan, retakan biru terbentuk di tangan Karaka.


Awalnya dia tidak tahu apa yang terjadi, namun Karaka merasakan firasat buruk dari retakan itu. Karaka membuka mulutnya lebar-lebar dan mengaum.


"HAARRRRGGGHHH!!"


Gelombang suara dan energi kuat keluar dari mulutnya, yang membuat Rigel harus menjaga jarak dari Karaka. Meski begitu, setidaknya dia telah berhasil mengambil satu tangan Karaka. Dia menatap salah satu tangan kanannya yang menghilang.


"Jadi begitu. Kekuatan Rune di tanganmu itu benar-benar berbahaya, Rigel. Jika aku tidak melakukan apapun sebelumnya, pasti kerusakan yang kuterima akan semakin buruk."


Rigel menyipitkan matanya, meskipun salah satu tangannya menghilang, ntah kenapa Karaka terlihat tidak perduli sama sekali dengan itu. Rigel memiliki firasat buruk.


"Kukuku... Khukuku... Khukhahahahaha... Nampaknya aku memang tidak bisa bertarung setengah-setengah denganmu Rigel. Selamat! sekali lagi aku mengakuimu, Rigel! Mari kita kerahkan kekuatan penuh."


Bumi mulai bergetar, asalnya berasal dari Karaka. Kekuatannya meluap-luap dengan ganas dan aura haus membunuhnya bukan main. Jika seseorang seperti Riri atau yang lain berada di sini, mereka mungkin akan mati di hadapan tekanan luar biasa Karaka. Rigel akui, bahwa tekanan yang di berikan Karaka lebih kuat dari Hydra.


Tangan Karaka yang sebelumnya hilang perlahan menumbuhkan daging baru dan membentuk sebuah tangan. Sudah di duga bahwa Karaka pastinya memiliki kemampuan regenerasi super.


Karaka tersenyum, matanya merah menyalah dan masing-masing telapak tangannya terbuka lebar.


"Datanglah, Senjataku."


Empat buah senjata yang berupa empat Katana besar muncul secara bersamaan. Sepertinya Karaka benar-benar mulai serius dan tidak berniat berlama-lama. Akan merepotkan bertarung dengan tangan kosong, jadi Rigel memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil Kusanagi.


"Hoh? Pedang dengan bilah Katana, itu senjata yang bagus."


Rigel tidak tersanjung meskipun di puji. Karaka tetap menjadi orang yang memegang keuntungan, dengan adanya empat tanangan yang dia miliki.


Jika ingin mengalahkannya, aku harus memotong seluruh tangannya.


Tanpa membuang waktu lagi, Rigel dengan cepat sudah berada di depan Karaka. Kusanagi miliknya telah berada di dekat leher Karaka dan siap untuk memenggalnya. Karaka dengan santai mengulurkan pedang besarnya, Rigel harus menghindar dan merelakan kesempatan memotong kepala Karaka.


Selagi mencoba mengambil jarak, Karaka melompat ke arah Rigel dan mengayunkan senjatanya dari bawah ke atas. Ketimbang menahannya, Rigel akan memilih menghindarinya. Dia tidak ingin terhempas lagi ke udara.


Rigel memegang Kusanagi di tangan kanan dan mengalirkan kekuatan Void padanya. Bilah Kusanagi mulai memiliki aliran Rune dan memperkuat kekuatannya. Di saat bersamaan, Rigel menggunakan tangan kirinya untuk membentuk pedang Mana raksasa yang melesat langsung menuju Karaka.


*Cring!


Karaka dengan mudah menghancurkan pedang Mana itu dan melesat menuju Rigel. Dia mengangkat tinggi-tinggi pedangnya dan Rigel berhasil menahannya. Namun pedang lainnya datang dari sisi lain.


Rigel mendecakan lidahanya, "Tch! Teleport!" dan berteleportasi jarak dekat. Pertarungan jarak dekat sangat sulit, namun bukan berarti dia memegang keuntungan dari jarak jauh. Peluru Riffle tidak mempan, dan kemungkinan Misil juga sama tidak mempan padanya.


Rigel berteleport tepat di atas kepala Karaka dan tanpa basa-basi dia terjun dengan cepat, menghantamkan senjatanya di kepala Karaka. Dia tidak sempat menghindarinya dan harus membiarkan kepalanya terluka. Lagipula dia adalah iblis, meskipun otaknya sedikit terluka, dia tidak akan mati.


"Hahahah! Bagus, lakukanlah lagi Rigel!"


Rigel hendak menarik kembali pedangnya, namun itu menancap dan sangat sulit untuk di lepaskan. Katana milik Karaka datang menuju langsung ke arahnya, dia tidak ada pilihan lain untuk mengambil senjatanya nanti.


"Ada apa? Kenapa kau tidak mengambil kembali senjatamu?" Karaka memprovokasi.


Rigel tidak membalas ucapannya, dia justru menundukan badannya dan merentangkan kedua tangannya. Aliran listrik terbentuk di kedua tangannya dan Rigel menerjang langsung Karaka.


"Kemarahan langit!" Rigel menepukan kedua tangannya, dan sebuah halilintar yang sangat kuat turun dari langit dan menyambar tubuh Karaka.


"Aaarrgghh!" Karaka menjerit kesakitan.


Tubuhnya sedikit terbakar, namun itu sama sekali tidak membuatnya tumbang. Rigel mengambil jarak darinya dan menyiapkan jurus lain.


"Hahaha, ayo kita terus bermain Rigel! Tanah kematian!" Karaka menghentakkan kaki kanannya dan tanah sekitar mulai membentuk duri-duri tajam berwarna hitam.


Duri itu menyerang Rigel dan membuat pijakan di darat tidak seimbang sehingga akan sulit untuk bertarung.


"Kembalilah menuju kehampaan!" Rigel menggunakan kekuatan Void untuk menghindari serangan dari duri itu.


Dia sedikit lengah dan tidak menyadari bahwa Karaka sudah berada di depannya dan mengulurkan keempat senjatanya bersama-sama.


"Dinding besi!"


*Bom!


Rigel ikut terhempas bersama kelingan besi itu. Wajahnya memiliki beberapa goresan akibat serpihan besi. Karaka dengan senang, berlari ke arah Rigel dan menggunakan gagang Katananya untuk menghempaskan Rigel ke udara.


"Ayolah, keluarkan semua yang kau punya Rigel!" Dia berkata dengan riang.


Karaka melompat dan kembali menghempaskan Rigel dengan menendangnya.


*Bom!


"Khak!" Rigel memuntahkan darah dari mulutnya. Kesadarannya hampir saja hilang, namun dia berhasil mempertahankannya.


Melihat itu, Karaka tersenyum lebar dan terjun bebas menuju Rigel dengan kakinya. Dia terjun bagaikan bola meriam sampai-sampai menciptakan awan debu. Dia mendarat tepat di atas tubuh Rigel yang kini tidak lagi bergerak.


Karaka meletakan salah satu pedang di tangan kanannya dan meraih leher Rigel lalu mencengkramnya.


"Oii, Oii. Jangan bilang kau kau pingsan, Rigel? Tidak asik. Jika begini, aku akan membunuh teman-temanmu selagi kau tidak sadar. Dan saat aku bangun nanti, kita akan melanjutkan pertarungan." Senyuman beringas kembali terukir di bibir Karaka dan memperlihatkan taring tajam miliknya.


Saat Karaka hendak berbalik menuju Region dan memikirkan siapa yang akan lebih dahulu dia bunuh, Rigel dengan cepat meraih Katana Karaka yang tertancap di dekatnya. Dia dengan cepat berusaha memotong tangan kanan Karaka. Dagingnya begitu tebal, jadi membutuhkan banyak sekali usaha untuk melakukannya. Tidak hanya itu, Rigel menggunakan tangan kanannya untuk mencengkram tangan Karaka yang memegang lehernya.


Karaka terbelalak kaget dan mengulurkan Katana di tangan kirinya menuju wajah Rigel. Rigel menoleh ke kiri, mengikuti arah bilah itu.


*Cring!


Saat berpikir itu akan berhasil, tidak terduga bahwa Rigel menggunakan gigi-gigi di mulutnya untuk menahan bilah Katana Karaka. Rigel memberi kekuatan lebih besar pada tangan kirinya dan berhasil memotong satu tangan Karaka.


"Argh! sialan! apa kau hanya berpura-pura pingsan?!" Karaka mulai kesal, baginya jika Rigel melakukan hal semacam itu akan merusak citra dan penilaian tinggi terhadapnya.


Dengan kesal, Karaka melepaskan leher Rigel. Di saat yang bersamaan, Rigel langsung mengayunkan Katana di tangan kirinya ke pergelangan tangan Karaka yang memegang pedang di mulut Rigel.


Karaka dengan sigap berhasil menghindarinya dengan melepaskan pegangan pada Katananya. Namun Rigel langsung mengambil Katana di mulutnya dan berputar dengan cepat. Karaka berhasil selamat dari putaran Rigel, dia tidak tahu apa yang Rigel coba lakukan sampai menyadari bahwa pedang yang tertancap di kepalanya telah menghilang. Jadi itu tujuan Rigel berputar, dia mencoba mengambil kembali pedangnya.


Karaka menatap Rigel, dia kembali gemetar karena begitu senang dengan apa yang dia lihat. Rigel tidak berpura-pura pingsan, tetapi dia memang benar-benar telah tidak sadarkan diri.


Rigel meletakan punggung Katana di tengkuknya, sementara mengulurkan Katana yang berada di tangan kirinya ke depan. Rigel menggigit pedang Kusanagi di mulutnya. Matanya tidak memancarkan warna, begitu pula dengan mata buatannya. Saat dia tidak sadarkan diri, mata buatannya akan berwarna putih, mengikuti yang aslinya.


"HAHAHAHA, Luar biasa! maaf karena aku meremehkanmu sebelumnya! Bahkan saat tidak sadarkan diri, tubuhmu dapat bergerak dan bertarung sendiri!"


Mungkin hanya Rigel yang dapat melakukannya. Dia pernah bertarung selama puluhan tahun di Labyrinth Neraka, dan dia mendapatkan hal ini dari pengalaman bertarung di sana. Karaka menumbuhkan kembali tangannya yang terpotong. Memang di sayangkan karena dia tidak memiliki banyak stok senjata, jadi dia membuat dua pedang energi. Untuk pengganti dua Katana yang di ambil Rigel.


Karaka muali tersenyum, namun tanpa di duga Rigel sudah menerjang ke arahnya dan memotong pergelangan tangan kirinya. Karaka dengan kesal mengayunkan Katananya, namun Rigel sudah menghilang dari visi nya.


Karaka menoleh kanan dan kiri, mencari keberadaan Rigel. Sampai dia menoleh ke belakang, di saat yang bersamaan dia melihat Rigel yang menerjang dengan kecepatan Gila.


Rigel membuka mulutnya dan mengubah posisinya menggigit Kusanagi. Yang awalnya ke samping menjadi ke depan. Rigel menancapkan pedangnya di dahi Karaka.


"Argh!" Pedang Rigel menancap cukup dalam di keningnya dan Rigel tidak memberikannya waktu untuk mencabutnya.


Karaka menerjang langsung ke arah Rigel dan mengayunkan Katananya. Rigel menahannya dengan Katana di tangan kanannya sementara Katana di tangan kirinya beraYun menuju kepala Karaka.


Karaka menggunakan tangannya yang lain untuk menahan serangan Rigel.


"Bagus, Rigel! tidak kusangka bahwa kau benar-benar sesuatu! Hahaha aku benar-benar senang telah pergi keluar." Karaka tersenyum lebar, berbalik dengan Rigel yang mengatupkan giginya kuat-kuat.


Rigel berteleportasi tepat di belakang Karaka dan memotong dua tangan Karaka secara bersamaan. Karaka sedikit menjerit dan mengeluarkan ledakan energi yang besar. Tanah memiliki retakan di mana-mana dan angin bergemuruh kencang karenanya. Ledakan energi itu tidak membuat Rigel gentar. Dia tetap menerjang Karaka dengan liar dan memotong satu lengannya lagi. Karaka menggertakan giginya dan memukul Rigel tepat di wajahnya.


Rigel terhempas cukup jauh karena pukulan Karaka. Hidung dan beberapa giginya patah. Rigel perlahan bangkit dan membuang kedua Katana di tangannya. Dia dengan cepat melompat langsung menuju Karaka, "Haargh!" Rigel mengaum.


Karaka hendak menahan, namun Rigel bergerak lebih cepat sehingga sudah terlambat baginya. Rigel menghantamkan kedua tinjunya ke perut Karaka dan membawanya pergi menjauh dari daratan. Selagi di bawa menjauh oleh Rigel, Karaka memukul-mukul punggung Rigel dan sesaat dia hendak meraih lehernya, Rigel melemparkannya ke tengah lautan dengan kuat. Sesaat Karaka hendak menyentuh lautan, sebuah duri yang terbuat dari air terbentuk dan melubangi perut Karaka.


Karaka memuntahkan darah dari mulutnya dan menatap langit. Di sana, dia melihat Rigel yang berada di langit jauh, tangannya terulur ke atas seakan hendak melemparkan sesuatu. Karaka hendak melepaskan diri namun duri-duri air lainnya menikam tubuhnya.


Langit yang awalnya gelap karena mendung perlahan mulai bersinar terang. Karaka menyadari itu bukan karena cuaca menjadi cerah, tetapi apa yang sedang datang dari langit. Perlahan tapi pasti, Karaka dapat mengetahui benda apa itu. Terang dan memiliki panas super.


"Oh, tidak..." Karaka bergumam takjub, dia dapat melihat bayangan Rigel di langit dan hampir berfikir bahwa itu seorang dewa.


Rigel mengulurkan tangannya ke bawah dengan kuat, "Solar Eclipse!" Matahari berukuran kecil turun dari langit dan menuju langsung ke Karaka.


Dari kejauhan, semua orang dapat melihat kilauan terang dan langit berwarna kuning. Asalnya dari Region. Para Pahlawan menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di sana.


"Apa hanya aku atau itu memang tampak bahwa matahari jatuh ke sini?!" Aland menyerukan pendapatnya. Marcel yang sedang bersamanya mengangguk setuju. Nampaknya bukan hanya Aland yang memikirkan itu.


"Aku setuju. Cahaya semacam itu mungkin hanya bisa di hasilkan oleh matahari. Pasti terjadi sesuatu di sana. Mari kita bergegas!" Aland setuju dan mengikuti Marcel.


Tidak hanya mereka, tetapi Takumi dan Pahlawan lain berpikiran sama dan pergi menuju sumber cahaya, dengan bantuan Sylph, mereka dapat melalui lautan.


Solar Eclipse turun untuk ke dua kalinya. Yang berbeda, dia tidak akan meledak di dalam Territory. Karaka tidak lagi mencoba melawan atau menghindar. Dia tahu seberapa keras dia mencoba nyawanya tidak akan lagi terselamatkan.


"Huh~, jadi sampai sini saja permainan kita ya, Rigel. Itu sangat menyenangkan, aku berharap akan bertahan selamanya. Sepertinya aku akan kembali ke Neraka duluan, aku menunggumu di sana." Karaka memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbakar oleh panasnya Mini matahari itu.


*Duarr!


Ledakan super besar terjadi, air laut mulai mendidih dan mengeluarkan banyak sekali uap. Angin berhembus kencang dan menghempaskan segala. benda di sekitarnya. Kencangnya angin bahkan cukup kuat hingga mencapai Britannia dan Pahlawan lain yang sedang menuju TKP.


Dengan begini, pejuang dari Neraka, Karaka. Telah berhasil di kalahkan oleh Rigel. Lucifer yang menatap dari tempat yang sangat jauh tersenyum senang.


"Hmm, dengan begini sudah di pastikan. Perwakilan umat manusia adalah kau, Amatsumi Rigel. Orang yang akan bertarung denganku dan Michael. Haha, aku tidak sabar untuk menantikan hari itu tiba." Lucifer berbalik dan berjalan kembali memasuki istananya.


Kekacauan akan semakin memanas, dengan terpilihnya perwakilan umat manusia. Sampai Ragnarok tiba, Lucifer tidak ingin membunuh Rigel atau bahkan berurusan dengannya. Dia akan dengan sabar menantikan seberapa kuat Rigel di masa depan.