The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Kemunculan pangeran neraka, Azazel



"Datanglah, kutukan kemarahan—


...Kemurkaan para Dewa!...


Layar pandangku mulai eror dan mengabur seakan merespown panggilanku. Tampilan penglihatanku berubah menjadi merah dan perlahan menggelap seperti tv yang dimatikan.


Tubuhku memancarkan cahaya berwarna merah dan mengukir sebuah rune unij di seluruh tubuhku. Rune itu berhenti setelah membentuk apa yang terlihat seperti sebuah lingkaran sihir.


Layar pandangku mulai kembali normal, tubuhku melayang perlahan sehingga membuat kepala, kaki dan tanganku berayun ayun karena dadaku serasa di angkat oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Aku mengangkat kepalaku secara perlahan mencoba untuk bangkit dan berdiri. Awan bergemuruh kencang seolah sedang murka, angin bertiup dengan kencang seakan merespown kemarahan langit.


Pemandangan disekitar menjadi mengerikan karena alam dan cuaca mulai menjadi sangat ekstrim untuk di tinggali manusia.


Aku merasakan kemarahan— Kemurkaan yang sangat besar di dalam dadaku sehingga tidak tahu bagaimana cara menghilangkan murka ini.


Aku tidak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin melampiaskan amarahku yang sanggup menelan dunia ini, aku ingin menghancurkan segalanya untuk melampiaskan amarah ini.


Langit menjadi hitam dan petir turun dari langit di sekitarku, alam merespown amarahku dan mulai menggila.


"Waaaarrrrrgggghhhhh!!"


Aku mengaum sekeras mungkin ke arah Arch Licht yang terlihat gemetaran.


Roaaaaaarrrrr!


Dia juga membalasku dengan mengaum ganas dan berlari menerjang ke arahku. Saat tinjunya menghampiriku, tepat di depan wajahku, waktu seakan berjalan lambat dan menyisakan hanya aku yang dapat bergerak dengan bebas tanpa perlu dihambat oleh waktu.


Hyaaaaa!!!


Aku mengaum keras dan meninju tangan Arch Licht yang terbalut baju zirah hitam keras dengan tangan kananku sekuat mungkin.


Crack!


Zirahnya retak dan hancur karena satu pukulan kuat yang aku berikan. Dia menarik mundur lengannya sebelum aku dapat menghancurkan zirah yang menutupinya.


Arch Licht mengaum marah dan dia membenturkan kedua telapak tangannya sehingga menciptakan percikan api berwarna ungu. Api itu membesar di kedua tinjunya dan tubuhnya mulai berkedip karena kecepatannya yang tidak masuk akal.


Melihatnya mulai bergerak dengan cepat, tubuhku juga berkedip dan mengikuti Arch Licht yang menerjang ke arahku dengan sangat cepat.


Aku tahu api di kedua tinjunya adalah api yang dialiri kutukan, karena itulah aku juga menggunakan api kutukan yang berwarna merah terang.


Bang!


Kami beradu tinju, api kutukan kami saling memakan satu sama lain namun pemenangnya adalah api kutukan di tanganku karena memiliki tingkat kutukan yang lebih tinggi dari kutukan yang dimiliki Arch Licht.


"Hyaaaa!!!"


Aku terus mendorong tinjuku untuk menembus zirah hitam di tangannya. Zirah itu perlahan memiliki retakan yang cukup banyak dan bunyi dari besi yang hancur menggema.


Clang!


Zirah di tangannya telah hancur, menampilkan tangan tanpa daging milik Arch Licht. Tidak memberinya waktu untuk terkejut, aku langsung melesat secepat mungkin ke tengkuk Arch Licht itu dan menendangnya dengan kaki kiriku.


Bang!


Bunyi keras menghantam dan mendorong Arch Licht itu dengan sangat kuat, Arch Licht itu nyaris terjatuh dan tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Aku bergegas mengumpulkan tenaga di tangan kananku dan menciptakan bola api merah besar yang berisi kutukan amarahku.


Saat bola api itu sudah mencapai ukuran maksimalnya, aku langsung melontarkannya ke arah Arch Licht yang masih kehilangan keseimbangannya.


Haaaarrrggghh!!!!


Aku mengaum saat melemparkan bola api berwarna merah terang itu. Arch Licht melihat kebelakang, tempat bola apiku datang ke arahnya. Dia mengayunkan tangan kanannya berusaha untuk menahan seranganku namun itu sudah terlambat.


Roaaaaaarrrrr!


Arch Licht itu menjerit kesakitan saat apiku membakar tubuh tengkoraknya yang di tutupi satu set Zirah berwarna hitam.


Aku menghilangkan angin di telapak kakiku yang membuatku dapat bergerak di udara. Aku terus memperhatikan Arch Licht yang terbakar dengan mataku yang berwarna merah menyala seutuhnya.


Aku tidak yakin jika Arch Licht itu akan kalah dengan mudah seperti terbakar dengan satu serangan api milikku. Aku yakin dia dapat bertahan seperti saat dia terkena serangan cahaya dari Anastasia entah bagaimana caranya dia menghindar maut.


Seolah menjawab pikiranku, saat api mulai menghilang tengkorak sialan itu masih hidup dan bergerak, hanya zirahnya saja yang terlihat compang camping karena api kutukanku.


Tch!


Aku mendecakkan lidahku, bagaimana cara menghancurkan tulang ini? Matahari masih cukup lama untuk terbit, lagi pula dengan zirah yang menutupi tubuhnya dia pasti dapat menghindari sinar matahari.


Aku ingin menyiapkan serangan selanjutnya namun, aku berhenti melakukannya karena apa yang aku lihat di depan mataku.


Aura hitam segera menutupi tubuhnya lagi, aku diam dan menunggu apa yang akan terjadi lagi dengan tubuhnya. Aura itu nampaknya telah melindungi Arch Licht itu berkali kali.


Sepertinya dia juga menggunakan aura itu untuk bertahan dari serangan Pamungkas milik Anastasia. Namun, sesuatu terasa berbeda dengan aura yang keluar saat ini.


Arch Licht itu berteriak kesakitan saat aura hitam memasuki tubuhnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini, namun setelah aura hitam itu menghilang, aku tau bukan lagi Arch Licht yang sebelumnya kulawan, bukan isinya.


"Siapa kau?"


Aku mengumpulkan kekuatanku untuk bertanya kepada mahkluk yang merasuki tubuh Arch Licht.


"Ho? Kau menyadari bahwa aku mengambil alih tubuh mahkluk ini?"


Ucap Arch Licht.


Mataku terbelalak kaget bukan karena tebakanku benar yang menyebut Arch Licht itu sudah dirasuki, namun saat ini dia berbicara benar benar berbicara!


"Aku bertanya padamu, siapa kau!"


Ucap Rigel.


"Tenang tenang, akan aku jawab pertanyaanmu."


"Aku adalah penguasa lantai pertama sampai 25, salah satu dari empat pangeran neraka sekaligus penjaga kunci, akulah Azazel."


Ucap Azazel sambil merentangkan kedua tangannya.


Aku mundur selangkah larena terkejut, tubuhku merinding saat mengetahui bahwa aku sedang berhadapan dengan salah satu pangeran neraka.


Apa yang dia lakukan disini?! Bukankah dia hanya bisa turun 5 lantai dari tempat dia berada?! Lalu kenapa dia bida berada di lantai 7!


Azazel mulai berbicara lagi seakan ingin menjawab pertanyaan yang bermunculan dikepalaku.


"Yah, meskipun begitu aku hanya mengambil alih tubuh ini dan menggerakannya seperti boneka. Diriku yang asli masih berada di lantai 25 jadi aku hanya sebatas mengendalikan tubuh ini dan aku tidak dapat menggunakan kekuatanku yang sebenarnya di tubuh ini."


Ucapnya.


Jadi, mudahnya dia hanya mengambil kesadaran Arch Licht dan mengendalikan Arch Licht seperti sebuah boneka. Dia tidak dapat menggunakan kekuatan miliknya saat mengendalikan Arch Licht, namun bukan berarti dia tidak dapat menggunakan kekuatan milik Arch Licht.


"Pada awalnya aku penasaran siapa yang dapat mengeluarkan penjaga lantaiku yang setia dan rupanya itu kau... Hm?"


Azazel tidak menyelesaikan kata katanya, dia justru memperhatikanku yang masih menggunakan kutukan kemarahan.


"Kau... Kau tidak datang kesini dengan cara yang biasa. Kau bukanlah jiwa yang datang kesini karena tidak memiliki tempat, melainkan jiwa yang datang kesini dengan membuka pintu."


Meski aku terkejut karena dia mengetahui bahwa aku bukanlah jiwa yang tidak dapat masuk ke surga ataupun neraka, aku akan mengabaikannya karena tujuannya datang kesini masih belum jelas.


Azazel yang mengendalikan tubuh Arch Licht memegang dagunya seolah berfikir.


"Ho, Apakah kau orangnya?"


Azazel bertanya.


"Apa maksudmu?"


Rigel bertanya balik.


Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan 'orangnya'.


"Apakah kau orang yang akan mewujudkan 'hari yang dijanjikan' atau bukan. Yah, aku akan mengetahuinya saat kau berhadapan langsung denganku di lantai 25, namun sebelum itu."


Azazel mengulurkan tangannya dan menciptakan api ungu kehitaman yang biasa diciptakan Arch Licht. Dia melontarkannya ke arahku, aku lompat ke kiri untuk menghindarinya dan membalasnya dengan energi mana yang dicampur dengan kutukan kemarahan.


Azazel menghindarinya dengan lihai dan dia berhenti lalu mengangguk seakan mengkonfirmasi sesuatu.


"Jadi begitu, Hahahaha kau adalah orangnya, ya."


Ucapnya.


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan."


Aku membalas.


"Kau adalah orang yang akan mewujudkan hari itu, 'Hari yang dijanjikan' jika kau ingin mengetahuinya, taklukanlah 100 lantai labyrint ini. Di setiap 25 lantai, kau akan bertemu kami para pangeran dan hadapilah Satan di lantai 100 untuk mengetahui segalanya tentang siapa kau dan untuk apa kau dilahirkan."


Setelah dia mengatakan itu, aura gelap yang sebelumnya memasuki tubuh Arch Licht perlahan memudar dan menghilang.


"Tunggu! Apa maksudmu dengan itu?! Cepat katakanlah!"


Aku berteriak.


"Kau akan mengetahuinya saat hari itu tiba. Sebagai hadiah perpisahan kecil, aku telah memperkuat inti jiwa Arch Licht ini. Gunakanlah dengan baik lalu, bunuhlah aku saat waktunya tiba."


Setelah dia mengucapkan kata kata terakhirnya, aura gelap yang berada di tubuh Arch Licht menghilang dan tubuhnya jatuh ketanah.


Perisai hitam yang menutupi tubuhnya mulai menghilang dan bertepatan dengan saat itu, matahari terbit.


Tulang tulangnya perlahan terbakar matahari dan hangus menjadi debu, menyisakan inti jiwanya yang besar. Aku mengambilnya dan memasukannya kedalam infertory.


Aku menatap ke arah matahari yang terbit.


"siapa aku dan untuk apa aku dilahirkan, ya."


Gumamku.


Aku tidak mengetahui apa yang dikatakan pangeran itu dan juga 'hari yang dijanjikan' itu adalah kata kata yang belim pernah kudengar sampai saat ini.


Untuk mengetahui jawabannya, aku harus menaklukan labyrint ini dan berhadapan dengan Satan, ya.


Aku langsung menghilangkan kekuatan kutukan amarahku, saat rune yang menyala ditubuhku menghilang rasa sakit yang dasyat menusuk seluruh tubuhku.


Aku jatuh terbaring di tanah dan memuntahkan darah karena rasa sakit ditubuhku tidak hanya dari luar, melainkan dari dalam.


Aku hampir kehilangan kesadaranku, sebelum aku benar benar akan kehilangan kesadaranku aku menggumamkan sebuah skill.


"Skills Hero : Teleport!"


Cahaya putih kebiruan menutupi tubuhku dan pemandangan sekitar berubah dengan cepat. Aku kembali ketempat pasukan lain menungguku di ruang boss.


Sebelum aku benar benar kehilangan kesadaranku, disana, aku dapat melihat Mirai, tuan Braund dan Anastasia yang sudah sadar namun masih lemah menghampiriku.


"Rigel! Bertahanlah!"


Ucap Mirai.


"Kau baik baik saja nak?!"


Tanya Mr. Braund dengan khawatir.


"Dia, dia terkena kutukan! Cepatlah kita harus membawanya keluar dari sini untuk memurnikan kutukannya!"


Setelah itu, aku tidak kuat lagi menahan kesadaranku dan dunia berubah menjadi gelap dan keheningan abadi menyertaiku.