The Legends Of Creator Hero

The Legends Of Creator Hero
Seseorang yang tidak akan kembali



POV TIRITH PENDRAGON.


Malam terasa dingin seperti biasanya. Bintang dan bulan muncul untuk menerangi langit malam yang gelap. Seperti biasanya, aku sedang berada di taman kerajaan sembari menatap bintang dan meminum secangkir teh.


"Sudah hampir empat bulan ya..."


Gumam Tirith.


Sudah hampir empat bulan semenjak kematian pria yang menjadi cinta pertamaku, Creator hero, Amatsumi Rigel. Sosok yang tidak ada gantinya bagiku.


"Kau sungguh kejam, Rigel. Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena melanggar janji yang kau berikan kepadaku."


Gumam Tirith, sambil memandang bintang.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Tidak boleh ada air mata! Jika aku masih menangis karena kepergiannya, aku yakin dia sedang mengejekku di atas sana.


Aku menatap marah kepada bintang bintang di langit dengan harapan bahwa Rigel sedang memperhatikan bahwa aku marah kepadanya. Aku yakin dia hanya akan memujiku dengan kata aku imut di atas sana.


"Yo, Tirith. Bisakah aku bergabung denganmu lagi?"


Suara seorang pria terdengar dari kejauhan.


Aku menoleh untuk melihat siapa yang berbicara dan disana, aku menemukan Takatsumi sedang tersenyum ramah ke arahku.


"Takatsumi, tentu saja kau boleh bergabung denganku."


Ucap Tirith sambil tersenyum lembut.


Aku menyiapkan secangkir teh hangat untuknya dan menyerahkan teh itu kepada Takatsumi.


"Silahkan. Apa yang membawamu datang ke sini, Takatsumi?"


Tanya Tirith.


"Seperti biasa, aku hanya menghabiskan waktu."


Jawabnya.


Belakangan ini Takatsumi selalu menemaniku melihat bintang setiap malam, dia terkadang membuatku tertawa dan mengobrol bersamaku agar aku tidak kesepian. Seolah-olah, dia berusaha menggantikan Rigel.


Tidak hanya itu, bahkan ayahku berusaha menjodohkan Takatsumi kepadaku. Takatsumi nampaknya juga tertarik kepadaku dan dia tidak menolak usulan ayahku, hanya aku yang menolak usulan itu. Aku menolaknya dan meminta waktu untuk memikirkannya.


Alasanku sangat sederhana, karena aku hanya mencintai Rigel. Entah seberapa keras aku mencoba berpaling darinya dan mencoba untuk mencintai Takatsumi, aku tidak dapat melakukannya.


"Maaf ya, Takatsumi. Aku masih belum memiliki jawaban untuk usulan yang ayahku ajukan, aku masih perlu waktu."


Ucap Tirith dengan sedih.


Takatsumi menatap Tirith dan tersenyum lembut.


"Yah, tidak perlu terburu buru memikirkannya, namun jangan terlalu lama juga. Lagi pula, aku tidak akan langsung menikahimu karena umur kita masih terlalu muda."


Ucap Takatsumi.


"Kau benar, namun bagi kami para bangsawan menikah di usia muda adalah hal yang biasa."


Balas Tirith tersenyum sedih.


"Begitu ya."


Ucap Takatsumi, dia langsung meminum teh yang kuberikan dengan anggun.


"Jadi, apakah kau masih sangat mencintai dia?"


Tanya Takatsumi, pandangannya mengarah langsung ke mataku.


Aku menghindar tatapannya, khawatir bahwa dia akan mengetahui apa yang aku fikirkan. Aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku masih sangat sangat mencintai Rigel, meskipun dia sudah tidak lagi hidup di dunia ini.


Tidak, aku tidak boleh menyakiti Takatsumi lebih jauh lagi. Selama ini, dia adalah orang yang selalu menemaniku dan selalu berada di sisiku. Bukankah sudah saatnya untukku melupakan masa lalu? Aku tidak boleh terus berkubang di dalam kesedihan ini.


"Tidak terlalu, perlahan tetapi pasti, aku akan melupakannya dan mencoba untuk mencintai dirimu yang berada di sampingku saat ini, Takatsumi."


Ucap Tirith memasang senyuman terbaik yang bisa dikeluarkannya.


Maafkan aku Takatsumi, aku harus berbohong kepadamu karena aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh dari ini. Lalu, untuk yang disana, kumohon maafkan aku Rigel.


Lalu, secara tiba tiba Takatsumi meraih bahuku dan membuatku menatap matanya secara langsung. Aku sangat terkejut dengan hal yang dilakukan oleh Takatsumi. Ini tidak seperti dirinya yang biasanya malu malu dan polos, dimatanya terbentuk keyakinan tertentu.


"T-tirith, k-kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu. Jadi, jika bisa aku ingin kau melupakan masa lalu dan mari kita tapaki masa depan bersama sama. Aku bersumpah akan sebisa mungkin membuatmu bahagia."


Ucap Takatsumi.


Wajah Takatsumi dipenuhi dengan keyakinan yang membuatku tidak dapat berkata apa apa selain menatap langsung matanya yang dipenuhi keyakinan. Perlahan, Takatsumi mendekatkan wajahnya ke wajahju hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya.


"A-apakah kau m-mencintaiku, Tirith?"


Tanya Takatsumi sebelum mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.


Kurasa begini lebih baik, ya ini lebih baik daripada menyakiti orang lain. Lupakanlah masa lalumu, Tirith. Sekarang kau harus menerima Takatsumi dan menjalani hidup bersama, memiliki anak dan hidup damai di hari tua kami.


Lalu, di pikiran Tirith dia melihat sosok pemuda tersenyum dan mengatakan sesuatu.


'Sepertinya aku mencintaimu, Tirith.'


Suara dan wajah Rigel berputar di kepala Tirith.


Saat bibirku dan Takatsumi hanya menyisakan jarak beberapa centi, aku akan membalas perasaanya.


"Aku, Juga mencintaimu... Rigel."


Tirith tanpa sadar menyebutkan nama Rigel.


Aku tersentak kaget. Tanpa sadar aku malah menyebut namanya, apa yang terjadi padaku! Aku seharusnya menyebutkan nama Takatsumi dan bukan Rigel.


"M-maaf, Takatsumi. Aku tanpa sadar malah memanggil namanya."


Ucap Tirith, meminta maaf.


"Jadi kau masih mencintainya, ya Tirith?"


Tanya Takatsumi sambil menjauhkan wajahnya.


Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya. Kenapa aku malah menyebutkan nama orang lain.


"Ahh, hari sudah mulai larut, aku akan kembali terlebih dahulu, ya."


Ucap Takatsumi dengan kecewa.


"Tu-tunggu, T-takatsumi."


Ucap Tirith.


Percuma saja, dia tidak akan mendengarkan. Aku tahu bahwa hatinya mungkin terasa sangat sakit dengan apa yang aku lakukan kepadanya. Kenapa aku tidak bisa lepas dari masa lalu ini? Siapapun, tolong beritahu aku bagaimana caranya melupakannya?


"Ini semua salahmu, Rigel."


Gumam Tirith dan dia mulai menangis.


"Kau seenaknya membuatku jatuh cinta dan menjanjikan banyak hal padaku lalu setelah itu apa? Kau malah pergi dan tidak akan kembali lagi! Kau Sungguh kejam. Aku membencimu! Namun aku juga mencintaimu, Rigel!"


Ucap Tirith yang menangis sejadi jadinya.


"Jadi, komohon kembalilah dari alam kematian, Rigel."


Ini adalah permohonan terbesarku kepada siapapun entah itu para dewa atau manusia. Jika Rigel bisa kembali kepelukanku, aku bersedia melakukan apapun untuknya.


Malam hari yang dingin dan dipenuhi bintang bintang di sertai sebuah tangisan dari seorang gadis yang merindukan orang yang dicintainya yang telah pergi.


Rigel tidak akan pernah kembali kepelukanku. Kini dia sudah menyatu dengan bintang bintang di langit bersama ibuku, memperhatikanku dari langit yang jauh berada dalam jangkauan tanganku.


"Setidaknya, kuharap kau tetap tenang berada disana, Rigel."


Ucap Tirith.


Tirith menyeka air yang membanjiri matanya dan beranjak pergi dari taman kerajaan. Matanya masih membengkak karena habis menangis dan Tirith kembali ke kamarnya.