The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Berdamai Dengan Diri Sendiri



Tengah hari, setelah beberapa waktu kemunculan Acnologia, dunia benar-benar jatuh dalam kekacauan dan semua berbondong-bondong untuk meminta informasi terperinci kepada negara-negara besar.


Sebagian ingin tahu apakah benar bahwa para Pahlawan berniat melakukan Raid melawan Naga malapetaka. Sebagian ingin mengetahui tindakan Pahlawan tentang kemunculan Acnologia dan sebagian lainnya meminta perlindungan.


Mereka merasakan khawatir bila Acnologia akan bertindak dan benar-benar meratakan dunia ini. Karena hal itu, mereka akan benar-benar mendukung penuh tindakan yang akan dilakukan Pahlawan, dengan harapan menghindari masa depan suram yang akan mereka temui.


Mereka tahu betul, bila tanpa keberadaan Pahlawan, masa depan suram itu tidak akan pernah terhindarkan. Bagi umat manusia, Pahlawan adalah pertaruhan pertama sekaligus terakhir yang bisa mereka miliki.


"Asoka, bagaimana keadaan Region??" tanpa perlu mengetuk atau izin, dia langsung membuka pintu dengan kasar.


Di sana terdapat Asoka yang tengah menunggu sesuatu selagi para pelayan meletakan makanan seakan untuk perjamuan. Rigel yang masih dipenuhi kemarahan mengabaikan hal itu. Paling-paling dia tahu bahwa siapa saja yang akan datang, mengingat Natalia tidak di sini.


"Rigel..., keadaan Region aman-aman saja. Leo telah pergi ke ruang kontrol dan menyiapkan pintu menuju Tartaros selagi Odin, Gahdevi, Fang dan pasukannya berjaga untuk kemungkinan terburuk. Warga juga telah diberikan peringatan untuk bersiap mengungsi kapanpun."


Tindakan pencegahan yang bagus, terutama pada bagian ketika Leo pergi ke ruang kontrol tanpa izin darinya. Mungkin dia tahu bahwa tidak selamanya dia dapat bergantung atau sejenisnya kepada Rigel. Tindakan mandirinya itu patut diacungi jempol.


"Lalu, apa mungkin Natalia menjemput Kandidat lain?"


Asoka menyadari bahwa Rigel tidak dalam suasana hati yang baik. Peraturan tak tertulis yang tercantum dari orang yang tahu seperti apa Rigel adalah tidak menentang atau melambat ketika dia dalam suasana hati yang buruk.


"Yea, karena kejadian itu tentunya akan banyak yang bertanya-tanya tentangnya, sehingga membiarkan Kandidat melakukan pembahasan—"


"Tidak perlu menjelaskannya akupun tahu! Aku tidak akan menghadirinya, cukup sampaikan bahwa kita akan berangkat lebih cepat dari yang dijadwalkan."


"... Aku mengerti. Baiklah kalau begitu." Asoka menurut tanpa perlu mengatakan hal lain yang menyusahkan dan hanya memperburuk suasana hati Rigel.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Rigel berbalik dan pergi ke suatu tempat yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang.


Butuh waktu empat hari jika mengendarai mobil, namun akan butuh waktu satu Minggu jika mengendarai kereta Naga. Dengan begitu, waktu yang mereka miliki adalah tujuh hari dari sekarang dan keberangkatan akan terjadi pada hari ketujuh.


Maka dari itu, persiapan harus dilakukan secepat mungkin. Meski Kesatuan Tempur belum dalam kesiapan matang seperti rencana, dengan enggan mereka harus membawanya. Lalu, mungkin akan ada anggota tambahan karena informasi mengenai Raid telah diketahui banyak kalangan.


Asoka kembali duduk, bersandar pada kursinya dan memijat dahi dengan lelah selagi tetap memeras otaknya.


"Kemungkinan besar Adventure Asosiasi akan campur tangan terhadap kasus ini. Sepertinya kita harus menjemput ketua Asosiasi, yea..., entah mengapa, dunia seakan berjalan menuju akhirnya."


Tidak ada seorangpun selain dirinya yang mendengar ucapannya. Jelasnya dia hanya berbicara seorang diri. Bila orang luar mendengarnya, mungkin mereka akan menyangkalnya karena tidak ingin memikirkan kejadian suram seperti itu.


"Kuharap semuanya tidak akan menjadi lebih rumit lagi...," gumamnya yang berasal dari keinginan terdalamnya.


Hal yang tentunya tidak hanya diinginkan Asoka, tetapi seluruh kehidupan. Sebuah kedamaian abadi dimana tidak ada kekacauan dan bencana seperti monster malapetaka ataupun Ragnarok.


"Kira-kira apa yang membuat Rigel marah, ya...," gumamnya, memikirkan kejadian buruk yang membuat Rigel seperti itu.


Dia memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab, alhasil sebuah penghianatan yang terpikirkan di kepalanya. Jika memang itu, maka tidak mengejutkan kemarahannya tidak lagi tertampung.


Terus memikirkannya saja percuma, karena itu dia memilih mengalihkannya ke arah lain, ke kejadian yang tengah terjadi. Selain itu, sebuah portal terbentuk di udara, tidak perlu takut siapa itu karena dia telah tahu.


"Jadi kalian sudah datang, ya..." tukasnya, berdiri dari kursinya dan menyambut kedatangan kandidat lain yang datang melalui Spatial.


Dimulai dari Alexei, diikuti Altucray dan Rudeus lalu Natalia yang berjalan paling belakang. Maka dirinya perlu fokus untuk pembahasan ini.


"Sihir Spatial, sihir kuno yang terlupakan. Tidak kuduga masih ada orang yang memiliki sihir serbaguna seperti ini...," tukas Alexei, berdecak kagum akan portal yang baru saja dia lalui. "Hebat juga kamu bisa menggunakannya, bila berkenan bisakah ajari aku sihir itu??"


Natalia membungkuk dalam-dalam, "Mohon maafkan saya, Yang mulia Alexei. Saya sendiri tidak bisa menggunakannya. Saya memanfaatkan Grimoire ini untuk menggunakannya, karena sihir Spatial ini tertanam pada buku."


"Aku tidak pernah mendengar ada sesuatu seperti itu. Umumnya Grimoire diperuntukkan bagi orang-orang mempelajari sihir yang tersimpan didalamnya, bukan untuk menggunakannya."


"Yea, saya telah meminta beberapa ahli Grimoire dan Alchemist hebat untuk menelitinya, namun mereka memiliki jawaban sama, bahwa sihir Spatial dalam buku ini sengaja disegel oleh sihir kuno demi mempermudah penggunaannya."


"Hmm? Apakah ada kemungkinan bila buku itu artifak kuno??" Rudeus yang tertarik terhadap pembicaraan mereka bergabung dalam pembicaraan.


"Saya sendiri tidak yakin, namun buku ini nampaknya bukan Artifak kuno. Namun kekuatan yang menyegel sihir Spatial ke dalam buku ini dipastikan Artifak Kuno."


"Begitu..., apakah hanya ada sihir Spatial saja dalam buku itu? Bisakah aku melihatnya??"


Dengan hormat, Natalia membungkuk dan menolak permintaan Rudeus untuk melihat isi dari bukunya.


"Mohon maafkan saya, Yang mulia Rudeus. Buku ini tidak akan merespon terhadap orang yang tidak cocok memegangnya. Saat orang yang tidak memiliki kualifikasi memegangnya, buku ini akan langsung menghilang entah kemana dan butuh waktu bagi saya mencarinya. Mengenai ada atau tidaknya sihir lain selain Spatial, saya juga tidak dapat menjawabnya, karena beberapa alasan tertentu."


Mereka jelas terkejut akan fakta yang tidak terduga itu. Mengenai ada tidaknya keberadaan sihir lain atau tidak, mereka dapat mentolerir bila Natalia tidak dapat memberitahunya. Mungkin karena beberapa batasan ataupun dia tidak ingin mengungkapkan kartu truf miliknya.


Jika begitu maka mereka dapat menebak bahwa dia memiliki kartu truf tersembunyi dari buku unik itu.


"Yeah, daripada membahasnya lebih jauh, mari kita langsung ke inti permasalahan yang terjadi beberapa saat lalu. Tentang Acnologia yang muncul dari langit beberapa saat lalu."


Mereka mulai menegang dan tahu bahwa pembahasan berat akan segera dimulai. Mengenai pilihan yang diberikan Acnologia dan bebernya informasi tentang Raid terhadap malapetaka terakhir, sang Naga Acnologia.


"Apa Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel tidak menghadiri rapat ini?" tanya Alexei selagi mencari keberadaannya.


"Tidak, dia tengah dalam suasana hati yang sangat buruk. Lebih baik membiarkannya sendiri dan jangan melakukan sesuatu yang membuat suasana hatinya semakin buruk." tukas Asoka, mempersilahkan yang lainnya duduk dan menyuruh pelayan lain meninggalkan ruangan.


"Begitu. Meski aku penasaran dengan hal yang membuatnya marah, namun biarlah. Mari kita mulai saja langsung."


Mereka duduk satu-persatu, namun hanya Natalia yang tetap berdiri di sisi Asoka sebagai eksekutif yang berperan dalam diskusi ini. Sebagai permulaan, Asoka yang menjadi tuan rumah menegaskan ulang tentang diskusi kali ini.


"Seperti yang kita ketahui, bahwa tidak lama sebelumnya target kita, Naga malapetaka Acnologia muncul dari langit. Meski entah itu hanya ilusi yang dia buat atau semacamnya, namun kita tahu setidaknya itu benar-benar ulahnya."


"Ya..., aku tidak pernah melihat sesuatu yang sangat merendahkan manusia dan menghina manusia sampai seperti itu..." tukas Rudeus, mengingat pemandangan di langit sebelumnya.


"Bila itu memang ulah para iblis atau penyihir jahil, aku meyakini bahwa mereka tidak akan sejauh itu bila hanya untuk iseng saja." Alexei menambahkan.


"Kesampingkan saja hal itu dulu, mari lanjutkan ke pokok permasalahannya..." tegur Altucray dengan sedikit tidak senang.


Asoka hanya mengangguk diam, "Hal yang menjadi permasalahan adalah, ada atau tidaknya penghianat diantara kita yang membeberkan informasi Raid kepada Acnologia. Seharusnya, tidak ada sesuatu yang dapat dia jadikan penyampai informasi selain keberadaan penghianat. Mungkin hal ini juga yang membuat Rigel benar-benar murka sekarang ini."


"Yang kedua, ini tentang bebernya informasi penaklukan dan tenggat waktu yang diberitahukan Acnologia. Kita hanya memiliki waktu dua Minggu sebelum Acnologia dan ras Naga itu sendiri yang turun tangan dan membuat kita jatuh dalam keadaan sulit. Lalu, tindakan macam apa yang akan kita lakukan kepada negara lain? terutama pada Adventure Asosiasi yang pastinya tidak akan tinggal diam terhadap ini."


Adventure Asosiasi bukanlah organisasi milik suatu negara, tapi mereka bergerak seperti negara kecil yang tersebar ke seluruh negeri. Mereka seperti sebuah negara didalam negara lain.


Pusatnya sendiri berada di sebuah negara kecil. Bukannya mereka takut terhadap Adventure Asosiasi, namun bila mau mereka dapat mengerahkan seluruh petualang untuk menginvasi negara besar. Karena itu keberadaan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja.


"Tenggat waktu yang diberikan memang tidak dapat diabaikan. Maka tidak ada jalan lain selain mempercepatnya." tukas Alexei, menyentuh dagunya selayaknya berpikir.


"Rigel sendiri telah meminta kita untuk mempersiapkan Kesatuan Tempur dan lainnya mulai dari sekarang dan berangkat pada hari ketujuh. Memang lebih cepat dari jadwal, namun tidak dapat terelakkan." balas Asoka.


"Aku sendiri tidak masalah. Justru aku berharap pertarungan lebih cepat lagi. Tulang punggungku mulai bergetar karena merasakan pertempuran besar akan terjadi." tukas Rudeus, tersenyum lebar dan mengepalkan tinjunya.


"Aku juga setuju. Namun tentang seorang penghianat itu, apa mungkin berasal dari Naga bernama Red?" tanya Altucray.


Dia tidak berpikir bahwa sosok seperti Rigel akan membiarkan keberadaan penghianat begitu saja. Contohnya Takatsumi dan dirinya sendiri yang benar-benar dipermalukan dan disiksa secara batin, terhadap kelakuan Rigel kepada putri tercintanya.


"Aku sendiri tidak yakin. Namun, seharusnya mereka memiliki kontrak dan tidak mungkin dapat saling menipu dibalik kontrak. Kupikir, itu mungkin berasal dari rekan Red atau sosok yang tidak bersangkut paut membeberkannya."


Tidak perlu lagi menjelaskan tentang kontrak, semua yang berada di tempat ini tahu dengan betul keunggulan dan kerugian dari sebuah kontrak yang mengikat jiwa.


"Jika itu memang berasal dari rekannya, maka tidak ada jalan untuk menyelidikinya, ya... Sepertinya kita harus melewati bagian ini...," tukas Rudeus. Seperti katanya, tidak bagus membuang waktu untuk membahas hal yang tidak akan ditemukan solusinya.


"Jika begitu mari bahas Adventure Asosiasi," Alexei menegaskan. "Mengenai mereka, sepertinya kita tidak perlu ambil pusing. Dari kabar burung yang aku terima, Ketua Asosiasi mereka sangat mengagumi sosok Pahlawan dan berharap memiliki kesempatan untuk berjumpa. Kupikir kita hanya perlu mengirimkan salah satu Pahlawan dan meminta mereka menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui Ketua Asosiasi itu." lanjutnya selagi memberikan saran yang apik.


"Meskipun kamu berkata seakan itu mudah, namun aku tidak yakin Ketua Asosiasi tidak mencoba mengorek informasi dengan bersilat lidah. Aku pernah berbicara dengannya sekali dan sejujurnya aku membencinya, karena dia dapat mengetahui hal-hal yang tengah aku sembunyikan. Dari yang aku lihat, hanya Pahlawan Rigel yang sanggup mengatasi silat lidah ataupun perang psikologis." tukas Rudeus, sedikit jengkel bila mengingat hal yang dia tidak ingin ingat.


"Mengirimkan Putri Natalia ataupun Ray tidak akan membuatnya percaya. Meski mereka dapat tahan dari silat lidah dan perang psikologis, namun kedatangan mereka sendiri membawa tanda tanya besar baginya...," Altucray menambahkan.


Masing-masing dari mereka sangat mengenal seperti apa ketua Adventure Asosiasi itu. Sama mengerikannya dengan iblis, namun yang lebih mengerikan adalah jaringan informasinya begitu luas.


Asoka mendesah lelah dan menepuk ringan pelipisnya, "Pada akhirnya, kita hanya bisa bergantung pada Rigel, ya. Entah apa yang tengah dia lakukan saat ini..."


[***]


Boom!


Sesuatu jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi. Membuat angin menggila dan menghempaskan segala hal disekitarnya. Lantas hal itu membuat para monster yang tinggal disekitar tertarik dan berkumpul disana, hanya untuk menyaksikan benda apa yang mendarat dan menciptakan kegaduhan.


"Bagus sekali, kalian berkumpul tepat ketika kemarahan memelukku. Aku berterima kasih atas pemberian nyawa kalian..."


Menampilkan rambut seputih sutra, namun dengan wajah mengerikan dan hawa membunuh yang besar terpancarkan dari seluruh tubuhnya. Tangan kirinya nampak sangat unik, hanya ada satu orang yang memiliki tangan itu. Dalam sekejap wujudnya berkedip dan muncul di tempat lain.


Dia mencengkram kepala Goblin di depannya dan membantingnya dengan kekuatan penuh ke tanah. Tubuh Goblin itu hancur dan lubang besar terbentuk di tanah karena benturannya yang sangat kuat.


Rigel kembali berpindah tempat, kali ini dia berada di depan seekor Minotaur besar dan mematahkan kedua tanduknya tanpa penundaan. Rigel perlahan menyiksanya, mematahkan jari, tangan, kaki, rusuk lalu menginjak wajahnya sampai tidak lagi dikenali. Segala bentuk penyiksaan yang dapat dia pikirkan maka dia lakukan disaat itu juga.


Lingkungan sekitar tercemari oleh darah monster, hancur oleh kemarahan monster yang bernama Amatsumi Rigel. Tindakannya bertolak belakang dengan dirinya yang biasa.


Hanya butuh beberapa menit baginya menghabisi setiap monster yang ada. Kini dirinya duduk disebuah tumpukan mayat monster, penuh darah di sekitar namun tidak setetes pun menyentuh tubuh atau pakaian Rigel.


Dia menatap diam kehancuran yang dia sebabkan, dengan harapan kemarahannya reda. Namun segala yang dia harapkan seakan menjauh darinya. Tidak sedikitpun kemarahan yang membakarnya berkurang dengan amukan ini. Benar-benar sangat mengecewakan.


"Jadi benar bila kamu mengamuk di sini. Para peri menjadi khawatir, marah serta takut tidak dapat melakukan apapun pada Raja pertama yang mereka miliki."


Tidak perlu mengkonfirmasi siapa itu, hanya Ratu peri yang mengetahui segala hal yang dirasakan peri-peri itu.


"Kau sendiri tahu bila tidak baik mendekatiku sekarang. Biarkanlah aku sendiri, bila tidak ingin mati di tanganku." Sikapnya nampak apatis, namun jelas dia masih memperdulikan orang disekitarnya.


"Bahkan jika itu kamu sendiri yang mengancam, aku tidak akan mundur. Justru disaat-saat seperti inilah, keberadaan ku dibutuhkan."


Terhadap perkataannya, tidak ada jawaban apapun yang terucap dari mulut Rigel. Tak sedikitpun dirinya merasa terhibur ataupun membuat amarahnya mereda.


Sylph yang terbang menggunakan sayap mulai mendekati Rigel dari belakang dan tersenyum lembut, tidak sedikitpun khawatir dengan amukan Rigel.


"Di kala ini, kamu perlu membagi perasaan itu kepada orang yang engkau cintai. Meskipun itu orang lain, selama kamu mencintainya maka baik saja. Aku memang istrimu saat ini, namun bukan istri pilihanmu. Kamu terpaksa menikahi ku agar posisi otoritas peri tidak kosong bila sesuatu yang mengerikan terjadi."


"Walaupun begitu, tidak ada larangan untukmu tidak bertemu gadis lain, bahkan melakukannya tidak dilarang."


"Gadis ataupun apapun bukanlah sesuatu yang dapat meringankan amarahku!" balas Rigel, tanpa ada ketenangan dalam nada bicaranya.


Sylph menyadari bahwa apapun yang dia atau orang lain katakan tidak akan bisa mempengaruhi Rigel. Mengingat bahwa dia adalah satu-satunya anomali aneh diantara manusia—Pahlawan yang ada.


Tidak mengejutkan bila cara yang biasa tidak mempan kepadanya.


"Kamu tidak harus meringankan ataupun menghilangkannya...," Sylph membiarkan tangannya terulur dan membungkus Rigel dengan tubuhnya.


Merasakan pelukan hangat dan sesuatu yang lembut menyentuh punggungnya, Rigel tidak memiliki reaksi khusus pada dirinya. Justru tidak mengerti dengan tindakan Sylph.


"Cukupkan dirimu berteman dengan kemarahan itu tanpa mencoba menyingkirkannya segera. Berdamailah dengan dirimu sendiri, Rigel. Tidak ada kerugian yang akan kamu terima hanya dengan berdamai kepada dirimu sendiri."


Sylph menikmati kehangatan dan aroma Rigel sepenuh hati. Meskipun ini bukan menjadi waktu yang tepat, dia tidak perduli. Karena harapannya hanya satu, menenangkan kembali kemarahan Rigel.


Tidak perduli apapun itu, selama kemarahannya mereda, maka para peri akan kembali tenang. Yang dia takutkan jika ini berlangsung lama, mungkin para peri akan mulai melakukan pemberontakan kecil dan melakukan berbagai masalah.


"Mudah untuk mengatakannya. Namun melakukannya tidak akan semudah mencari jarum didalam tumpukan jerami."


Jika berdamai dengan dirinya sendiri menjadi solusi, maka tantangannya adalah butuh berapa lama agar dia menerima dirinya sendiri.


"Tidak perlu terburu-buru. Lakukanlah secara perlahan, terimalah kemarahan itu semudah menerima pelukanku. Jangan mencoba menghindar, kamu hanya perlu menghadapinya tanpa rasa takut." Sylph kembali menegaskan.


Dia tidak tahu, Rigel tidak tahu dengan pasti makna yang coba disampaikan Sylph Padanya. Pikirannya tidaklah begitu jernih sampai-sampai bisa mencari maknanya. Namun, dia paham bahwa dirinya harus berhadapan dengan amarah itu sendiri.