The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Peninggalan yang bagus



"Whoaa...!!! Keren... Aku tidak pernah menyangka ada air sebanyak ini di luar, paman Fang...!!!"


"Ya... Ini di namakan laut, kau jangan coba coba untuk meminumnya karena airnya asin..."


Rigel tersenyum saat melihat Riri yang berada di punggung Fang terlihat sangat gembira. Saat ini, Rigel dan Fang sedang melintasi menuju ke tempat Merial dan yang lain. Rigel beruntung dia masih menyimpan seluncur air yang di berikan Merial kepadanya. Rigel menyuruh Fang menggunakannya agar dia bisa melintasi air, meskipun dia awalnya tampak enggan tetapi dia tetap melakukannya. Fang membutuhkan sedikit latihan agar dia bisa menggunakannya tanpa kendala, alhasil dia dapat mempelajarinya dengan cepat.


Untuk Rigel sendiri, meskipun dia bisa terbang di udara namun Rigel tidak memilih terbang untuk saat ini. Ada hal yang ingin dia coba selagi bisa. Dari belakang, Rigel dapat mendengar suara Riri yang masih tampak riang...


"Nah, paman Fang... Apakah aku bisa berdiri di air seperti kak, Rigel...?! Itu terlihat menyenangkan, aku juga ingin melakukannya...!!!"


"Kau hanya akan tenggelam jika mencoba meniru Tuan Pahlawan, Riri... Aku bahkan tidak dapat mengendarai ombak seperti Tuan Pahlawan..."


Seperti yang di katakan Riri, Rigel saat ini sedang berdiri dengan kaki telanjang di atas ombak dan mengendarainya sesuka hatinya. Rigel ingat jika dia memiliki Skill sampingan tentang manipulasi air, dia ingin mencoba sesuatu yang dia lihat di film saat masih tinggal di bumi. Selagi Rigel dalam perjalanan, Rigel mengotak-atik index miliknya dan memeriksa beberapa hal yang mengejutkan.


Tidak butuh waktu lama untuk Rigel sampai di tempat mayat Hydra berada. Di sana, ada dua buah kapal yang sedang berlabuh. Para prajurit di sana nampaknya sedang membuat jalan agar dua belas pahlawan yang akan datang minggu depan dapat mencapai sini dengan aman.


Saat melihatnya, Rigel benar benar tidak menyangka akan seburuk ini kerusakan yang dia sebabkan saat pertarungannya dengan Hydra, belum lagi matahari kecil yang di lemparkan Rigel saat dia bertukar dengan Antares. Dia bahkan sampai membuat daratan kecil agar mayat Hydra tidak tenggelam ke dasar laut.


Saat dia sudah mencapai tempat tujuannya, Rigel melompat ke daratan kecil yang dibuatnya dan berjalan menuju Merial yang sedang memimpin pembersihan sisa pertarungan. Di sisi lain Ray, Misa dan Nisa nampaknya sedang mencari sesuatu seperti Item drop di mayat Hydra. Mau berapa kalipun di lihat, pemandangan Hydra yang tubuhnya perlahan membusuk tetaplah mengagumkan bagi setiap pasukan. Rigel menyapa Merial yang masih belum sadar jika dia sedang berjalan di belakangnya...


"Yo... Kerja bagus karena telah membereskam kekacauan ini..."


"Ahh... Tuan Rigel...?! Kau sudah sadar, apakah tubuhmu baik-baik saja...??"


Merial berbalik dan menghampiri Rigel dengan khawatir. Dia menanyakan kondisi Rigel yang sekarang ini.


"Ya, meski aku masih merasakan sedikit sakit namun aku baik-baik saja untuk saat ini... Daripada itu, apakah ada Item Drop yang menarik untukku...?? Karena aku tidak memiliki senjata ilahi jadi aku hanya bisa berharap pada item drop atau semacamnya..."


"Ya, saat ini Ray, Misa dan Nisa sedang mengumpulkannya... Lalu, ada beberapa hal yang ingin kami tunjukan padamu, Tuan Rigel. Ikuti aku..."


Rigel mengikuti Merial yang memimpin jalan ke tempat yang dia ingin tunjukan kepada Rigel. Tidak jauh dari tempatnya, Rigel dapat mendengar suara Riri...


"Paman, aku takut... Apakah itu monster yang di ceritakan ibu padaku...?? Ayo kita kembali saja, paman..."


Riri Tampak ingin menangis saat dia melihat mayat monster yang ukurannya sangat besar di depannya. Sementara, entah untuk alasan apa Fang mulai menitihkan air mata. Menyadari itu, Rigel memanggil Fang.


"Ada apa, Fang?? Kenapa kau menangis..."


Fang berjalan menuju Rigel dan Merial dengan mengabaikan Riri yang merengek minta pulang. Fang mengusap air matanya dan berkata....


"Ah, Tidak... Aku sudah melihat ini sesaat Tuan muda memberitahu kami untuk memastikannya... Namun, mau berapa kalipun di lihat, pemandangan ini benar-benar sesuatu..."


"Paman... Ayo pulang...!! Aku takut dia akan bangun dan memakanku karena menjadi anak nakal...!!!"


Riri mulai menangis dan menarik-narik rambut Fang. Melihat adanya anak kecil di sini, Merial bertanya kepada Rigel.


"Apakah kau yang membawa anak itu ke sini, Tuan Rigel...??"


"Ahh, ya... Pada awalnya aku meminta dia untuk menemaniku pergi keluar. Namun saat di perjalanan aku bertemu dengan Fang yang menjelaskan keadaan saat ini lalu aku memutuskan untuk langsung ke sini tanpa berpikir lagi..."


Rigel menggarukan kepalanya. Dia tidak pernah berfikir jika mengajak anak kecil ke sini adalah sesuatu yang buruk, jadi dia akan bertanggung jawab untuk menenangkan Riri. Jika dia tetap bersikeras ingin pulang, Rigel akan menteleportasikan Riri ke tempat yang sudah dia tandai sebelumnya. Rigel berjalan menghampiri Riri dan menurunkannya dari pundak Fang.


"Riri... Kau tidak perlu takut dengan monster itu... Dia sudah mati jadi dia tidak akan bergerak lagi... Selain itu, disini ada banyak orang kuat yang akan melindungimu, kau tidak perlu takut... Jadilah gadis kecil yang pemberani..."


Riri mendengarkan kata-kata Rigel dan dengan takut menoleh untuk melihat mayat raksasa milik Hydra.


"Coba kau hajar mayatnya dan katakan kau tidak takut dengannya..."


Rigel mengangguk untuk menjawab pertanyaan Riri. Dengan perlahan, Riri berjalan mendekati mayat Hydra. Rigel, Fang dan Merial tersenyum lembut saat melihat gadis kecil itu memberanikan dirinya untuk menghadapi mayat Hydra.


Tidak hanya Rigel, para prajurit juga menyaksikan Riri yang berjalan perlahan dengan takut menghampiri mayat Hydra. Satu persatu dari mereka mulai memberikan dukungan kepada Riri.


"Ayo berjuanglah gadis kecil, jangan takut kepada mayat ini..."


"Jangan takut, Nak... Aku akan memberimu makanan nanti..."


"Berjuanglah..."


Mendengar sorak demi sorak di tunjukan kepadanya, Riri menatap sekitar dan menguatkan tekadnya. Dia berlari menghampiri Hydra dan memukul tubuh Hydra lalu berkata.


"A-aku tidak takut kepadamu karena kau sudah mati, jelek...!!! Jika kau mencoba menyerangku, kakak Rigel dan paman Fang akan menghajarmu...!!!"


Riri menjulurkan lidahnya sebelum berlari kembali ke tempat Rigel berada. Dia tersenyum selagi berlari ke arah Rigel.


"Aku-aku berhasil melakukannya, Kak Rigel, paman Fang dan Nona cantik..."


Mungkin karena dia tidak mengetahui nama Merial, dia memanggilnya dengan sebutan Nona cantik yang membuat Merial sedikit tersipu. Rigel menepuk kepala Riri yang tersenyum senang saat sorak sorai datang dari para prajurit yang memperhatikan.


"Kerja bagus, Riri... Kau sudah menjadi gadis yang pemberani, aku mengakuimu...!!!"


"Ya...!!"


Setelah aksi heroik Riri yang memberikan suasana keceriaan di sekitar. Rigel memutuskan untuk melanjutkan kembali menuju ke tempat yang ingin di tunjukan Merial kepadanya. Riri saat ini sedang berjalan bergandengan tangan dengan Merial. Rigel mulai bicara...


"Jadi, apa yang ingin kau tunjukan padaku...??"


"Ya... Kami menemukan beberapa barang yang mungkin berguna untuk Tuan Rigel dan Tuan Takumi... Lalu, ada juga sebuah pedang yang nampaknya bagus jika di berikan kepada Tuan Takatsumi."


Rigel mengerutkan alisnya saat mendengar nama bajingan yang berusaha membunuhnya. Mungkin Merial belum mendengar cerita tentang apa yang di lakukan Takatsumi kepada Rigel, bahkan Takumi juga belum mendengarnya. Rigel memilih untuk tidak menceritakannya dan menyingkirkan pemikirannya tentang Takatsumi untuk saat ini.


"Apakah pedang itu berada di tempat yang sedang kita tuju...??"


"Tidak... Saat ini kita akan menuju ke tenda yang di siapkan khusus untuk menyimpan Item Drop... Untuk pedang itu sendiri, kami masih belum berani mengambilnya karena kemungkinan pedang itu mengandung kutukan..."


Ahh~, setelah Merial mengatakan itu, Rigel teringat akan sebuah legenda dari negri Sakura, Jepang. Di dalam ceritanya, saat Susano'o berhasil mengalahkan Yamato no Orochi, dia mencabut pedangnya yang tertancap di tubuh Hydra dan pedang itu menjelma menjadi sebuah pedang sakti. Kalau Rigel tidak salah ingat, nama pedang itu adalah Kusanagi. Namun, Rigel tidak dapat memastikan hal itu di dunia ini sebelum dia melihatnya sendiri.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di dalam sebuah tenda yang cukup besar. Melihat itu, Rigel bertanya kepada Merial.


"Lalu, apa yang ada di tenda...??"


Seolah menunggu pertanyaan ini, Merial tersenyum dan membuka tirai yang menuju ke dalam sambil berkata...


"Runestone Hydra..."


Sebuah batu yang bagi Rigel lebih baik daripada susah payah menyerap tubuh monster untuk mendapatkan kekuatan. Sebuah Runestone yang berisi seluruh Skill milik Hydra, berada tepat di depan mata Rigel. Ukurannya sedikit lebih besar dari pada Runestone lain... Rigel bahkan dapat merasakan kekuatan yang besar meluap-luap dari batu itu. Hatinya melompat dalam ke senangan dan Rigel tidak dapat menahan senyuman di bibirnya...


"Kau meninggalkan banyak hal bagus untukku, Hydra~"


Note :


Untuk film yang di maksud Rigel adalah film yang berjudul Percy Jackson pada saat dia melawan putra hermes yang gw lupa namanya:v.


📌Memberikan Like tidak akan membuatmu Rugi.