
POV PRISCILLA FLAMESWORD.
Wujudku telah berubah menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Aku menarik sangat banyak kekuatan dari alam peri dan menggunakannya untuk berubah menjadi sosok yang lebih rendah dari ibuku, Ratu peri.
Yang menjadi perbedaan besar dari wujudku ini dengan ratu peri adalah kecantikan dan keindahan dari sayap kupu kupunya yang anggun.
Dengan wujud ini, seluruh kekuatanku meningkat drastis dan aku berharap dengan wujud ini aku dapat mengalahkan Azazel. Alasanku tidak menggunakan wujud ini sejak awal karena wujud ini bukanlah sesuatu yang dapat sembarangan di pakai, mungkin sama dengan kekuatan kutukan yang Rigel gunakan saat menghadapi Arch Licht.
Selain mengambil kekuatan dari alam peri, wujud ini juga menyerap energi jiwaku yang berasal dari inti jiwa meskipun jumlah yang di ambil tidak sampai mempengaruhi keberadaanku disini. Namun, yang menjadi masalahnya adalah wujud ini sangat membebani seluruh tubuhku setiap kali aku menggunakannya, selain itu wujud ini tidak dapat bertahan lama.
Karena itulah, aku harus menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin. Jika saja aku tidak dapat mengalahkannya, setidaknya aku harus berhasil membuatnya menerima banyak kerusakan dan sisanya... Akan aku serahkan kepada seorang pria yang diam diam menyerap inti jiwa dan mengumpulkan mana di sekitar.
Aku tidak tahu apakah Azazel menyadarinya atau tidak, tapi aku pikir dia tidak menyadarinya karena seluruh perhatiannya terfokus padaku. Dia memiliki ekspresi seperti orang yang melihat sesuatu yang dia kagumi atau bisa di sebut, sukacita.
"Lu-luar biasa."
Ucap Azazel.
Aku diam mendengarkan.
"Wujud ini, menyerupai ratu peri, tidak kusangka bahwa putrinya akan datang kesini tepat di hadapan ku!"
Azazel mengaum penuh dengan sukacita.
Dia pasti sudah tidak waras, begitulah pikirku. Tidak mau membuang buang waktu, aku langsung melesat dan memberikan pukulan sekuat yang aku bisa ke dagunya. Pukulanku berhasil mengenainya sebelum dia berhasil bereaksi dengan pergerakanku.
Azazel terhempas ke langit langit dan memuntahkan darah serta gigi yang patah di mulutnya, yang anehnya dia tersenyum. Azazel merentangkan tangannya dan menghadap ke arahku langsung. Di tangannya, api berwarna hijau yang di sertai asap hitam terwujud dan menyelimuti kedua tinjunya.
Sebelum dia mulai menggunakan skillnya yang lain, aku mengepakan sepasang sayap kupu kupu yang berada di punggungku dan terbang langsung ke arah Azazel.
Mata Azazel terbuka lebar saat menyadari bahwa aku sudah berada di belakangnya. Dia dengan sigap melepaskan api hijau ke seluruh tubuhnya hingga membentuk bola api hijau yang menjadikan dia sebagai inti dari bola itu.
Aku terbang menjauh untuk menghindari bola api hijaunya lalu, Azazel meluncur ke arahku dari bola hijau itu dengan kecepatan tinggi, dia mengacungkan tinjunya ke arahku.
Aku tidak menghindarinya, aku merentangkan kedua tanganku untuk menyerang Azazel yang masib mengulurkan tinjunya untuk mengenaiku. Kedua mata dan mulutku bersinar ke emasan saat aku merentangkan kedua tanganku dan membuat ledakan yang sangat besar sampai membuat seluruh ruang lantai ini berguncang karena ledakan. Debu yang menempel di langit langit mulai berjatuhan.
Azazel membuka telapak tangannya yang terulur ke arahku dan dalam satu gerakan itu, energi berwarna hijau dan hitam terbentuk di depan tangannya. Energi itu melesat seperti air yang ditembakan dan mengarah langsung ke arahku, yang memungkinkan Azazel untuk menyerangku sekaligus bertahan dari seranganku.
Sebuah bentrokan energi yang sangat besar tercipta dan setelah beberapa waktu ber bentrokan, kedua energi itu meledak bersamaan hingga menciptakan kumpulan awan debu.
"Uhuk! Uhuk! Apa apaan bentrokan energi ini?"
Gumam Rigel dari kejauhan.
Aku masih terbang dan tak bergeming sedikitpun. Lalu, lonjakan energi yang sangat kuat terbang langsung ke arahku. Aku mengalirkan kekuatan peri di lengan kananku. Aku mengulurkan tangan kananku yang di balut dengan energi peri untuk menangkap lonjakan energi itu dan melemparkannya kembali ketempat dia berasal sebelumnya.
Saat aku mencoba melemparkan kembali lonjakan energi itu, bayangan hitam yang sangat kencang melesat ke arahku dengan sangat cepat. Bayangan itu berhenti tepat di depanku dan disana, muncul wajah Azazel tepat beberapa centimeter di depan wajahku. Dia menatap mataku yang masih berkilau keemasan dengan tatapan haus darah.
Meski aku masih dapat mengikuti gerakannya karena wujud ini, aku terlalu fokus dengan niat membunuh miliknya sampai tidak menyadari bahwa lengan kirinya terulur dan memukul perutku dengan sangat kencang.
Aku terhempas beberapa meter dan mengepakan sayapku untuk menahan tubuhku yang terhempas. Darah mulai keluar dari sela sela gigiku yang terkatup rapat rapat.
Bahkan dengan wujud terkuatku, dia masih dapat memberikan kerusakan kepadaku!
Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu percaya diri bahwa aku akan menang dengan wujud ini. Nyatanya, dia tidak terlalu banyak mengalami kerusakan.
Aku harus mengeluarkan semua yang kumiliki untuk mengalahkan mahkluk ini!
Aku terbang menuju ke arah Azazel dengan sangat cepat sehingga orang biasa mungkin akan menganggapnya sebagai teleportasi. Aku mengulurkan tangan kananku dan meninju dada Azazel, namun dia berhasil menahannya dengan pergelangan tangannya.
Tidak membiarkan dia mengenggam tanganku, aku melesat mundur dengan cepat dan kembali menyerangnua dari arah lain. Reaksi Azazel sunggug di luar nalar, dia langsung melesat dengan cepat ke tempat dimana aku akan menyerangnya. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk meninju dadaku, dia memiliki senyuman yang sangat lebar di bibirnya hingga memperlihatkan gigi putih miliknya.
Baam!
Aku berhasil menahannya dengan kedua lenganku yang aku jadikan sebagai perisai untuk menahan tinjunya.
Sial, ini masih tetap menyakitkan!
Aku melesat menjauh untuk mengambil beberapa jarak darinya, Azazel juga melesat ke arahki dengan cepat sehingga membuat kami berpindah pindah seperti teleportasi, di setiap wujud kami berhenti kami pasti sedang beradu pukulan. Aku terkadang berhasil menyerangnya dan meretakan armor dada yang dia kenakan, Azazel juga terkadang berhasil meletakan pukulan kuatnya di tubuhku.
Bam!
Bam!
Bam!
Kami terus bertukar tinju dengan sangat cepat sehingga hanya menyisakan cahaya hijau dan emas untuk di perlihatkan. Entah sudah berapa lama kami terus bertukar pukulan seperti ini.
Namun, perubahan wujudku hampir mencapai batasnya. Selagi terus terbang menjauh dari Azazel, aku mendekatkan kedua tanganku dan mengumpulkan kekuatan peri dalam jumlah besar di kedua tanganku dan menebakannya ke arah Azazel yang mengejarku.
Dia dengan cepat berpindah tempat dari jangkauan laser yang ku tembakan. Dia mengulurkan tangannya dan membalasku dengan menembakan sinar hijau tepat di belakangku.
Aku menghindarinya dan memutar tubuhku untuk menggukanan serangan yang sama seperti sebelumnya. Tembok dan lantai ruangan ini memiliki goresan yang dalam akibat serangan liar yang kami lepaskan, bahkan beberapa pilar yang berada di sini sudah hancur karena serangan kami.
Aku berhenti berterbangan dan Azazel mengikutiku. Aku dapat merasakan tatapan Rigel menusuk kedalam diriku, namun aku memilih untuk mengabaikannya dan fokus kepada Azazel yang tepat beberapa meter di hadapanku.
Zirah yang dia kenakan di tubuhnya kini sudah hancur dan memiliki beberapa retakan di sekitarnya, darah juga mengalir di tepi bibirnya yang masih melengkung tersenyum, namun matanya mengatakan sebaliknya. Matanya terlihat seperti seseorang yang marah dan hendak membunuh seseorang.
Untukku, aku memiliki beberapa memar di sekitar tubuhku, sayap dan pakaianku juga sobek sobek karena pertukaran yang kami lakukan sejauh ini. Alasanku tidak bisa menyembuhkan lukaku dan sayapku karena aku sudah hampir mencapai batasku.
Kilauan emas dimataku juga mulai meredup, rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhku mulai membebaniku. Aku dapat merasakan darah perlahan keluar dari mulutku, namun entah kenapa aku tidak merasakan frustasi, bibirku juga melengkung karena tersenyum dengan fakta bahwa aku berhasil setidaknya memberi beberapa kerusakan yang berarti kepadanya.
Lalu, Azazel mulai berbicara, dia masih diam di tempatnya berada dan tidak bergerak. Syukurlah dia tidak memperhatikan Rigel yang berada jauh di tempat kami.
"Pada awalnya kupikir kau benar benar mewarisi dan lahir dari rahim ratu peri, namun dugaanku salah."
Ucao Azazel sambil memejamkan matanya.
Alisku sedikit terangkat, terkejut karena dia mengetahui hal itu. Bahkan, fakta bahwa aku memiliki hubungan dengan ratu peri saja tidak ada yang mengetahuinya, karena aku tidak pernah membicarakannya ataupun menggunakan kekuatan ini di depan orang orang.
"Hoo? Aku terkejut kau dapat mengetahui hal itu hanya dengan pertukaran barusan. Lalu, bisakah kau menjelaskan kenapa aku bisa menggunakan sebagian kecil dari kekuatannya dan meniru wujudnya?"
Balas Priscilla.
"Dari spekulasi yang kupikirkan, kau entah bagaimana caranya bertemu dengan ratu peri dan dia mengangkatmu sebagai anaknya sehingga kau menerima berkah cinta sang ratu. Dengan berkah cinta sang ratu, kau dapat menggunakan sebagian kecil dari kekuatannya dan kau berlatih di bawah bimbingannya langsung, benar begitu bukan?"
Ucap Azazel, sambil menjentikan tangannya.
Aku benci mengakuinya, namun spekulasi yang dia buat sangatlah tepat. Aku tidak benar benar mewarisi darah dan daging ratu peri karena aku bukan orang yang lahir dari rahimnya. Aku dapat bertemu dengannya karena sebuah keberuntungan.
Aku dibuang di dekat hutan peri oleh ibuku saat masih bayi dan kebetulan ratu peri mendengarkan permintaan ibuku. Dia membawaku dan merawatku seperti anaknya sendiri sehingga aku menerima berkah cinta sang ratu darinya. Yah, kita akan melewatkan ceritanya untuk lain waktu.
"Yang memperkuat spekulasi yang kubuat adalah fakta bahwa kau tidak menggunakan wujudmu itu dari awal, masuk akal bagiku untuk berfikir bahwa kau hanya dapat mempertahankan wujud itu beberapa waktu. Jika kau benar benar memiliki darahnya, sudah sepastinya kau dapat menggunakan wujud ini di awal."
Ucap Azazel dengan acuh tak acuh.
Aku hanya diam mendengarkannya saat energi peri yang membentuk wujudku perlahan memudar, menyisakan sayap dan kilauan emas di mataku saja.
Ucap Azazel.
Azazel mulai mengumpulkan banyak energi yang membara di tangan kirinya, dia perlahan berjalan mendekatiku.
"Salah satu dari empat pangeran neraka, Azazel."
Ucap Azazel.
Mengikutinya, aku juga perlahan berjalan ke arahnya dan mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk serangan terakhir ini. Meskipun aku berhasil memberikan beberapa luka kepada Azazel, seperti yang kuduga, dia dapat menyembuhkan dirinya sendiri.
"Pemimpin dari serikat penakluk Region, Priscilla Flamesword."
Ucap Priscilla.
Kami saling memberitahukan nama dan posisi kami berada masing masing. Hal ini biasanya digunakan oleh para kesatria hebat untuk menghormati lawan yang di anggap kuat atau juga sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Kami berdua sama sama berjalan mendekati satu sama lain dengan energi terkumpul di tangan kami masing masing.
Aku dan Azazel tetap berjalan biasa lalu perlahan mempercepat langkah kaki kami hingga dari jalan menjadi berlari.
"Hyaaaaaaaa!!!"
Priscilla mengaum.
"Huaaaarrrgggghhhh!"
Azazel mengaum.
Cing!
Bamm!!!!
Kami membenturkan energi kami satu sama lain sampai membuat seluruh lantai bergetar. Cahaya putih yang menyilaukan bersinar dari energi ku dan Azazel yang saling berbenturan.
"Haaaaaaa!!!"
Aku mengaum sekali lagi dan mempertaruhkan segalanya di serangan ini dan setelah itu, akan kubiarkan takdir yang menentukan akankah aku masih dapat bertahan atau menghilang dan menjadi inti jiwa.
DUAR!
Energi yang awalnya saling berbenturan kini meledak dan membuat kumpulan awan debu serta sebuah kawah di lantai ruangan ini.
Awan debu perlahan menghilang dan Azazel yang tadinya berada di depanku kini telah berada di belakangku dengan bagian tubuh dari perutku yang berada di tangannya.
Meskipun di labyrint ini kami tidak memiliki tubuh fisik, luka fatal yabg berada di titik fital dapat membuat kami mati dan Kehabisan inti jiwa.
"Ketua!"
Teriak Mirai yang telah pulih.
"Priscilla!!"
Anastasia mengikuti di belakangnya.
Nampaknya mereka berdua sudah sadar dan telah memulihkan dirinya. Mata Anastasia banjir dengan air mata sementara Mirai mengangkat pedangnya dan hendak berdiri di tengah tengah aku dan Azazel.
Aku tersenyum kepada mereka berdua dan perlahan tumbang saat Anastasia masih beberapa meter dariku. Sebelum aku terjatuh dan menyentuh tanah yang dingin, sebuah tangan mendarat di bawahku dan menahanku agar tidak terjatuh di lantai ruangan yanh dingin.
Aku dapat merasakan kehangatan dari tangannya dibalik tubuhku yang dingin. Lalu, tangan kiri palsu yang terbuat dari Adamantite menyentuh punggungku dan menaruh inti jiwa yang cukup besar di sana.
Dia memelukku dan membuat dadanya yang lapang untuk menjadi bantalanku bersandar. Inti jiwa milikku merespown dan mulai menyerapnya perlahan, dia juga memberikan potion pemulihan untukku.
"Ahh, sepertinya harapan bahwa aku akan berakhir disini, trlah terkhianati berkatmu, Rigel."
Ucap Priscilla, dengan lemah.
"Maaf, karena butuh waktu cukup lama untukku pulih. Sisanya serahkan saja kepadaku, Ketua."
Ucap Rigel.
Dia mengeluarkan senyuman yang bahkan membuat hatiku berdegup kencang karenanya. Anastasia perlahan menghampiri kami dan dia jatuh berlutut. Lalu, perlahan di bawah mata Rigel, sebuah rune berwarna biru terbentuk, tidak hanya di matanya, tapi di seluruh tubuhnya selain wajah tampan yang dia miliki.
"Anastasia, tolong rawat Priscilla."
Ucap Rigel.
Dia menyerahkanku ke pelukan Anastasia yang hanya diam dan menangis sembari menyembuhkan tubuhku.
"Cih, padahal aku masih ingin lebih lama berada di pelukanmu, Rigel."
Ucap Priscilla dengan lemah.
Dia hanya tersenyum dengan kata kataku.
"Mirai, tolong jaga Anastasia dan Priscilla, biarkan aku yang menghadapi Azazel."
"Itu terlalu berbahaya untukmu menghadapinya seorang diri, Rigel!"
Bentak Mirai.
"Tenang saja, percayalah padaku."
Rigel tersenyum dengan penuh percaya diri.
Aku tidak tahu rune apa yang telah terbentuk di tubuhnya namun, dari senyuman itu membuatku percaya bahwa dia pasti akan berhasil mengalahkan Azazel.
"Semakin lama kita berbicara disini, maka semakin cepat dia pulih."
Ucap Rigel sambil menatap Azazel.
Azazel menanggapinya dengan tersenyum berani dan menatap Rigel dengan seksama.
"Jadi, lawanku selanjutnya adalah kau."
Ucap Azazel mencibir.
Nampaknya Azazel telah memulihkan setengah dari kekuatannya. Aku hanya mengutuk pelan di dalam pikiranku.
"Kau terlalu sembrono jika menghadapinya seorang diri Rigel! Biarkan aku membantumu!"
Ucap Mirai dengan putus asa membujuk Rigel yang sudah berjalan menghampiri Azazel.
"Kau tidak perlu khawatir, Mirai. Karena aku adalah
Seorang pahlawan, pahlawan Creator!"