The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Hallo, masa lalu disini!



Empat hari sudah berlalu, sekarang acara pertunangan putri dari raja Britannia, Tirith pendragon Vi Britannia akan segera di laksanakan. Halaman kerajaan di penuhi oleh berbagai macam orang di mulai dari pedagang, bangsawan dan orang orang berpengaruh lainnya.


Sementara para rakyat, berada di gerbang istana untuk menyaksikan pertunangan berlangsung melalui proyektil gambar yang fi buat menggunakan alat sihir.


"Ahh, Takumi! Kau kembali untuk menghadiri pertunangan ini?"


Ucap Yuri.


Yuri berlari menuju Takumi yang baru saja databg menggunakan teleportasi kembali ke kerajaan.


"Ya, tidak mungkin aku melewatkan hal ini."


Balas Takumi.


Yuri mengenakan sebuah gaun berwarna hitam yang indah. Rambutnya di kuncir kebelakang dan memperlihatkan kulit mulus di lehernya. Takumi mungkin tidak memperhatikannya selama ini, namun Yuri benar benar cantik saat ini.


"Aku senang jika Tirith sudah bisa melupakan dia dan menjalani cinta baru dengan Takatsumi."


Ucap Yuri.


Takumi diam tanpa menjawab. Bukannya dia tidak menyukai pertunangan ini, namun baginya Takatsumi hanya sedang bermain main. Sementara Takumi terus mengembara dan menolong orang orang untuk mempersiapkan diri, baginya Takatsumi hanya bermain main saja di istana. Di sisi lain, Yuri masih lebih baik dari Takatsumi. Yuri secara rutin selalu menyelesaikan misi yang di berikan Guild atau menyelesaikan beberapa kekacauan yang tidak dapat di tangani petualang.


Banyak hal sudah berubah dari Takumi semenjak usainya pertarungan antara dia dengan Behemoth. Takumi masih menyimpan benda yang di berikan Behemoth kepadanya sampai saat ini.


"Namun tetap saja. Mereka tidak harus mengadakan pertunangan ini tepat saat satu tahun kematian Rigel."


Ucap Yuri dengan sedih.


Takumi mengerutkan alisnya karena marah. Alasan utamanya datang adalah untuk mengunjungi makam Rigel. Takumi sama sekali tidak tertarik dengan pertunangan ini, namun saat mengetahui pertunangannya di laksanakan bertepatan dengan satu tahun kematian Rigel. Bagi Takumi, ini sama saja dengan melakukan penghinaan kepada Rigel.


"Ya. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan mengadakan pertunangan di hari ini dari banyak hari. Bukankah seharusnya putri menentangnya? Bukankah Rigel adalah pria pertama yang di cintainya?"


Ucap Takumi dengan geram.


Yuri melirik Takumi dalam diam. Dia memperhatikan bahwa Takumi sudah sangat berubah entah itu dari penampilan ataupun kekuatan.


'Kau juga sudah berubah drastis dalam setahun ini Takumi. Tidak hanya kau, semua orang sudah berubah. Hanya aku saja...'


Batin Yuri.


Lalu, di atas panggung tempat pertunangan akan berlangsung. Naiklah seorang pria tua yang tampaknya seorang pendeta suci dari gereja. Lalu, di kursi terdepan, ada raja Altucray yang sedang duduk dan menatap dengan gembira ke arah panggung. Hanya para bangsawan yang diperbolehkan duduk di kursi yang telah di siapkan. Untuk para penjaga dan pedagang besar yang hadir disini berdiri tanpa di berikan kursi.


"Ayo, Takumi. Kita memiliki kursi kita sendiri."


Ajak Yuri.


"Maaf, aku akan tetap disini. Kau pergilah duluan."


Balas Takumi.


"Ah, kalau begitu baiklah."


Ucap Yuri dengan sedih.


Takumi memilih untuk menyaksikan pertunangan Takatsumi dari jauh dan saat itulah pendeta mulai berbicara.


"Pada hari yang berbahagia ini, akan dilaksanakannya pertunangan antara tuan putri Britannia, Putri Tirith pendragon Vi Britannia dengan salah satu dari 12 pahlawan suci, pahlawan pedang, Tuan Haneda Takatsumi."


Ucap pendeta itu.


Setelah sambutan yang di lakukan pendeta, Takatsumi keluar dan menaiki panggung. Tidak lama setelahnya, putri Tirith datang dari sisi lain dan menaiki panggung. Takatsumi memperhatikan wajah Tirith dan menemukan tanda tanda kesedihan di wajahnya.


'Bukankah dia seharusnya merasa senang? Atau mungkinkah...'


Batin Takumi.


Takatsumi mengenakan sebuah jas yang biasa digunakan saat acara pernikahan. Sementara Tirith menggunakan gaun berwarna putih yang sangat indah, meskipun gaun yang dikenakannya bukanlah gaun pernikahan. Rambut kuning ke emasan milik Tirith di tata dengan rapih sehingga membuat semua orang terpukau.


Tirith tersenyum saat dia menaiki panggung dan berhadap hadapan dengan Takatsumi. Pendeta itu berdiri di tengah tengah antara Tirith dan Takatsumi. Pendeta itu mengeluarkan sebuah kotak yang berisi dengan dua buah cincin indah yang dihiasi permata di atasnya.


"Hari ini, pasangan kekasih yang berada disini akan bertunangan dan bertukar cincin yang akan menjadi akar dari ikatan mereka. Silahkan tuan pahlawan."


Ucap pendeta, menyodorkan cincin.


'Ini hanya pertunangan, bukan sebuah pernikahan. Kenapa mereka membuatnya seolah olah seperti acara pernikahan?'


Batin Takumi.


"Aku mencintaimu Tirith."


"Aku juga menc—"


JEDER.


Di tengah suasana menggembirakan, sebuah suara petir menghancurkan suasana indah ini. Langit terus bergemuruh dan mulai menggelap. Setetes demi setetes air mulai berjatuhan. Hujan akan turun.


"N-nampaknya hujan akan turun. B-bagaimana ini, yang mulia?"


Tanya pendeta itu dengan ragu.


Raja Altucray terlihat kesal dan mendecakan lidahnya.


"Kita pindahkan acara dan pestanya di ruang tahta, cepatlah!"


Perintah Raja.


Semua orang menuruti perintah Raja dan para pelayan menunjukan jalan menuju ruangan tahta. Takumi juga mengikuti orang orang dan berjalan menuju kesana, Takumi dapat mendengar bisikan keluh kesah orang orang.


"Hey, apakah kau menyadarinya, tadi? Saat putri datang, dia terlihat sedih karena sesuatu, kan?"


Ucap salah satu bangsawan.


Selain Takumi, nampaknya beberapa orang menyadari sesuatu mengenai ekspresi Tirith sebelumnya.


"Ahh, kau juga menyadarinya. Mungkin saja tuan putri sedih karena almarhum Ratu tidak berada disana untuk melihatnya bertemu dengan orang yang dia cintai."


"Ahh, kau mungkin benar. Aku turut bersimpati dengan tuan putri. Dia mengalami masa masa yang berat."


Takumi diam mendengarkan percakapan orang orang itu. Takumi berada di paling belakang barisan orang orang yang berjalan memasuki ruangan Tahta.


'Orang itu mungkin ada benarnya. Namun, kurasa bukan hanya itu sumber kesedihan Tirith.'


Batin Takumi.


Takumi dan Rigel tidak hanya mirip dalam beberapa hal. Mereka juga mengalami masa kecil yang berat. Bahkan Takumi dapat mengetahuinya tanpa perlu menunggu untuk Rigel menceritakan masa lalunya karena...


'Orang yang tersenyum paling lebarlah yang memiliki luka paling dalam.'


Batin Takumi.


Takumi paham betul hal itu karena dia memasang wajah yang sama dengan Rigel. Saat Takumi terus berjalan dan terlaru dalam pemikirannya, kerumunan orang orang yang berjalan di depannya mulai berhenti.


"S-siapa dia?"


Ucap salah satu orang.


"Prajurit bersiaga!"


Perintah Raja.


Para prajurit membuat barikade untuk melindungi raja, putri Tirith dan orang orang lainnya. Takumi, Takatsumi dan Yuri juga melangkah maju di depan para prajurit.


"Siapa kau?! Berani beraninya kau menduduki kursi raja!"


Ucap Yuri.


Disana, ada seorang pria berambut putih sedang duduk dengan bosan dan menyandarkan kepalanya menggunakan tangan kiri palsunya.


Pria itu mengenakan jubah hitam bergaris garis merah yang mencapai lututnya. Dari cara berpakaiannya, dia sangat mirip dengan gaya berpakaian seorang raja iblis.



(Contoh ilustrasi. Sc : maou gakuin.)


Dia menggunakan topeng yang sedikit mengerikan. Lalu, tangannya perlahan mulai membuka topengnya.


"Senang melihat kalian semua baik baik saja. Hallo, perkenalkan aku adalah masa lalu yang datang menghantui."


'Suara ini, aku mengenal suara ini....'


Batin Takumi.


Saat pria yang duduk di tahta melepaskan topengnya dan memperlihatkan wajah di balik topeng. Takumi menurunkan tombaknya, matanya terbuka lebar karena terkejut.


'Penampilan luarnya benar benar berubah dan berbeda dari sebelumnya. Namun, aku dapat dengan jelas mengetahui siapa dia.'


Batin Takumi.


"R-rigel?"


Bukan Takumi atau pahlawan lain yang menyerukan namanya. Melainkan Tirith yang menyerukan namanya dengan sedih dan tidak percaya. Tangannya menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut.


Di sisi lain, Takatsumi dan Raja entah kenapa yang melihat Rigel dengan tatapan ngeri dan sangat ketakutan akan sesuatu. Rigel meletakan topengnya kedalam Infertory dan mulai berbicara.


"Yo, selamat atas pertunanganmu, Tirith. Nampaknya kau telah benar benar melupakanku sampai sampai tidak mengunjungi makamku dan malah mengadakan acara ini."


Ucap Rigel.


Para pahlawan menurunkan senjata mereka sementara raja tidak dapat menahan keterkejutannya. Rigel sangat menikmati wajah raja dan Takatsumi yang membuat ekspresi aneh.


"Meskipun kau berhasil melupakan masa lalu, NAMUN MASA LALU TIDAK AKAN PERNAH LUPA!"


Ucap Rigel.


Rigel bangkit dari tahta yang seharusnya di duduki raja. Rigel meletakan tangan kananya di dadanya sambil perlahan mendekati para pahlawan dan Tirith yang berada di belakang raja.


"Aku, orang yang berusaha untuk kalian singkirkan dari sejarah kini ada disini! Aku merangkak naik dari neraka untuk hadir disini sebagai masa lalu dan menghantui kalian!"


Ucap Rigel.


Rigel mengucapkannya dengan wajah bahagia dan sangat puas.


"R-rigel, kau masih hidup selama ini? Lalu, kenapa kau tidak kembali?"


Ucap Takumi.


Takumi menaruh tombaknya ke punggungnya dan perlahan berjalan mendekati Rigel. Takumi masih tidak percaya jika dia benar benar Rigel.


"Ya, ada beberapa hal yang membuatku tidak dapat kembali. Aku mendengar kau bertujuan untuk membunuh Diablo, aku senang kau melakukan itu untukku, Takumi."


Ucap Rigel.


Rigel tersenyum dan menepuk pelan bahu Takumi. Takumi hanya terdiam dan melembutkan ekspresinya saat Rigel terus berjalan melewatinya. Saat mencapai tempat Yuri dan Takatsumi yang tidak bergeming, Rigel hanya diam dan melewati mereka tanpa berkata apa apa.


Rigel menatap Takatsumi dengan penuh kebencian dan amarah yang besar namun Rigel tetap menahannya dan menyembunyikannya.


Tujuan Rigel bukanlah Takatsumi ataupun Raja yang berusaha menyingkirkan Rigel. Bukan Takumi ataupun Yuri, tetapi gadis pirang yang terus menatap Rigel dengan air matanya yang berusaha dia tahan. Gadis itu adalah Tirith. Rigel menepuk kepala Tirith dengan pelan dan tersenyum.


"Kau masih pendek seperti biasanya, Tirith."


Ucap Rigel.


"R-rigel, a-aku.."


Sebelum Tirith dapat menyelesaikan kata katanya, Rigel mendekatkan mulutnya ke telinga Tirith dan membisikan sesuatu.


"Aku tahu bahwa kau tidak benar benar melupaiku. Kau juga hanya berpura pura mencintai Takatsumi, aku tahu itu."


Bisik Rigel.


Bendungan yang di bangun Tirith agar air matanya tidak jatuh kini sudah hancur dengan kata kata Rigel. Tirith menangis terisak isak sambil memeluk tubuh Rigel.


"Kau.. Kemana saja kau selama ini! Kenapa kau tidak pernah memberitahukan apapun jika kau masih hidup! Kau Sungguh kejam, Rigel. Membuatku terus menderita karena kehilanganmu selama setahun ini."


Ucap Tirith.


'Hangat, kehangatan yang lama kurindukan. Aroma tubuhnya menenangkan hatiku.'


Batin Tirith.


"Yah, maafkan aku untuk itu. Aku pernah menjanjikan bahwa aku akan membawamu bersamaku suatu saat nanti, kan? Namun sekarang bukanlah waktunya."


Rigel meletakan tangan kiri palsunya di kepala Tirith yang masih memeluk tubuh Rigel. Rigel menatap Raja Altucray yang tidak dapat mengatakan sepatah kata apapun.


"Aku kesini hanya untuk melakukan beberapa hal dan pergi dari tempat ini, mari kita bicara."