The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Bersamaku, Raihlah Nirwana



Rigel membiarkan Leo dan Moris yang mengurus penginapan sementara dia berkeliling untuk melakukan beberapa hal. Setidaknya, anggap saja dia sedang menyiapkan rencana antisipasi, kalau-kalau hal tidak terduga terjadi.


Tidak peduli berapa kali kupandang, tempat ini sama sekali tidak ada bagus-bagusnya.


Hanya ada pameran budak, sejauh mata memandang. Yah, wajar saja karena mungkin tempat ini menjadi pusat perdagangan budak. Rigel tentu tidak dapat membiarkannya. Meski reputasinya bisa digunakan, namun sungguh dia nian tidak ingin terlalu bergantung kepada hal semacam itu.


Dia perlu melakukan sesuatu yang lebih mengancam lagi, sebagai langkah awal menghapuskan perbudakan. Bahkan jika dia tidak dapat melakukannya secara langsung, setidaknya dia harus menyadarkan orang-orang, bahwa derajat setiap makhluk hidup itu sama.


"Abang bertopeng yang di sana, bisakah kau membuang waktu dengan mampir sebentar?"


Seru pedagang kepadanya. Dia benar-benar tidak tertarik mengunjungi satupun, namun dia mendapati seakan sebuah naluriah yang benar-benar tidak dapat di mengerti memintanya mengikuti pedagang budak itu.


Memang bukan sesuatu yang buruk atau merugikan, namun tidak baik baginya menumpuk kemarahan dalam dada. Namun firasat berkata lain, kontradiksi batin dan firasat terjadi. Hingga akhirnya yang menjadi pemenang adalah firasatnya dan membuatnya mendatangi pedagang budak itu.


"Apa yang kau inginkan dariku?"


Rigel sedikit merubah suaranya dengan menaikan sedikit oktaf suara dan membuatnya terdengar berat dan kasar. Tentu dia tidak di wajibkan melakukannya, dia hanya ingin melakukannya saja.


"Dari yang saya perhatikan, dilihat dari cara anda berjalan, badan yang tegak serta mengawasi sekitar dari balik topeng itu, anda jelas petarung yang berpengalaman."


Hebat juga dia yang memiliki pengamatan tajam, atau memang dia telah mengincar Rigel semenjak awal. Yah tidak perduli yang mana itu, dia tidak tertarik dengan itu.


"Lalu, apa yang kau inginkan?"


"Jika berkenan, maukah anda melihat-lihat toko saya? Tidak hanya senjata hebat yang tidak akan mudah anda temui, saya juga memiliki budak petarung hebat yang bahkan telah terkenal luas di tempat ini." Dia mulai mengusap kedua tangannya selayaknya orang yang hendak memeras uang.


Jika dirinya berhasil memiliki Dwarf, maka tak perlu resah akan senjata berkualitas. Karena selain dapat menciptakan apapun dengan mudah dan menginjak-injak harga diri penempa serta pengajin, selama ada Dwarf dia akan selalu memiliki senjata yang bagus. Selain itu, membangun dan merenovasi bangunan di Region dengan cepat bukanlah hanyalan belaka.


Tidak salah mengikuti firasatnya, karena dia cukup tertarik dengan budak petarung yang di sebutkan sebelumnya.


"Bagaimana? Apa anda tertarik? Jika begitu, silahkan ikuti saya..." Dengan senyuman yang terlihat licik di bibirnya, dia menuntun Rigel pergi ke loka tempatnya berdagang.


Ada begitu banyak budak di sana. Mayoritasnya di penuhi oleh budak wanita cantik seperti Elf yang baru kali ini dijumpai. Tatapan mereka terlihat hampa, seakan tidak ada keinginan meneruskan hari esok. Beberapa tampak pucat sakit, dapat di pastikan tidak memiliki banyak umur jika tidak segera di tangani. Dia tentu tidak bisa membiarkannya begitu saja, namun pertolongan yang di berikan tentunya terbatas.


"Kesini, Bang bertopeng. Saya merekomendasikan budak yang satu ini. Dia telah sering kali menjuarai Fight To End dan kebetulan dia mengikuti pertarungan yang akan datang."


Mencurigakan~, jika budak itu memang memiliki kemampuan untuk menjuarai, lantas tidak ada alasan baginya mencoba untuk menjualnya karena keuntungan dari kemenangan Fight To End lebih besar, ketimbang menjualnya dengan harga tinggi. Jika di pikirkan, tentunya ada maksud tersembunyi dari tindakannya.


Rigel menghampiri budak yang di maksud dan menemukan sepasang saudara laki-laki dan perempuan. Mereka memiliki dua taring tajam dan telinga putih seperti kucing dan rambut yang putih sehalus salju, seperti Rigel. Yang berbeda, warna rambut mereka alami, tidak di picu sesuatu seperti jiwa yang lebih tua ketimbang raga, seperti Rigel.


Yang perempuan tampak lebih tua, sepertinya dia adalah kakak dari si laki-laki. Dirinya dapat melihat dengan jelas, bahwa Demi-human perempuan merupakan non kombatan, namun memiliki sihir besar dalam dirinya. Berbeda dengan saudara laki-lakinya yang memiliki perawakan bagus. Umur saudara laki-lakinya nampak tidak berbeda jauh dengan anak seusia 14 tahun sementara yang perempuan pertengahan 20, sama seperti Rigel.


"Mereka adalah sepasang saudara Demi-human dari Ras yang langka yang hampir punah. Adik laki-lakinya memiliki kemampuan bertarung hebat dan pernah memenangkan beberapa kejuaraan, dia adalah budak kesayanganku. Berbeda dengan kakak perempuannya yang tidak berguna, sakit-sakitan sehingga tidak ada yang berminat padanya."


*CLANG!


Si adik laki-laki mencengkram jeruji besi dengan marah, mengaktifkan listrik statis yang tertanam di jeruji. Sengatan listrik bertegangan tinggi tidak membuatnya kesakitan, atau dia memang kesakitan namun amarahnya menghilangkan rasa sakit yang di alaminya.


"Aku telah cukup bersabar, selama ini. Jangan mendorongku ke puncak kesabaranku, keparat!"


Pedagang budak itu tercengang dan tampak sedikit gemetar. Sebelum pedagang budak itu melakukan sesuatu yang buruk, Rigel memilih bertindak dan berjongkok, agar sejajar dengan tatapan Demi-human perempuan yang terbaring lemah. Dia mengambil ramuan pemulihan dari infentory dan melemparkannya kepada gadis itu.


"Minumlah itu, jika tidak membaik atau mengurangi sedikit penderitaanmu, katakanlah padaku."


Si budak laki-laki menatap dengan curiga dan tidak mempercayai sedikitpun kebaikan yang di tunjukkan Rigel kepadanya. Tentunya dia berpikir bahwa ada makna tertentu dari tindakan Rigel.


"T-tuan, memberi barang berharga seperti ramuan kepada budak rendahan...— Hal itu..."


Pedagang budak itu merasa bermasalah akan sesuatu. Rigel tidak mengatakan apapun, dia mengambil langkah dan menghampiri pedagang budak yang mengambil satu langkah mundur. Dia mengulurkan tangan ke topeng, membuka sedikit dan membiarkan matanya yang biru bersinar di dalam kegelapan.


"Diamlah, sampah."


Tekanan kuat, aura intimindasi di keluarkannya, membuat seisi budak di tempat jatuh dalam kengerian yang mengerikan. Budak berambut putih sebelumnya nampak berkeringat dingin, hanya dengan merasakan auranya dia mengetahui dengan jelas, jurang pemisah di antara mereka.


"Hah! T-tolo—"


Pedagang budak jatuh dengan pantatnya lebih dulu menyentuh tanah. Gemetar ketakutan di hadapan intimindasi dan tatapan mengerikan dari mata Rigel yang menatap selayaknya melihat sampah menjijikan yang teramat sampah.


Dia mencengkram kerah pedagang budak dengan tangan kiri yang coba di sembunyikan, membuat tatapan pedagang itu sejajar dengan tatapannya.


"Argh! Ta-tangan itu... A-apakah.... K-kau...!"


Sebelum sempat melanjutkan perkataannya, Rigel membungkamnya dengan menghipnotis dan mengatakan : "Diamlah dan jawab pertanyaanku."


"Baik... Apapun keinginanmu." Pedagang budak mulai menunjukkan tidak adanya perlawanan dan dengan patuh mengikuti perkataan Rigel.


Dia melepas cengkramannya dan mulai mengintrogasinya, demi sebuah informasi yang di butuhkan sebelum membuat rencananya.


"Katakanlah niatmu yang sebenarnya."


"Ya... Saya mendapatkan kabar burung bahwa pilar iblis kemungkinan akan ikut dalam tournament yang akan datang nanti. Meski tidak di pastikan kebenarannya, tidak ada salahnya berjaga-jaga. Banyak dari para petarung mulai membentuk tim untuk mengalahkan musuh-musuh hebat yang akan berlaga. Saya menyadari bahwa anda adalah wajah baru dan dari gaya berjalan jelas bahwa anda bukan orang biasa. Saya mencoba bernegosiasi untuk anda dan budak saya membentuk tim demi meningkatkan peluan kemenangan."


Jadi begitu, wajar jika berpikir bahwa dengan jumlah dapat meningkat kemungkinan menang yang tinggi. Tetap saja, meski dengan 100 orang petarung handal sekalipun, kesempatan mereka menang dari pilar iblis sangatlah kecil, karena para Pahlawan sendiri cukup kerepotan menghadapi mereka. Namun, di pertarungan yang di izinkan membunuh setiap lawannya, seharusnya tidak ada posisi kedua, hanya ada satu pemenang yang berdiri di puncak.


"Apakah itu demu meraih posisi kedua atau ketiga? Dengan membentuk tim berisikan orang-orang hebat?"


"Ya... Kabarnya, Pilar Iblis berjanji dan membuat kontrak dengan tuan tanah bahwa dia tidak akan membunuh satupun manusia di dalam stadion dan arena. Karena kontrak dan janji adalah hal mutlak bagi iblis, ada kesempatan meraih tempat selain posisi pertama."


"Huh, benar-benar bego. Dia hanya berkata tidak membunuh orang yang berada di arena dan stadion, namun bagaimana jika di luar tempat itu? Dia juga tidak pernah berkata tidak akan membunuh manusia selagi di tempat ini. Kalian benar-benar naif."


Mendengar perkataan itu, bocah budak petarung tampak terkejut dan gentar. Para budak yang di dagangkan mendengarnya juga dan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pembantaian akan terjadi, tanpa seorangpun penyelamat yang akan datang.


"Tidak mungkin... Jika begitu, kita akan tetap mati, setelah pertarungan berakhir?"


"Ya." Rigel dengan jujur memberitahukan kenyataan pahit yang akan mereka hadapi.


Keputusasaan menyebar dengan cepat, bak racun di udara, diantara orang-orang yang menghirupnya. Percuma mereka berteriak memperingatkan, tiada seorangpun dermawan yang bahkan mau mendengar peringatan dari orang rendahan seperti budak.


"Apa-apaan ini! Dunia begitu kejam... Setelah merampas suami dan anakku dan merebut kebebasanku dengan menjadi budak... Sungguh kejam, dewa sungguh memberikan takdir nian kejam."


Wanita manusia yang menjadi budak mulai menangis. Menumpahkan segala penderitaan, kesedihan, kesakitan, kepedihan, penghinaan, kemarahan, ketercelaan, dan Keputusasaan keluar melalui air bening yang keluar dari mata, sebuah tangisan.


Mengikutinya, suara Keputusasaan lainnya menyertai, bak dewa kematian tengah memainkan orkestra musik Keputusasaan.


"Ahh, hidup ini benar-benar menyedihkan. Menjadi budak selama bertahun-tahun lalu mati dengan menyedihkan. Aku harap di kehidupan selanjutnya hidupku jadi lebih baik."


"Kupikir kematian jauh lebih baik..."


"Ibu... Tolong aku, ibu... Aku tidam ingin mati!"


"Kenyataannya tidak akan ada yang mau menolong sosok rendah seperti kita... Bahkan para Pahlawan tidak akan pernah mau menginjakan kaki di tempat terpuruk dan tidak mau mengulurkan tangan terhadap sosok rendah seperti budak."


Nyatanya dia salah. Bukti nyata bahwa saat ini, sekarang ini, Pahlawan tengah mendengar keluh kesah, Keputusasaan, harapan mereka tepat di depan mereka. Harapan dapat terdengar jelas, uluran tangan akan datang di sertai kebebasan yang di nantikan.


"Kergh! Tidak ada pilihan lain... Kau yang bertopeng di sana, lepaskanlah kami! Cepatlah!"


Bocah petarung Demi-human terus berteriak kepada Rigel untuk membebaskannya. Namun, tak kunjung mendapatkan tanggapan yang baik darinya.


"Untuk apa? Saat kau bebas, kau tidak akan bisa keluar dari pengawasan penjaga. Bahkan jika bisa, kau hanya akan berakhir di suatu tempat hingga akhirnya seseorang menemukanmu dan hanya berakhir kembali menjadi budak. Percuma saja melarikan diri tidak ada jalan keselamatan untuk kalian."


Tentu dia memahami dengan jelas. Terutama dengan kondisi kakak perempuannya yang sakit seperti itu, hampir mustahil bagi mereka bertahan hidup di luar sana.


Mereka harus menelan kenyataan pahit, riwayat hidup mereka akan berakhir. Harapan telah sirna, keinginan melihat hari esok hancur menjadi debu. Namun, seseorang akan memberikan harapan baru. Dan orang itu adalah dirinya, Amatsumi Rigel.


"Lantas kalian tidak berpikir keajaiban akan datang? Kalian salah! Keajaiban akan selalu ada. Buktinya aku telah berdiri di sini, mendengar permintaan kalian, harapan kalian, keinginan kalian untuk tetap hidup. Perasaan itulah yang seharusnya kalian pegang teguh, jangan biarkan perasaan semacam itu lenyap begitu mudah! Aku akan mengabulkan segala tuntutan kalian untuk tetap hidup dan karena itulah aku membutuhkan bantuan kalian. Sekarang, biarkan aku mendengar keinginan kalian!"


Tidak ada yang mengetahui, siapa pria bertopeng di depan mereka? Seperti apa wajahnya? Bagaimana bisa dia begitu kuat dan mempesona? Tidak ada yang tahu. Mereka hanya tahu satu hal, bahwa saat ini sosoknya adalah satu-satunya orang yang mau mengulurkan tangan untuk mereka.


"Aku... Aku... Ingin hidup damai, dimana kakakku dan aku bisa tersenyum..."


Bocah budak petarung dengan gemetar menyerukan harapan di hati kecilnya, keinginan sejati miliknya.


"Tanpa perduli Ras kami... Tanpa memperdulikan kekurangan kami, saling merangkul satu sama lain, tanpa adanya perbudakan yang menyiksa, apakah... Surga seperti itu... Benar-benar ada?"


Air mata mulai keluar, menunjukkan segala rasa sakit dan penderitaan yang telah di tanggung selama ini. Tentu boleh merasa sedih, tentu boleh ingin menangis, selama dapat bangkit setelahnya maka baik-baik saja.


"Tentu ada! Aku akan membawa kalian ke tempat yang seperti surga yang kalian harapkan. Meski kenyataannya akan sedikit berbeda dari yang di harapkan, namun tempat sepert itu benar adanya. Bersamaku, mari taklukan kebatilan dan raih nirwana bersamaku!"


Perkataannya terdengar seperti orang yang memiliki fantasy akan dunia yang di idamkan. Namun berbeda, kata yang di ucapkan memiliki fondasi yang kuat, kata itu sendiri sebuah kekuatan sehingga tidak akan menghilang begitu saja. Menjatuhkan harapan mereka dam memberinya harapan baru, yang membuat dirinya menjadi dewa penyelamat mereka.


"Aku pasti akan menyelamatkan kalian—tidak hanya kalian. Melainkan semua orang tanpa harapan yang ada di tempat ini, akan kubebaskan. Untuk hal itu, perlu bagiku menggunakan kalian sebagai bidak catur dan melakukan berbagai persiapan yang kubutuhkan."


Tentunya mereka mengerti bahwa kebebasan tidak akan bisa di raih tana usaha, tanpa pengorbanan, bahkan tanpa darah. Kebebasan hanya di berikan kepada mereka yang mau berusaha, mau berjuang dan mau berkorban!


"Baiklah, demi kakakku akan kuturuti maumu. Aku hanya pandai bertarung namun buruk di bagian otak. Serahkan segala hal pertarungan kepadaku."


"Kalau begitu sebutkan nama aslimu, nama yang kau gunakan di Fight To End dan juga nama kakak perempuan di sana."


Bocah petarung yang tidak terlihat lebih tua dari Leo berdiri tegap dan menunjukan bahwa kekuatannya itu nyata.


"Nama asliku Garfiel, aku menggunakan nama Tiger di Fight To End... Lalu untuk kakak perempuanku." Dia melirik ke belakang dan melihat gadis yang terbaring lemah yang tersenyum lembut.


"Namaku Theresia, diriku sedang dalam sakit yang sudah diderita sejak lama, sehingga aku tidak akan banyak berguna..."


"Tentu aku punya mata untuk melihatnya... Lalu untukmu, Garfiel. Apakah kalian berasal dari Ras langka diantara Demi-human?"


Alis Garfiel naik karena terkejut, tidak menduga bahwa pria di depannya dapat mengetahuinya dengan sekali lihat. Meski ada kemungkinan bahwa dia mendengar desas-desus sekitar.


"... Ya. Aku dan kakakku berasal dari Ras Hakurou, yang di anggap memiliki hubungan dengan Monster malapetaka White Tiger."


Ini pertama kalinya dia mendengar sesuatu semacam itu. Namun, untuk saat ini dia harus menyimpannya di dalam kepala.


"Satu lagi... Apa kau mengenal Leo? Dia dulunya seorang budak yang juga berasal dari sini dan kebetulan mencari orang dengan Ras langka sepertimu."


Mendengar itu, Garfiel kembali terkejut, sangat jelas dari matanya yang terbelalak dan ekornya yang menegang.


"Leo... Maksudnya Leo si rubah?! Apa kau mengenalnya??"


Jika begitu maka benar adanya. Segala hal akan lebih mudah jika dia telah menemukan sosok yang Leo cari.


"Aku akan menjelaskannya nanti... Kalau begitu, ada hal yang ingin aku kalian lakukan, dengarkan baik-baik..."


Meski sesuatu di luar perkiraan seperti Pilar Iblis ada di papan caturnya dan melakukan kegiatan di belakang layar, maka Rigel akan menyiapkan beberapa rencana matang dari balik layar serta menyiapkan panggung megah untuk dirinya sendiri. Segala hal di Pasar Gelap Darkness semakin memanas, sampai-sampai dirinya tidak menyadari bahwa sebuah permainan telah dimulai di belakang layar.